Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Sirine bahaya di seluruh area Dermaga Hitam, Dan suara gemuruh gelombang laut.
Di tepi dermaga, para pengawal veteran Ardio panik luar biasa.
Beberapa dari mereka memegang senjata dengan tangan gemetaran, menatap kapal kargo raksasa yang terus melaju kencang ke arah tangki penyimpanan bahan bakar utama pelabuhan.
03 : 45
03 : 44
"Bos Ardio! Kita harus evakuasi sekarang! Jika ten ton bahan peledak itu menghantam tangki minyak, ledakannya akan meratakan radius lima kilometer! Tidak ada yang bisa selamat!" seru Reno panik melalui saluran radio.
Ardio berdiri tegap di tepi dermaga.
"Tidak. Jika kita mundur sekarang, Victor menang. Dia akan tertawa di atas kekalahan kita," pukas Ardio dingin, bergetar oleh amarah.
"Tapi Bos, tidak ada waktu untuk menaiki kapal itu! Sistem navigasinya dikendalikan dari jarak jauh lewat satelit tertutup!" potong Reno frustrasi. "
Di dalam mobil komando berlapis baja, Adel menatap layar tablet taktisnya dengan napas memburu.
Keringat dingin membasahi dahinya. Jari menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard virtual, meretas masuk ke dalam lalu lintas data nirkabel pelabuhan.
"Satelit tertutup... enkripsi kelas militer... Papa pernah ajarkan cara memutus pemicu frekuensi radio saat latihan simpul data..." gumam Adel cepat pada dirinya sendiri.
Mbak Lina yang berada di samping Adel menatap layar dengan mata membelalak kaget. "Non Adel... apa yang sedang Anda lakukan?!"
"Aku sedang mencari celah masuk ke sistem kendali kapal! Mbak Lina, sambungkan transmisi tablet ini langsung ke konsol komando utama Papa!" jawab Adel tanpa mengalihkan pandangannya dari barisan kode hijau yang bergerak di layarnya.
"Tapi Non, itu berbahaya! Sistem musuh bisa melacak lokasi tablet ini..."
"Lakukan sekarang, Mbak Lina! Kita cuma punya waktu tiga menit!" bentak Adel tegas
Mbak Lina terperanjat dan refleks menekan tombol sambungan.
BZZZZT!
Suara ketukan keyboard Adel bergema di earphone Ardio dan seluruh tim komando.
"Papa! Dengar suara Adel?!" seru Adel melalui mikrofon.
Ardio tersentak. "Adel?! Kenapa kamu belum evakuasi?! Reno, bawa Adel pergi dari sana sekarang!"
"Papa, diam dan dengarkan Adel! Kapal itu menggunakan sistem autopilot berbasis gelombang frekuensi pendek dari menara pemancar lokal! Victor tidak mengendalikannya dari luar negeri, tapi dari pemancar di pelabuhan ini!" potong Adel lantang, membuat Ardio dan Reno membeku seketika.
02 : 12
02 : 11
Reno membelalakkan matanya. "Apa?! Bagaimana Non Adel bisa tahu?!"
"Adel baru saja membobol firewall sinyal kapal! Sistem peledaknya terhubung ke GPS kapal! Begitu posisi kapal menyentuh koordinat tangki minyak, sinyal pemantik akan dikirim otomatis!" seru Adel dengan napas memburu, jemarinya makin cepat mengoperasikan perintah peretasan.
para pengawal yang menyimak saluran radio terpaku
Mereka, yang bertahun-tahun bertaruh nyawa dengan otot dan senjata, mendengar seorang gadis SMA membongkar arsitektur jaringan musuh dalam hitungan detik.
"Adel... kamu bisa mematikannya?" tanya Ardio.
"Adel sedang mencoba menginjeksi virus overload ke transmisi pemancar Victor, Pa! Tinggal satu baris enkripsi lagi... Ayo... sedikit lagi...!" jawab Adel, matanya berbinar penuh konsentrasi.
Di layar tablet Adel, tulisan merah ACCESS DENIED mendadak berubah menjadi hijau.
ACCESS GRANTED - OVERRIDE SYSTEM.
"Dapat!" jerit Adel gembira.
Adel menekan tombol ENTER dengan keras!
BZZZZZZT-CLACK!
Di tengah teluk, cerobong kapal kargo menyemburkan asap hitam pekat.
Suara gemuruh mesin raksasanya mendadak mati total! Baling-baling kapal berhenti berputar, dan laju kapal kargo terhenti hanya berjarak lima puluh meter dari dinding tangki minyak utama!
Di layar monitor raksasa kapal, angka penghitung mundur yang tadinya berdetak cepat mendadak berhenti di angka:
00 : 15
"S-sistem peledak... berhasil dilumpuhkan? Gila... Non Adel benar-benar menghentikan bom sepuluh ton itu?!" bisik Reno tak percaya, menatap layar tabletnya.
Seluruh pengawal veteran di lapangan bersorak pelan, takjub kepada putri sang King Mafia.
Ardio menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
"Kerja yang sangat luar biasa, Princess..." ucapnya tersenyum bangga.
"Adel berhasil, Pa!" sahut Adel melalui radio, suaranya terdengar sangat lega
Namun, sebelum rasa lega itu bertahan lama, ponsel satelit milik Ardio yang berada di saku jasnya mendadak berdering nyaring.
Suara dering unik itu menandakan panggilan masuk dari jalur yang dieksekusi secara privat.
Ardio menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Victor..."
"Haha... luar biasa, Ardio. Benar-benar luar biasa. Putri kecilmu ternyata punya otak yang sangat cerdas. Dia baru saja menyelamatkan pelabuhan ini dari kehancuran," bisik Victor sinis.
"Permainanmu sudah selesai, Victor. Kamu tidak punya kartu As lagi," pukas Ardio dingin.
"Selesai? Oh, tidak, Ardio... Kamu pikir target utamaku malam ini adalah membunuhmu dengan bom? Kamu pikir aku menyandera putri kecilmu di sekolah?" Victor terkekeh pelan.
Ardio mengetatkan cengkeramannya pada ponsel hingga casing baja ponsel itu retak. "Apa maksudmu?!"
"Sandera yang sebenarnya... sama sekali bukan Adelia. Sandera yang sebenarnya... adalah seseorang yang kamu tangisi belasan tahun lalu. Seseorang yang kamu kira sudah membusuk di dalam tanah," bisik Victor dengan suara yang sangat rendah.
DEG!
Jantung Ardio serasa berhenti berdetak.
"Ingat wanita yang dadanya tertembak belasan tahun lalu, Ardio? Bagaimana rasanya jika aku beri tahu... bahwa Kirana masih bernapas detik ini?" lanjut Victor menyeringai puas.