JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Malaikat di Balik Luka
Gerimis tipis menyamarkan bau darah yang mengalir bibir Eksan. Seragam sekolah putihnya kini telah kotor oleh lumpur dan noda merah pekat, sementara jaket hitam berlambang mawar berdarah, di lengan kanannya tampak robek di beberapa bagian. Sialan. Eksan merajuk dalam hati sambil menahan rasa pusing yang hebat di kepalanya.
Geng musuh, Red Wolf, sengaja menjebaknya malam ini.
Mereka membawa puluhan orang bersenjata balok kayu dan senjata tajam ke dalam gang sempit yang buntu. Meskipun Eksan berhasil menumbangkan lebih dari separuh dari mereka dengan tangan kosong, tubuh tetap memiliki batas. Dia dikeroyok habis-habisan hingga pertahanan terakhirnya.
Sambil merasakan sakit di perutnya yang terkena hantaman keras dan luka tusuk dangkal, Eksan berjalan sempoyongan menembus kegelapan malam. hembusan angin malam terasa menusuk ke seluruh badan, membuat tubuh kekarnya perlahan mulai goyah. bertuliskan 'BERANDAL' yang menempel di dinding gang seolah menjadi saksi bisu dari tragedi saat ini.
Pandangan mata Eksan mulai mengabur, pandangan nya mulai kabur dan terasa berputar hebat akibat kelelahan dan rasa sakit yang di rasakan. Di dunia jalanan yang keras ini, hanya ada satu prinsip yang tertanam di kepalanya sejak kecil hidup Di jalanan, hidup harus berani mati dan kuat. Kalimat itu terus berbisik di dalam hati Eksan, mencoba memicu sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis.
Langkah kaki Eksan terhenti di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Rumah itu berpagar kayu dengan lampu teras yang menyala terang, memberikan sedikit kehangatan di tengah badai hujan yang kian deras. Di tempat itulah, kesadaran Eksan benar-benar berada di ambang batas dan terjauh. Pandangannya menjadi gelap gulita, dan tubuh kekar itu ambruk begitu saja di atas lantai semen teras rumah tersebut, menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.
*Bruk.*
Suara engsel pintu yang berkarat perlahan terbuka dari dalam. Seorang gadis remaja dengan piyama melangkah keluar dengan sangat ragu. Tangan mungilnya memegang sebatang sapu lidi yang digenggam erat-erat, berjaga-jaga jika ada orang jahat atau hewan liar yang menyelinap ke pekarangan rumahnya yang sepi.
"siapa di sana?" suara gadis itu terdengar bergetar lembut, memecah kesunyian malam yang dingin.
Ketika sepasang matanya menangkap sosok pria yang terkapar tak berdaya dengan seragam lusuh dan kotor menggunakan jaket hitam berlogo mawar di lengannya, gadis itu tersentak mundur hingga menjatuhkan sapu di tangannya. Jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan rasa takut saat melihat.
genangan air hujan di teras perlahan berubah warna menjadi kemerahan di sekitar tubuh pria asing tersebut. Pria itu bersimbah darah.
Gadis itu adalah Nasya.
Nasya tahu pria yang kini pingsan di teras rumahnya, dengan Lambang mawar berdarah di lengan jaket pria itu adalah identitas dari kelompok berandal jalanan yang namanya selalu dibicarakan oleh murid-murid di lingkungan sekolah. fikiran Nasya berkata menyuruhnya untuk segera masuk kembali, mengunci pintu rapat-rapat, dan berpura-pura tidak tahu apa pun.
Namun, ketika melihat napas pria itu yang terengah-engah putus-putus, serta wajah tampannya yang kini pucat sedang menahan sakit yang luar biasa, rasa kemanusiaan di dalam diri Nasya mengalahkan rasa takutnya. Gadis berhati baik itu tidak tega membiarkan seseorang mati kedinginan di depan matanya sendiri.
Dengan susah payah dan sisa tenaga yang dia miliki, Nasya menarik lengan kekar Eksan. Dia menyeret tubuh berat berandal itu masuk ke dalam ruang tamunya yang sempit, lalu mengunci pintu rumah rapat-rapat dari dalam.
Dua jam berlalu di bawah dentingan jam dinding yang berdetik sunyi. Nasya bergerak dengan cepat namun penuh kehati-hatian di samping sofa tempat Eksan berbaring. Dengan tangan yang masih gemetar, dia membasuh darah kering yang menempel di wajah .Eksan menggunakan kain hangat. Setelah itu, dia membuka kancing seragam Eksan dengan canggung untuk mengobati luka tusuk di perut pemuda itu menggunakan obat yang ada di rumah nya.
Nasya bahkan rela mengambil selimut tebal kesayangannya untuk menutupi tubuh berandal yang masih menggigil tersebut. Karena kelelahan yang teramat sangat setelah merawat pria asing seberat Eksan, Nasya akhirnya tertidur dalam posisi duduk di atas lantai, menyandarkan kepalanya di tepi sofa tepat di samping lengan Eksan yang terluka.
Keesokan paginya, kilauan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kaca membuat Eksan perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Rasa nyeri dan kaku langsung menjalar ke seluruh tubuhnya saat dia mencoba menggerakkan bahu.
Namun, hal pertama yang menarik perhatian indra kehidupannya bukanlah rasa sakit itu, melainkan sebuah sentuhan hangat dan lembut pada punggung dan tangan.
Eksan menolehkan ke bawah sofa. Di sana, seorang gadis berwajah polos dan lugu sedang tertidur sangat pulas. Tangan gadis itu sedang menggenggam erat tangan Eksan, dipenuhi bekas luka perkelahian jalanan. Rambut hitam panjang milik gadis itu sedikit berantakan, menutupi sebagian pipinya yang merona karena.
Eksan tertegun seketika,Tatapan matanya yang biasa menatap dunia dengan kebencian kini terkunci pada wajah damai di sampingnya. Selama hidupnya sebagai berandal yang ditakuti di dalam gang, tangan kasarnya hanya pernah digunakan untuk menghajar musuh atau mengendarai motor gedenya.
Tidak pernah ada satu orang pun di dunia ini yang sudi menggenggam tangan kotornya selembut dan setulus ini.
Eksan menarik tangannya dengan sangat perlahan, namun gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membuat Nasya langsung terbangun karena terkejut. Sorotan mata saat menyadari bahwa berandal yang dia tolong semalam kini sudah sadar sepenuhnya, dan sedang menatapnya balik dengan tatapan yang sangat tajam.
"K-kau sudah bangun? Jangan banyak bergerak dulu, lukamu bisa terbuka lagi"
sebelum Nasya sempat menyelesaikan kalimat peringatannya, gerakan refleks jalanan Eksan bekerja lebih cepat. Tangannya bergerak secepat memegang pergelangan tangan Nasya, lalu menarik tubuh gadis itu ke depan hingga jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Nasya terkejut karena.
Seluruh tubuhnya mendadak membeku, tak mampu bergerak sedikit pun saat berdekatan dan melihat tatapan mata Eksan, namun memancarkan perasaan aneh yang sangat membingungkan.
"Kenapa kau menolongku?" tanya Eksan dengan suara yang serak, berat, menuntut jawaban jujur. "Kau tahu jelas aku ini berandal jalanan yang bisa saja membunuhmu sekarang, kan?"
Nasya terdiam dengan susah payah. Air mata ketakutan mulai menggenang di sudut mata saat merasakan genggaman di pergelangan tangannya. "Na... Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..." suara gadis itu dengan suara yang pelan.
Eksan menurunkan pandangannya, menatap bibir Nasya yang bergetar hebat karena takut, lalu beralih melihat bagaimana pergelangan tangan mungil gadis itu tampak begitu lemah di dalam. Sebuah senyuman tipis yang misterius dan dingin perlahan terukir di sudut bibir Eksan yang terluka.
"Nasya..." Eksan mengeja nama itu dengan suara rendah, seolah sedang mengukir nama tersebut ke dalam jiwanya yang terbiasa hampa dan dingin.
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku. Di duniaku, sekali kau terlibat dan menyentuh seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi dari lingkaran hidupnya."
pegangan tangan Eksan di pergelangan tangan Nasya semakin mengerat, mengunci total pergerakan gadis itu agar tidak bisa menjauh darinya.
"Mulai hari ini, detik ini juga, kau berada di bawah perlindunganku. Dan tidak akan ada satu orang pun dari orang jalanan yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi milik seorang Eksan."