Karakter sesuai judul, jadi jangan di judge lagi ya Readers ...
Marissa, 19 tahun. Gadis berwajah cantik dengan tubuh yang seksi dan nyaris sempurna.
Ia tergila-gila pada seorang duda berusia 39 tahun, Marcello Alexander. Seorang Owner sekaligus CEO dari Antariksa Group, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Otomotif.
Namun, sayangnya kisah cinta Marissa harus pupus tatkala ia mengetahui bahwa Marcello adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
Penasaran gak sih? Yukk ... ikuti cerita cinta mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Marcello bahkan tidak hentinya menciumi aroma wangi dari rambut gadis itu sembari mengelus punggungnya nan mulus.
Begitupula Marissa, gadis itu semaki erat memeluk tubuh Marcello sambil mendengarkan irama detak jantung Marcello yang berpacu dengan cepat.
Marcello melemparkan handuk yang tergeletak di lantai ke sembarang arah dengan menggunakan kakinya. Ia tidak ingin Marissa meraih handuk itu, apalagi mengenakannya.
"Dad!?" panggil Marissa.
"Hmmm," gumam Marcello sambil terus menciumi aroma wangi dari rambut Marissa.
"Bisa bantu aku menemukan handukku?" tanya Marissa sembari menyasar lantai dengan menggunakan kakinya untuk mencari keberadaan handuk itu.
Marcello berpura-pura menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan handuk yang tadi sudah ia lemparkan ke sembarang arah. "Daddy tidak menemukannya handuk itu, Cha," sahut Marcello.
Marissa nampak kecewa, ia menekuk wajahnya sambil terus mencari keberadaan handuk itu dengan menggunakan kakinya. Setelah ia yakin handuknya memang benar-benar menghilang, ia meminta Marcello untuk menuntunnya ketempat tidur.
"Dad, tuntun aku menuju tempat tidur. Aku ingin meraih selimutku," ucap Marissa yang tidak punya pilihan lain.
Dengan berat hati, Marcello pun menuruti permintaan putrinya tersebut. Ia menuntun Marissa ke tempat tidur tanpa melerai pelukannya bersama gadis itu. Marcello bahkan semakin erat memeluk tubuh polos gadis itu.
Setibanya ditempat tidur, Marissa bergegas meraih selimutnya. Kemudian dengan secepat kilat, ia menutupi tubuh polosnya dengan menggunakan selimut.
"Fiuh!!!" Marissa menghembuskan napas lega karena akhirnya ia berhasil menutupi tubuhnya. "Dad, sekarang Daddy bisa melepaskan pelukanmu," ucap Marissa setelah ia yakin tubuhnya sudah tertutup oleh selimut tersebut.
"Baiklah," sahut Marcello sembari melepaskan tubuh Marissa secara perlahan.
"Terima kasih, Dad!" ucap Marissa dengan wajah tertunduk setelah Marcello melepaskan tubuhnya. Ia benar-benar-benar malu dan tidak sanggup untuk menatap mata lelaki itu.
"Sebaiknya Daddy kembali."
Marcello segera berbalik dan meninggalkan kamar Marissa dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Gila! Bukannya niatku mau marah-marah sama Marissa, kenapa malah jadi mesra-mesraan dengannya! Ini semua gara-gara handuk sialan itu, bisa-bisanya ia meluncur disaat-saat yang tidak tepat!" geram Marcello ketika ia berada didalam kamarnya.
Sementara itu di Apartemen Sarrah.
Wanita itu masih terisak didalam kamarnya. Ia benar-benar kesal sekaligus marah, baik itu kepada Marcello yang tidak bisa menangani kelakuan Marissa, juga kepada Gadis nakal yang selama ini menjadi duri dalam hubungannya bersama lelaki itu.
"Aku harus bisa mempertahankan hubungan ini. Aku tidak boleh kalah dari Gadis sialan itu dan membiarkan dia merebut Marcel! Ya, Tuhan, semoga saja Marcel tetap menyembunyikan status Marissa yang sebenarnya! Aku takut jika suatu saat nanti, Gadis itu tahu bahwa Marcel bukanlah Ayah kandungnya, maka dia akan merebut lelaki itu dariku. Tidak, itu tidak boleh terjadi," lirih Sarrah sambil menyeka airmatanya.
Keesokan paginya.
Pagi-pagi sekali Sarrah sudah bersiap-siap menuju Mansion Marcello. Joe sudah berjanji akan menjemputnya karena nanti malam acara pertunangan mereka akan dilaksanakan secara besar-besaran.
Setelah berdandan dan berpenampilan secantik mungkin, Sarrah pun segera turun dari kamarnya menuju lobby Apartemen. Ternyata, Joe sudah menunggu kedatangannya. Joe tersenyum ketika Sarrah berjalan menghampirinya dan iapun segera membukakan pintu mobil untuk calon istri Tuan-nya itu.
"Selamat pagi, Nona!" sapa Joe.
"Selamat pagi, Joe. Bagaimana persiapan pesta malam ini? Apa semuanya sudah siap?!" tanya Sarrah.
"Ya, Nona. Semuanya sudah siap 99,9 persen," sahut Joe sembari melajukan mobilnya.
Wajah Sarrah terlihat semringah. Rasa kesalnya tadi malam perlahan mulai berkurang. Apalagi mengingat dirinya akan menjadi seorang Nyonya Besar di Mansion megah milik Marcello.
"Setelah aku sah menjadi Nyonya Besar di Mansion itu, aku akan lebih mudah menyingkirkan Marissa. Kita lihat saja, Icha kecil, siapa diantara kita yang akan bertahan disisi Marcello," batin Sarrah seraya menyunggingkan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Setibanya di Mansion, Sarrah segera memasuki bangunan megah itu dan orang pertama yang ingin ia temui adalah kekasihnya, Marcello.
Tepat disaat itu Marcello tengah sarapan bersama Marissa. Sarapan mereka kali ini benar-benar hening. Tak satupun diantara mereka bersedia membuka suaranya. Kejadian dan perdebatan mereka tadi malam membuat keduanya menjadi serba salah.
"Pagi, Sayang!" sapa Sarrah, ketika ia sudah tiba diruang makan. Ia menghampiri Marcello kemudian melabuhkan sebuah kecupan di bibir kekasihnya itu.
Marissa sama sekali tidak ingin melihat kearah Marcello maupun Sarrah. Ia terus menikmati sarapan paginya tanpa menoleh apalagi menyapa pasangan itu.
Setelah selesai menikmati sarapannya, Marissa bergegas pergi. Ia bahkan tidak meminta izin kepada Daddy-nya itu. Marcello hanya bisa menghembuskan napas berat sembari menatap punggung Marissa yang semakin menjauhinya.
"Sayang, aku tidak pernah membenci Marissa barang sedikitpun. Malah sebaliknya, aku ingin Gadis itu menjadi gadis yang baik dan menurut kepadamu. Kamu harus tegas, Sayang! Jangan biarkan Marissa berbuat semaunya disini, takutnya nanti dia malah semakin tidak terkendali," tutur Sarrah sembari mengelus pundak Marcello yang masih terdiam.
...***...