NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Kamis Bikin Emosi

Hari Kamis itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, atau setidaknya begitulah rencana awal yang sudah kususun rapi di dalam kepala. Semuanya bermula dari sebuah obrolan acak di grup obrolan bersama teman dekatku, Rani. Kami berdua sudah lama tidak jalan bersama dan merindukan suasana riuh mal serta aroma karamel yang khas dari bioskop. Setelah memperdebatkan berbagai pilihan tempat nongkrong di Bandung, pilihan kami akhirnya jatuh pada Festival Citylink.

Alasan utamanya sangat sederhana, kami ingin menonton sebuah film baru yang sedang hangat dibicarakan, sebuah film bergenre horor-komedi dengan judul yang lumayan unik, Warga Rusun 609. Kalau kalian penasaran bagaimana jalan cerita filmnya, lebih baik kalian langsung beli tiket dan menontonnya sendiri di bioskop, karena jujur saja aku sendiri sudah agak lupa detail jalan ceritanya akibat kejadian emosional yang menimpaku siang itu.

Proses penentuan hari untuk pergi pun tidak berjalan semulus itu. Awalnya kami berencana pergi di hari Sabtu atau Minggu agar suasana libur lebih terasa. Namun, rencana tinggal rencana. Hari Sabtu terpaksa dicoret karena Rani sudah memiliki janji lain untuk main bersama teman-temannya yang lain.

Bagaimana dengan hari Minggu? Aku dan Rani langsung kompak menggelengkan kepala. Kami berdua sama-sama menyadari perbedaan harga tiket bioskop yang lumayan melonjak antara hari kerja (weekday) dan akhir pekan (weekend). Sebagai anak muda yang harus tetap bijak mengatur uang saku, membayar harga tiket weekend jelas bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah mencocokkan jadwal tayang film di aplikasi, kami memutuskan untuk menonton di hari Kamis pada pertunjukan jam dua siang. Agar tidak terburu-buru dan punya waktu untuk membeli camilan, aku berniat untuk berangkat dari rumah sejak jam satu siang. Waktu satu jam kukira lebih dari cukup untuk menempuh perjalanan menuju ke sana.

Saat jam satu siang tiba, aku sudah bersiap sepenuhnya. Aku sudah mandi sampai wangi, memoles riasan wajah tipis-tipis agar terlihat segar, dan memilih pakaian terbaik yang membuatku merasa sangat percaya diri.

Singkat kata, aku sudah tampil sangat cantik dan siap untuk menikmati hari. Dengan senyum mengembang dan suasana hati yang sangat ceria, aku melangkah keluar rumah menuju tepi jalan raya untuk mencari angkutan umum. Pilihan transportasi paling merakyat yang terpikirkan olehku saat itu tentu saja adalah angkot. Ketika ada sebuah angkot yang melintas dan berhenti di depanku, aku tidak lupa memastikan rutenya terlebih dahulu.

Dengan suara ramah aku bertanya kepada pengemudinya, "Mang, ngelewatin Festival Citylink gak?" Sang mamang sopir dengan sangat meyakinkan menganggukkan kepala dan menjawab bahwa angkotnya memang melewati mal tersebut. Tanpa rasa curiga sedikit pun, aku langsung melangkah masuk dan duduk manis di dalam angkot.

Di sinilah bencana emosional itu dimulai. Angkot melaju membelah jalanan kota Bandung yang siang itu lumayan hangat. Aku duduk santai sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela, membayangkan betapa serunya nanti menonton film bersama Rani. Namun, ketika perjalanan sudah sampai di pertengahan jalan dan rute yang dilewati terasa asing, si mamang sopir tiba-tiba berbicara dengan santainya tanpa dosa.

Beliau mengabarkan bahwa angkotnya tidak akan melintasi Festival Citylink dan jalurnya dibelokkan ke arah lain. Mendengar ucapan itu, rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Amarah dan kepanikan langsung membuncah di dalam dada. Kenapa baru bilang sekarang setelah aku naik sejauh ini? Kenapa tadi mengangguk seolah tahu tujuanku? Mau tidak mau, dengan perasaan kesal yang luar biasa, aku meminta berhenti dan turun di tepi jalan yang sama sekali tidak kukenal dengan baik.

Situasi makin diperparah karena daerah tempatku diturunkan ternyata masih sangat jauh dari Festival Citylink. Tidak ada angkot lain yang langsung mengarah ke sana di sekitar situ. Dalam keadaan panik dan dikejar waktu karena jam tayang film makin dekat, aku terpaksa memutuskan untuk berjalan kaki.

Celakanya, hari itu aku memakai sepatu flatshoes kesayanganku yang ukurannya agak kelonggaran. Memakai sepatu yang sedikit besar untuk berjalan jarak jauh adalah sebuah keputusan paling buruk dalam hidupku. Setiap kali melangkah, bagian belakang sepatu itu bergesekan secara kasar dengan kulit tumitku.

Langkah demi langkah terasa bagaikan siksaan. Gesekan terus-menerus itu dengan cepat membuat kulit kakiku lecet, terkoyak, dan menimbulkan rasa perih yang teramat sangat. Rasanya ingin sekali aku menangis di tepi jalan sambil melepas sepatu itu, tetapi bayangan jam tayang film yang makin dekat memaksaku untuk terus menahan sakit dan melangkah perlahan.

Langkahku makin lambat dan rasa sakitnya makin tidak tertahankan. Keringat dingin mulai menetes di dahi, merusak riasan wajah yang sudah kupersiapkan dengan penuh niat dari rumah. Menyadari bahwa aku tidak akan pernah sampai tepat waktu jika terus memaksa berjalan kaki dengan kaki yang lecet parah, aku mengambil ponsel dari dalam tas. Dengan jari-jari yang gemetar menahan emosi dan rasa sakit, aku mengetik pesan kepada Rani yang ternyata sudah tiba lebih dulu di Festival Citylink.

Aku menceritakan kesialan yang baru saja menimpaku dan meminta tolong agar Rani mau memesankanku jasa ojek online (Gojek) lewat aplikasi di ponselnya dari lokasi terdekatku berada. Rani yang mendengar kabarku tentu saja terkejut dan segera memesankan ojek untuk menjemputku.

Beberapa menit menunggu dengan napas terengah-engah dan kaki yang makin perih, pengemudi ojek online yang dipesankan Rani akhirnya tiba. Aku merasa sangat lega seolah baru saja diselamatkan dari penderitaan yang tiada akhir. Sepanjang perjalanan di atas sepeda motor, aku hanya bisa mengelus dada dan menenangkan emosi yang masih membara akibat kecerobohan sopir angkot tadi. Begitu sampai di depan pintu masuk Festival Citylink, aku bergegas masuk sambil berjalan pincang menahan perih.

Di sana, Rani sudah menungguku dengan raut wajah khawatir bercampur campur aduk.

Hal pertama yang kulakukan saat bertemu dengannya adalah mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membuatnya menunggu begitu lama dan merepotkannya. Beruntung sekali aku memiliki teman sebaik Rani. Dia sama sekali tidak marah atau bersikap dingin. Dia sangat memahami situasi darurat yang kualami.

Malah, karena menungguku terlalu lama di mal sendirian, Rani rupanya sempat membeli minuman Mixue untuk menyegarkan tenggorokannya. Dia menepuk bahuku ramah dan mengajakku untuk segera naik ke lantai bioskop agar tidak ketinggalan bioskop.

Meskipun tumit kakiku lecet parah dan rasanya perih bukan main setiap kali menginjakkan lantai, rasa kesalku perlahan-lahan luntur oleh kebaikan Rani dan suasana bioskop yang menyenangkan. Sebelum memasuki studio, aku sempat membeli satu ember popcorn gurih untuk menemani kami di dalam. Kami pun akhirnya bisa duduk di dalam studio bioskop yang dingin dan menikmati pemutaran film Warga Rusun 609 dari awal hingga selesai.

Gelak tawa dan keseruan film tersebut berhasil membuatku melupakan sejenak rasa sakit di kaki dan pengalaman buruk di dalam angkot tadi siang.

Setelah film usai dan lampu studio kembali dinyalakan, kami keluar dengan perasaan yang jauh lebih lega dan bahagia. Sebelum benar-benar mengakhiri petualangan hari itu dan pulang ke rumah masing-masing, kami sempat mampir sebentar untuk membeli Chikuro sebagai camilan penutup.

Hari yang diawali dengan emosi jiwa, salah jurusan angkot, dan kaki lecet berkat flatshoes kelonggaran itu akhirnya ditutup dengan senyuman manis dan perut yang kenyang. Kami berdua lantas berpisah di pintu keluar mal dan pulang ke rumah masing-masing membawa cerita konyol yang tidak akan pernah kulupakan.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!