Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Zea
Mobil hitam yang membawa Zea dan rombongannya melaju meninggalkan kediaman keluarga Sultan.
Di kursi penumpang bagian belakang, Zea duduk berdampingan dengan Intan, sementara di depan terlihat Kapten Sagara duduk di sebelah Pak Yanto yang sedang fokus mengemudikan mobil.
Sejak mobil mulai berjalan, Intan beberapa kali melirik ke depan. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Zea dan mulai berbisik.
“Zea ....”
“Hm?”
“Aku pikir pengawalmu itu tuir dan berkumis.”
Zea langsung menoleh.
Intan menahan senyum sambil kembali melirik Sagara. “Ternyata gila, ganteng banget!”
Zea langsung memutar bola matanya. “Biasa saja.”
“Biasa dari mana?”
Intan kembali berbisik, meskipun volumenya sebenarnya tidak serendah yang ia kira.
“Buset, Zea. Itu kalau masuk televisi bisa jadi aktor papan atas, lho.”
Zea melirik ke depan. Sagara duduk tegak dengan wajah serius, sesekali memperhatikan jalan di depan melalui kaca depan mobil.
“Meski tampan, apa gunanya kalau dia dingin begitu?” balas Zea.
Intan mengangguk setuju. “Benar juga.” ia kemudian menyipitkan mata sambil memperhatikan Sagara. “Kayaknya kalau diajak ngobrol, jawabannya cuma satu atau dua kata.”
“Memang.”
“Sudah begitu wajahnya seperti orang yang belum pernah mengenal senyum.”
Zea menahan tawa. “Dari tadi aku baru dengar dia ngomong lebih dari lima kalimat kalau sedang menjawab Kakek.”
Intan menutup mulutnya, menahan cekikikan. “Jangan-jangan kalau dia punya pacar, pacarnya yang cpek.”
Zea langsung mengangguk. “Bukan lagi, tapi langsung mati beku.”
“Kalau aku yang punya pacar seperti itu, baru tiga hari sudah aku tinggal.”
Zea menoleh. “Kamu baru tiga hari juga sudah ditinggal orang.”
“Eh!” Intan mencubit lengan Zea pelan. “Jangan bawa-bawa masa lalu!”
Zea tertawa kecil.
Di kursi depan, Pak Yanto yang mendengar percakapan kedua gadis itu hanya bisa meringis. Ia sesekali melirik Sagara tetap duduk tenang seolah tidak mendengar apa pun.
Padahal, telinga pria itu jelas menangkap setiap perkataan mereka.
Pak Yanto menelan ludah. Ia merasa kasihan kepada kedua gadis di belakang. Namun ia juga tidak berani memperingatkan mereka.
Intan kembali mendekatkan tubuhnya kepada Zea. “Menurutmu dia kalau marah seperti apa?”
Zea berpikir sebentar. “Lebih dingin.”
“Memangnya bisa lebih dingin?”
“Entahlah.”
Keduanya kembali menahan tawa.
“Kalau dia senyum, kira-kira seperti apa, ya?” tanya Intan.
Zea mengangkat bahu. “Mungkin dunia langsung kiamat.”
Pak Yanto hampir tersedak menahan tawa. Sagara tetap diam. Namun jari telunjuknya perlahan mengetuk lututnya satu kali.
Pak Yanto melihat gerakan itu dari sudut mata dan langsung tahu satu hal. Kapten Sagara sedang menahan kesabaran.
Sementara itu, Intan masih belum selesai. “Eh, Zea.”
“Apa lagi?”
“Kalau aku boleh jujur, pengawalmu jauh lebih tampan daripada bayanganku.”
Zea mendengus. “Ambil saja.”
Intan membelalak. “Serius?”
Zea langsung menoleh dengan wajah datar. “Bercanda.”
Intan terkekeh. “Sayang sekali.”
Zea menyilangkan tangan di dada. “Lagipula dia terlalu dingin.”
“Memangnya kamu suka pria yang hangat?”
“Ya.”
Intan tersenyum jahil. “Berarti Kapten Sagara bukan tipe kamu?”
“Jelas bukan.”
Sagara yang sejak tadi diam akhirnya berbicara tanpa menoleh.
“Bisakah suara Nona lebih besar lagi agar semua orang bisa mendengarnya.”
Seketika suasana di kursi belakang membeku. Zea dan Intan saling berpandangan.
Pak Yanto langsung menundukkan wajah untuk menyembunyikan senyumnya.
Beberapa detik kemudian, Zea berdeham.
“Kami ini baik lho, gak suka membicarakan orang diam-diam tapi membicarakan orang di depan orangnya langsung.”
“Ya.” Intan memgangguk semangat.
Sagara hanya diam dengan wajah dinginnya. Dalam hatinya, ia menghela napasnya.
***
Di ruang rapat kantor gubernur pagi itu dipenuhi beberapa kepala dinas, pejabat terkait, serta sejumlah staf yang duduk mengelilingi meja panjang.
Di ujung meja, Zea duduk sebagai pemimpin rapat dengan setumpuk dokumen di hadapannya, sementara Intan duduk beberapa kursi di belakangnya sambil menyiapkan laptop untuk mencatat hasil pembahasan.
Di sisi kanan Zea berdiri Sagara dengan setelan hitam dan wajah datarnya yang sulit ditebak. Ia tidak ikut campur dalam urusan rapat, tetapi matanya sesekali menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan terjadi di sekitar Zea.
“Baik, kita mulai rapat hari ini,” ujar Zea sambil membuka map laporan. “Agenda utama kita adalah pembangunan infrastruktur dan perbaikan fasilitas umum yang memang sudah lama dikeluhkan masyarakat.”
Salah seorang kepala dinas mengangguk. “Benar, Bu Gubernur. Kami sudah menyiapkan rancangan anggaran dan tahapan pelaksanaannya.”
Zea mulai membaca lembar demi lembar laporan tersebut. Namun, baru beberapa halaman, alisnya langsung bertaut dan ekspresinya berubah serius ketika melihat angka yang tercantum di sana.
“Sebentar,” katanya sambil mengangkat wajah. “Ini anggaran untuk memperbaiki jalan rusak atau untuk membiayai rapat kalian?”
Suasana ruangan seketika hening. Intan yang sedang mengetik langsung berhenti dan menatap Zea, sedangkan beberapa pejabat saling melirik dengan wajah yang mulai kaku.
“Maaf, Bu Gubernur?” tanya seorang kepala dinas.
Zea mengangkat laporan itu. “Saya lihat di sini ada anggaran untuk tim turun mengecek jalan satu per satu, kemudian rapat koordinasi di hotel, biaya makan, perjalanan dinas kepala dinas dan beberapa pejabat lainnya, lalu ada biaya koordinasi dengan pihak kontraktor swasta.”
Ia membalik beberapa halaman dengan cepat. “Yang mau saya tanyakan, dari semua ini, mana yang benar-benar masuk ke pembangunan jalan dan fasilitas umum?”
Seorang pria paruh baya yang duduk di seberang meja segera menjawab, “Bu, semua itu bagian dari prosedur. Kami tidak bisa langsung turun bekerja tanpa melakukan pengecekan lapangan dan koordinasi terlebih dahulu.”
“Kenapa tidak?” tanya Zea singkat.
Pria itu terlihat sedikit terkejut. “Karena kami harus memastikan kondisi setiap lokasi secara langsung. Tidak mungkin hanya berdasarkan laporan masyarakat.”
Zea meletakkan laporan tersebut di atas meja. “Justru saya sudah menyediakan cara yang lebih cepat.”
“Cara yang lebih cepat?” sahut kepala dinas lainnya.
“Laporan langsung dari masyarakat,” jawab Zea. “Saya sudah membuka akses pengaduan melalui media sosial saya, dan masyarakat bisa mengirimkan foto, video, serta lokasi jalan atau fasilitas yang rusak melalui DM.”
Intan menahan senyum kecil sambil kembali mengetik. Ia tahu betul Zea memang sering membuka pesan dari masyarakat, bahkan terkadang membalas sendiri laporan yang masuk.
Zea melanjutkan, “Dalam beberapa hari saja, saya sudah menerima banyak laporan lengkap dengan foto dan lokasi. Jadi kalau masyarakat yang tinggal di sana bisa mengirimkan bukti kerusakan dalam hitungan menit, kenapa pemerintah harus menghabiskan waktu dan uang hanya untuk mengecek semuanya dari awal? Atau ini cara kalian untuk mengambil banyak keuntungan. Begitu kah?”
Deg!
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏