NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 Tak akan kembali seperti dulu

Kinanti sama sekali tidak menyangka bahwa suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya ternyata datang menjemput kedua anak kembar mereka, Naufal dan Naura.

Begitu melihat Yudha berdiri tidak jauh dari sana, Kinanti sempat menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju pada pria yang selama sembilan tahun menjadi suaminya itu.

Namun, ada sesuatu yang tidak diketahuinya.

Di belakang Kinanti, Naufal dan Naura diam-diam saling pandang. Keduanya kemudian mengangkat tangan dan memberikan isyarat jempol kepada papanya.

Yudha membalasnya dengan senyum tipis.

Mereka bertiga ternyata sudah memiliki kesepakatan kecil tanpa sepengetahuan Kinanti.

Naufal bahkan diam-diam memanjatkan harapan dalam hatinya.

“Alhamdulillah... semoga saja Mama bisa tersentuh dan nggak jadi cerai sama Papa,” batinnya penuh harap.

Sementara itu, Naura juga memiliki harapan yang sama.

“Papa... andaikan dari dulu Papa bersikap seperti ini kepada Mama. Kalau Papa romantis seperti sekarang, mungkin Mama nggak akan menggugat cerai Papa,” pikirnya sedih.

Yudha kemudian melangkah mendekati mereka.

Di tangannya terdapat sebuah buket bunga yang tersusun indah. Perpaduan mawar merah dan putih membuat buket itu terlihat begitu cantik. Bunga tersebut memang sengaja dibelinya untuk Kinanti.

Setiap langkah yang diambilnya terasa berat. Bukan karena takut ditolak, melainkan karena Yudha sadar, selama ini dirinya telah membuat perempuan yang dicintainya itu terlalu banyak terluka.

Ketika sudah berdiri di hadapan Kinanti, Yudha mengulurkan buket tersebut.

Namun, Kinanti hanya menatap bunga itu sekilas. Tatapannya tetap datar, tanpa sedikit pun perubahan seperti yang dahulu selalu Yudha dapatkan darinya.

“Kenapa, Mas, harus repot-repot segala? Mas nggak perlu membuang waktu untuk melakukan hal seperti ini,” ucap Kinanti tenang.

Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan bagi Yudha.

Dahulu, Kinanti selalu menyambutnya dengan senyuman. Bahkan ketika Yudha bersikap dingin dan menyakitinya, perempuan itu masih berusaha berbicara dengan lembut.

Sekarang, tatapan hangat itu sudah tidak ada lagi.

Yang tersisa hanyalah jarak.

Yudha menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Maaf kalau kamu nggak suka. Aku akan tetap melakukan hal seperti ini, kamu setuju ataupun nggak. Kamu keberatan, marah, bahkan membenciku sekalipun, aku akan tetap melakukannya.”

Yudha menatap mata istrinya dengan sungguh-sungguh.

“Aku melakukan semua ini karena aku ingin kamu kembali seperti dulu. Aku ingin mendapatkan kembali cintamu.”

Kinanti justru tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa sumbang yang terdengar getir.

“Mas jangan kekanak-kanakan. Jangan juga bertindak seolah semuanya masih bisa diperbaiki begitu saja.”

Tatapan Kinanti semakin dalam.

“Semuanya sudah terlambat, Mas. Waktu yang sudah terlewat dan terbuang nggak akan pernah kembali lagi.”

Yudha terdiam.

Dia tahu ucapan itu benar.

Selama kurang lebih sembilan tahun, Kinanti telah menahan begitu banyak luka akibat perlakuannya. Perempuan itu disakiti, diabaikan, bahkan berkali-kali dibuat merasa tidak berharga sebagai seorang istri.

Namun, ada satu hal yang paling membuat Yudha menyesal.

Dahulu, bahkan ketika Kinanti terluka karena ulahnya, perempuan itu hampir tidak pernah berkata kasar kepadanya.

Kinanti selalu berusaha menjaga tutur katanya.

Sekarang, untuk pertama kalinya, Yudha benar-benar merasakan dinginnya hati perempuan yang pernah mencintainya begitu dalam.

Kinanti kemudian meraih tangan kedua anaknya.

“Ayo, Naufal. Naura.”

Kedua anak itu menurut dan berjalan mengikuti ibunya menuju mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari sana.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Kinanti berhenti sejenak dan menoleh kepada Yudha.

“Apapun yang Mas lakukan, hatiku sudah nggak seperti dahulu lagi.”

Suaranya terdengar tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat Yudha semakin terpukul.

“Mas cukup tanda tangani berkas perceraian kita. Itu satu-satunya solusi dari semuanya.”

Setelah mengatakan itu, Kinanti berbalik dan kembali berjalan.

Yudha hanya mampu menatap nanar kepergian istri dan kedua anaknya.

Dadanya terasa sesak.

Tanpa disadarinya, setetes air mata mengalir melewati sudut matanya dan membasahi pipi.

Yudha segera mengusapnya, tetapi air mata berikutnya kembali jatuh.

Dia mengepalkan kedua tangannya.

“Kinanti...” lirihnya.

Tatapannya masih terpaku pada mobil yang perlahan bersiap meninggalkan tempat itu.

“Sampai matipun aku nggak akan menandatangani surat cerai itu.”

Suaranya terdengar bergetar, tetapi tekadnya begitu kuat.

“Aku akan tetap berusaha mendapatkanmu kembali.”

Yudha berdiri seorang diri di bawah sinar matahari sore yang masih cukup terik. Dia tidak bergerak sedikit pun, seolah berharap dengan terus berdiri di sana, mobil yang membawa istri dan anak-anaknya akan kembali.

Namun, harapan itu perlahan menghilang bersama mobil yang semakin menjauh.

Sementara itu, Naufal yang masih memegang tangan mamanya tiba-tiba melepaskannya.

Anak laki-laki itu berlari kembali ke arah papanya.

“Papa!”

Yudha menoleh.

Naufal langsung mengambil buket bunga yang sejak tadi masih berada di tangan papanya.

“Papa harus pantang menyerah, ya.”

Yudha menatap putranya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Naufal kemudian mengingat perkataan gurunya di sekolah.

“Bu Guru bilang, kalau kita punya keinginan, kita harus berusaha dan banyak berdoa.”

Anak itu tersenyum polos.

“Jadi Papa jangan menyerah. Tetap sabar dan banyak doa.”

Yudha mengusap kepala putranya.

“Terima kasih, Nak.”

Naufal kemudian berlari kembali menuju mobil.

Buket bunga itu dibawanya dengan hati-hati.

“Ma, ini dari Papa.”

Kinanti yang sudah berdiri di samping pintu mobil menatap buket tersebut.

Sesaat, pandangannya tertahan pada mawar merah dan putih yang tersusun begitu indah.

Namun, bukannya membawa bunga itu masuk ke dalam mobil, Kinanti justru menoleh ketika melihat seorang bapak-bapak sedang berjalan melewati mereka.

Tanpa banyak berpikir, Kinanti menghampiri pria tersebut.

“Pak.”

Pria itu berhenti dan menatap Kinanti dengan wajah bingung.

Kinanti kemudian menyodorkan buket bunga tersebut.

“Ini bunga cantik untuk istrinya Bapak.”

Bapak itu melongo.

Dia melihat bunga di tangannya, kemudian menatap Kinanti dengan penuh kebingungan.

“Untuk saya, Nak?”

Kinanti mengangguk.

“Iya, Pak. Nggak perlu berterima kasih. Saya kasih gratis.”

Kinanti tersenyum tipis.

“Kebetulan bunga di rumah saya terlalu banyak.”

Padahal, bunga itu bukan bunga biasa.

Buket tersebut dibeli Yudha khusus untuknya.

Bapak itu akhirnya menerima bunga tersebut dengan wajah bahagia.

“Masya Allah... terima kasih banyak, Nak. Ini bunga pertama yang saya dapat untuk diberikan kepada istri saya.”

Dia tersenyum lebar sambil memandangi buket tersebut.

“Semoga rezeki kamu berkah dan usaha kamu semakin sukses.”

“Amin, ya Rabbal 'alamin,” jawab Kinanti.

“Amin,” sahut Naufal dan Naura hampir bersamaan.

Namun, kedua anak itu sebenarnya sedang menahan rasa kecewa.

Bunga yang sejak tadi mereka anggap sebagai hadiah romantis dari Papa untuk Mama, justru diberikan begitu saja kepada orang lain.

Naura menundukkan wajahnya.

Naufal juga hanya bisa menghela napas kecil.

Keduanya tidak ingin memperlihatkan kekecewaan mereka kepada Kinanti.

Berbeda dengan Yudha.

Dari tempatnya berdiri, dia menyaksikan semuanya dengan hati yang kembali terasa remuk.

Bunga yang dibelinya dengan penuh harapan akhirnya berpindah ke tangan orang lain.

Bahkan, sebelum sempat menyentuh hati Kinanti, bunga itu sudah diberikan kepada orang asing.

Yudha menatap kosong ke arah buket tersebut, ada rasa kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

Namun, lebih dari itu, dia sadar bahwa kejadian barusan merupakan gambaran betapa jauhnya hati Kinanti sekarang.

Dahulu, bunga sederhana saja sudah mampu membuat perempuan itu tersenyum.

Kini, bunga semahal dan seindah apa pun tidak lagi berarti baginya.

Yudha mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar memahami satu hal.

Memenangkan kembali hati Kinanti ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar memberinya bunga.

Kinanti melirik Yudha dari kaca spion mobilnya,” Lupakan segalanya mas karena semuanya tidak akan pernah kembali seperti semula.”

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!