Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bai Ningyuan berpapasan dengan Xuan Ziyuan di depan pintu kamarnya.
"Pangeran ada urusan penting? jika tidak, aku harus memberi salam pada permaisuri!" Ucap Bai Ningyuan dingin.
Sejak keluarganya bernasib malang, tak ada lagi Bai Ningyuan yang ramah dan cerita. Dua pria yang memang selalu ingin berada di sisi Bai Ningyuan, kini sungguh tak bisa lagi menemukan sosok Bai Ningyuan yang begitu ramah, ceria, lembut dan perhatian.
Sekarang, setiap kata-kata yang keluar dari bibir yang indah itu begitu dingin dan tak berperasaan. Begitu acuh dan tajam, beracun dan sangat mematikan.
"Aku bawa tabib, obat itu mungkin akan mempengaruhi mu saat kalian kontak fisik..."
"Tidak perlu!" sela Bai Ningyuan pada Xuan Ziyuan.
"Ning'er!"
Bai Ningyuan menatap tegas dan tajam ke arah Xuan Ziyuan.
"Aku bahkan sudah meminumnya!"
"Bai Ningyuan!" lirih pangeran Ziyu.
Pria itu nyaris menangis mendengar ucapan yang dikatakan tanpa rasa ragu sama sekali oleh wanita di hadapannya.
"Pangeran Ziyu, terima kasih karena sudah membantuku. Aku harus pergi sekarang...!"
Ucapan itu terjeda, pangeran Ziyu yang matanya sudah merah dan berkaca-kaca mencengkeram kuat pergelangan tangan Bai Ningyuan.
"Siapa yang mengijinkan mu menyakiti dirimu sendiri seperti itu? apa kamu tahu obat itu akan seperti apa nanti efek sampingnya untukmu?" air mata sudah menggenang di pelupuk mata pangeran Ziyu.
Satu kali saja pangeran tampan itu berkedip. Air mata akan tumpah dan mengalir di wajahnya.
Bai Ningyuan mencoba menepis cengkeraman itu, tapi dia tidak cukup kuat melawan kakak seperguruannya itu.
"Lepaskan aku!"
"Kenapa kamu begitu kejam, Bai Ningyuan?" tanya pangeran Ziyu.
"Aku belajar dari kalian, kalian dua bersaudara yang sangat kejam!"
"Bai Ningyuan, kenapa seperti ini? harusnya hanya dia? kenapa kamu juga minum? kenapa di dalam hatimu hanya ada ambisi untuk balas dendam, sampai kamu bisa sekejam ini pada diri sendiri?" pangeran Ziyu masih terus meminta penjelasan.
Karena menurutnya, seharusnya obat itu hanya diberikan pada Xuan Pingyan. Kenapa Bai Ningyuan harus minum juga?
Tatapan Bai Ningyuan semakin tajam.
"Kamu serius masih bertanya? kamu serius?" pekik Bai Ningyuan.
"Bai Ningyuan..."
"Lepaskan aku! aku tidak mau bicara dnegan pria tanpa ambisi sepertimu!"
Brakkk
Bai Ningyuan mendorong dengan kuat pangeran Ziyu. Sampai pria itu terdorong ke arah pintu.
Bai Ningyuan menginjak kaki pangeran Ziyu, hingga pria itu melepaskan cengkraman pada pergelangan tangan Bai Ningyuan.
Bai Ningyuan bergegas meninggalkan tempat itu. Menuju ke arah gerbang istana Hanzi. Dimana kereta kudanya sudah ada disana. Dan Lin'er juga sudah menunggunya di dalam kereta.
"Berangkat sekarang ke istana permaisuri!" kata Bai Ningyuan pada kusir.
Lin'er tampak khawatir, karena dia sempat melihat tadi. Perdebatan antara Bai Ningyuan dengan Pangeran Ziyu di depan kamar Bai Ningyuan.
"Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" tanya Lin'er khawatir.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Bai Ningyuan.
"Masih seperti tadi, masih rapi nyonya!" jawab Lin'er membuat Bai Ningyuan mengangguk pelan.
Sedangkan He An segera menghampiri majikannya itu.
"Tuan..."
"Antar tabib itu kembali, He An. Lalu kembali ke kediaman!"
"Baik tuan!"
Di kereta kudanya, Pangeran Ziyu tampak termenung diam. Kata-kata Bai Ningyuan sungguh mengganggunya. Kata-kata tentang pria yang tidak punya ambisi, begitu menusukk dadanya.
Dia bukan tidak punya ambisi, dia hanya seorang putra dari selir yang bahkan dituduh melakukan pemberontakan. Dia masih anak-anak yang usianya hanya tiga tahun saat itu. Ketika dia diserahkan pada Luo Mama, pengasuhnya. Sementara ibunya selir Meng Xueyan di buang di istana dingin. Setelah itu dia tidak bertemu ibunya sampai 10 tahun, dan kabarnya ibunya telah meninggal. Dia bahkan tidak diperbolehkan bertemu ibunya untuk terakhir kali.
Di peringkat kasih sayang kaisar, dia juga jauh dari kata anak yang di perhatikan. Luo mama yang punya hubungan baik dengan keluarga Bai, meminta Guru Bai mengajarnya.
Dia bukan tidak punya ambisi, tapi dia tidak diberi kesempatan memilikinya. Air mata pangeran Ziyu membaik menetes, air mata yang sama ketika dia mendengar ayahnya menurunkan titah pernikahan antara Bai Ningyuan dengan adik ketiganya Xuan Pingyan.
Dia tidak rela, dia patah hati, dan hilang arah saat mendengar kabar itu. Tapi, dia bisa apa? dia benar-benar sendirian saat itu. Sampai dua tahun lalu, utusan kerajaan Utara menemuinya. Ibunya ternyata adalah putri mahkota kerajaan Utara. Hanya saja karena cinta, ibunya menyamar menjadi tabib biasa yang datang ke kerajaan Huaming. Siapa sangka cintanya sama sekali tidak berharga bagi mendiang kaisar, ayah Xuan Ziyuan.
Dia bahkan selamat dari perebutan kekuasaan satu tahun lalu, karena kebetulan di selamatkan oleh pasukan jenderal Bai yang tersisa yang membawanya memberantas musuh di Utara. Tapi itu hanya alasan, yang sebenarnya adalah jenderal Bai, memang ingin menyelamatkan Xuan Ziyuan. Berharap ada yang akan melindungi keluarganya yang tersisa kalua dia tidak ada.
Xuan Ziyuan menyeka air matanya, meski jenderal Bai tidak memberikan wasiat itu padanya. Dia bahkan akan melindungi Bai Ningyuan dengan nyawanya. Hanya saja, ucapan Bai Ningyuan tadi memang benar. Rasanya Xuan Ziyuan merasa kalau memang wanita itu pantas membencinya. Karena kalau dia punya ambisi, dan tidak membiarkan Bai Ningyuan menikah dengan Xuan Pingyan. Semua juga tidak akan terjadi seperti ini.
**
Kereta kuda Bai Ningyuan sudah berhenti di istana timur. Di saat bersamaan, kereta kuda dari istana Juhua juga sudah tiba.
Bai Ningyuan dan juga Qao Biyue sama-sama turun dari kereta kuda mereka. Tapi beberapa pelayan dan selir rendahan segera menghampiri Qao Biyue.
"Nyonya selir Qao, selamat ya. Yang mulia kaisar telah bermalam di istana mu. Kamu adalah selir kedua yang di datangi oleh yang mulia. Berikutnya kehidupanmu di istana Harem pasti akan naik!" puji salah satunya.
"Benar, nyonya memang sangat cantik!"
"Biar aku temani masuk ke dalam, nyonya selir Qao. Kesayangan barunya kaisar!" kata pelayan selir Lin.
Bai Ningyuan hanya memperhatikan tanpa bicara. Tapi Qao Biyue bahkan tampak diam, tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak. Hal itu membuat Lin'er mendengus pelan.
"Selir Qao itu kenapa? bukannya semalam kaisar tidak bermalam di istana Juhua. Kenapa dia diam saja?" gumam Lin'er.
Bai Ningyuan hanya tersenyum, senyuman yang penuh arti.
"Itulah kenapa aku selalu mengatakan padamu, dalam sumur bisa di ukur, Lin'er. Tapi dalamnya hati manusia, tidak akan ada yang bisa mengukurnya!"
***
Bersambung...
Kalau Bai Ningyuan mah santuy, untuk apa cari perhatian kaisar lagi..
Toh cinta nya saat ini udah mati..
Yg ada di hati nya hanya balas dendam atas keluarga nya yg telah mati & gak dihargai.. 🤭