Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Curiga
"Oya Suzan... Maaf ya, aku kemarin tidak sempat datang ke pesta ulang tahun pernikahan kamu. Aku lagi banyak banget kerjaan waktu itu. Tapi aku ucapkan selamat buat kalian berdua..." ucap Sonia sambil tersenyum.
"Nggak papa, Sonia... Makasih atas doanya..." sahut Suzan.
"Ya udah kalau begitu aku pamit ya..." ucap Sonia.
"Oya Bagas... Jangan lupa besok, aku tunggu di cafe biasa ...." ucap Sonia sambil mengusap lengan Bagas dengan lembut dan tersenyum manis padanya.
"Iya... tentu saja aku nggak akan lupa..." jawab Bagas tersenyum simpul.
Melihat interaksi antara Sonia dan Bagas, hati Suzan terasa panas. Sebenarnya dia ingin sekali marah, tapi Suzan berusaha untuk menahannya. Iya, Suzan tidak ingin menyimpulkan bahwa di antara Bagas dan Sonia ada hubungan special. Namun Suzan harus menyelidikinya lebih lanjut.
"Sampaikan salam buat papamu ya... Kayaknya papamu hari ini sibuk banget ya, tadi pagi aku menelponnya tapi tidak direspon...." ucap Sonia.
"Iya, papa sedang ada di luar menemui klien..." jawab Bagas.
"Baiklah aku pergi dulu...dah Suzan..." Sonia melambaikan tangan pada Suzan kemudian Sonia keluar dari ruang kerja Bagas.
Dan tinggallah Suzan dan Bagas di ruangan tersebut. Dan Suzan masih merasa kesal pada Bagas. Belum hilang kekesalannya karena masalah sebut nama, tapi hari ini Suzan juga dibuat kesal atas sikap Sonia.
"Sayang... Kamu bawa apa...?'' tanya Bagas sambil melihat paper bag yang dibawa oleh Suzan.
Suzan lalu memberitahu Bagas kalau dia baru saja membeli perlengkapan menggambar untuk Alvaro di mall.
"Kamu sudah makan siang...?'' tanya Bagas.
Suzan menggelengkan kepala.
"Kita makan siang yuk...? Aku sudah lapar nih....'' ujar Bagas sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul satu siang.
"Aku makan di ruang kerja aja, kerjaanku masih banyak..." jawab Suzan yang tidak ada keinginan makan bersama Bagas.
"Oh ya udah kalau gitu..." jawab Bagas.
"Aku ke ruang kerjaku dulu ya..." Suzan pamit.
"Oke..." jawab Bagas sambil mengusap rambut sang istri.
Suzan lalu keluar dari ruang kerja Bagas dan langsung naik ke lantai lima menuju ruang kerjanya.
Sementara itu di lobby utama, Sonia yang hendak kembali ke perusahaan dia bekerja nampak sibuk menghubungi seseorang.
"Oh ya ampun sayang... Kamu ngapain aja sih, aku sudah berkali - kali menghubungimu dari pagi, tapi baru sekarang kamu angkat. Sebel deh..." ucap Sonia begitu orang yang dia hubungi mengangkat telponnya.
"Aku kangeeeennn...." sambung Sonia dengan manja.
"Memangnya kamu nggak kangen sama aku...?'' tanya Sonia.
"Ya udah kita ketemuan sekarang..."
"Bener ya, abis kantor, kamu ke apartemen... "
Sambungan telpon pun berakhir, lalu Sonia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Bagas yang hendak keluar dari ruang kerja menghentikan langkah begitu ponselnya berdering. Ternyata Casandra yang menghubunginya.
"Hallo babby..." ucap Bagas.
"Babby... Kamu di mana...?'' suara Casandra terdengar di ujung telpon.
"Masih di kantor...." jawab Bagas.
"Cepatlah aku sudah menunggumu di restauran..." ucap Casandra.
"Oke babby aku segera ke sana...." jawab Bagas lalu keluar dari ruang kerjanya.
Iya, Bagas baru ingat kalau dia ada janji untuk makan siang dengan Casandra. Untung saja tadi Suzan menolak ketika diajak makan siang bersama. Kalau tidak, pasti Casandra akan ngambek karena Bagas tidak datang untuk makan siang bersamanya karena pergi dengan Suzan.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"A....apa...? Jadi mama kamu sudah tahu tentang hubungan kita...?'' Casandra cukup kaget mendengar perkataan Bagas.
Lalu Bagas memberitahu Casandra kalau sang mama memergoki mereka saat berciuman di taman samping rumah di malam acara ulang tahun pernikahan.
"Oh ya ampun... Trus reaksi mama kamu gimana...?'' tanya Casandra.
"Ya dia sempat marah sih, tapi kamu nggak usah khawatir, aku sudah bisa mengatasinya..." jawab Bagas.
"Tapi mbak Suzan dan papa kamu pasti belum tahu kan...?'' tanya Casandra.
"Belum... Dan mereka jangan sampai tahu..." jawab Bagas sambil menatap wajah Casandra.
Iya, tentu saja Bagas tidak ingin mereka berdua tahu karena akan sangat beresiko. Jika tuan Hartanto tahu, dia bisa marah besar pada Bagas. Begitu juga jika Suzan tahu, tentunya rumah tangga mereka akan jadi taruhannya.
"Apa mama kamu bisa jaga rahasia...?'' tanya Casandra yang cukup khawatir.
Sebenarnya Casandra lebih ke takut pada tuan Hartanto. Semua orang tahu bahwa tuan Hartanto sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Dia adalah orang yang cukup keras dan tidak takut pada lawan. Tuan Hartanto juga tak segan untuk menghabisi orang yang berani mengusik kebahagiaannya.
Tentu saja Casandra khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padanya jika tuan Hartanto mengetahui perselingkuhan Bagas dengannya.
"Kamu tenang saja. Mama selalu ada di pihakku... "ucap Bagas.
"Tapi kita harus lebih hati- hati sekarang. Sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu..." sambung Bagas.
"Iiiiihhh... Mana bisa seperti itu....? Kalau aku kangen gimana...?'' rengek Casandra.
"Iya...iya...nanti kita akan atur pertemuan kita. ..." ucap Bagas.
"Nggak mau... Aku mau tiap hari kita ketemu seperti biasa. Oya,tadi pagi kamu nggak mampir ke apartemenku, pokoknya malam ini kamu harus ke sana..." sahut Casandra.
Bagas menghela nafas.
"Kenapa...? Kamu nggak mau datang ke apartemen aku...? Kalau gitu kita nggak usah ketemu selamanya..." Casandra ngambek.
"Babby.... Oke...oke... Pulang kantor aku langsung ke apartemen kamu..." sahut Bagas dari pada melihat Casandra ngambek.
"Yeeee.... Beneran ya...awas kalau nggak datang ..." Casandra kegirangan.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Casandra nggak mungkin ada hubungan dengan mas Bagas,karena mas Bagas tidak mengenalnya, tapi aku lebih curiga pada Sonia..." ucap Suzan setelah dia menceritakan pada Alma kalau kedua perempuan itu memakai cincin yang sama persis seperti milik Bagas. Ditambah lagi sikap Sonia yang cukup genit pada Bagas.
"Kalau begitu,kamu harus selidiki Sonia. Kamu masih ingat kan dengan gosip Sonia yang punya hubungan dengan seorang pengusaha beristri..." sahut Alma.
"Maaf ya Suzan... Aku juga jadi curiga kalau suamimu sama Sonia ada apa- apa, setelah mendengar ceritamu tadi..." sambung Alma.
"Oh ya ampun... " Suzan memijit keningnya.
Iya, Suzan tidak bisa membayangkan jika gosip tentang Sonia benar adanya, dan orang yang menjadi selingkuhannya adalah Bagas.
"Tapi ingat, suamimu tidak boleh tahu kalau kamu sedang mencurigai dia..." ucap Alma. Suzan pun mengangguk.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu di tempat lain, di sebuah villa, nyonya Hartanto sedang duduk santai di sofa ruang tengah. Di tangan kirinya memegang minuman dingin. Sedangkan di samping kanan nyonya Hartanto ada Darma yang selalu setia menemaninya ke mana pun dia pergi.
"Saya tidak menyangka Bagas bisa tahu tentang hubungan kita. Saya tidak bisa menyembunyikan rasa malu saya di depan dia..." ucap Nyonya Hartanto lalu meletakkan minuman ya di atas meja.
Sementara itu Darma diam mendengarkan cerita nyonya Hartanto.
Nyonya Hartanto menghela nafas lalu bersandar di sandaran sofa.
"Kepalaku benar- benar pusing..." ucap nyonya Hartanto sambil memijit keningnya.
"Apa nyonya menyesal karena hubungan kita...?" tanya Darma.
Mendengar pertanyaan Darma, nyonya Hartanto langsung menegakkan badannya kembali, kemudian menghadap ke arah Darma.
"Hei... Bukan begitu maksudku. Dan bukan hubungan kita yang membuatku pusing..." ucap nyonya Darma sambil memegang dada Darma.
"Saya memang sempat malu pada Bagas karena dia telah mengetahui hubungan kita. Tapi Bagas paham kok, kenapa saya melakukan ini semua..." sambung nyonya Hartanto.
"Apa Bagas tidak marah...?'' tanya Darma.
"Ya dia sempat marah sih, tapi dia tidak perduli. Mungkin dia tahu bagaimana tersiksanya saya selama menjadi istri papanya..." jawab nyonya Hartanto.
"Lalu, apa yang membuat nyonya pusing...?'' tanya Darma.
Lalu nyonya Hartanto memberitahu Darma kalau Bagas telah selingkuh di belakang Suzan.
Darma diam beberapa saat sambil menatap nyonya Hartanto.
"Apa alasan pak Bagas menyelingkuhi bu Suzan...?'' tanya Darma.
Lagi- lagi nyonya Hartanto menghela nafas.
"Suzan terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga Bagas merasa dia abaikan..." jawab nyonya Hartanto.
"Makanya dia mencari pelampiasan di luar rumah..." jawab nyonya Hartanto.
"Mencari pelampiasan atau karena tuan Bagas mencontoh apa yang dilakukan oleh nyonya, sebagai ibunya....?'' tanya Darma.
"Kau ini bicara apa...?'' nyonya Hartanto nampak tersinggung dengan pertanyaan Darma.
Iya, nyonya Hartanto tersinggung karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Darma telah merendahkannya sebagai perempuan.
"Saya melakukan ini semua karena saya punya alasan...! Saya selalu direndahkan oleh suamiku sendiri...! Saya selingkuh sama kamu karena saya sudah berkali- kali diselingkuhi oleh suamiku....!" nyonya Hartanti tersulut emosi.
"Apa menurutmu saya harus diam saja saat saya diperlakukan tidak baik sama suami saya sendiri...? Apa saya harus diam saja saat suamiku bergonta- ganti perempuan di luar sana....? Apa saya harus pasrah dan menerima begitu saja....!" sambung nyonya Hartanto tak dapat menahan tangisnya.
"Lalu bagaimana denganmu...? Kenapa kamu mau menerima tawaran saya untuk menjadi selingkuhan saya...? Aku yakin kamu juga punya alasan sendiri kan...?" tanya nyonya Hartanto yang masih terlihat kesal pada Darma.
Melihat nyonya Hartanto marah karena ucapannya, Darma jadi merasa bersalah.
"Maaf ... Maafkan saya... Tidak seharusnya saya bicara seperti itu sama kamu..." ucap Darma merasa menyesal karena telah membuat nyonya Hartanto marah dan menangis.
Iya, nyonya Hartanto memang sudah pernah menceritakan pada Darma bagaimana perlakuan suaminya. Bagaimana cara tuan Hartanto memperlakukannya, dan juga soal perselingkuhan tuan Hartanto dengan beberapa perempuan di luar sana. Memang nyonya Hartanto tidak pernah memergoki suaminya secara langsung, tapi nyonya Hartanto tahu dari chat di ponsel sang suami.
Sebagai seorang istri tentu saja nyonya Hartanto merasa sedih atas perlakuan suaminya tersebut. Dan tempat yang paling nyaman bagi nyonya Hartanto sebagai tempat berkeluh kesah adalah Darma. Orang yang paling dekat dengannya yaitu sebagai supir, fotografer sekaligus asistennya.
"Perkataanmu tadi sungguh sangat melukai hatiku..." ucap nyonya Hartanto sambil terisak.
"Maaf... Maafkan aku..." sahut Darma sambil memeluk nyonya Hartanto.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Pukul empat sore Suzan bergegas keluar dari ruang kerjanya dan langsung masuk ke lift menuju lantai tiga di mana ruang kerja Bagas berada.
"Fikri... Suamiku masih ada di dalam...?'' tanya Suzan begitu melihat Fikri keluar dari ruang kerja Bagas.
"Maaf bu Suzan... Pak Bagas sudah pulang sepuluh menit yang lalu..." jawab Fikri.
"Apa...? Sudah pulang...?'' tanya Suzan.
"Iya bu...." jawab Fikri.
"Baiklah terima kasih..." Suzan segera kembali ke lift menuju lantai dasar.
Dengan langkah tergesa Suzan menuju parkiran mobil berharap Bagas belum pergi. Namun dia tidak melihat mobil Bagas di sana.
"Mungkin mas Bagas memang beneran pulang ke rumah..." gumam Suzan sambil berdiri di samping mobilnya.
"Tapi kenapa dia tidak mengajakku pulang bersama, dan langsung pulang begitu saja...?'' tanya Suzan.
Suzan menghela nafas. Lalu dia naik ke mobilnya kemudian melajukannya menuju rumah kediaman keluarga Hartanto.
Tiga puluh menit kemudian mobil Suzan memasuki halaman rumah keluarga Hartanto. Namun dia tidak melihat mobil Bagas di sana.
"Mobil mas Bagas mana...?'' tanya Suzan dalam hati.
Perlahan Suzan membuka pintu mobilnya dan turun dari sana. Lalu Suzan menghampiri mang Narji si tukang kebun keluarga Hartanto.
"Mang Narji, suamiku sudah pulang...?" tanya Suzan.
"Belum nyonya, tuan Bagas belum pulang..." jawab mang Narji dengan sopan.
"Nyonya... Nyonya Suzan... nyonya Suzan baik- baik saja...?'' tanya mang Narji karena Suzan melamun.
"Oh... Iya... Nggak papa..." jawab Suzan.
Suzan lalu masuk ke dalam rumah, namun pikirannya terus tertuju pada sang suami yang entah pergi ke mana.
Sonia
Bersambung.....