NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagar Untuk Desa

Braaak!

Tubuh Arkan ambruk di atas lantai, bersama dengan tubuh Dayang Sari. Nafasnya tersengal, dan ia seperti kehabisan tenaga.

Arkan memejamkan kedua matanya, dan akhirnya terlelap.

Atok Guro menyimpan dua botol Minyak Kuyang dengan aman, agar tidak di ketahui Induk Jarum sebelum mereka nantinya akan berangkat le hulu Sungai Mahakam.

Atok Guro tidak tidur. Ia mengambil dedaunan untuk mengobati luka di lengan dan punggung Arkan. Tangannya terlihat cekatan dalam meramu racikan obat tersebut. Kemudian menempelkannya di tubuh Arkan yang terluka

Setelah selesai, ia menghampiri tubuh Dayang Sari, lalu merapalkan mantra, dan membuat gadis itu tak sadarkan diri, layaknya puteri tidur.

****

Malam berlalu. Arkan mempersiapkan dirinya untuk kembali bergerak malam nanti.

Ia harus membuat pagar desa, agar Induk jarum tidak menyerang warga.

Hari mulai beranjak gelap. Bulan tertutup awan. Tidak ada bintang, dan itu pertanda jika hujan akan turun malam ini.

Di dalam gubuk Atok Guro, Arkan meletakkan kendi tujuh air sumur tua di atas meja. Di sampingnya satu karung garam kasar, satu ikat daun kelor, dan juga abu kemenyan.

“Kalau kita langsung ke Gunung Muller, Induk Jarum akan balas dendam ke kampung,” ucap Atok Guro. Suaranya terdengar cukup berat.

“Dia tahu kau membawa tubuh Dayang Sari. Dia akan mengirim pasukannya malam ini juga.”

Arkan mengepalkan tinjunya. Tatapannya tertuju pada Dayang Sari yang masih pingsan di atas tikar, tangannya diikat rotan dan kelor. Wajahnya tenang, tapi alisnya berkerut seperti kesakitan.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Tok?”

Atok menuang air tujuh sumur ke baskom besar. Memasukkan garam dan meremas daun kelor sampai airnya berubah menjadi hijau keputihan dan berasap tipis.

“Ini Air Pagar tujuh. Kau harus keliling kampung. Taburkan di tujuh titik. Di setiap sudut, di setiap gerbang, di setiap pohon beringin tua. Baca doa ini.”

Atok menyodorkan secarik daun lontar. Tulisan aksara Dayak.

Arkan mengangguk. Dia memasukkan air itu ke dalam dua jerigen. Kemudian mengikat mandau di pinggangnya.

Ia beranjak dari tempatnya. Sejenak menatap ke arah tubuh sang gadis yang tergeletak. “Jaga Dayang, Tok. Aku akan bergerak cepat.” ucapnya dengan bersungguh.

Luka di lengan dan punggungnya sudah mengering, dan tenaganya sudah kembali pulih, sebab Atok Guro memberikan ramuan rahasia penambah energi.

“Cepat lah, Nak. Induk Jarum tidak akan tinggal diam.”

Arkan mengangguk, dan bergegas turun dari gubuk, lalu kembali menyusuri jalanan yang gelap dan juga pekat.

Arkan berjalan menuju pohon beringin, tepat di tepi sungai, dimana para anak-anak dan juga warga sering mandi di sana.

Ia menabur air pertama.

Syuuuuur!

Tanah langsung berasap. Dari balik hutan, terdengar lolongan anjing siluman.

"Aaaauuuuunng...."

"Astaghfirullah..." Arkan tersentak kaget. Dan ia bergegas untuk pergi.

Wuuuussh!

Tiga ekor anjing hitam tiba-tiba muncul di hadapannya. Matanya memancarkan cahaya berwarna merah.

Arkan mundur selangkah. Lalu meletakkan dua jerigen ke atas rerumputan. Ia mengangkat mandaunya, dan bersiap menyerang ketiga Siluman Anjing.

Grrrrrrgggh!

Suara geraman dari anjing tersebut membuat Arkan semakin waspada.

Wuuuussh!

Anjing Siluman itu menerjangnya. Arkan dengan cepat menyabetkan mandaunya, dan membuat sosok itu terpotong di bagian kakinya.

Craaaash!

Mandau yang telah di olesi air garam itu berhasil membuat kaki Siluman Anjing terpental ke atas tanah,

SSSSST!

Satu anjing terbakar. Dua lainnya kembali menggeram. Arkan kembali bersiap, dengan nafasnya yang tersengal.

Dua Siluman Anjing menyerangnya sekaligus. Arkan merunduk, dan tanganya menyabet ke arah dua Anjing Siluman dengan cepat.

Craaash!

Dua Anjing itu menggelepar, dan tubuhnya mengeluarkan asap, lalu melengking dengan panjang.

Napas Arkan terasa berat. “Satu.” gumamnya, lalu kembali mengangkat dua jerigen air ramuan penangkal.

Arkan bergerak menuju titik dua, tempat dimana ia akan menuangkan penangkal ke batu berukuran besar di bagian timur.

ia tiba dengan nafasnya yang cukup berat. Tetapi ia tak punya waktu untuk mengeluh. Ia menuangkan air tersebut ke batu.

Begitu air dituang ke batu besar yang merupakan patok desa, batu itu bergetar cukup kuat.

Dari batangnya keluar wajah-wajah mengerikan. Wajah bayi dan juga perempuan tua.

“Balikin... balikin...” bisik mereka dengan suara yang sangat berat. Itu adalah suara dari jiwa para tumbal Dayang Sari.

Arkan menggigit bibir sampai berdarah. Kemudian ia membacakan doa dari daun lontar.

“Cahaya untukmu. Tenanglah.”

DUAAAR!

Suara petir menyambar, dan tiba-tiba angin bertiup kencang. Wajah-wajah itu menjerit lalu menghilang. Batu Itu mengeluarkan asap tipis berwarna putih.

Setelah menyelesaikan titik kedua, Arkan menuju ke sumur tua di tengah desa. Langkahnya semakin di percepat, dan ia menembus kegelapan malam.

Ia mengangkat jerigen. Lalu menuang air ke dalamnya.

Tiba-tiba saja, air sumur mendidih sendiri dan berubah menjadi cairan pekat darah.

BLUUUK!

BLUUUK!

BLUUUUK!

Dari dalam sumur, kepala dengan organ tubuh dalam bentuk asap hitam muncul dengan wajah mengerikan.

“Kau pikir pagar ini bisa bertahan?” kepala itu tertawa.

Kek kek kek...

“Anak buahku sudah di rumahmu!”

Arkan panik. Dia lempar sisa air ke kepala itu.

PRAAAKK!

Kepala itu meleleh menjadi asap hitam.

Arkan langsung berlari kencang, dan membawa satu jerigen tersisa.

Arkan menuju makam umum, sebab itu terletak di bagian Utara. Saat ia menuangkan air di tepian pemakaman. Tiba-tiba saja tanah itu bergetar, dan asap mengepul dari setiap makam.

Detik berikutnya, kepala-kepala puntung berterbangan menyerang Arkan.

"Hah!" Arkan tersentak kaget. Ia tersurut mundur. Dan kepala-kepala itu melesat mengejarnya.

Wuuussh!

Wuuuush!

Satu kepala berhasil menggigit lengannya, dan kepala lainnya ikut menyerangnya. Menggigit betisnya, punggungnya dan membuat Arkan terpekik kesakitan.

Ia mencoba mengibaskan dan melepaskan gigitan para kepala puntung tersebut.

Tetapi semakin ia paksa lepas, maka gigitannya semakin kencang.

Darah memancar dari setiap luka gigitan.

"Aaaarrrgh!"

Pekiknya kesakitan, sembari meringis dan menggeretakkan giginya.

Dengan kepayahan, ia mengambil garam di saku pakaiannya, dan menaburkannya ke arah para kepala puntung tersebut.

Srrrrrrsss!

Kepala-kepala puntung itu telepas menggigit seperti lintah yang terkena garam.

Bluuutuk!

Kepala-kepala itu terjatuh ke atas tanah. Lalu menggelinding kembali masuk ke dalam kuburan.

Arkan mengatur nafasnya yang tersengal. Lalu kembali berjalan dengan langkah sempoyongan.

Ia tiba di jembatan bambu, kabut hitam mulai pekat dan menutup.

Braaak!

Ia terpleset, dan hampir saja terjatuh ke dalam sungai. Dengan susah payah, ia bergelantungan di jembatan dan sampai hingga ke tepi.

Braaak!

Arkan ambruk di atas tanah, dan dadanya naik turun.

Baju Arkan sobek lagi, dan ia sudah compang camping. Darah dari lukanya masih menetes. Tetapi wajah Dayang Sari yang melintas di pelupuk matanya, membuat ia kembali bertenaga.

"Aku akan membuatmu putus dengan perjanjian terkutuk itu, Dayang." gumamnya dengan penegasan.

Ia kembali bangkit, dan harus menyelesaikan misinya.

Titik terakhir ada di balai desa. Ia bergegas menuju ketempat itu, dan kondisi begitu sangat sunyi dan sepi.

Warga tidak ada yang berjaga siskamling. Sebab takut meninggalkan rumah.

"Bismillah..." ucapnya, lalu menaburkan air tersebut ke balai desa.

Duuuuuaar!

Tiba-tiba petir menyambar. Tanah mulai bergetar, seolah sedang terjadi gempa.

"Lindungi aku ya, Allah... Lindungi Warga, dan Dayang Sari.

Wuuuussh!

Sebuah titik cahaya melesat dari balai desa, lalu membentuk dinding cahaya, dan saling bertemu disetiap titik yang tadinya di siram Arkan dengan air penangkal.

Arkan bernafas lega, dan ia harus segera kembali ke gubuk tua milik Atok Guro. Ia akan menuju ke Makam Tua di Bukit Kapur Batok Tenevang di bagian hulu Sungai Mahakam.

Di sanalah perjanjian itu di buat.

1
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh pindah kah nnti penjaganya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
semoga Arkan smlt dan jd manusia lagi kasihan deh ibunya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
syukuralah selamat tp arkan gmn ya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
melas men sihh podoan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
melas men sihh podoan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
welah makan tumbal lagi
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tolong lah memang kau tak bisa keluar dr situ tp Krn kau penjaga maka lenyapakan dlu pemganggu nya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha terus piye KK Siti
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhhpiye iki berhasil ora
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhhpiye iki berhasil ora
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lanjutkan KK makin ser2 aja
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahhh terus piye jal
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhh ngeri juga ya hiiiii
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
padahal Arkan bukan lagi main2 lho di main cinta smpe rela mati demi mutusin pernajnian dengan kuyang 🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha jadi udh ke 7 knp mlh dayang juga kena wehh iblis Ndak beres ini
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
piye kan
rasane seger ser ora
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
berat su guh Cinta yg mulia ya kan
arkan2 demi cinta rela mau bertaruh nyawa 😄😄😄😄
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
melu deg2an sih hahahhaaa
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh ketahuan g ya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha dalah susah sekali ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!