Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Penundaan dan Status Baru
Punya orang tua plin-plan adalah ujian hidup paling berat yang harus gue dan Kian hadapi.
Padahal baru seminggu lalu suasana ruang makan di rumah heboh bagai pasar kaget gara-gara keputusan gue yang siap dilamar. Waktu itu, para orang tua kelihatan paling semangat menyusun rencana masa depan kami.
Tapi malam ini, di acara makan malam bersama keluarga berikutnya yang diadakan di rumah Kian, angin perubahan mendadak berembus.
Acara makan malam baru saja selesai. Suasana ruang keluarga terasa hangat dengan aroma kopi hitam dan camilan yang tersaji di meja. Gue dan Kian duduk berdampingan di sofa, siap mendengarkan kelanjutan obrolan soal perkiraan tanggal akad.
"Jadi gini," Om Heru berdeham, menatap kami berdua bergantian dengan raut wajah sangat santai. "Setelah Papa sama Papa-nya Elora diskusi beberapa hari ini... kayaknya pernikahan kalian mending diselenggarain setahun lagi aja deh."
Gue berkedip. Kian yang tadinya lagi selonjoran santai langsung tegak seketika.
"Apa?!" pekik Kian, suaranya naik dua oktav. "Setahun lagi?!"
"Iya, setahun lagi. Kenapa? Kepastiannya kan udah ada, Elora udah mau nikah sama kamu Kian!" jawab Om Heru, lalu menyeruput teh hangatnya tanpa dosa.
"Ya tapi kenapa harus nunggu setahun, Pa?!" Kian heboh sendiri, tangannya mengudara frustrasi. "Kemarin-kemarin Papa sama Mama yang heboh nyuruh PDKT, nyuruh buru-buru, nyuruh ini-itu! Sekarang pas Elora udah mau, malah disuruh nunda setahun?! Maksudnya apa coba?!"
Papa gue terkekeh pelan melihat reaksi Kian. "Kian, kamu itu belum lulus kuliah. Elora juga lagi pusing-pusingnya ngerjain skripsi Bab 4. Kalau dipaksain nikah tahun ini, repot. Kalian mau ngurusin vendor katering sambil revisian SPSS?"
"Ya... ya enggak gitu, tapi kan..."
"Udah, keputusannya gitu ya. Tahun depan, setelah kalian berdua pegang ijazah," potong Om Heru final, lalu kembali mengobrol santai dengan Papa soal tanaman hias.
Kian mematung. Matanya melotot menatap papa gue dan papanya bergantian. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, dia bangkit dari sofa, menghentakkan kakinya gusar, lalu berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Pintu kamar di ujung lorong itu ditutup dengan suara dentuman cukup keras.
Para orang tua cuma tertawa kecil di bawah, seolah-olah ngambeknya Kian adalah hiburan gratis. Tapi gue yang paham betul seberapa gengsi dan sensitifnya cowok itu, langsung pamit buat menyusulnya ke atas.
Gue mengetuk pintu kamar Kian pelan sebelum memutar gagang pintu yang ternyata enggak dikunci.
Kian sedang telentang di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih terdengar kesal. Kedua tangannya dilipat di atas dada. Saking kesalnya, dia bahkan enggak menoleh waktu gue masuk dan duduk di tepi tempat tidurnya.
"Kenapa sih, Ki?" tanya gue pelan, mencoba menahan tawa melihat raut mukanya yang ditekuk habis-habisan. "Ngambeknya tebel banget kayak kamus bahasa Inggris."
Kian menghela napas kasar, lalu berbalik miring menghadap gue. "Gue cuma aneh aja sama Papa," omelnya dengan suara ketus yang tertahan. "Sebelumnya mereka yang jodoh-jodohin kita dari awal, mereka yang buru-buru... tapi begitu kita udah sama-sama yakin, malah disuruh nunggu setahun lagi. Dikira nunggu setahun itu gampang apa? Kayak nunggu promo tanggal kembar di online shop aja."
Gue tersenyum tipis. Di balik ocehan kesalnya, gue tahu ada rasa kecewa karena niat baiknya mendadak tertahan.
"Ya enggak apa-apa kali, Ki. Lagian omongan Papa lu ada benernya."
Kian cemberut. "Kok lu malah ngebela Papa?"
"Bukan ngebela," kata gue lembut, menatap matanya lurus. "Gue jujur emang lagi pusing banget sama skripsi. Kalau kita nikah sekarang, gue pasti bakal stres membagi fokus. Lagian... emang lu enggak mau ngerasain hal lain dulu sebelum kita nikah?"
Kian berkedip, raut kesalnya perlahan berkurang, digantikan rasa penasaran. "Hal lain apa?"
"Ya... pacaran?" ujar gue sambil menyunggingkan senyum. "Gak usah buru-buru nikah. Kita kan bisa pacaran dulu."
Kian terdiam total. Matanya berkedip lambat, mencerna kata 'pacaran' yang baru saja keluar dari mulut gue.
"Coba lu bayangin," sambung gue, sengaja memancingnya. "Selama ini kan status kita cuma 'percobaan perjodohan' yang serba canggung dan diawasin orang tua. Tapi kalau setahun ke depan kita pacaran resmi... bakal menyenangkan banget, tahu. Kita bisa kencan beneran tanpa beban, bisa makan mi ayam di pinggir jalan malam-malam, nonton bioskop di kursi paling belakang, terus lu jemput gue kayak anak muda pada umumnya."
Gue mencondongkan badan sedikit ke arahnya. "Gimana? Masa lu enggak mau kencan sama gue?"
Perlahan-lahan, raut gusar di wajah Kian menguap habis. Dia mendudukkan dirinya di samping gue, menatap gue lekat-lekat sebelum akhirnya menarik helaan napas pasrah.
"Jadi... sekarang status gue turun kasta dong?" gumam Kian. "Dari yang tadinya 'Calon', sekarang downgrade cuma jadi 'Pacar'?"
Gue tertawa geli melihat raut mukanya yang pura-pura prihatin sama nasib sendiri. "Ya lagian, siapa suruh sok kepedean panggil 'Calon' dari kemarin-kemarin? Syukur-syukur gue kasih status Pacar".
Kian nyengir. "Biarin dah downgrade dikit, yang penting kan kamu udah jadi milik akyuu"
Gue menempeleng pelan bahunya sambil tertawa renyah. "Ih apaan sih, geli!"
Kian ikut tertawa lepas, tawa hangat yang membuat seluruh kekesalannya tadi menguap tanpa sisa. Kami memang harus menunda pernikahan selama satu tahun, tapi membayangkan satu tahun ke depan akan dilewati sebagai sepasang kekasih... rasanya perjalanan ini bakal jauh lebih seru.