NovelToon NovelToon
Suamiku Mendengar Pikiran Nakalku

Suamiku Mendengar Pikiran Nakalku

Status: tamat
Genre:CEO / Penikahan Kontrak / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Irin_Kokh

Kirani Wiratma hanya punya satu misi: menggantikan saudari kembarnya, menikah dengan Arga Mahendra, lalu bertahan memainkan peran sebagai istri sempurna sampai ia bisa menghilang dengan uang yang sudah dijanjikan.
Masalahnya adalah Arga.
Dingin, kaya, selalu rapi, dan berbahaya tampannya, pewaris keluarga Mahendra itu seolah diciptakan untuk merusak konsentrasi Kirani. Di luar, Kirani tersenyum seperti perempuan penurut, menyajikan kopi, menundukkan pandangan, dan pura-pura tidak merasakan apa pun.
Namun di dalam kepalanya, ceritanya lain.
Aduh, tidak. Pria itu seharusnya dilengkapi peringatan. Dengan kemeja itu, bahu itu, dan wajah sedingin es begitu, perempuan jujur mana pun bisa kehilangan harga diri.
Yang tidak Kirani ketahui, Arga bisa mendengar setiap isi pikirannya.
Setiap keluhan. Setiap makian. Setiap fantasi memalukan tentang menyentuh dadanya, melepas dasinya, atau melihat pria itu kehilangan kendali karena dirinya.
Awalnya, Arga hanya ingin mencari tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpura-pura tenang itu, sementara pikirannya menyala tanpa henti. Namun semakin lama ia mendengar suara batin Kirani, semakin sulit baginya menjaga jarak. Istri palsu itu mulai terasa terlalu nyata. Pikiran-pikiran nakalnya mulai terlalu ia sukai. Dan pria yang bersumpah tidak akan jatuh cinta akhirnya terobsesi pada satu-satunya perempuan yang tidak bisa berbohong kepadanya di dalam hati.
Namun Kirani menyimpan rahasia yang lebih berbahaya daripada semua keinginannya: ia bukan pengantin yang seharusnya Arga terima di altar.
Saat kebenaran terbongkar, pernikahan palsu, gairah yang disembunyikan, dan semua pikiran yang seharusnya tidak pernah terdengar bisa menghancurkan mereka... atau justru membuat perpisahan menjadi mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin_Kokh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Tepati Janjimu

Bastian yang pertama kali menundukkan pandangan.

Bukan karena menyerah. Karena profesi.

Ia meletakkan pena di atas meja, memeriksa lagi hasil rontgen, lalu berbicara dengan ketenangan yang tidak cukup untuk menutupi tajamnya suasana ruangan.

"Frakturnya stabil, tetapi dia tidak boleh berjalan. Tidak boleh menapak sama sekali setidaknya selama dua minggu. Setelah itu baru kita evaluasi."

"Dua minggu?" Kirani hampir bangkit.

Arga menahan bahunya.

"Dia bilang tidak boleh menapak."

"Aku punya pekerjaan."

"Kamu akan istirahat."

"Aku juga punya murid."

"Murid-muridmu akan bertahan hidup."

"Kamu tidak tahu itu. Beberapa dari mereka nyaris tidak bertahan bahkan dengan pengawasan."

Bastian, walau situasinya begitu, hampir tersenyum.

Gestur itu kecil sekali, lahir dari kenangan yang tidak dimiliki Arga.

"Kamu selalu seperti itu soal kelasmu," gumam dokter itu.

Kirani menegang.

Arga merasakan perubahan itu di bawah tangannya.

"Selalu?" tanyanya.

Bastian kembali menatap layar.

"Hanya cara bicara."

Tidak. Itu bukan cara bicara. Itu kenangan. Dan kenangan berbahaya kalau memakai jas putih dan bermata sedih.

Arga menatap Kirani.

Kirani tidak membalas tatapannya.

Bastian memandang tangan Arga di bahu Kirani.

"Dia akan membutuhkan bantuan untuk mandi, naik tangga, dan bergerak di rumah."

"Dia akan mendapatkannya," ulang Arga.

"Dan sebaiknya tidak ditinggal sendirian selama empat puluh delapan jam pertama. Rasa sakitnya bisa bertambah."

"Dia tidak akan sendirian."

Setiap kalimat terdengar seperti petunjuk medis.

Setiap jawaban terdengar seperti tantangan.

Kirani memejamkan mata.

Ini konsultasi, bukan sabung gengsi pria-pria mahal. Meski harus kuakui, Arga saat cemburu punya energi yang sangat berbahaya. Kalau aku tidak sedang di ambang runtuh, mungkin aku akan minta dia mengulang "dia tidak akan sendirian" lebih dekat.

Arga mendengar pikiran itu, dan untuk pertama kalinya sejak Bastian masuk, amarahnya mendapat jeda satu detik.

Hanya satu detik.

Karena Bastian kembali berbicara.

"Bidai sementara akan diganti dengan sepatu imobilisasi. Saya akan memesankannya."

"Terima kasih," kata Kirani.

"Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku."

Keheningan jatuh seketika.

Arga menatap Bastian.

Bastian tampak terlambat menyadari keakraban itu. Ia meluruskan punggung.

"Itu pekerjaan saya," tambahnya.

Jangan membuat ini lebih sulit. Kumohon. Jangan menatapku seperti itu. Jangan bicara seolah waktu tidak pernah berlalu. Aku bukan orang yang sedang kamu lihat.

Arga tidak memahami kalimat terakhir itu.

Namun ia mendengarnya.

Aku bukan orang yang sedang kamu lihat.

Kecurigaan yang sampai saat itu berbentuk cemburu berubah tekstur. Ada sesuatu yang tidak pas. Ini bukan sekadar mantan. Bukan sekadar kisah lama. Ada ketakutan yang lebih dalam pada Kirani, retakan yang ia tutupi dengan senyum, belanja, dan pikiran cabul tentang perut Arga.

"Aku akan ambil obat," kata Arga.

Kirani membuka mata.

"Tidak perlu, bisa diantarkan."

"Aku yang pergi."

Bastian mengambil resep dan mengulurkannya.

"Apotek ada di ujung lorong."

Arga mengambil kertas itu tanpa menyentuh jarinya.

Sebelum keluar, ia mencondongkan tubuh ke arah Kirani.

"Jangan bergerak."

"Aku patah tulang, bukan sedang berencana menari."

Meski kalau kamu melepas jas, mungkin aku akan mencoba.

Arga menahan tatapannya sesaat.

Lalu, di depan Bastian, ia menunduk dan mencium Kirani.

Ciuman itu tidak lama.

Juga tidak lembut.

Kirani membeku, kedua tangannya tertahan di udara, entah hendak mendorongnya atau berpegangan kepadanya. Ciuman itu berlangsung hanya cukup lama untuk menegaskan satu hal: Arga tidak sedang menunjukkan kebiasaan. Ia sedang menandai wilayah.

Ketika Arga menjauh, matanya masih dingin.

"Aku segera kembali."

Kirani tidak menemukan suaranya.

Arga keluar dari ruang periksa.

Pintu tertutup.

Bastian melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Begitu pernikahanmu?"

Kirani menoleh kepadanya.

"Jangan mulai."

"Dia menciummu seperti ingin membuktikan sesuatu."

"Itu bukan urusanmu."

"Dulu itu urusanku."

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada yang ia duga.

"Dokter Bastian."

Rahang Bastian mengeras.

"Jangan panggil aku begitu."

"Di sini kamu dokterku."

"Dan kamu..."

Ia berhenti. Matanya menyusuri wajah Kirani seolah mencari jawaban pada kulit yang dikenalnya.

"Kamu tidak sama."

Tangan Kirani terasa dingin.

"Banyak hal terjadi."

"Enam tahun tidak lenyap hanya karena kamu menikah."

"Bastian."

Pria itu maju satu langkah.

"Kenapa kamu tidak mencariku?"

"Aku tidak bisa bicara tentang itu."

"Tidak bisa atau tidak mau?"

Tidak bisa. Tidak di sini. Tidak dengan Arga tiga lorong dari sini. Tidak dengan pergelangan kakiku patah dan tatapanmu menjatuhkan masalah lain ke atasku.

Bastian maju lagi.

"Lihat aku."

"Tidak."

"Kirana..."

Nama itu terdengar berbeda dari mulutnya.

Bukan seperti Ratih mengucapkannya, dengan kasih sayang keluarga. Bukan seperti para kenalan keluarga Wiratma mengucapkannya, dengan hormat sosial. Bastian menyebutnya seperti seseorang menyentuh bekas luka yang belum berhenti nyeri.

Kirani merasa dinding ruang periksa merapat.

"Kumohon," bisiknya. "Jangan."

"Aku mencarimu," kata Bastian. "Setelah kecelakaan itu, setelah berita-berita itu, setelah semua orang menutup pintu. Aku mencarimu sampai mereka membuatku percaya tidak ada lagi yang bisa dicari."

"Jangan bicarakan itu."

"Bagaimana aku tidak membicarakannya kalau kamu ada di sini?"

Tangannya gemetar saat terulur. Bukan agresif, tetapi putus asa. Dan Kirani, terjebak di antara nyeri fisik, ketakutan, dan kebohongan yang terlalu besar untuk ruangan sekecil ini, merasa kalau pria itu menyentuhnya, semuanya akan hancur.

Kata itu nyaris membuatnya mundur, tetapi ranjang periksa menahannya. Bastian mengulurkan tangan, mungkin untuk menyentuh wajahnya, mungkin hanya untuk memastikan perempuan di hadapannya nyata.

Kirani bereaksi sebelum berpikir.

"Kakak ipar, jangan sentuh aku!"

Bastian membeku.

Kata itu menggantung di ruang periksa seperti pecahan kaca.

Kakak ipar.

Kirani menutup mulut.

Terlambat.

Bastian perlahan menurunkan tangan.

"Kakak ipar?"

Kirani menggeleng, tetapi tidak ada cara untuk menariknya kembali.

"Aku..."

"Siapa kamu?"

Kirani memejamkan mata.

"Jangan tanya."

"Di mana Kirana?"

Pertanyaan itu hampir tidak terdengar.

Kirani diam.

Bastian mundur selangkah, limbung, seolah lantai bergerak di bawah kakinya.

"Jadi itu benar," gumamnya. "Ada yang lain."

Kirani tidak menjawab.

Ia tidak bisa.

Pintu terbuka.

Arga masuk dengan kantong obat di tangan.

Ia melihat Bastian terlalu dekat dengan ranjang periksa.

Ia melihat wajah Kirani yang pucat.

Ia melihat tangan Bastian masih tertahan di udara, seolah baru saja hendak menyentuhnya.

Ia tidak mendengar kata itu.

Ia tidak perlu mendengarnya untuk kehilangan kendali.

"Menjauh dari dia."

Bastian baru sedikit menoleh.

"Arga..."

Pukulan itu menjatuhkannya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat.

Pena jatuh dari meja. Kursi menghantam dinding. Bastian berakhir di lantai, satu tangan di rahang, pandangan kacau oleh campuran nyeri, kebingungan, dan amarah.

"Arga!" teriak Kirani.

Napas Arga terdengar seperti orang yang baru berlari.

"Aku sudah bilang menjauh."

"Dia di lantai!"

"Dia mencoba menyentuhmu."

"Bukan..."

Kirani berhenti.

Ia tidak bisa menjelaskan.

Ia tidak bisa mengatakan kebenaran.

Ia tidak bisa membela Bastian tanpa melukai Arga lebih jauh.

Tidak. Tidak, tidak, tidak. Ini sudah lepas kendali. Aku seharusnya menjaga mereka tetap terpisah. Aku seharusnya diam. Kenapa aku mengatakan itu? Kenapa sekarang?

Arga mendengar kepanikan itu, tetapi bukan penjelasannya.

Bastian bangkit dengan susah payah. Bibirnya pecah.

"Kamu tidak tahu apa-apa," katanya, menatap Arga dengan kebencian yang tertahan.

Arga maju selangkah.

Kirani secara naluriah mencondongkan tubuh ke depan.

Nyeri di pergelangan kakinya merobek sebuah erangan dari tenggorokannya, tetapi ia berhasil menggenggam lengan Arga.

"Cukup!"

Arga berhenti.

Bukan karena Bastian.

Karena Kirani.

Kantong obat jatuh ke lantai. Satu blister obat menggelinding sampai berhenti di bawah ranjang periksa. Tidak ada yang memungutnya.

Arga menatap pergelangan kaki Kirani yang dibidai, lalu tangannya yang mencengkeram lengan jasnya. Amarah masih mendorong darahnya, tetapi erangan kesakitan Kirani membuka retakan pada dorongan untuk terus memukul.

"Kamu melukai dirimu sendiri," katanya.

"Kalau begitu berhentilah membuatku harus menghentikanmu."

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada protes apa pun.

Bastian mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan dan tertawa pahit.

"Kamu masih memilih pria yang memutuskan semuanya untukmu."

Arga menatapnya lagi.

Kirani menyela dengan suara sebelum tubuhnya bisa bergerak.

"Bastian, diam."

Dokter itu menatapnya, terluka, tetapi patuh.

Mata Kirani penuh air mata karena sakit dan takut.

"Kumohon," katanya. "Cukup."

Bastian, masih di lantai, menatapnya seolah baru saja menemukan tragedi di balik tragedi lain.

Arga menatap tangan Kirani yang mencengkeram lengannya.

Adegan itu pecah menjadi tiga bagian: dokter yang linglung, perempuan patah tulang yang berusaha menahan sebuah rahasia, dan suami murka yang tidak tahu sebenarnya ia sedang melawan apa.

Tidak ada yang bergerak.

Dan dalam keheningan itu, pukulan Arga terus berdentang lama setelah semuanya selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!