NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11 : Jangan Bersuara

Tangan Maira berhenti di tengah balutan perban.

Perban putih itu baru setengah melilit betis Elina yang robek, darah masih merembes pelan. Maira sedang berusaha mengikat simpul terakhir sepelan mungkin. Elina sendiri sudah menggigit ujung bajunya sendiri untuk menahan perih.

Di sekeliling mereka, hutan dunia monster itu masih sunyi. Terlalu sunyi.

Bima yang berjaga di sisi kanan mengangkat tangannya, memberi isyarat diam. Daun-daun raksasa di atas mereka yang tadinya diam, tiba-tiba bergetar pelan. Padahal tidak ada angin.

Lalu baunya datang.

Busuk.

Saat sedang mengobati luka Elina, tiba-tiba makhluk itu muncul dan itu membuat Bima dkk panik tapi mencoba untuk tetap tenang.

Dari balik kerimbunan pohon raksasa yang hampir tak ada celah itu, sebuah siluet raksasa menyibak kegelapan. Tingginya mungkin empat meter lebih. Tubuhnya kurus kering seperti ranting yang dipaksa berbentuk manusia. Kulitnya bukan kulit, tapi kulit kayu yang retak-retak, berlumut. Kepalanya besar, botak, tanpa mata, hanya ada lubang menganga di tempat wajah seharusnya berada. Dan yang paling mengerikan, di belakang kakinya yang seperti akar itu, ada tiga makhluk kecil dengan bentuk yang sama, tingginya sepinggang orang dewasa, berlarian kecil mengikuti induknya. Satu keluarga.

Aroma busuk yang menusuk hidung itu berasal dari tubuhnya. Bau bangkai yang sudah lama membusuk di dalam kayu lapuk.

Panik. Itu yang pertama dirasakan kelimanya. Panik yang membuat jantung berdegup seperti genderang perang di telinga mereka sendiri.

Bima yang paling depan langsung membeku. Tangannya yang tadi siap memegang pisau lipat, kini ia tahan. Ia tahu, satu gerakan salah, mereka semua mati di dunia ini.

Arga yang berkacamata menahan napasnya seketika, ia langsung menundukkan kepalanya, matanya melotot melihat bayangan kaki raksasa itu di tanah berlumut, hanya tiga meter dari tempat mereka.

Mereka panik, tapi mencoba untuk tetap tenang. Karena kalau panik mereka teriak, selesai.

Maira adalah yang posisinya paling berbahaya. Ia ada di sisi Elina, paling dekat dengan jalur jalan makhluk itu. Dalam sepersekian detik, ia teringat sesuatu. Cerita yang dibisikkan penjaga warung di kaki gunung sebelum mereka naik.

_“Le... kalau kau dengar dia jalan, jangan lari. Jangan bersuara. Dia buta. Dia hanya mendengar ketakutanmu...”_

Dengan sisa keberanian yang ia punya, Maira yang ada di sisi Elina berbisik pelan menjelaskan aturan jangan bersuara itu. Suaranya bukan suara, hanya hembusan napas yang dibentuk menjadi kata-kata, sangat pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh Elina.

"Elina, Lin,dengerin aku..." bisik Maira sambil menutup mulut Elina dengan tangannya yang berlumuran antiseptik, "Jngan bersuara,apapun yang terjadi jangan bersuara.Tahan sakitnya,tahan napasnya. Dia gak bisa liat kita,dia cuma denger suara,jangan bersuara ya Lin."

Elina yang sudah di ambang pingsan karena sakit, mengangguk lemah dengan air mata mengalir. Ia gigit bibir bawahnya sekuat tenaga.

Dan kelima remaja itu pun terdiam seperti patung, mencoba menahan dan mengatur napas mereka serendah mungkin.

Momen itu adalah satu menit terpanjang dalam hidup mereka.

Bima, Arga bisa bersikap setenang mungkin. Bima memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak melihat makhluk itu. Ia hanya fokus pada satu hal: menahan napas. Ia tahan napas di dadanya, ia atur jantungnya yang berdebar kencang. Tangannya ia kepalkan sampai kukunya menancap dalam di kulit telapak tangannya sendiri untuk mengalihkan rasa takut. Arga, dengan ilmu survival pramukanya, ia melakukan teknik napas perut. Ia buang napas pelan-pelan lewat hidung, 1... 2... 3... tahan... 1... 2... 3... buang sepelan mungkin, tanpa suara. Mereka seperti dua patung batu di antara akar.

Tapi Gilang, ia nyaris mual saat aroma makhluk itu menusuk hidungnya. Gilang berada tepat di arah angin. Bau busuk bangkai itu menghantam hidungnya langsung, masuk ke tenggorokan. Perutnya yang kosong sejak pagi langsung bergejolak hebat. Asam lambungnya naik.

"Uekh..." ia hampir saja muntah.

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Gilang membekap mulut dan hidungnya sendiri dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah, matanya berair, keringat dingin sebesar jagung. Ia menahan muntah itu di dalam mulutnya. Ia gigit lidahnya sendiri. Ia hampir pingsan karena harus menahan napas, menahan mual, dan menahan teror dalam satu waktu. Tubuhnya gemetar hebat seperti daun.

Sedangkan Maira dan Elina terdiam meski dalam hati sudah ingin teriak. Maira memeluk Elina dari belakang, satu tangannya membekap mulut Elina, satu tangannya membekap mulutnya sendiri. Air mata Maira mengalir deras tanpa suara. Elina, di dalam pelukan Maira, tubuhnya kejang. Lukanya yang baru setengah diperban itu berdenyut nyeri luar biasa karena ia tegangkan ototnya untuk diam. Ia ingin teriak. Ia ingin menjerit karena sakit. Tapi ia tahan. Ia tahan sampai seluruh tubuhnya bergetar.

Makhluk induk itu berhenti tepat di depan mereka. Hanya dua meter.

Kepalanya yang tanpa mata itu menunduk rendah, lubang di wajahnya mengendus-endus udara tepat di atas kepala Bima. Suara napasnya terdengar.

GROOOHHH... GROOOHHH... berat dan serak seperti kayu digergaji.

Anak-anaknya berlarian mengitari mereka, kaki-kaki kecil mereka menginjak lumut. Salah satunya berhenti tepat di samping kaki Gilang yang sedang menahan muntah.

Satu detik lagi dan mereka ketahuan.

Tapi kemudian, mungkin karena tidak ada suara, mungkin karena bau darah Elina tertutup bau antiseptik yang menyengat dari kotak P3K Maira, makhluk induk itu perlahan mengangkat kepalanya lagi. Ia kehilangan minat.

Ia berbalik. Dengan langkah berat yang membuat tanah bergetar pelan,

DUK... DUK... DUK...

Ia kembali berjalan masuk ke dalam kerimbunan pohon raksasa yang hampir tak ada celah itu. Ketiga anaknya mengikuti, menghilang satu per satu ditelan kegelapan.

Bau busuk itu perlahan memudar. Suara langkahnya menjauh. Lalu sunyi lagi.

Mereka masih terdiam seperti patung selama hampir satu menit penuh setelah makhluk itu pergi, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Baru setelah itu, Gilang langsung memalingkan muka dan muntah hebat di atas lumut, tapi tetap berusaha tidak bersuara. "Hooekh... hoekh..."

Maira langsung ambruk, melepas pelukannya dan terisak pelan memeluk lututnya. Elina terengah-engah, akhirnya bisa bernapas lagi.

Dan setelah para makhluk pergi, Bima memutuskan untuk mencari tempat aman sementara untuk mereka setidaknya sampai Elina pulih.

Bima membuka matanya, napasnya terengah-engah. Ia melihat teman-temannya yang sudah di batas mental.

"Kita nggak bisa di sini," bisik Bima, suaranya serak dan pelan sekali, ia takut makhluk itu masih mendengar. "Terbuka gini kita bakal ketemu lagi. Kita butuh tempat sembunyi."

Ia menunjuk asal ke arah akar pohon raksasa terbesar di dekat mereka. Di sana, ada celah, seperti gua kecil yang terbentuk dari akar yang melilit, cukup untuk lima orang meringkuk di dalamnya.

"Kita ke sana. Kita sembunyi di dalam akar itu dulu. Sampai Elina kuat jalan. Sampai kita tau cara keluar dari dunia setan ini."

Semua mengangguk lemah tanda setuju.

Dengan sisa tenaga yang ada, Bima kembali menggendong Elina yang lemas. Maira membantu menopang perban Elina. Arga memapah Gilang yang masih mual dan lemas. Mereka berlima berjalan pelan, diam, tanpa suara, dan bertindak hati-hati, masuk ke dalam lubang akar yang gelap itu.

Mereka tahu, lubang itu bukan tempat aman. Di tempat aneh ini tidak ada yang benar-benar aman. Tapi setidaknya mereka punya tempat istirahat untuk sementara.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!