Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Kaca, Bayangan Diana, dan Retaknya Sebuah Rumah
Hujan deras mengguyur Kota Bogor sejak sore, menyisakan aura dingin yang merayap hingga ke dalam sudut-sudut Kediaman Hapsburg. Malam itu, tidak ada gelak tawa, tidak ada rencana taktis konyol, dan tidak ada senjata yang digelar di atas meja. Rumah megah itu hening, hanya diselingi denting jarum jam dinding dan gemericik air hujan di luar kaca jendela.
Tania melangkah perlahan menaiki tangga menuju lantai dua, menenteng sepinggir nampan kayu berisi secangkir susu cokelat hangat dan dua potong bolu kukus buatan tangannya sendiri. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak lelah. Sejak pulang dari perkemahan beberapa hari lalu, ia menyadari Dea menjadi jauh lebih pendiam. Gadis itu lebih banyak mengurung diri di kamar, menolak makan bersama, dan menjawab setiap pertanyaan dengan sepatah dua patah kata yang dingin.
Sebagai seorang ibu, Tania merasa cemas. Ia menduga Dea mungkin masih trauma akibat insiden penculikan malam itu.
Tania mengetuk pintu kamar Dea pelan. "Dea? Ibu bawain susu hangat. Boleh Ibu masuk?"
Tidak ada jawaban. Namun, pintu kamar tersebut ternyata tidak terkunci rapat dan sedikit terbuka.
Tania mendorong pintu kayu itu perlahan. Di dalam kamar yang remang-remang, Dea sedang duduk di lantai di samping tempat tidurnya. Di hadapannya, tergelar sebuah koper hitam yang sudah terisi setengahnya dengan baju-baju. Di atas pangkuan Dea, terdapat sebuah bingkai foto perak yang selama ini tersimpan rapat di dasar lemari terkunci.
Foto seorang wanita cantik berambut pirang dengan mata teduh—Diana, ibu kandung Dea.
Tania terhenti di ambang pintu. Pandangannya jatuh pada koper yang terbuka, lalu pada lembaran kertas berlogo resmi Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang tergeletak di atas meja belajar Dea. Surat penerimaan beasiswa penuh untuk program akselerasi fisika kuantum, lengkap dengan tiket pesawat satu arah menuju Boston yang dijadwalkan keberangkatannya dua minggu lagi.
Tania menaruh nampan susu di atas meja kecil dengan tangan yang mulai gemetar.
"Dea..." suara Tania tertahan di tenggorokan. "Ini... surat beasiswa dari Amerika? Kamu mendaftar ini tanpa bilang sama Ibu dan Ayah?"
Dea tidak langsung mendongak. Jemarinya yang kurus mengusap perlahan permukaan kaca pada foto ibu kandungnya. "Aku sudah bilang pada Ayah tadi siang," jawab Dea datar, tanpa emosi. "Dan Ayah memberi izin."
Tania tersentak. Rasa sesak mendadak menghimpit dadanya. "Ayahmu tahu? Tapi... kenapa kamu nggak bicara sama Ibu, Nak? Kita kan bisa bahas ini baik-baik. Kamu baru enam belas tahun, Dea. Pergi ke luar negeri sendirian, tinggal di negara orang—"
"Aku bukan anak kecil lagi, Bu," potong Dea, akhirnya mendongak. Matanya yang dingin dan tajam menatap lurus ke dalam manik mata Tania. "Dan aku tidak butuh izin dari Ibu."
Kalimat itu mendarat tepat di dada Tania seperti sabetan sembilu yang tak berdarah. Tania berusaha menelan rasa sakitnya, mencoba tersenyum dan mendekati putrinya.
"Dea, Ibu tahu kamu mandiri dan jenius," Tania berjongkok di samping Dea, mencoba menggapai jemari gadis itu. "Tapi Ibu cuma khawatir. Ibu sayang sama kamu. Selama ini Ibu selalu berusaha menjaga kamu, memastikan kamu aman—"
"Menjaga?" Dea menarik tangannya dengan kasar sebelum Tania sempat menyentuhnya. Gadis itu berdiri, menatap Tania dari atas dengan tatapan yang penuh kejenuhan dan kebencian yang selama ini terpendam. "Atau mengontrol?"
Tania terpaku di lantai, mendongak menatap Dea. "Maksud kamu apa, Dea?"
"Aku lelah, Bu," suara Dea gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang akhirnya pecah setelah bertahun-tahun ditahan. "Aku lelah dengan semua pertunjukan ini. Aku lelah Ibu datang ke sekolahku, mengatur siapa temanku, mengacak-ngacak hidupku, berpura-pura jadi pahlawan super yang selalu menyelamatkan aku. Ibu melakukan semua itu bukan demi aku. Ibu melakukan itu demi ego Ibu sendiri!"
"Dea! Itu tidak benar!" napas Tania memburu, matanya mulai berkaca-kaca. "Ibu melakukan semua itu karena Ibu peduli! Ibu menyayangi kamu seperti anak kandung Ibu sendiri!"
"JANGAN PERNAH BILANG IBU SEPERTI ANAK KANDUNG!" jerit Dea, sebuah teriakan yang membelah keheningan rumah. Air mata akhirnya menetes di pipi gadis jenius itu, menyibak kerapuhan di balik topeng ketenangannya selama ini.
"Ibu bukan ibuku!" desis Dea dengan suara serak yang menghancurkan hati. "Ibuku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu! Namanya Diana! Dan Ibu... Ibu cuma orang asing yang masuk ke rumah ini, merebut posisi Ibuku, dan memaksa aku untuk menerima Ibu sebagai pahlawan baru di hidupku!"
Xander, yang mendengar teriakan itu dari lantai bawah, bergegas naik dan berdiri di pintu kamar. Wajah pria raksasa itu pucat pasi melihat dua wanita yang paling dicintainya berada di ambang kehancuran.
"Dea! Cukup!" tegur Xander dengan suara berat yang menahan kepedihan. "Jangan bicara seperti itu pada ibumu! Tania sudah mengorbankan seluruh hidupnya untuk merawatmu!"
Dea menoleh pada ayahnya, tertawa sumbang dengan air mata yang terus mengalir. "Lihat? Ayah selalu membela dia. Ayah biarkan wanita ini menggantikan posisi Mama Diana hanya supaya Ayah tidak merasa bersalah lagi, kan? Ayah cuma mau keluarga yang 'normal', dan kalian berdua pura-pura bahwa aku adalah bagian dari dongeng bahagia kalian!"
Dea menunjuk ke arah Tania dengan jari yang gemetar. "Tahu tidak kenapa aku mendaftar beasiswa ini? Bukan cuma demi pendidikanku. Tapi karena aku ingin kabur dari rumah ini! Aku tidak tahan lagi melihat wajah Ibu yang selalu pura-pura peduli, padahal setiap kali Ibu melihatku, Ibu cuma melihat aku sebagai 'proyek' yang harus Ibu lindungi supaya Ibu merasa jadi ibu yang sempurna!"
Tania berdiri perlahan dari lantai. Seluruh kekuatan, ketangguhan, dan keberanian yang biasanya mendefinisikan dirinya mendadak sirna. Di depan kejujuran yang brutal dari anak tirinya, Tania merasa telanjang dan tidak berdaya.
Segala hal yang Tania lakukan selama ini—memasak makan malam, memasang badan menghadapi ancaman bahaya, mempermalukan penjahat demi Dea—ternyata di mata Dea hanyalah sebuah invasi yang menyesakkan. Sebuah paksaan untuk menghapus kenangan ibu kandungnya.
"Dea..." suara Tania nyaris tak terdengar, tenggelam dalam tangisnya sendiri yang ditahan. "Ibu... Ibu tidak pernah bermaksud menggantikan Mamamu. Ibu cuma... cuma ingin kamu merasa punya keluarga yang utuh..."
"Tapi aku tidak pernah minta itu dari Ibu!" balas Dea dingin. Gadis itu menghapus air matanya kasar, lalu berbalik membelakangi Tania dan Xander, kembali membereskan kopernya. "Tolong keluar dari kamarku. Aku mau sendiri."
Xander hendak melangkah maju untuk memeluk putrinya, namun Tania menahan lengan suaminya.
Tania menggelengkan kepala pelan. Wajahnya yang biasa dihiasi senyum licik kini pucat dan hampa. Tania menatap punggung Dea yang kaku untuk beberapa detik, meratapi jurang tak berdasar yang ternyata selama ini membentang di antara mereka berdua.
"Maafkan Ibu, Dea," bisik Tania pelan. "Maaf kalau hadirnya Ibu di rumah ini... justru bikin kamu menderita."
Tania berbalik dan melangkah keluar dari kamar Dea dengan langkah tertatih-tatih. Xander menatap Dea dengan hati hancur sebelum akhirnya mengikuti Tania, menutup pintu kamar Dea perlahan.
Di ruang dapur yang gelap dan dingin, Tania duduk sendirian di meja makan. Cahaya lampu gantung yang remang-remang menerangi wajahnya yang sembab. Cangkir susu hangat yang dibawanya tadi kini mendingin di atas meja, tak tersentuh.
Xander melangkah mendekat dari balik bayang-bayang, menyandarkan tangannya di bahu Tania. "Tania... Dea hanya sedang emosi. Dia tidak bermaksud—"
"Dia bermaksud, Mas," potong Tania datar, menatap kosong ke arah gelas susunya. "Anak kecil tidak bisa bohong soal rasa sakitnya sendiri. Dea benar. Selama ini aku yang terlalu percaya diri. Aku pikir dengan membawakan bekal, melindungi dia dari bahaya, dan bersikap sok jagoan, aku bisa bikin dia menganggapku sebagai ibunya."
Tania tertawa kecil—sebuah tawa yang dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam.
"Aku lupa, Mas," lanjut Tania, air matanya menetes di atas meja kayu. "Sebesar apa pun usahaku... aku tetap bukan wanita yang melahirkannya. Aku cuma orang luar yang memaksakan diri masuk ke dalam kenangan dia dan Diana. Aku yang egois."
Xander memeluk istrinya dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tania. Untuk pertama kalinya sejak runtuhnya kartel Elysium, Xander merasa benar-benar gagal. Senjata terbaiknya, kekayaannya, dan pengaruhnya di dunia bawah tidak ada artinya sama sekali menghadapi luka batin yang meretakkan keluarganya sendiri.
Di lantai atas, di dalam kamar yang terkunci rapat, Dea duduk memeluk lututnya di sudut tempat tidur. Di tangannya, ia menggenggam erat foto ibu kandungnya. Namun matanya menatap kosong ke arah pintu yang tertutup.
Kemenangan emosional yang baru saja ia lontarkan tidak memberinya rasa lega. Sebaliknya, bayangan wajah Tania yang hancur saat mendengar kata-katanya tadi terus membayangi pikiran Dea, meninggalkan rasa hampa yang dingin dan menusuk di dalam dadanya.
Malam itu, Kediaman Hapsburg tidak lagi diserang oleh musuh dari luar. Benteng yang selama ini berdiri kokoh itu telah retak dari dalam, dipisahkan oleh dinding kaca tak kasat mata bernama duka, kenangan masa lalu, dan rasa asing yang tak pernah benar-benar disembuhkan.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor