Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
Siang yang panjang perlahan berganti. Cahaya jingga di luar jendela mulai menghilang, digantikan langit yang semakin gelap. Rumah pun berangsur sunyi ketika malam turun dan hanya menyisakan suara-suara kecil dari kejauhan.
Di dalam kamar sempit itu, Ainun masih meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya.
Sejak siang tadi, ia tidak beranjak dari tempat tersebut.
Perutnya terasa kosong. Tenggorokannya kering, sementara tubuhnya semakin lemas karena belum makan dan minum.
Perlahan, Ainun mengangkat kepala. Pandangannya beralih ke jendela kecil di sisi kamar.
Langit di luar sudah berubah gelap.
“Sudah malam ternyata...” gumamnya lirih.
Ia mencoba bangkit. Kedua telapak tangannya menekan lantai untuk menopang tubuh yang terasa berat. Setelah berhasil berdiri, Ainun berjalan tertatih menuju vas bunga yang berada di atas meja kecil.
Tenggorokannya terasa begitu kering hingga setiap kali menelan, rasa perih menjalar ke dalam.
‘Aku haus sekali...’
Ainun mengulurkan tangan, lalu menyingkirkan vas tersebut. Pandangannya menyusuri bagian belakang rak, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakannya.
Namun, baru saja jemarinya menyentuh vas itu, sebuah benda tiba-tiba jatuh ke lantai.
Klotak!
Ainun tersentak.
Pandangannya segera turun ke lantai. Keningnya berkerut ketika melihat sebuah benda kecil tergeletak tidak jauh dari kakinya.
Ia membungkuk perlahan, lalu mengambil benda tersebut.
“Benda apa ini?” gumamnya.
Ainun memutar benda itu di antara jemarinya. Matanya menyipit ketika berusaha mengenali bentuknya di bawah cahaya redup yang masuk dari jendela.
Ia membaliknya sekali lagi.
Seketika, pandangannya berhenti pada bagian tertentu dari benda tersebut.
“Ini kan...”
Ainun mengangkat benda kecil itu mendekati cahaya yang masuk dari jendela. Matanya menyipit saat akhirnya mengenali bentuknya.
“Kamera...” gumamnya.
Jemarinya mendadak terasa dingin.
“Kenapa kamera ini ada di sini?”
Ainun menatap benda itu beberapa detik sebelum ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Matanya menyusuri dinding, sudut-sudut kamar, hingga rak kecil di samping tempat tidurnya, berharap menemukan benda serupa dengan yang sebelumnya ia temukan.
Dirinya yakin bila ada kamera yang masih tersimpan di kamarnya.
Selama ini, ia tidak pernah benar-benar memperhatikan benda-benda di kamar tersebut.
Ia melangkah perlahan. Telapak kakinya menyeret di atas lantai, sementara benda kecil itu masih tergenggam erat di tangannya.
Langkahnya berhenti di depan rak yang selama ini hanya dianggapnya sebagai tempat meletakkan berbagai hiasan kecil yang tidak pernah ia pedulikan.
Ainun menatap bagian belakang rak itu.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Ia mendekat, lalu menggeser rak tersebut perlahan.
Krek...
Sebuah benda kecil tampak tersembunyi di baliknya. Tubuh Ainun seketika kaku. Matanya melebar.
Benda itu sama persis dengan yang berada di tangannya.
“Nggak mungkin...”
Napasnya tertahan. Perlahan, tangannya terangkat. Jemarinya gemetar ketika mengambil benda tersebut dari tempat persembunyiannya.
Kini ada dua benda serupa di tangannya.
Jantung Ainun berdetak semakin cepat. Ia menoleh ke sekeliling kamar dengan tatapan penuh kewaspadaan.
‘Selama ini... apa aku terus dipantau?’
Bulu kuduknya meremang.
Ia kembali mengamati setiap sudut kamar. Tempat tidur, meja kecil, rak, hingga celah-celah dinding.
Berapa banyak kamera yang terpasang di kamar ini?
Dan sejak kapan?
Pertanyaan itu membuat tenggorokannya terasa semakin kering.
Ainun mengepalkan kedua tangannya. Salah satunya masih menggenggam kamera kecil yang baru saja ditemukannya.
Ia mengangkat benda itu hingga sejajar dengan wajah. Tatapannya menajam ke arah lensa kecil tersebut.
Ia yakin seseorang sedang mengawasinya dari balik kamera itu.
Dan siapa lagi kalau bukan Sagara?
Hanya pria itu yang tahu dirinya berada di kamar ini.
“Sagara!”
Suara Ainun menggema di kamar sempit itu.
“BUKA PINTUNYA SEKARANG! AKU TAHU KAMU MELIHATKU!”
“CEPAT BUKA PINTUNYA!”
Napasnya memburu. Matanya mulai memanas, tetapi kali ini bukan hanya karena ketakutan.
Ada kemarahan yang perlahan menyelimuti hatinya.
“Mas Sagara! BUKA PINTUNYA!”
.
Sementara itu, jauh dari kamar Ainun, Sagara berada di sebuah ruangan yang sengaja ia gunakan untuk memantau keadaan istrinya.
Pintu ruangan tertutup rapat. Hanya cahaya dari beberapa layar yang menerangi wajahnya yang tampak dingin.
Sagara duduk di depan meja dengan tubuh bersandar pada kursi. Tatapannya tertuju pada salah satu layar di hadapannya.
Di sana, Ainun berdiri di dalam kamar sempit itu.
Wanita itu kini menatap lurus ke arah kamera pengawas yang baru saja ditemukannya. Seolah menyadari keberadaan kamera tersebut, Ainun terus menatap ke arahnya sambil sesekali berteriak memanggil namanya.
Sagara mengembuskan asap cerutu dari sela bibirnya.
Sudut bibirnya tidak bergerak sedikit pun.
Tangannya meraih remote yang tergeletak di atas meja. Ia menekan salah satu tombol hingga suara dari kamera pengawas.
“Berhenti berteriak, Ainun. Tenggorokanmu bisa sakit nanti. Jadi nikmati hukumanmu.”
“K-kenapa Mas Sagara melakukan ini kepadaku? Katakan!” seru Ainun dari layar.
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja sebelahnya. Ia meraihnya, lalu mengusap permukaan kaca yang menutupi foto Ainun.
Dalam foto itu, Ainun tersenyum begitu lepas.
Senyum yang jarang ia lihat secara langsung.
Sagara menatap foto tersebut beberapa saat sebelum kembali mengarahkan pandangan ke layar.
“Kamu tahu bagaimana angsa yang indah bisa masuk ke kandang raja hutan?”
“Apa maksudmu?” tanya Ainun. Suaranya terdengar bingung dari pengeras suara.
Sagara mengulas senyum tipis.
“Pahami sendiri maksudku.”
Ia menyandarkan tubuhnya kembali.
“Kalau ingin keluar dari sana, jadilah istri yang penurut. Jangan bertingkah seperti tadi.”
Setelah mengatakan itu, Sagara kembali menekan tombol pada remote.
Sagara menekan tombol pada remote, memutus sambungan suara dari ruangan itu. Kini hanya suara Ainun yang masih terdengar samar dari layar di hadapannya.
“Mas Sagara!”
Sagara meletakkan remote di atas meja.
Ia bangkit dari kursinya, lalu meletakkan kembali bingkai foto Ainun yang sejak tadi berada di tangannya. Setelah itu, ia melangkah menuju dinding di belakangnya. Beberapa bingkai foto Ainun tersusun rapi di sana.
Langkahnya berhenti di depan salah satu foto.
Jemarinya terangkat, menyentuh wajah Ainun yang tersenyum di dalam bingkai.
“Ainun...” gumamnya pelan.
Tatapannya semakin dalam.
“Aku sudah lama menunggu momen ini.”
Jemarinya bergerak perlahan mengikuti garis wajah Ainun pada foto tersebut.
“Bahkan aku terpaksa mendekati wanita bodoh itu.”
Sagara mendengus pelan.
“Tidak kusangka, dia justru memilih pergi dan memintamu menggantikan posisinya.”
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Namun, senyum itu perlahan menghilang ketika ia mengingat ucapan Ainun di rumah.
“Aku hanya istri sementara.”
Rahangnya mengeras.
“Aku marah karena kamu menyebut dirimu hanya istri sementara, Ainun.”
Sagara menurunkan tangannya dari bingkai foto.
Ia mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menoleh ke arah layar.
Kamera masih menampilkan Ainun yang terduduk di lantai kamar. Bahunya bergetar. Suara isak tangisnya terdengar samar dari pengeras suara.
Sagara berdiri diam di hadapan layar itu. Tatapannya tidak beralih sedikit pun.
‘Tidak ada yang boleh menggantikan mu.’
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪