Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Yang Menyiksa dan Kasih Anak²
Seminggu berlalu sejak insiden di restoran Pak Hartono. Suasana gosip di kantor perlahan surut, digantikan oleh rutinitas harian yang padat. Namun, di dalam rumah beratap genteng cokelat itu, suasana tak pernah benar-benar tenang.
Suara nada dering video call memecah keheningan ruang tengah. Winta yang baru saja selesai melipat pakaian, melirik layar ponselnya yang tergeletak di meja. Nama "Rangga" berkedip-kedip di sana.
Jemari Winta gemetar. Ada dorongan kuat untuk menggeser tombol hijau, mendengar suara lembut pria itu, dan menumpahkan kerinduan yang membakar dadanya selama seminggu terakhir. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh layar, pintu depan terbuka.
Dinda masuk membawa kantong belanjaan, disusul suara dari ponsel Dinda yang tersambung dalam group call.
Winta refleks menekan tombol merah. Menolak panggilan Rangga.
"Mama! Jangan diabaikan minum obat vitaminnya!"
suara Widi terdengar nyaring dari pengeras suara ponsel Dinda.
Dinda meletakkan belanjaan di meja pantry, lalu menatap ibunya dengan teliti.
"Ma, ponselnya bunyi lagi ya? Dari siapa?"
"Bukan siapa-siapa, cuma nomor tak dikenal," alibi Winta pelan, meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.
"Ponsel Mama biar Dinda pegang dulu kalau sore begini,"
kata Dinda tegas tapi santai, berjalan mendekat dan mengambil ponsel ibunya.
"Bukan apa-apa, Ma. Kita tidak tahu Bu Viona atau orang suruhannya mencoba menghubungi dengan nomor acak."
Dari layar ponsel Dinda, wajah Widi muncul penuh kecemasan.
"Betul kata Dinda, Ma! Widi dari jauh cuma bisa kepikiran terus. Pokoknya Mama jangan pernah angkat telepon asing, jangan keluar rumah walau cuma mau nyiram tanaman di depan pagar. Pintu gerbang selalu dikunci gembok, kan?"
"Iya, Widi... pintu selalu dipasang gembok ganda sama Dinda,"
sahut Winta pasrah, duduk di sofa.
Tak lama, ponsel Dinda kembali berbunyi. Kali ini panggilan masuk dari luar negeri.
"Nah, ini Mas Rio telepon,"
ujar Dinda seraya mengubah mode layar.
Wajah Rio muncul dengan latar belakang kamar asramanya di negeri seberang. Taut alisnya menandakan rasa khawatir yang sama besar.
"Ma,"
panggil Rio langsung.
"Rio sudah transfer uang bulanan untuk Dinda pegang. Semua kebutuhan dapur biar Dinda yang belikan tiap pulang kantor. Mama janji ya, jangan pernah coba-coba keluar rumah sendirian. Kalau ada orang mengetuk pintu dan bukan Dinda atau tetangga dekat yang kita kenal, jangan dibukakan."
Winta menatap layar ponsel yang menampilkan wajah anak laki-lakinya, lalu beralih ke Dinda dan Widi. Ia terharu sekaligus merasa terhimpit.
Anak-anaknya bersatu padu melindunginya, tanpa tahu sepenuhnya bahwa "ancaman" dan kerinduan terbesarnya berasal dari orang yang sama, Rangga.
"Mama paham, Rio, Widi, Dinda... Mama tidak akan ke mana-mana. Mama ikuti semua kata kalian,"
ucap Winta lembut, mencoba mengukir senyum agar anak-anaknya tenang.
"Bagus kalau begitu, Ma. Kita semua cuma mau Mama aman,"
balas Rio lega dari seberang lautan.
Sementara itu, di dalam mobil mewahnya yang terparkir di tepi jalan tak jauh dari kawasan perkantoran, Rangga menghempaskan punggungnya ke sandaran jok. Ia menatap layar ponselnya yang kembali menampilkan pemberitahuan, Panggilan Ditolak.
Rangga memejamkan mata, mengusap wajahnya dengan kasar. Seminggu tanpa mendengar suara Winta felt seperti siksaan yang perlahan mematikan sarafnya. Kerinduan itu kian membakar, bertolak belakang dengan dinginnya hubungan yang ia jalani di rumah bersama Viona.
Ia tahu Winta sengaja menolaknya. Ia tahu Dinda dan saudara-saudaranya pasti sedang memagari Winta dengan rapat. Tapi semakin ia dijauhkan, semakin jelas baginya siapa yang sebenarnya mengisi seluruh ruang di hatinya.
Bersambung