Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Masuk Kamar
"Vivian, kau tidak bisa bicara sembarangan. Hubungan darah mana bisa diputuskan begitu saja?" kata Mike.
Vivian menatapnya dengan tatapan penuh luka.
"Hidupku hampir berakhir karena kalian. Masa depanku juga hancur karena kalian. Walaupun aku sudah bebas dari penjara, sebutan sebagai mantan narapidana tetap menjadi masalah bagiku."
Vivian menarik napas panjang.
"Kalian semua hanya memikirkan putri kesayangan kalian. Terus terang, aku sering berharap seandainya aku bukan bagian dari keluarga Wei, mungkin nasibku tidak akan seburuk ini."
Tatapannya beralih kepada Mike dan June.
"Sejak aku pulang, kalian sama sekali tidak pernah bersikap baik kepadaku. Bahkan tidak pernah menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah kalian lakukan."
"Bukankah Mama pernah mengatakan akan menebus kesalahan kepadamu? Kenapa kau tidak bisa bersabar?" tanya June.
Vivian tersenyum getir.
"Nyonya Wei, jangan memasang wajah sedih seolah-olah aku sengaja ingin menentang kalian. Untuk apa aku tetap tinggal di sini kalau kalian sendiri tidak pernah menganggapku sebagai keluarga?"
Vivian mengangkat kepalanya.
"Aku sudah dewasa dan selama ini hidup mandiri. Sejak berusia enam belas tahun, aku sudah bekerja untuk membiayai pendidikanku sendiri. Artinya, tanpa kalian pun aku bisa hidup dengan baik."
Mark menatap Vivian dengan kagum.
"Pantas saja kalau kau jauh lebih pintar daripada mereka. Ternyata anak-anak manja keluarga Wei sama sekali tidak berguna."
Wajah Tom dan Vivi langsung berubah malu.
Delvin kemudian menatap Vivian.
"Aku mendukung keputusanmu. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum."
"Benarkah?" tanya Vivian.
"Tentu saja."
Delvin menatap Mike dan June dengan dingin.
"Kalau mereka mengancam atau menolak, tunjukkan saja bukti atas semua yang telah mereka lakukan kepadamu. Selain itu, mereka juga harus berhadapan dengan kuasa hukum Yang Group."
"Direktur Yang..." Mike berusaha berbicara.
Namun, Delvin tidak memberinya kesempatan.
"Mari kita pergi."
Delvin berbalik dan melangkah keluar dari mansion.
Vivian segera mengikutinya, disusul Mark.
Jo kemudian mengambil koper dan tas milik Vivian, lalu membawanya menuju mobil.
Vivian berhenti sejenak di depan pintu mansion dan menoleh untuk terakhir kalinya.
Tidak ada lagi keraguan di matanya.
Mulai hari ini, dia akan menjalani hidupnya sendiri.
"Selamat tinggal!" ucap Vivian.
Mark tersenyum kepadanya.
"Tenang saja, kau tidak sendirian. Di universitas ada aku, dan di perusahaan ada Pamanku. Jadi, tidak akan ada yang bisa menindasmu lagi!"
Vivian terkekeh.
"Memang keluarga Yang jauh lebih baik daripada keluarga Wei. Kalau begitu, apakah aku boleh mengganti margaku menjadi Yang?"
Mark langsung tertawa.
"Paman, Vivian juga bisa menjadi keponakanmu. Dia begitu pintar. Aku yakin Kakek pasti tidak akan keberatan kalau mendapatkan seorang cucu perempuan."
Delvin yang sudah berada di dekat mobil hanya menatap Mark dengan wajah datar.
"Vivian tidak memiliki hubungan darah denganku. Dia tidak bisa menjadi keponakanku."
Setelah mengatakan itu, Delvin langsung masuk ke dalam mobil.
Jo yang berdiri di samping koper Vivian menahan senyum.
"Tentu saja tidak bisa, karena Tuan justru menyukai gadis ini," batinnya.
Jo melirik ke arah Delvin yang sudah duduk di dalam mobil.
Malam hari.
Villa Dong Shu, Blok 08A.
Vivian yang baru saja pindah ke Villa Dong Shu melirik ke sana kemari dengan wajah bingung. Villa itu jauh lebih mewah dan luas daripada yang pernah ia bayangkan.
Vivian berjalan beberapa langkah sambil memperhatikan berbagai ruangan dan koridor yang ada di dalamnya.
"Memang Direktur Yang jauh lebih kaya daripada keluarga Wei. Bahkan luas villa ini saja sudah tidak masuk akal."
Ia menatap beberapa koridor yang bercabang dari ruang utama.
"Tapi kenapa ada begitu banyak koridor? Itu menuju ke mana? Bukankah ini hanya satu villa? Kenapa kamarnya sebanyak ini?"
Vivian mengerutkan kening.
"Jangan-jangan Direktur Yang memang pernah tinggal di sini sebelumnya?" gumamnya penasaran.
Vivian kemudian menarik kopernya menuju salah satu kamar. Saat melangkah masuk, ia langsung terpukau melihat ruangan yang luas dan dilengkapi berbagai fasilitas mewah.
“Wah, kamarnya bahkan dua kali lebih luas daripada kamarku,” gumam Vivian.
Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
“Setelah tidur di lantai penjara selama setahun, akhirnya aku bisa bebas dan memiliki kehidupan sendiri. Mulai sekarang, keluarga Wei jangan berharap bisa menyinggungku lagi,” ucap Vivian dengan puas.
Ia membenamkan tubuhnya ke kasur yang empuk.
“Nyaman sekali!”
Tak lama kemudian, Vivian memejamkan mata dan tertidur.
Pukul sebelas malam.
Vivian membuka matanya dengan wajah mengantuk.
“Haus... Di mana dapurnya?” gumamnya sambil mengucek mata.
Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
“Rumah sebesar ini kalau tinggal sendirian benar-benar tidak masuk akal,” gumam Vivian sambil menuangkan air ke dalam gelas putih.
Setelah selesai minum, Vivian berniat kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti.
“Tadi kamarku di koridor yang mana?” gumamnya sambil menggaruk kepala.
Vivian menatap sekeliling dengan bingung.
“Ini lebih mirip istana daripada villa.”
Ia kemudian memilih salah satu koridor dan mulai membuka pintu-pintu yang dilewatinya. Namun, tidak satu pun kamar yang terasa familiar.
Setelah sampai di ujung koridor, Vivian membuka sebuah pintu dan melangkah masuk.
“Sepertinya ini bukan kamarku.”
Ia membuka pintu lain di dalam ruangan tersebut dan menemukan sebuah kamar mewah yang dilengkapi perabotan lengkap.
“Semua kamar di sini sangat mewah. Tapi kenapa tidak ada yang tinggal?” gumam Vivian.
Tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman.
“Perutku sakit. Lebih baik aku tidur di sini saja daripada harus mencari kamar tadi.”
Vivian kemudian berjalan menuju kamar mandi.
“Wangi sekali.”
Ia melihat sebuah pintu kaca dan berniat membukanya.
“Kenapa banyak sekali pintunya?”
Vivian membuka pintu tersebut.
Matanya langsung terbelalak.
Di dalam ruangan itu, seorang pria sedang mengelap tubuhnya yang masih basah setelah selesai mandi.
Pria itu adalah Delvin Yang yang kini tanpa balutan apa pun.
Vivian tanpa sadar memperhatikan tubuh pria itu. Kulit Delvin terlihat putih dan bersih, dengan tubuh tegap serta otot yang terbentuk jelas.
“Kau siapa?” tanya Vivian spontan.
Delvin langsung menoleh. Wajahnya seketika berubah ketika melihat Vivian berdiri di depan pintu.
Keduanya terdiam.
Vivian pun tanpa sadar menatap Delvin dari bawah ke atas, lalu kembali menatap wajahnya.
Beberapa detik kemudian, pandangannya kembali perlahan turun dari kepala, melewati tubuhnya, hingga ke kaki.
Setelah itu, Vivian kembali mengangkat pandangannya dari kaki hingga akhirnya berhenti tepat di wajah pria tersebut.
"Apa kau sudah puas melihat?" tanya Delvin langsung melilit handuknya.
"Belum puas!" jawab Vivian tanpa sadar.