Danu, jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang modis bernama Qiara. Ia menikahinya hanya karena rupa. Ia tak tau bahwa gadis tersebut berasal dari keluarga sederhana, Ia pun tak tau bahwa Qiara mau menikah dengannya hanya karena tergiur dengan harta kekayaan kedua orang tua Danu.
Danu tak mengindahkan nasehat kedua orang tuanya, hingga mereka memiliki dua orang anak, Danu dilanda kesulitan finansial akibat perusahaan tempatnya bekerja sedang pailit. Saat Danu sedang kesulitan ekonomi, Qiara justru bertemu dengan mantan kekasihnya. Disana lah terjadi pengkhiatan, Namun justru Qiara menuduh Danu yang mengkhianati pernikahan mereka, hingga membuat Qiara tega mengabaikan anak hasil pernikahannya dengan Danu, sebagai bentuk cara membalas pengkhiatan Danu padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Aisyah
Waktu berlalu begitu cepat. Bandar udara keberangkatan terasa begitu riuh pagi itu. Qiara dan Fanya mengantar Danu hingga pintu pemeriksaan penumpang. Ada raut berat di wajah Danu saat mencium dahi anak dan istrinya, sementara Qiara berusaha memoles wajah syahdu agar pura-pura sedih menutupi rasa lega di balik dadanya.
"Jaga rumah ya, Qi. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," pesan Danu mengelus pipi istrinya sebelum melangkah masuk membawa koper besarnya.
Namun, Danu tidak pernah membayangkan situasi yang akan dihadapinya di tempat tujuan.
Setibanya di Balikpapan dan melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi proyek di daerah penambangan yang terpelosok, Danu langsung diarahkan ke kantor direksi lapangan. Saat melangkah masuk ke ruang rapat koordinasi tim eksekutif, langkahnya terhenti seketika. Seorang wanita berseragam proyek lengkap dengan helm keselamatan putih sedang berdiri meneliti peta pemetaan lahan.
"Aisyah?" panggil Danu, tak percaya dengan penglihatannya.
Wanita itu menoleh. Matanya membelalak kagum sekaligus tak menyangka. "Mas Danu?! Kamu... kok bisa di sini?"
Aisyah adalah rekan kerja Danu di kantor pusat dulu—seorang engineer wanita yang cerdas, santun, dan terkenal memiliki kepribadian yang teduh. Dahulu, sebelum Danu menikah dengan Qiara, sempat ada rasa saling mengagumi di antara mereka, namun takdir saat itu belum mempertemukan mereka dalam ikatan cinta.
"Saya ditunjuk memimpin proyek ini selama dua tahun, Ca," jawab Danu setelah rasa terkejutnya mereda. "Kamu sendiri?"
Aisyah tersenyum tipis. "Perusahaan mutasi saya dua minggu lalu untuk megang kendali analisis dampak lingkungan di situs ini. Ternyata ketua timnya kamu. Dunia sempit banget ya, Mas."
Di tempat baru yang asing, sepi, dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar, kehadiran Aisyah menjadi pelipur kegelisahan Danu. Aisyah bukan hanya rekan kerja yang sangat handal, tapi juga sosok wanita yang lembut, perhatian, sangat menjaga kehormatan diri, dan paham betul cara menghargai laki-laki. Di tengah padatnya tekanan pekerjaan lapangan, Aisyah kerap membawakan Danu bekal sederhana atau sekadar menjadi pendengar setia saat Danu merindukan Fanya.
Sementara itu di Surabaya, garis takdir berjalan makin bertolak belakang.
Keberangkatan Danu menjadi lampu hijau bagi Qiara. Tanpa hambatan sang suami di rumah, Qiara makin berani menerima ajakan Irwan. Setiap kali Mbak Yanti diminta menjaga Fanya dengan alasan "lembur kantor", Qiara justru menghabiskan malam di kafe-kafe mewah bersama Irwan, kembali menikmati dunianya yang hura-hura.
Suatu malam, saat Danu menelepon dari mess karyawan di Kalimantan—didampingi suara gemericik hujan pedalaman dan helaan napas lelahnya—Qiara menjawab telepon itu sambil bersembunyi di dalam mobil Irwan, berpura-pura bersuara lesu seolah baru selesai berbenah rumah.
"Mas kangen kamu sama Fanya, Qi," ucap Danu dari balik telepon dengan nada tulus.
"Iya, aku juga..." jawab Qiara singkat, matanya melirik Irwan yang sedang tersenyum nakal di sampingnya sembari menggenggam tangannya.
"Udahan dulu ya yank, aku mau istirahat, belum besok harus bekerja"
Danu menutup teleponnya tanpa ada perasaan ganjil. Namun di luar sana, Aisyah berjalan mendekatinya membawa secangkir teh hangat untuk menemani Danu lembur.
"Masih kepikiran keluarga di Surabaya, Mas?" tanya Aisyah lembut.
Danu menatap wanita bersahaja di depannya, lalu menghembuskan napas panjang. Tanpa disadari oleh siapapun, takdir kini tengah menenun benang keretakan yang begitu rapi: Qiara yang terbuai godaan cinta lama di Surabaya, dan Danu yang pelan-pelan menemukan kenyamanan pada sosok Aisyah di tanah seberang.
Namun Aisyah gadis yang pandai menjaga Akhlak. Ini bahkan sekuat tenaga menjaga diri agar tak tersentuhan fisik dengan Danu, ia tahu Danu suami orang. Walau sejak dulu ia menyukai Danu, ia tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menggoda Danu. Walau kini, mereka tinggal dalam satu mess yang sama bersama beberapa karyawan yang lain, Aisyah tetap menjaga jarak. Ia hanya perhatian memberi makanan kepada Danu dan teman-teman kerja yang lain, tidak lebih.