“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Permana tidak membuang waktu.
Setelah melihat sendiri bagaimana Haikal mencengkeram tangan Tiara di pasar, pria itu mengambil keputusan yang bahkan membuat Tiara dan Bibi Sinta terkejut.
Mereka harus pergi dari rumah.
Saat itu juga.
Sebuah mobil sudah menunggu di depan rumah.
"Pak Permana, sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Tiara ketika mereka baru saja masuk ke dalam mobil.
“Hotel.”
“Hotel?”
Tiara mengerutkan dahi.
Permana yang duduk di sampingnya hanya menjawab singkat.
“Ya.”
Bibi Sinta yang duduk di depan menoleh.
“Kenapa hotel?”
“Aku tidak ingin Tiara berada di rumah dalam beberapa hari ke depan.”
“Karena Haikal?”
Permana mengangguk.
“Aku tidak tahu sejauh apa dia akan bertindak setelah ini.”
Tiara menghela napas.
“Mas, menurutku dia hanya sedang emosi.”
Permana menoleh kepadanya.
“Dia sudah datang tengah malam dan bersimpuh di depan rumahmu.”
Tiara terdiam.
“Pagi-pagi dia mengejarmu sampai pasar.”
Permana melanjutkan dengan suara tenang.
“Dan ketika kau menolaknya, dia mencengkeram tanganmu.”
Ia menatap bekas kemerahan di pergelangan tangan Tiara.
“Aku tidak mau mengambil risiko.”
Tiara tidak mampu membantah.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah hotel mewah.
Tiara mendongak.
Bangunan itu begitu megah.
“Ini hotel siapa?” tanyanya.
“Punya keluargaku.”
Tiara langsung menoleh.
“Keluargamu?”
Permana mengangguk.
“Tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu di sini.”
Mereka kemudian dibawa menuju sebuah suite yang sangat luas.
Begitu pintu terbuka, Tiara kembali terkejut.
Ruangannya besar dan nyaman. Ada ruang tamu, dua kamar tidur, dapur kecil, bahkan balkon pribadi.
Bibi Sinta sampai melongo.
“Wah... ini hotel atau rumah?”
Permana tersenyum tipis.
“Anggap saja rumah sementara.”
Tiara menatap Permana.
“Kamu benar-benar serius membawaku ke sini?”
“Sangat serius.”
Pria itu kemudian duduk di sofa.
Sementara Tiara dan Sinta duduk di seberangnya.
Beberapa menit kemudian, Sinta tiba-tiba tersenyum.
“Bibi baru sadar.”
“Apa, Bi?” tanya Tiara.
“Pria sejati memang menakutkan kalau sudah cemburu.”
Tiara langsung memerah.
“Bibi!”
Sinta terkekeh.
“Lihat saja. Belum menikah sudah seperti bodyguard pribadi.”
Permana hanya tersenyum.
“Dia sangat protektif padamu, Tiara.”
Sinta menepuk bahu keponakannya.
“Kau benar-benar beruntung bisa dicintai ugal-ugalan seperti itu oleh Permana.”
Tiara melirik Permana.
Pria itu hanya mengangkat alis.
“Ya... aku beruntung,” ucap Tiara pelan.
Kemudian ekspresinya berubah.
“Aku hanya tidak menyangka Mas Haikal akan menjadi segila itu.”
Sinta menghela napas.
“Bibi juga tidak menyangka.”
“Dia menangis.”
Tiara terdiam sejenak.
“Bahkan sampai bersujud.”
Sinta memandangnya.
“Jangan-jangan dia sudah tahu kalau kau sebenarnya tidak mandul dan Intan telah menipunya?”
Tiara menggeleng.
“Mungkin.”
“Lalu kau masih peduli padanya?”
“Idih!”
Tiara langsung memasang wajah jijik.
“Amit-amit!”
Sinta tertawa.
“Bibi hanya bertanya.”
“Sekalipun dia mati bunuh diri, aku tidak pernah sudi untuk peduli padanya!”
Permana yang sejak tadi diam tiba-tiba tersenyum.
Ia kemudian bangkit dan berjalan keluar sebentar.
Tidak lama kemudian, ia kembali membawa nampan.
Di atasnya terdapat beberapa cangkir teh hangat dan camilan.
“Nih.”
Ia meletakkan nampan di atas meja.
“Minum dulu.”
Tiara mengambil cangkir teh.
“Terima kasih.”
Sinta juga mengambil satu cangkir.
“Wah, calon suami perhatian sekali.”
Permana duduk kembali.
Kemudian ia memandang Tiara dengan serius.
“Aku sudah membuat keputusan.”
Tiara mengangkat wajah.
“Keputusan apa?”
“Pernikahan kita akan diadakan besok pagi.”
Cangkir di tangan Tiara hampir terlepas.
“Besok?”
Permana mengangguk.
“Besok pagi.”
“Pak, bukankah sebelumnya kita masih punya waktu?”
“Aku tahu.”
“Kenapa tiba-tiba dimajukan?”
Permana menatapnya dalam-dalam.
“Karena aku tidak sanggup melihat Haikal terus-menerus mengejarmu.”
Tiara terdiam.
“Aku tidak mau menunggu sampai sesuatu yang lebih buruk terjadi.”
Sinta mengangguk setuju.
“Bibi rasa itu keputusan yang tepat.”
Permana kemudian melanjutkan.
“Pernikahan akan dilaksanakan di hotel ini.”
Tiara menatap sekeliling.
“Di sini?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena hotel ini milik keluargaku. Semuanya bisa dipersiapkan dengan cepat.”
Tiara masih terlihat bingung.
“Jadi aku harus tinggal di sini?”
“Ya.”
Permana menunjuk ke arah kamar.
“Dan jangan keluar tanpa izin dariku.”
Tiara mengerjapkan mata.
“Tanpa izin?”
Permana mengangguk serius.
“Untuk sementara.”
Tiara akhirnya mengangguk patuh.
“Baik.”
Permana kemudian menoleh kepada Sinta.
“Bi.”
“Iya?”
“Tolong titip Tiara.”
Sinta langsung tersenyum.
“Tenang saja.”
“Jaga dia dengan baik.”
Permana mengeluarkan ponselnya.
“Di luar, aku juga sudah meminta petugas keamanan untuk berpatroli. Aku ingin memastikan tidak ada orang yang bisa masuk sembarangan.”
Tiara menatapnya tidak percaya.
“Pak, apa ini tidak berlebihan?”
Permana menoleh.
“Tidak.”
Ia berdiri.
“Aku harus pulang menyiapkan semua keperluan untuk pernikahan besok.”
Tiara ikut berdiri.
“Pak Permana.”
“Ya?”
“Kau benar-benar tidak perlu melakukan semua ini hanya karena Mas Haikal.”
Permana mendekatinya.
“Aku melakukan ini bukan hanya karena Haikal.”
“Lalu?”
“Karena aku mencintaimu.”
Tiara terdiam.
Permana menatap matanya.
“Aku sudah pernah hampir kehilanganmu.”
Suaranya melembut.
“Aku tidak mau kecolongan lagi.”
Tiara menundukkan wajah.
“Tidak ada yang berlebihan dengan perlakuanku ini untuk wanita yang aku cintai.”
Kalimat itu membuat dada Tiara terasa hangat.
Ia tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Permana mengusap kepala Tiara dengan lembut.
“Besok kau akan menjadi istriku.”
Tiara membeku.
“Besok?”
“Besok.”
Permana tersenyum.
“Jadi mulai sekarang, jangan pikirkan Haikal lagi.”
Tiara mengangguk.
“Aku tidak akan memikirkannya.”
Sinta yang melihat keduanya langsung tersenyum.
“Bagus. Karena besok pagi Bibi harus melihat keponakan Bibi menikah dengan pria yang rela mengubah hotel menjadi benteng demi menjaganya.”
“Bibi!”
Mereka bertiga tertawa.
Namun setelah Permana pergi, Tiara berdiri di depan jendela dan memandang malam dari balik kaca.
Di tempat lain, mungkin Haikal sedang menangisi dirinya.
Tetapi untuk pertama kalinya, Tiara tidak lagi merasa harus bertanggung jawab atas air mata pria itu.
Masa lalunya sudah selesai.
Besok pagi, ia akan memulai hidup yang baru.
Bersama pria yang tidak hanya mengatakan cinta, tetapi juga membuktikannya dengan seluruh tindakannya.
Dan tanpa Tiara ketahui, di tempat lain, Haikal juga sedang membuat sebuah rencana besar intinya dan Permana.
bersambung ....