Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Sejak drama salah paham semalam, sosok Salvatore tak kelihatan batang hidungnya sejak waktu sarapan pagi ini. Pria itu tampaknya sibuk dengan urusan organisasi atau memilih menghindar untuk meredakan rasa canggung. Selesai menyantap sarapannya dalam keheningan, Kiyora memutuskan untuk melangkah ke taman belakang mansion. Ia membawa sebuah buku novel tebal yang ia temukan di rak perpustakaan.
Gadis itu menggelar karpet tipis di atas rerumputan hijau yang segar, lalu mendudukkan dirinya di sana, membiarkan tubuhnya disapa embusan angin sepoi-sepoi yang menenangkan.
"Onty," suara cempreng yang sangat familier mendadak menginterupsi ketenangannya.
Milo tiba-tiba muncul seraya membawa semangkuk kecil puding cokelat. Tanpa dipinta, anak gembul itu mendudukkan dirinya tepat di sebelah Kiyora, menyendok pudingnya, lalu menatap hamparan rumput luas di hadapan mereka dengan pandangan yang mendadak menerawang.
"Onty punya olang tua?" tanya Milo tiba-tiba dengan raut wajah yang mendadak sangat serius.
Kiyora menghentikan gerakan tangannya yang baru hendak membalik halaman novel. Ia menatap bocah di sampingnya, lalu tersenyum tipis nan getir. "Enggak. Aunty enggak tahu orang tua Aunty di mana."
Milo seketika menghentikan kunyahannya. Ia menoleh, menatap Kiyora dengan binar mata bulatnya yang membesar. "Onty nda tahu olang tua Onty di mana?" tanyanya memastikan, yang langsung dibalas anggukan pelan oleh Kiyora.
"Kaciannya Onty ... Coba cali di kubulan, ciapa tahu ada kaya olang tua Milo," ucap Milo polos, meluncurkan saran yang sukses membuat Kiyora terhenyak di tempatnya.
Kiyora terpaku sejenak, memiringkan tubuhnya menghadap bocah itu. "Orang tua Milo ... di kubur?"
Milo mengangguk santai. Ia baru saja menyendok habis sisa puding di mangkuknya, lalu menatap Kiyora dengan pandangan yang teramat polos tanpa beban.
"Olang kalau capek itu tidul. Ada yang tidul celamanya, ada yang tidul cebental. Papa Mama Milo, maunya celamanya. Kalau Milo, nda mau. Enak belnapas, bica makan enak, kacian juga Angkel mucang catu itu cendilian. Dia itu ...," Milo menggantungkan kalimatnya. Bocah itu mendadak mendekatkan wajah gembulnya hingga amat dekat dengan wajah Kiyora, seolah hendak membocorkan rahasia negara.
"... Cebaatanng Mucaaaaang, eh Kalaaa makcudnya," bisik Milo dramatis. Suaranya pelan dan tertahan, tetapi aroma mulut bau susunya yang khas berembus kencang menerpa wajah Kiyora.
Kiyora terkekeh geli, rasa iba dan gemas bercampur menjadi satu di dadanya. "Gitu, ya? Berarti kita sama-sama sebatang kara, dong," ucap Kiyora lembut sambil mencubit gemas pipi renyah Milo.
Milo menggoyangkan kepalanya sok tahu. "Heum. Kita juga bica kelual dali cini, lewat gelbang belakang. Biaca Pelayan lewat cana kalau mau pulang," celetuk Milo santai.
Kalimat sederhana itu seketika membuat mata Kiyora terbelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang secara refleks. "Benarkah?"
"Heum! Tapi lahacia kita, yah? Milo biaca kelual kalau lagi malah cama Angkel Mucang itu," aku Milo dengan nada bangga.
"Di mana?! Di mana tempatnya?!" seru Kiyora antusias, tidak sanggup menahan rasa semangat yang membuncah di dadanya. Peluang kabur yang ia cari-cari akhirnya terbuka lebar!
Milo yang mendengar respon heboh itu justru keheranan. Ia menatap Kiyora dengan kening berkerut. "Onty lagi kecak cama Angkel?" tanya Milo polos.
Kiyora mengangguk cepat, mendesak anak itu agar segera memberi tahu tempatnya. Milo akhirnya beranjak berdiri dari karpet. Ia memutar kepalanya, menatap sekeliling taman dengan raut sok waspada, lalu kembali menatap Kiyora.
"Bental lagi om penjaga ganti, kita kabul," ucap Milo dengan senyuman mengembang, bangga karena merasa sedang diajak bermain misi rahasia.
Kiyora mengangguk mantap. Ia ikut berdiri, pandangannya menyapu area benteng belakang. Benar saja, dengan hitungan mundur di kepalanya, ia melihat pergantian shift penjaga sedang dilakukan. Para mafioso yang berjaga berpindah posisi, menyisakan celah dan kesempatan emas bagi mereka berdua.
"Ayo!"
Milo berlari kencang memimpin jalan dengan kedua tangan mungilnya memegangi perut gembulnya yang naik-turun seiring langkah kakinya. Sementara itu, Kiyora berjalan cepat di belakangnya, berusaha agar gerakan mereka tidak menimbulkan kecurigaan jika terlihat dari jauh.
Merek berjalan cukup jauh mengitari area belakang mansion yang jarang terjamah, hingga mendekati benteng pembatas tinggi yang tertutup rapat oleh banyak tanaman rambat liar. Langkah Milo terhenti pada salah satu sudut tembok yang dipenuhi daun-daun tebal. Dengan tangan kecilnya, ia menyingkirkan dedaunan rambat itu, dan terlihatlah sebuah pintu besi kecil yang tersembunyi dengan sangat rapi.
"Dicini, Onty," ucap Milo menunjuk pintu tersembunyi itu dengan bangga.
Kiyora tersenyum lebar, binar kebahagiaan terpancar jelas dari matanya. Akhirnya, ia menemukan pintu keluar! Tanpa membuang waktu, Kiyora berjongkok dan meraih kedua bahu kecil Milo, menatap wajah polos anak itu dalam-dalam.
"Dengar, ya. Jika Om-mu itu pulang nanti, katakan padanya kalau kamu tidak tahu keberadaan Aunty, oke? Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan, dan jangan terus membuat Om-mu itu kesal. Aunty bakal kembali menjenguk kalau Aunty bisa merebutmu darinya nanti, okay?" ucap Kiyora cepat dengan nada penuh pesan harapan.
Milo memiringkan kepalanya, dahinya berkerut kebingungan mencerna deretan kalimat panjang itu. "Onty mau kabul?"
Kiyora mengangguk mantap. "Iya, Aunty mau kabur."
"Oooo ... mau kabul. Yaudah cana, kebulu Angkel pulang," sahut Milo santai, mengibaskan tangan mungilnya seolah mengusir Kiyora dengan tenang.
Kiyora mengangguk haru. Ia merengkuh tubuh gembul Milo sejenak, mengecup kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang, lalu segera membuka pintu besi kecil itu dan menyelinap keluar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkurung, Kiyora menghirup udara bebas dengan sangat kuat. Bebas dari cengkeraman sang Don Mafia.
Sementara itu, Milo berdiri terpaku di balik tembok, memegangi kepalanya yang baru saja mendapat kecupan hangat dari Kiyora. Senyuman bangga mengembang di wajah bulatnya.
"Beluntunglah Milo hali ini. Pactli itu olang tua ili kali cama Milo. Lagian cih, nda bantu Onty kabul. Coba bantu Onty kabul ...," gumam Milo seraya membalikkan badan, berniat melangkah santai kembali menuju mansion.
Namun, baru tiga langkah berjalan, otak kecil Milo mendadak memproses kata-kata yang baru saja diucapkannya sendiri. Langkah kaki pendeknya terhenti seketika.
"Cebental ...," Milo membeku di tempat, matanya membelalak sempurna saat menyadari kesalahan fatal yang baru saja ia perbuat.
"Kabuuuuul?! Onty ... kabuuuuuul?!" pekik Milo histeris.
Napas anak itu memburu panik. Dengan kaki pendeknya, Milo berbalik dan berlari kencang kembali ke pintu kecil itu. Ia menyibak tanaman rambat dan melongokkan kepalanya ke luar, tetapi sosok Kiyora sudah sama sekali tidak terlihat di jalanan sepi sana.
Milo memegangi kedua pipi gembulnya dengan raut wajah panik yang luar biasa dramatis.
"OOOOONTYYYYY PULAAAAANG! BICA DI GEPLEK MILO CAMA ANGKEL MUCAAAAAAANG!" teriak Milo melengking menghadap ke arah jalan kosong, menyadari bahwa hidupnya kini berada dalam bahaya besar jika Salvatore tahu ia telah membiarkan Kiyora meloloskan diri.
kiyora 😭