NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 23

​Malam semakin larut dan udara di dalam mobil dinas Letnan Tian terasa semakin mencekam. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul sebelas malam ketika kendaraan roda empat itu perlahan memasuki gang rumah nomor 14. Suasana di sepanjang gang sangat sepi, bahkan jauh lebih sepi dari malam-malam biasanya. Tidak ada satu pun warga yang berani keluar rumah. Lampu-lampu teras rumah tetangga, termasuk rumah Pak Cahyo, tampak mati total. Semua orang seolah-olah sedang bersembunyi dari sesuatu yang tidak terlihat.

​Tian mematikan lampu utama mobilnya beberapa puluh meter sebelum mencapai rumah maut tersebut, agar kedatangan mereka tidak mengundang perhatian. Dia memarkir mobil di bawah bayangan pohon mangga yang rimbun, lalu menoleh ke arah Siska.

​"Kamu sudah siap, Siska?" tanya Tian dengan suara rendah, hampir berbisik. Di tangannya, dia sudah memegang sebuah senter besar dan sebuah linggis besi yang dia ambil dari bagasi mobil.

​Siska menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang. Di dalam kantong jaketnya, dia menggenggam erat sebuah botol kecil berisi minyak tanah dan korek api gas. "Saya siap, Kak. Kita harus menyelesaikan ini malam ini."

​Mereka berdua keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat senyap. Langkah kaki mereka menginjak aspal yang basah oleh sisa gerimis. Begitu mendekati pagar rumah nomor 14, bulu kuduk Siska langsung berdiri tegak. Hawa dingin yang sangat pekat seolah keluar dari celah-celah dinding kayu rumah itu, menyambut kedatangan mereka dengan kejam.

​Garis polisi berwarna kuning masih melintang erat di depan teras. Tian mengangkat garis pembatas itu dengan hati-hati, membiarkan Siska menyelinap masuk terlebih dahulu sebelum dia menyusul dari belakang. Pintu depan rumah yang sempat ditutup oleh tim kepolisian sore tadi ternyata tidak dikunci rapat. Tian mendorong daun pintu kayu itu perlahan.

​Kreeek...

​Suara engsel pintu yang berkarat terdengar sangat nyaring di tengah keheningan malam yang pekat.

​Bau anyir darah yang bercampur dengan bau busuk daging yang mulai membusuk langsung menyengat hidung mereka begitu melangkah masuk ke ruang tengah. Siska terpaksa membekap hidungnya dengan kerah jaket agar tidak muntah. Di atas lantai, bercak-bercak darah kering tempat Mbak Selfi mengembuskan napas terakhirnya masih terlihat jelas, memantulkan cahaya dari senter yang dipegang oleh Tian.

​"Kita langsung ke kamar utama, Siska. Waktu kita tidak banyak," bisik Tian sambil mengarahkan lampu senternya ke koridor dalam.

​Mereka berjalan dengan langkah yang sangat berhati-hati. Suasana di dalam rumah itu terasa sangat mati, namun di saat yang sama, Siska merasa seolah-olah ada ribuan mata tak kasat mata yang sedang mengawasi setiap pergerakan mereka dari balik kegelapan sudut langit-langit plafon.

​Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama, pemandangan hancur berantakan langsung menyambut mereka. Kasur kapuk yang disobek-sobek oleh bayi Doni masih berserakan di atas lantai semen. Di sudut ruangan, lemari rias kuno dari kayu jati tebal itu masih berdiri kokoh, meskipun lacinya sudah pecah akibat dobrakan gaib tempo hari.

​"Berdasarkan berkas arsip lama tadi, ari-ari itu ditanam tepat di bawah pondasi tempat lemari ini diletakkan," kata Tian sambil berjalan mendekati lemari besar tersebut. Dia menyerahkan senter kepada Siska. "Pegang senter ini, Neng. Sorot ke arah bawah. Saya akan mencoba menggeser lemari ini."

​Siska menerima senter itu dengan tangan yang gemetar. Dia mengarahkan cahaya senter ke bagian bawah lemari, sementara Tian meletakkan kedua tangannya di sisi kayu jati yang tebal itu. Dengan mengerahkan seluruh tenaga fisiknya, Tian mulai mendorong lemari tersebut.

​Sreeek... Dug...

​Lemari tua yang sangat berat itu perlahan bergeser dari tempatnya semula, memperlihatkan permukaan lantai semen yang tampak lebih kusam dan retak-retak di bagian sudutnya.

​Tian segera mengambil linggis besinya. Dia berlutut di atas lantai, lalu mulai menghantamkan ujung linggis yang tajam ke arah sela-sela semen yang retak tersebut.

​TOK! TOK! TOK!

​Suara benturan besi dan semen menggema keras di dalam kamar yang sunyi itu. Setiap hantaman linggis Tian membuat jantung Siska berdegup semakin liar. Siska terus mengarahkan pandangan senternya ke sekeliling kamar, merasa cemas jika suara bising itu akan memancing kedatangan makhluk keriput dari luar.

​Setelah beberapa menit berjuang, lapisan semen lantai akhirnya hancur terbuka, memperlihatkan tanah merah yang kering di bawah pondasi rumah. Tian menggunakan linggisnya untuk menggali tanah tersebut lebih dalam.

​Tiba-tiba, ujung linggis Tian membentur sesuatu yang terasa empuk namun kenyal di dalam tanah.

​"Sebentar, ada sesuatu di bawah sini," kata Tian. Dia meletakkan linggisnya, lalu menggunakan kedua tangan kosongnya untuk mengeruk tanah merah tersebut dengan cepat.

​Dari dalam lubang tanah sedalam tiga puluh sentimeter itu, Tian menarik keluar sebuah bungkusan yang sangat aneh. Bungkusan itu dilapisi oleh selembar kain mori hitam yang sudah dipenuhi oleh tanah, namun anehnya, kain itu sama sekali tidak rapuh atau hancur meskipun sudah tertanam selama tiga puluh tahun.

​Saat Tian membuka lipatan kain hitam tersebut, aroma busuk yang teramat sangat pekat langsung menyeruak keluar, jauh lebih busuk daripada aroma ceceran darah di ruang tengah. Di dalam kain itu, terdapat sesosok organ kecil berbentuk bulat dengan saluran tali yang mengkerut. Itu adalah ari-ari asli dari anak pesugihan Pak Broto. Yang paling mengerikan, ari-ari itu sama sekali tidak membusuk atau mengering; organ itu tampak masih basah, segar, dan sesekali berdenyut lirih seolah-olah dialiri oleh kehidupan gaib yang gelap.

​"Ini dia... Ini sumber kekuatannya," bisik Tian dengan wajah yang mendadak menjadi sangat pucat menahan rasa mual.

​Tepat pada detik ketika ari-ari itu diangkat ke udara, hawa di dalam kamar utama mendadak turun drastis hingga sedingin es di kutub. Lampu senter di tangan Siska mulai berkedip-kedip tidak stabil, memancarkan cahaya remang-remang yang melemah.

​Dari arah jendela kamar yang hancur berantakan di belakang mereka, terdengar sebuah suara desisan yang sangat panjang, melengking tinggi, dan dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa.

​SREEEKKK!!!

​Siska seketika menjerit ketakutan, langsung membalikkan badannya sambil mengarahkan senter ke arah jendela.

​Di atas bingkai jendela yang dipenuhi serpihan kaca tajam, sesosok makhluk kecil berkaki patah sudah berdiri mematung. Itu adalah bayi Doni. Wajah keriputnya yang menjijikkan tampak sangat berkerut kaku, dengan dua bola mata merah darah yang menyala terang benderang dalam kegelapan malam. Seluruh kulit tubuhnya yang dilapisi lendir bening tampak bergetar hebat. Makhluk itu tahu bahwa rahasia terbesar dan sumber keabadian hidupnya kini sedang berada di tangan kedua manusia di depannya.

​Kembalikan... Kembalikan milikku... Suara bisikan gaib yang sangat serak dan berat kembali bergema di dalam kepala Siska dan Tian, membuat telinga mereka terasa berdengung sakit.

​Bayi Doni melompat turun dari bingkai jendela dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dia mendarat di atas lantai semen dengan suara kecipak basah, lalu melesat maju merangkak ke arah Tian dengan kuku-kuku hitamnya yang panjang siap merobek apa saja.

​"Siska! Bakar ari-ari ini sekarang juga!" teriak Letnan Tian sekuat tenaga. Dia melemparkan bungkusan kain hitam berisi ari-ari berdenyut itu tepat ke arah kaki Siska.

​Setelah melempar bungkusan tersebut, Tian langsung memasang badan. Dia mengangkat linggis besinya, lalu mengayunkannya sekuat tenaga ke arah tubuh bayi Doni yang sedang meluncur cepat di atas lantai.

​BUGH!

​Hantaman linggis besi Tian mengenai dada keriput sang bayi, membuat makhluk itu terpental ke arah dinding lemari. Namun, kekuatan gaib dari sang iblis bayi terlalu besar. Hanya dalam hitungan detik, dia kembali bangkit berdiri, mengeluarkan cakar tangannya, dan mencakar lengan kanan Letnan Tian hingga kemeja dinasnya robek dan mengeluarkan darah segar.

​"AAAKHH!" Tian mengerang kesakitan, terhuyung mundur hingga menjatuhkan linggis besinya ke lantai.

​Siska yang melihat kakaknya tiri pelindungnya terluka, langsung membuang senter di tangannya. Dia berlutut di atas tanah, menyambar botol minyak tanah dari kantong jaketnya, lalu menyiramkan seluruh cairan berbau menyengat itu ke atas bungkusan ari-ari yang berdenyut di depannya.

​Tangan Siska gemetar hebat saat mengeluarkan korek api gas. Dia menyalakan pematiknya, membiarkan api kecil berwarna biru-jingga menyala di ujung jemarinya.

​Bayi Doni yang sedang bersiap menerkam leher Letnan Tian mendadak mengalihkan pandangan merahnya ke arah Siska. Melihat percikan api yang berada di dekat ari-arinya, makhluk itu mengeluarkan jeritan histeris yang sangat memekakkan telinga. Dia berbalik arah, melompat dengan ganas menuju ke posisi Siska.

​"Mati kamu, iblis keparat!" teriak Siska dengan seluruh kemarahan yang meluap di dadanya.

​Sebelum tubuh berlendir itu berhasil menyentuh kulitnya, Siska menjatuhkan korek api yang menyala itu tepat di atas bungkusan ari-ari yang sudah basah oleh minyak tanah.

​WUUUSH!!!

​Kobaran api berwarna jingga terang langsung berkobar dengan sangat besar di atas lantai kamar utama. Api itu menyambar bungkusan kain hitam, membakar habis ari-ari gaib yang berada di dalamnya. Suara letupan-letupan kecil bercampur bau busuk daging yang terbakar langsung memenuhi udara kamar.

​Bersamaan dengan terbakarnya ari-ari tersebut, tubuh bayi Doni yang sedang melayang di udara mendadak tersentak hebat, seolah-olah dihantam oleh gelombang kekuatan tak kasat mata yang sangat dahsyat.

​Makhluk berkaki patah itu jatuh berdebam di atas lantai, tepat di depan kobaran api. Dia berguling-gulingan sambil mengeluarkan jeritan yang sangat memilu hati—sebuah perpaduan antara suara tangisan bayi yang tersiksa dan gema lengkingan setan yang kelaparan. Lendir bening yang melapisi kulit keriputnya mulai melepuh dan mendidih, mengeluarkan asap hitam yang tebal dan berbau busuk.

​Siska dan Letnan Tian hanya bisa mundur hingga menyentuh dinding, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana akhir dari teror kutukan ini.

​Perlahan tapi pasti, kulit keriput bertingkat milik bayi Doni mulai meleleh, berubah menjadi cairan hitam kental yang mengalir di atas lantai semen. Dua titik mata merah darahnya yang semula menyala garang, lambat laun mulai meredup, kehilangan sinarnya, hingga akhirnya padam sepenuhnya bersamaan dengan abu ari-ari yang habis dilalap api di depan mereka.

​Dalam waktu kurang dari lima menit, tubuh fisik sang bayi iblis telah lenyap total, menyisakan genangan cairan hitam yang menguap menjadi udara kosong. Hawa dingin yang mencekam di dalam rumah nomor 14 mendadak hilang, digantikan oleh keheningan malam yang normal dan udara yang berangsur-angsur menghangat.

​Siska jatuh terduduk di atas lantai dengan tubuh yang lemas. Air matanya mengalir deras, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat luar biasa. Lingkaran setan pesugihan cincin darah yang telah menghancurkan seluruh hidup keluarganya, akhirnya telah berakhir malam ini, hancur menjadi abu di dalam kamar tua tersebut.

​Letnan Tian berjalan mendekati Siska sambil memegangi lengan kanannya yang terluka. Dia tersenyum tipis, menatap gadis muda yang telah berjuang dengan sangat berani itu. "Semuanya sudah selesai, Siska. Kamu aman sekarang."

​Siska mengangguk pelan, menyambut uluran tangan Tian untuk berdiri. Mereka berdua melangkah keluar dari rumah maut nomor 14, meninggalkan seluruh kenangan kelam di belakang mereka, berjalan menuju ke arah fajar baru yang akan segera terbit di ufuk timur kota.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!