Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANGAT PUAS
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk lewat celah gorden kamar Aura.
Gadis cantik itu menggeliat pelan di atas kasurnya, merenggangkan kedua tangannya dengan wajah yang tampak segar bugar.
Tidurnya semalam benar-benar sangat nyenyak tanpa gangguan sedikit pun, sama sekali tidak menyadari kalau ada Kaisar gila yang semalam nekat menyelinap dan mencium keningnya.
"Nona! Selamat pagi!" seru Sora ceria, masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisi teh hangat.
Aura mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, mengusap matanya pelan.
"Pagi, Sora," jawab Aura dengan suara khas bangun tidur.
"Nona tidurnya nyenyak sekali ya? Wajah Nona kelihatan segar sekali hari ini," puji Sora sembari meletakkan nampan di atas meja kecil.
Aura menyunggingkan senyum tipis, menyesap teh hangatnya perlahan.
"Iya, semalam tidurku sangat lelap, mimpinya juga tenang sekali, tidak ada bayangan pria bajingan mantan pangeran sialan itu," jawab Aura santai sembari terkekeh pelan.
Sora tertawa kecil mendengarnya.
"Baguslah kalau begitu, Nona. Lalu, apa rencana Nona hari ini?" tanya Sora ikut senang melihat perubahan Nona nya.
Aura meletakkan cangkir tehnya kembali, matanya berkilat penuh semangat.
Tak
"Hari ini aku mau jalan-jalan ke pasar," ucap Aura mantap.
"Ke pasar, Nona? Mau beli apa?" tanya Sora menaikkan sebelah alisnya heran.
"Mau cari angin saja, bosan di rumah terus," jawab Aura sembari berdiri dari kasurnya.
"Sekalian aku mau melihat bagaimana kondisi pasar setelah keluarga Velis diusir, dan aku mau lihat apa gadis bermuka dua itu sudah dibuang Rian di sana atau belum," lanjut Aura tersenyum miring.
Sora langsung membelalakkan matanya, mengerti arah pikiran licik majikannya.
"Rencana pembalasan dendam ronde kedua ya, Nona?" goda Sora antusias.
"Bisa dibilang begitu," jawab Aura santai.
"Siapkan pakaian yang agak santai tapi tetap modis, Sora. Aku tidak mau kelihatan terlalu mencolok di pasar," perintah Aura, berjalan ke kamar mandi nya.
"Siap, Nona! Serahkan padaku!" jawab Sora semangat melangkah menuju lemari pakaian.
Satu jam kemudian, Aura dan Sora sudah berada di area pasar ibu kota yang tampak sangat ramai.
Aura mengenakan gaun berwarna hijau sage yang simpel namun tetap memancarkan kesan elegan, sementara wajah cantiknya hanya dipoles tipis.
Suara riuh para pedagang dan pembeli memenuhi seluruh sudut jalanan pasar.
"Wah, ramai sekali hari ini ya, Nona," ucap Sora mengamati sekeliling sembari berjalan di samping Aura.
"Iya, suasana pasar memang selalu hidup," sahut Aura santai, matanya melirik ke sana-kemari.
Baru saja mereka melangkah beberapa meter, tiba-tiba kerumunan orang di dekat gang sempit dekat pasar tampak riuh, suara bisik-bisik warga terdengar sangat jelas.
"Lihat itu... bukankah itu Lady Elisabeth dari keluarga Velis?"
"Astaga, kenapa penampilannya seperti gembel begitu?"
"Iya, rambutnya berantakan seperti dicakar kucing, baunya juga busuk sekali!"
Aura yang mendengar celotehan warga langsung menghentikan langkahnya, bibirnya terangkat membentuk senyuman puas yang amat tajam.
"Sora, ayo kita lihat ke sana," bisik Aura santai.
"Ayo, Nona!" jawab Sora tidak kalah semangat.
Di sudut gang sempit yang kotor, Elisabeth terduduk lemas di atas tanah, rambut panjang yang dulu dibanggakannya kini terpotong acak-asalan dan berantakan, bajunya kusam serta berbau air kotor yang menyengat.
beberapa warga pasar berdiri mengelilinginya sembari menunjuk-nunjuk dan tertawa mengejek.
"Pergi! Jangan lihat-lihat aku! Pergi kalian semua!" jerit Elisabeth histeris, berusaha menutupi wajah kotornya dengan kedua tangan yang gemetaran.
"Dih, galak sekali! Sudah jadi gembel kotor masih saja berlagak angkuh!" cibir salah satu pedagang sayur.
Aura melangkah maju secara perlahan, menghentikan langkahnya tepat di depan Elisabeth yang sedang merangkak pasrah.
Suara ketukan sepatu hak tinggi milik Aura membuat Elisabeth perlahan mendongakkan kepalanya, matanya yang sembab dan memerah membelalak lebar saat melihat Aura berdiri anggun di hadapannya.
"A... Aura...?" bisik Elisabeth terbata-bata dengan napas memburu.
Aura menunduk sedikit, menatap Elisabeth dari atas ke bawah dengan pandangan paling merendahkan yang pernah ada.
"Wah, lihat siapa yang ada di sini," ucap Aura dengan nada suara pura-pura terkejut yang sangat tidak niat.
"Pemandangan yang sangat indah di pagi hari, bukan, Sora?" pancing Aura melirik pelayannya.
Sora menahan tawa kecil, ikut-ikutan menatap Elisabeth sinis.
"Sangat indah, Nona, penampilan Lady Elisabeth sekarang sangat cocok dengan tempat sampah ini," jawab Sora pedas.
Elisabeth mengepalkan tangannya di atas tanah kotor, air matanya menetes merusak wajahnya yang makin kotor.
"Aura... kamu jahat! Kamu yang membuatku jadi seperti ini! Kamu iblis!" teriak Elisabeth histeris, mencoba berdiri tapi tubuhnya terlalu lemas.
Aura tidak marah sedikit pun, gadis itu justru menyunggingkan senyum manis yang penuh racun.
"Aku jahat?" ulang Aura tertawa pelan.
"Ini belum ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang dulu kamu berikan padaku saat kamu menusukku dari belakang, Elisabeth," ucap Aura bersuara rendah, menatap lurus mata musuhnya.
"Nikmatilah peran barumu sebagai sampah pasar ini, jangan pernah bermimpi untuk kembali ke dunia bangsawan," lanjut Aura penuh penekanan.
Elisabeth menangis sesenggukan, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa malu yang luar biasa membakar dadanya saat warga sekitar makin ramai menertawakannya.
"Ayo, Sora. Bau di sini makin tidak enak, kita cari camilan saja di sebelah sana," ajak Aura santai, berbalik badan tanpa menoleh sedikit pun pada Elisabeth yang meraung-raung di tanah.
"Baik, Nona!" jawab Sora mengikuti langkah majikannya dengan senyum puas mengembang lebar di wajahnya.
Aura dan Sora melangkah santai meninggalkan gang sempit itu, mengabaikan suara jeritan Elisabeth yang makin samar ditelan riuhnya suasana pasar.
"Puas sekali rasanya melihat wajah nenek sihir itu menangis meraung-raung di tanah, Nona!" celoteh Sora girang, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan.
Aura menyunggingkan senyum miringnya, merapikan posisi gaun yang dikenakannya.
"Itu baru pembalasan kecil, Sora," jawab Aura santai.
"Setidaknya dia tahu rasa bagaimana rasanya berada di posisi paling bawah setelah selama ini berlagak sok suci," lanjut Aura menatap salah satu kedai kue di pinggir jalan.
"Nona mau beli kue di sana?" tanya Sora menunjuk kedai yang wangi manisnya sangat menggugah selera.
"Iya, aromanya enak sekali, ayo kita beli beberapa," jawab Aura melangkah mendekati kedai kue tersebut.
Namun, baru saja Aura hendak memesan kue, sebuah bayangan tinggi tegap mendadak berdiri tepat di sampingnya.
Aura memiringkan kepalanya, berniat menegur orang yang berdiri terlalu dekat itu.
Tapi begitu matanya mendongak, raut santai di wajah Aura seketika membeku.
Pria itu mengenakan pakaian rakyat biasa berwarna hitam polos tanpa jubah kerajaan, namun aura dominan dan ketampanannya sama sekali tidak bisa disembunyikan.
Itu Kaisar Zane!
Kaisar Zane menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam mata Aura dengan kilatan jahil dan senyum tipis yang amat menawan.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛