NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Penerimaan yang Dingin dan Garis yang Tak Lagi Sama

Hari-hari berikutnya berjalan bagaikan roda yang berputar dalam ritme yang mantap namun semu. Alee benar-benar menjalankan perannya dengan sangat sempurna.

Di suatu pagi yang cerah, Alee terlihat heboh berkipas-kipas menggunakan buku tulis di lorong kelas hanya karena pendingin ruangan sedang mati. "Duh, panasnya kelas ini bisa bikin otak kecantikan gue meleleh!" serunya ceplas-ceplos pada Nara, mengundang tawa sekumpulan anak cowok yang lewat. Di hari lainnya, Alee dengan gaya petantang-petenteng yang meluap-luap nekat menantang Hanafi lomba makan kerupuk di kantin saat jam istirahat, membuat seisi kantin riuh oleh sorak-sorai.

Alee tertawa lebar, bertingkah konyol, dan terus bergerak agar tidak ada ruang kosong di kepalanya untuk mengingat rasa sakit itu.

Namun, pura-pura tidak melihat keberadaan Rama di ruangan yang sama setiap hari ternyata membutuhkan energi yang sangat menguras fisik. Hingga akhirnya, setelah dua minggu berlalu, Alee memilih untuk melunakkan sikapnya.

Bukan karena rasa sakit di dadanya sudah menghilang, dan bukan pula karena ia ingin merajut kembali benang asmara yang putus. Alee hanya lelah membuang energi untuk menghindar. Ia bertekad memperlakukan Rama layaknya seorang teman sekelas biasa tidak kurang, dan tidak lebih.

Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil. Saat Rama membagikan lembar soal ulangan harian dari meja depan menuju barisan belakang, Alee tidak lagi memalingkan muka. Ia menerima kertas itu secara langsung dari tangan Rama.

"Makasih, Ram," ucap Alee santai, lengkap dengan senyum tipis seadanya senyum formal yang biasa ia berikan pada teman sekelas lainnya.

Rama sempat terpaku sejenak mendengar suara Alee yang kembali menyapanya tanpa nada amarah, walau ada ruang hampa yang terasa tebal di balik keformalan itu.

Bahkan beberapa hari kemudian, saat Hanafi melontarkan tebak-tebakan konyol di depan kelas yang membuat seluruh murid tertawa termasuk Rama yang ikut tersenyum tipis Alee tidak menahan diri lagi. Ia tertawa lepas di barisan belakang, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, matanya sempat bersitatap langsung dengan mata Rama di tengah gelak tawa itu. Alee tidak menghindar. Ia melempar cengiran singkat pada Rama, seolah memberi gestur bahwa semuanya sudah kembali "normal".

Namun bagi Rama, "normal"-nya Alee saat ini justru terasa menakutkan. Tidak ada lagi binar khusus di mata gadis itu, tidak ada lagi panggilan "Pak Ketua!" dengan intonasi manja, dan tidak ada lagi pandangan malu-malu yang dulu selalu membuat dada Rama berdesir. Alee benar-benar telah menempatkan Rama di kotak bertuliskan Rekan Seperjuangan Kelas 12.

---

Tiga hari setelah interaksi santai itu terbangun, ketenangan semu Alee akhirnya diuji.

Sore itu, bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Murid-murid 12 MIPA 1 berhamburan keluar kelas dengan terburu-buru. Nara yang biasanya pulang bersama Alee harus piket perpustakaan terlebih dahulu, meninggalkan Alee yang masih santai merapikan buku-bukunya di sudut meja belakang.

Suasana kelas mendadak sepi. Hanya tersisa sisa-sisa debu yang melayang di bawah temaram sinar matahari sore.

Saat Alee baru saja menyampirkan tasnya di bahu dan hendak berdiri, sosok Rama melangkah mendekati meja sudut belakang. Rama berdiri di samping meja Alee, menatap gadis itu dengan raut wajah yang campur aduk antara cemas, ragu, dan harapan yang membuncah.

Alee menengadah, menyunggingkan senyum santai yang amat natural. "Kenapa, Ram? Ada info tugas dari guru?"

Rama menarik napas panjang. Ia mengepalkan kedua tangannya yang tersimpan di dalam saku celana seragamnya, mengumpulkan seluruh keberanian yang ditahannya selama dua bulan terakhir.

"Bukan soal tugas, Lee," suara Rama terdengar serak, namun tegas. Ia menatap lurus ke dalam mata Alee. "Saya... saya mau bicara soal kejadian dua bulan lalu."

Gerakan Alee yang hendak melangkah keluar terhenti sejenak. Namun raut wajahnya sama sekali tidak berubah; tidak ada keterkejutan, tidak ada amarah, dan tidak ada lagi tangisan.

"Soal kejadian malam itu..." lanjut Rama pelan, melangkah satu senti lebih dekat. "Saya tidak mau kita terus-terusan terjebak dalam rasa salah yang tidak seharusnya. Malam itu... semuanya cuma kesalahpahaman komunikasi, Alee. Omongan Zikri itu salah besar, dan sikap saya yang panik malah bikin kamu merasa makin tertekan. Kehilangan uang itu murni kelalaian saya, tidak ada hubungannya sama kamu. Saya cuma mau kamu tahu kalau kamu..."

"It's okay, Rama."

Kalimat Alee yang memotong pembicaraan itu terdengar begitu tenang, terlontar dengan amat ringan hingga membuat kata-kata Rama terhenti di udara.

Alee menatap Rama sambil menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu tulus dari luar, namun terasa sangat dingin di bagian dalam.

"Udah, lupain aja," sambung Alee santai, sambil mengibaskan sebelah tangannya di udara. "Lagian itu kan udah berlalu dua bulan yang lalu. Sekarang kita berteman seperti biasa aja, kayak teman-teman sekelas lainnya. Nggak ada yang perlu dibahas lagi, nggak ada yang spesial juga dari kejadian kemarin."

Rama membisu. Dada cowok itu terasa dihantam oleh kenyataan yang sangat pahit. "Nggak ada yang spesial..." Kata-kata itu berulang di kepalanya bagaikan gema.

"Tapi Alee, perasaan kamu....."

"Aku gapapa kok, Ram. Beneran," sela Alee lagi dengan intonasi yang begitu halus, mengikis habis sisa-sisa pembelaan Rama. "Sekarang aku udah baik-baik saja. Udah nggak ada ganjelan apa-apa lagi di hati aku."

Alee menepuk pelan bahu Rama sebuah tepukan ringan antar-teman yang terasa sangat berjarak lalu menggeser badannya untuk berjalan melewati cowok itu.

"Gue pulang duluan ya, Pak Ketua. Jangan lupa kunci pintu kelas nanti," ujar Alee renyah sambil melambaikan tangan singkat, melangkah keluar ruangan tanpa sekalipun berpaling ke belakang.

Rama berdiri mematung sendirian di sudut belakang kelas yang makin gelap.

Penerimaan Alee yang begitu mudah dan kata "gapapa" yang diucapkannya dengan penuh ketenangan justru menjadi jawaban paling menyakitkan bagi Rama. Alee tidak lagi marah, Alee tidak lagi benci, dan Alee tidak lagi merasa bersalah.

Gadis itu telah meruntuhkan seluruh rasa spesial yang pernah ada di antara mereka, menggantinya dengan benteng keramahan yang tak tersentuh. Rama menyadari bahwa ia memang telah mendapatkan Alee kembali di dalam kelasnya namun ia telah kehilangan Alee yang sesungguhnya selamanya.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!