"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup yang Terbelah
Hujan badai mengguyur ibu kota selama tiga hari tiga malam berturut-turut, seolah ikut meratapi runtuhnya istana kebahagiaan yang baru saja dibangun oleh dua jiwa yang terikat takdir kejam. Di sebuah klinik fisioterapi kecil di pinggiran kota yang berlantai semen dingin dan berbau obat gosok murah, Senjani duduk termenung di balik meja administrasi. Pakaiannya kini kembali sederhana, hanya kemeja rajut usang dan celana kain yang warnanya mulai pudar.
Setelah diusir dari kediaman Nandotomo, Senjani menolak untuk menyerah pada keadaan. Dia tidak mungkin kembali ke rumah sakit lamanya setelah kasus fitnah itu, sehingga klinik kecil inilah yang menjadi satu-satunya tempat yang sudi menampungnya sebagai tenaga terapis harian dengan gaji yang tidak seberapa.
Senjani menatap layar ponsel lamanya yang retak di sudut kanan bawah. Tidak ada lagi ponsel hitam mewah pemberian Jiro. Semua fasilitas itu telah dia tinggalkan di atas meja nakas kamar pengantin mereka, bersama dengan cincin pernikahan emas yang sempat melingkar manis di jari manisnya.
Ting.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari bank membuat Senjani tersadar.
[Bank Mandiri] Transfer Keluar: Rp 3.500.000,- ke Rekening Wijaya Group Mandiri.Sisa Saldo: Rp 120.000,-
Senjani mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, menyeka pelipisnya yang mulai pening. Itu adalah cicilan pertama yang berhasil dia bayarkan kepada keluarga Nandotomo untuk mencicil utang biaya pengobatan ibunya. Dia memotong hampir seluruh gaji pertamanya di klinik ini, menyisakan uang yang hanya cukup untuk membeli mie instan dan ongkos angkutan umum selama beberapa minggu ke depan.
Rasa lapar dan lelah secara fisik sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang terus menggerogoti ulu hatinya setiap kali ingatan tentang tatapan benci Jiro melintas di kepalanya. Sesuai dengan etika profesinya, dia tahu dia harus menjauh demi ketenangan jiwa pasiennya. Namun, sebagai seorang wanita yang terlanjur menyerahkan seluruh hatinya, rasa kehilangan ini terasa seperti kematian yang datang perlahan.
"Senjani, tolong bantu pasang alat TENS di bed nomor tiga, ya. Pasiennya sudah mengeluh nyeri punggung sejak tadi," panggil kepala klinik dari arah dalam, membuyarkan lamunan Senjani.
"Baik, Pak. Saya segera ke sana," jawab Senjani cepat. Dia buru-buru menghapus sudut matanya yang mendadak basah, memakai papan nama perawatnya, lalu melangkah masuk ke ruang terapi dengan senyuman profesional yang dipaksakan. Hidup harus terus berjalan, sekencang apa pun badai air mata menghantamnya.
...----------------...
Sementara itu, di lantai paling atas gedung pencakar langit Nandotomo Group di pusat bisnis Jakarta, atmosfer ruangan CEO terasa jauh lebih mencekam daripada penjara bawah tanah. Para direktur dan manajer divisi keluar dari ruang rapat dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh yang gemetar. Mereka baru saja habis diinterogasi dan dimaki oleh sang CEO yang baru saja kembali memegang takhta.
Jiro Nandotomo duduk tegak di balik meja kerja kayu mahoni raksasanya. Kursi roda elektriknya kini telah digantikan oleh kursi kerja kulit mewah beroda biasa. Kaki Jiro sudah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, bahkan dia kini sudah bisa berpindah tempat secara mandiri menggunakan tongkat penyangga, dan terkadang melangkah tanpa bantuan dalam jarak dekat.
Namun, kesembuhan fisik itu berbanding terbalik dengan kondisi jiwanya. Jiro yang sekarang telah berubah menjadi sosok pemimpin yang jauh lebih kejam, dingin, dan tidak memiliki toleransi sedikit pun terhadap kesalahan sekecil apa pun. Wajah tampannya selalu kaku tanpa senyuman, dan sepasang netra elangnya memancarkan kekosongan yang mematikan.
Tok, tok.
Adriano, kepala pengawal pribadi sekaligus asisten kepercayaannya, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kepala menunduk hormat. Dia meletakkan sebuah laporan keuangan domestik di atas meja kerja Jiro.
"Tuan Besar Jiro" ucap Adriano dengan suara rendah. "Ini adalah laporan harian dari divisi keuangan keluarga. Pagi ini, ada sebuah transaksi transfer masuk sebesar tiga setengah juta rupiah ke rekening penampungan dana Nandotomo Group."
Gerakan tangan Jiro yang sedang menandatangani dokumen proyek langsung terhenti di udara. Pena mahal di cengkeraman jarinya menekan kertas hingga tintanya sedikit melebar. Tanpa perlu bertanya, Jiro tahu persis siapa pemilik uang itu.
"Siapa yang menyuruhmu menerima uang itu, Drian?" desis Jiro. Suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, sanggup membuat bulu kuduk asistennya meremang.
"M-Maaf, Tuan. Transaksi itu masuk secara otomatis melalui sistem perbankan menggunakan nomor referensi utang yang ditandatangani oleh Kakek Baskoro dulu. Nona Senjani... dia mengirimkannya dari sebuah klinik kecil di pinggiran kota Depok," jelas Tulus, tidak berani menyembunyikan fakta sekecil apa pun.
Jiro menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya, memalingkan wajahnya menatap hamparan pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca raksasa di belakangnya. Tangan kanan pria itu meraba saku jas hitamnya, meremas sebuah benda kecil yang ada di dalam sana, sebuah ponsel hitam khusus yang semalam dia ambil kembali dari kamar pengantinnya yang kini kosong dan dingin.
Tiga setengah juta rupiah? Jiro tersenyum sinis dengan batin yang tercabik. Utang pengobatan ibu Senjani mencapai miliaran rupiah. Dengan nominal sekecil itu, Senjani harus bekerja selama ratusan tahun untuk bisa melunasinya. Wanita bodoh itu sengaja menyiksa dirinya sendiri dengan bekerja di tempat kumuh hanya demi menjaga harga dirinya yang keras kepala di hadapannya.
"Tuan Jiro, jika Anda mengizinkan, saya bisa menyuruh pihak bank untuk memblokir rekening referensi tersebut agar Nona Senjani tidak perlu mengirimkan uangnya lagi—"
"Jangan ikut campur, Drian," potong Jiro dengan cepat, nadanya ketus dan tidak bisa dibantah. "Biarkan dia mengirimkannya. Jika itu cara yang dia pilih untuk membayar dosa keluarganya kepadaku, maka biarkan dia merasakannya sampai dia tahu seberapa berharganya waktu enam bulanku yang telah dihancurkan oleh ayahnya."
"Baik, Tuan. Saya mengerti," Adriano membungkuk hormat, bersiap untuk mundur keluar dari ruangan.
"Tunggu," panggil Jiro lagi sebelum Adriano mencapai gagang pintu. Jiro tetap menatap keluar jendela, menolak memperlihatkan ekspresi wajahnya yang sebenarnya kepada asistennya sendiri. "Klinik... klinik tempat dia bekerja. Apakah keamanannya terjamin?"
Adriano sempat tertegun sejenak mendengarnya, namun dia segera menguasai diri. Sisi protektif Tuan Mudanya ternyata tidak pernah benar-benar mati, melainkan hanya terkubur di balik dinding ego dendam yang membatu. "Klinik itu berada di lingkungan yang agak padat penduduk, Tuan. Tapi sejauh ini, saya sudah menempatkan dua orang pengawal berpakaian preman untuk mengawasi area sekitar secara berkala tanpa sepengetahuan Nona Senjani."
"Bagus. Kamu boleh keluar sekarang."
Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan luas itu. Jiro perlahan mengeluarkan ponsel hitam milik Senjani dari dalam saku jasnya, meletakkannya di atas meja kerja. Dia menatap layar ponsel yang gelap itu dengan cengkeraman tangan yang gemetar.
Egonya berteriak bahwa dia harus membenci wanita itu seumur hidupnya sebagai anak dari pembunuh mimpinya. Namun, setiap sudut di dalam ruangan ini, setiap langkah kaki yang dia ambil saat ini, dan setiap detak jantung di dalam dadanya justru terus meneriakkan nama Senjani, menuntut pelukan hangat dan sentuhan jemari lembut sang terapis yang kini telah dia buang ke dalam badai air mata.