NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Rahasia sang Serigala di Bawah Senja

Tak berselang lama setelah instruksi lari diberikan, debu di lapangan rumput tampak mengepul tipis. Salah satu murid laki-laki datang menghampiri Ethan dengan langkah ringan, nyaris tanpa sisa-sisa kelelahan di wajahnya. Senyum semringah menghiasi bibirnya yang tampak pucat namun segar.

Murid tersebut adalah orang pertama yang menyelesaikan 30 putaran, sementara teman-temannya yang lain masih tampak seperti titik-titik kecil di kejauhan, berjuang mengatur napas di bawah terik matahari. Beberapa murid yang masih berlari sempat melirik dengan tatapan iri dan tak percaya.

"Saya sudah selesai, Tuan!" seru murid itu sembari menyeka keringat tipis di pelipisnya dengan punggung tangan.

"Kerja bagus," sahut Ethan pendek. Ia mengangguk pelan, lalu merogoh kantong ikat pinggang kulitnya.

Tangannya menarik keluar sebuah akta kepemilikan kuda bersimbol segel emas yang berkilau terpapar cahaya matahari. Tanpa ragu, ia menyerahkan perkamen tersebut kepada sang murid.

"Terima kasih banyak, Tuan memang pengajar yang terbaik!"

Murid itu meloncat kegirangan, menggenggam erat gulungan perkamen di tangannya seolah itu adalah trofi paling berharga.

Ethan melangkah maju, mendekat ke arah murid tersebut hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa inci. Ia mencondongkan tubuh tegapnya, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga murid itu dengan nada rendah yang penuh penekanan.

"Kuakui, seorang Vampir sepertimu memang hebat dalam urusan berlari cepat seperti ini. Bisa dikatakan kamu sudah berbuat curang karena menggunakan kekuatan gaibmu yang tidak alami bagi manusia biasa. Namun, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku sudah berjanji, dan aku akan memberikan kuda pacu ras murni itu dengan senang hati."

Perkataan tersebut sontak membuat sang murid yang awalnya memasang wajah gembira itu seketika tertegun. Tubuhnya menegang sejenak, namun keterkejutan itu tidak berlangsung lama. Ia segera menguasai diri.

"Asal Tuan tahu, bukan hanya aku yang memakai kekuatan di lapangan ini," bisik sang murid yang bernama Grayson itu sembari menyeringai tipis, memperlihatkan kilat matanya yang tajam.

"Mereka semua juga menggunakan kemampuan magisnya, meskipun beberapa di antara mereka terlihat seperti manusia biasa. Jadi... kurasa, ini tidak curang sama sekali."

Grayson menatap Ethan dengan penuh tantangan, namun tetap menjaga sopan santun.

Ethan terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia menepuk pundak Grayson dengan telapak tangannya yang lebar—sebuah tepukan khas antar-pria untuk memberikan pengakuan yang tulus.

"Selamat atas kemenanganmu, Grayson."

****

Waktu berlalu dengan cepat di bawah langit senja yang mulai merona jingga. Genta lonceng perunggu tanda berakhirnya pelajaran di Akademi Vesperania telah berdentang beberapa saat yang lalu, memicu arus massa murid yang berhamburan keluar.

Di depan gerbang utama yang terbuat dari besi tempa yang kokoh, Ethan berdiri tegak. Ia masih mengenakan jubah latihan ketangkasannya, menyandarkan bahunya pada pilar batu gerbang sembari memperhatikan satu per satu murid yang lewat.

Pandangannya tajam, menyapu setiap wajah, mencari sosok gadis berambut putih yang sejak pagi tadi memenuhi pikirannya.

"Ke mana dia? Kenapa belum muncul juga?" gumam Ethan gelisah.

Ia menggigit bibir bawahnya, sesekali merapikan rambut birunya yang sedikit berantakan tertiup angin sore. Jantungnya berdebar tak karuan—sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bergerak tidak tenang, sesekali memindahkan tumpuan berat badannya.

Dari kejauhan, Emma tampak berjalan keluar dengan wajah yang ditekuk masam. Langkah kakinya terdengar berat saat melihat sang kakak masih berdiri di sana, bertingkah seperti penjaga keamanan gerbang kastil akademi.

"Ck! Kali ini apa lagi yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tidak pergi juga dari sana? Benar-benar menyebalkan!" gerutu Emma sembari menghentak-hentakkan kakinya di atas jalan setapak berbatu. Ia berjalan lurus ke arah gerbang, tak punya pilihan lain.

"Apa yang sedang Kakak lakukan di sini? Dan kenapa Kakak tidak pulang saja ke wilayah klan?" tanya Emma dengan nada ketus saat sudah berada di depan Ethan.

Sedari tadi Emma memang menunggu Ethan pergi dari area akademi. Ia merasa was-was jika sang kakak akan membuntutinya sampai ke asrama menara barat, atau lebih buruk lagi, melarangnya bertemu dengan pujaan hatinya. Namun, karena Ethan tak kunjung beranjak, Emma terpaksa muncul.

Ethan melirik Emma sekilas, hanya dengan sudut matanya. Ia mendengus pelan dan memutar bola matanya jengah, seolah keberadaan adiknya adalah gangguan kecil di tengah misi pentingnya. Pandangannya segera kembali tertuju pada kerumunan murid.

"Kamu tidak perlu tahu urusanku! Mau aku kembali ke Pack House atau tidak, itu bukan urusanmu. Lebih baik sekarang kamu cepat kembali ke kamarmu di menara asrama, sana!" ucap Ethan dingin, sama sekali tidak menoleh.

Emma terkesiap. Ia sedikit terkejut dengan jawaban ketus itu. Tidak biasanya Ethan mengabaikannya dengan begitu dingin. Biasanya kakaknya itu akan mengomel, namun kali ini Ethan tampak benar-benar terobsesi pada sesuatu di kerumunan itu.

"Jangan berpura-pura, Kak! Aku sudah tahu maksud dan tujuanmu datang ke akademi ini. Kakak pasti ingin mengawasiku, kan?" Emma bersedekap dada, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menyelidik.

Ethan menghela napas panjang, bahunya merosot sesaat. Ia merasa risih karena beberapa murid manusia mulai memperhatikan perdebatan mereka. Tanpa peringatan, ia menyambar pergelangan tangan Emma dan menarik adiknya sedikit menjauh dari gerbang, menuju area yang lebih sepi di bawah pohon ek yang rindang.

Setelah memastikan situasi aman dan tidak ada manusia yang menguping, Ethan melepaskan genggamannya. Sebagai bangsa Werewolf, mereka harus sangat berhati-hati karena mayoritas murid akademi ini adalah manusia biasa.

"Tujuan awalku memang ingin mengawasimu, Emma. Tapi itu sebelum aku sampai di sini. Aku sudah muak tinggal di wilayah klan dan terus-menerus didesak ayah untuk menemukan Mate-ku," ujar Ethan dengan suara rendah yang serius. Ia menjeda kalimatnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.

"Tapi sekarang, tujuanku sudah berubah."

Mata Ethan berkilat merah sesaat. "Aku datang ke sini untuk menemukan belahan jiwaku. Dan sepertinya keberuntungan berpihak padaku hari ini. Aku sudah menemukannya."

Mata Emma membulat sempurna. "Jadi... Mate-mu ada di akademi ini? Dan apa dia sudah tahu kalau Kakak adalah pasangan sejatinya?"

"Iya, dia salah satu murid di sini. Tapi dia belum tahu siapa aku sebenarnya. Karena itu, aku menunggunya di sini. Aku ingin mengenalnya secara resmi," jawab Ethan, kembali menatap ke arah gerbang dengan binar harapan.

"Wow! Jadi Mate-mu adalah seorang murid sepertiku?"

Emma tercengang, rasa kesalnya menguap digantikan rasa penasaran yang meluap-luap.

"Lalu siapa dia? Apa aku mengenalnya?"

Ethan tersenyum misterius, sebuah senyuman kecil yang jarang ia perlihatkan. "Untuk saat ini, kamu tidak perlu tahu dulu. Ini masih rahasia. Tapi jangan khawatir, nanti kamu juga akan mengetahuinya sendiri."

Emma mengerucutkan bibirnya, gurat kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Ia berharap sang kakak akan langsung membocorkan identitas gadis beruntung itu, namun sifat protektif Ethan ternyata jauh lebih besar dari dugaannya.

"Apa Ayah juga sudah tahu tentang hal ini?" tanya Emma penuh selidik sembari menaikkan sebelah alisnya, mencoba mencari kejujuran di mata merah kakaknya.

Ethan menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, mempertegas otot lengan di balik jubah latihannya yang sedikit lembap oleh keringat.

"Tidak. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahunya," jawab Ethan dengan nada suara yang merendah, nyaris berbisik.

Ia mencondongkan tubuh ke arah Emma, memberikan tatapan peringatan yang tajam. "Dan sebaiknya kamu tidak memberitahukan hal ini pada Ayah sebelum aku benar-benar memiliki dia seutuhnya."

Melihat keseriusan di wajah Ethan, Emma pun mengangguk dengan cepat, seolah gerakan itu bisa meyakinkan kakaknya bahwa rahasia ini aman bersamanya.

"Baiklah, baiklah! Aku akan menutup mulutku rapat-rapat. Aku berjanji tidak akan memberitahukan hal ini pada siapa pun, termasuk pemimpin klan kita," ujar Emma bersumpah sembari menyilangkan jari di depan dadanya sebagai tanda janji setia.

"Bagus! Aku harap kamu benar-benar bisa memegang janjimu dan menjaga ucapanmu," sahut Ethan.

Ia menghela napas panjang, sorot matanya yang tadi tajam kini berubah menjadi penuh ambisi. "Rencananya, nanti aku akan membawanya pulang ke Pack House dan memperkenalkannya pada kalian semua... tapi itu hanya jika aku sudah menandainya."

Ethan mengucapkan kalimat terakhir itu dengan nada yang sangat serius. Rahangnya mengeras, menunjukkan tekad yang bulat. Ia sudah merencanakan langkah demi langkah untuk mengklaim sang Mate sejak aroma sitrus dan mawar itu menggelitik naluri Wolf-nya.

Emma yang mendengar kata 'menandai' sontak tersenyum lebar. Rasa kesalnya tadi sepenuhnya hilang, digantikan oleh imajinasi masa depan yang membahagiakan. Ia mendekat, lalu menyenggol lengan kakaknya dengan akrab.

"Iya, Kakak tenang saja. Semoga Kakak berhasil mendapatkan hatinya dan cepat-cepat menjadikannya sebagai seorang istri penguasa klan," ucap Emma penuh semangat. Ia terkikik geli, membayangkan Ethan yang biasanya kaku dan galak harus bertekuk lutut di hadapan seorang gadis.

"Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika Kakak benar-benar sudah membina rumah tangga. Sepertinya sebentar lagi aku akan memiliki keponakan-keponakan kecil yang sangat lucu," lanjut Emma dengan mata berbinar-binar, membayangkan masa depan klan mereka yang akan semakin ramai. "Ah, aku jadi tidak sabar menantikannya!"

Ethan hanya mendengus melihat tingkah laku adiknya yang terlalu bergemuruh itu, namun sudut bibirnya sedikit terangkat, tak mampu menyembunyikan secercah kebahagiaan yang mulai mekar di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!