Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
"Sah!" Serentak para saksi mengangguk, disusul ucapan hamdalah yang menggema memenuhi ruangan.
"Alhamdulillahirabbil 'alamin..." Beberapa tamu bahkan bertepuk tangan pelan, sementara senyum lega menghiasi wajah kedua keluarga.
Di balik tirai pembatas, Tara yang sejak tadi menundukkan kepala langsung memejamkan mata. Air mata harunya jatuh begitu saja. Dalam hitungan detik, statusnya berubah. Ia bukan lagi sekadar gadis ceria yang mengajar les bahasa Inggris dan membantu ibunya membuat katering. Kini ia telah sah menjadi istri Sarif.
Bu Nina menutup mulutnya sambil menangis bahagia. Bertahun-tahun membesarkan anak-anak seorang diri setelah kepergian suaminya, akhirnya ia menyaksikan putri sulungnya dipersunting oleh laki-laki yang tampak begitu bertanggung jawab.
Sementara itu, Nenek Bani menatap cucunya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada rasa bangga, lega, sekaligus haru. Dalam hati ia mengucap syukur karena amanah yang sejak awal ia perjuangkan kini telah sampai pada akhirnya.
Di sudut ruangan lain, Ratna hanya mampu menundukkan kepala. Suara kabul Sarif yang tegas masih terngiang di telinganya. Untuk sesaat ia menutup mata, lalu menarik napas panjang. Hari itu ia benar-benar mengikhlaskan. Lelaki yang dulu pernah ia tolak kini resmi menjadi suami sepupunya, dan takdir telah menuliskan kisah yang tidak bisa lagi diubah oleh penyesalan.
Usai akad nikah dinyatakan sah, Tara akhirnya dipersilakan memasuki ruang utama. Langkahnya pelan, diiringi senyum malu yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya. Seluruh tamu langsung mengalihkan perhatian kepada pasangan pengantin yang baru saja resmi menjadi suami istri.
Di hadapan Tara, Sarif telah berdiri menunggu. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Tidak ada yang berbicara. Padahal sebelumnya Tara terkenal paling cerewet di rumah. Selalu ada saja yang ia komentari. Namun kini, semua kalimat yang biasanya berbaris di ujung lidah seakan menghilang begitu saja.
Begitu pula dengan Sarif. Perwira yang dikenal tegas, berani memimpin anak buah, dan tidak pernah gugup menghadapi berbagai situasi itu, mendadak salah tingkah ketika berhadapan dengan perempuan yang kini telah halal baginya.
Tatapan mereka bertemu. Sama-sama tersipu. Sama-sama tersenyum. Sama-sama menundukkan kepala beberapa kali karena malu.
Beberapa tamu yang melihat momen itu ikut tersenyum gemas.
"Masih malu-malu."
"Namanya juga pengantin baru."
"Aaaaa, Sarif dan Tara manis banget."
"Gemas deh!"
Tara diam-diam melirik Sarif dari balik bulu matanya. "Ya Allah... sekarang benar-benar suamiku." Kalimat itu berulang kali terucap dalam hati hingga membuat sudut bibirnya kembali terangkat.
Di sisi lain, Sarif memandangi wajah istrinya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan. Sejak pertemuan pertama, ia sudah jatuh hati pada gadis polos yang selalu berhasil menghidupkan suasana dengan candaan-candaan sederhana. Kini, perempuan yang selama ini hanya bisa ia jaga dalam doa telah Allah halalkan untuk mendampinginya seumur hidup.
Rasa cinta yang sebelumnya hanya dipendam dalam hati seolah menemukan tempatnya. Tidak lagi sekadar perasaan yang harus dijaga dalam batas-batas sebelum akad, melainkan kasih sayang yang kini sah untuk diungkapkan dan dipelihara.
Sarif mengulurkan tangannya perlahan. Tara menyambutnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Saat tangan mereka saling bertaut, keduanya sama-sama tersenyum malu. Hangat. Tenang. Dan menenteramkan.
Di tengah riuh ucapan selamat dari keluarga dan para tamu, mereka seakan memiliki dunia kecil mereka sendiri. Tidak perlu kata-kata yang berlebihan. Tatapan mata dan senyum yang saling mereka berikan sudah cukup menjelaskan bahwa benih cinta yang tumbuh sejak pertemuan pertama kini berkembang semakin kuat.
Perjodohan yang semula terasa penuh tanda tanya telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Hari itu, bukan hanya akad yang menyatukan mereka, tetapi juga dua hati yang sama-sama bersedia belajar mencintai, saling menjaga, dan berjalan beriringan hingga akhir hayat.
Usai prosesi akad dan rangkaian adat selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari sesuai jadwal yang ditentukan oleh Nenek Bani. Aula tempat resepsi dipenuhi keluarga besar, kerabat, sahabat, tetangga, serta rekan-rekan Sarif dari satuannya. Suasana begitu meriah, namun tetap tertib. Semua orang ingin menyaksikan hari bahagia pasangan yang kisah cintanya berawal dari sebuah perjodohan yang tak pernah diduga siapa pun.
Tak lama kemudian, terdengar aba-aba dari petugas protokol. Barisan prajurit yang telah bersiap sejak tadi berdiri tegap di kanan dan kiri pintu masuk. Pedang-pedang mereka perlahan diangkat membentuk sebuah lengkungan kehormatan. Tradisi pedang pora pun dimulai.
Sarif menggenggam lembut tangan Tara. "Siap?"
Tara mengangguk pelan, meski jantungnya kembali berdegup kencang. "Siap, Bang."
Mereka melangkah memasuki lorong pedang dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah masing-masing. Kilatan pedang yang membentuk gerbang kehormatan berpadu dengan tepuk tangan para tamu, menciptakan pemandangan yang begitu gagah sekaligus romantis.
Tara sesekali melirik ke kanan dan kiri dengan mata berbinar. Dalam hati ia masih sulit percaya. "Masya Allah... ternyata aku benar-benar sedang berjalan di bawah pedang pora."
Dulu ia hanya pernah melihat momen seperti itu di televisi atau media sosial. Kini, justru dialah tokoh utama yang berjalan berdampingan dengan suaminya.
Sarif menoleh sekilas. "Kenapa?"
Tara tersenyum lebar. "Nggak apa-apa. Cuma lagi memastikan ini bukan mimpi."
Sarif terkekeh pelan. "Bukan."
Tara mengangguk. "Soalnya kalau mimpi, sayang banget."
Senyum tipis kembali menghiasi wajah Sarif.
Sepanjang lorong kehormatan itu, keduanya tampak begitu serasi. Sarif dengan postur tegap dan pembawaannya yang tenang, sementara Tara dengan senyum ceria yang seolah mampu menghangatkan suasana. Perbedaan karakter mereka justru menjadi pelengkap yang indah. Yang satu tenang seperti langit setelah hujan, yang satu ramai seperti mentari di pagi hari.
Para tamu tidak henti-hentinya memuji.
"Masya Allah, serasi sekali."
"Cocok banget."
"Pantas dari tadi nggak bisa berhenti senyum."
Bahkan beberapa rekan Sarif ikut menggoda. "Dok, akhirnya selesai juga masa lajangnya."
Sarif hanya membalas dengan senyum kecil.
Sementara Tara yang mendengar kata dok spontan menoleh ke arah suaminya sambil berbisik pelan. "Bang...Aku baru sadar."
"Sadar apa?"
"Mulai hari ini aku bukan cuma istri tentara. Tapi juga istri dokter."
Sarif tersenyum geli. "Lalu?"
Tara mengangkat dagunya dengan wajah bangga. "Wah... kalau nanti anak-anak tanya pekerjaan ayahnya, jawabannya keren banget."
Sarif menggeleng pelan. "Kamu ini."
"Iya dong." Tara tertawa kecil. "Tapi tenang, Bang. Mau Abang jadi perwira, dokter, atau cuma Mas Sarif yang tiap hari bikin aku ketawa aku tetap bersyukur Allah memilihkan Abang untuk jadi suamiku."
Kalimat sederhana itu membuat langkah Sarif terhenti sesaat. Ia menatap istrinya dengan penuh kehangatan, lalu menggenggam tangan Tara sedikit lebih erat. Di tengah kemeriahan resepsi dan megahnya pedang pora, keduanya menyadari bahwa kebahagiaan mereka bukan terletak pada kemewahan pesta ataupun kehormatan yang mengiringi langkah mereka hari itu, melainkan pada takdir yang mempertemukan dua hati dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.