NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Labirin Kebohongan di Balik Pusara

Angin malam yang berembus dari arah jurang terasa begitu menusuk, membawa serpihan es tak kasatmata yang seolah membekukan sisa-sisa keberanian di dalam dada. Di telinga Arunika, suara dari ponsel satelit itu masih berdengung tebal, mengalahkan gemuruh suara letusan senjata api yang bersahut-sabutan di atas lereng tebing hutan pinus.

*“Arunika... putri kecilku yang malang... jangan ikuti Valeria ke makam itu. Apa yang dia katakan adalah jebakan ganda. Dialah... dialah yang sebenarnya memegang kendali atas senjata yang membunuh ibu Arsen sepuluh tahun lalu.”*

"Halo? Siapa kau?! Jawab aku!" jerit Arunika parau, mengabaikan fakta bahwa suaranya bisa memancing pasukan taktis musuh yang sedang menyisir semak-semak di atas mereka. Namun, saluran telepon itu mendadak mati, menyisakan suara statis yang berisik sebelum sinyalnya benar-benar terputus akibat gangguan elektromagnetik yang dipasang di area perbukitan.

Arsen Valentino, yang sudah bersiap melompat turun menuju jalur setapak di tepi jurang, menoleh dengan cepat. Gerakan tubuhnya yang tangkas terhenti seketika saat melihat Arunika yang berdiri mematung dengan mata melotot lurus ke depan, ponsel satelit di tangannya perlahan merosot jatuh ke atas tanah yang becek.

"Ada apa lagi?" tanya Arsen, suaranya terdengar seperti geraman harimau yang terganggu di tengah perburuan. Dia mencengkeram bahu Arunika, mengguncangnya sedikit untuk mengembalikan kesadaran gadis itu. "Waktu kita tidak banyak. Pasukan Alexei sudah mulai turun dari tebing atas."

"Wanita itu..." bisik Arunika, bibirnya yang pucat bergetar hebat. "Wanita di telepon tadi... dia bilang Kak Valeria berbohong. Dia bilang Valeria yang memegang senjata malam itu. Valeria yang membunuh ibumu, Arsen..."

Rahang tegas Arsen seketika mengeras hingga terdengar bunyi derit gigi yang beradu dengan ngeri. Sepasang mata elangnya memancarkan kilatan amarah yang begitu pekat, namun di balik itu, ada keraguan samar yang mulai merayap.

Sepuluh tahun lalu, dia hanya melihat sesosok wanita dengan tanda bulan sabit merah di bahunya yang menarik pelatuk ke arah ibunya. Saat itu, kabut asap dan api membatasi pandangannya, membuat wajah sang pembunuh tidak terlihat dengan jelas. Selama ini dia mengira wanita itu adalah Katarina Vane, sang penembak jitu legendaris. Tapi jika pembunuh malam itu sebenarnya adalah seorang anak kecil yang dilatih untuk menjadi mesin pembantai... maka seluruh target dendamnya selama ini telah meleset dari sasaran.

"Marco," panggil Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari Arunika.

"Ya, Tuan," sahut Marco, yang kini sudah berhasil membalut lengan kirinya yang cedera dengan potongan kain taktis, wajahnya tampak sangat pucat akibat kelelahan dan kehilangan darah.

"Bawa gadis ini melewati jalur pipa air bawah tanah menuju ke makam sayap selatan. Aku akan memancing pasukan taktis Alexei ke arah barat hutan," perintah Arsen, nadanya mutlak tanpa menerima bantahan. Pria itu memeriksa magasin senapan serbunya untuk terakhir kali, lalu menatap Arunika dengan tatapan yang sarat akan ancaman sekaligus janji gelap. "Jika apa yang dikatakan wanita di telepon itu benar... aku akan memastikan kakakmu mati dengan cara yang paling lambat di atas pusara ibuku. Dan kau... jangan coba-coba melarikan diri dari Marco jika kau tidak ingin kepalamu berlubang sebelum tahu siapa dirimu yang sebenarnya."

Tanpa menunggu balasan dari Arunika, Arsen membalikkan tubuhnya dan melesat pergi menembus kabut tebal ke arah barat, melepaskan rentetan tembakan umpan yang sengaja memicu lolongan anjing pelacak musuh untuk mengejar pergerakannya.

"Mari, Nona. Kita harus bergerak sekarang," ucap Marco sambil menarik lengan kemeja hitam besar milik Arsen yang dikenakan Arunika.

Pria tangan kanan itu menuntun Arunika menyelinap di antara celah bebatuan curam, menuju ke sebuah pintu besi berkarat yang tersembunyi di balik semak-semak berduri—jalur pipa air kuno yang mengarah langsung ke kompleks pemakaman keluarga Valentino di ujung selatan kota. Mereka masuk ke dalam lorong bawah tanah yang sempit, pengap, dan hanya diterangi oleh senter kecil yang terpasang di senjata milik Marco.

Sambil melangkah terengah-engah di dalam labirin beton bawah tanah yang sunyi, isi kepala Arunika terus berputar mencoba menyusun pecahan cermin kehidupannya yang hancur.

Siapakah wanita paruh baya yang meneleponnya tadi? Jika dia mengaku sebagai ibu kandungnya, lalu siapakah Katarina Vane sebenarnya? Dan mengapa Valeria harus menciptakan sandiwara yang begitu rumit hingga menukarkan identitas mereka sejak bayi jika hanya untuk menjadi perisai darah bagi keluarga Baskoro?

Sedikit demi sedikit, sebuah ingatan masa kecil yang selama ini terkubur di sudut memorinya mulai muncul ke permukaan. Dia ingat, saat berusia tujuh tahun, dia pernah melihat kakaknya, Valeria, mengurung diri di dalam gudang belakang rumah mereka yang gelap di desa. Saat itu, Valeria sedang memegang sebuah objek besi hitam yang berat—sebuah pistol—sambil membersihkan larasnya dengan saputangan sutra yang ternoda minyak, persis seperti seorang profesional yang sedang merawat senjatanya. Ketika Arunika kecil bertanya apa yang sedang dilakukannya, Valeria hanya menatapnya dengan senyuman dingin yang asimetris dan berkata, *'Aku sedang mempersiapkan masa depan kita, Aruni. Suatu saat, kau akan menjadi aku, dan aku akan menjadi bayanganmu.'*

Kata-kata itu... kata-kata yang dulu dianggapnya sebagai lelucon masa kecil, kini terdengar seperti nubuat kutukan yang mengerikan. Valeria tidak sedang menyelamatkannya dari utang judi Baskoro; Valeria telah merancang penukaran ini sejak awal agar Arunika menjadi tameng hidup saat faksi Valentino datang menuntut balas atas kematian nyawa ibu mereka.

"Kita sudah sampai di batas luar kompleks makam, Nona," bisik Marco, memecah lamunan Arunika.

Pria itu mematikan senter senjatanya, perlahan mendorong pintu keluar besi di ujung lorong bawah tanah. Mereka keluar di balik sebuah bangunan mausoleum tua yang megah dari batu granit hitam. Kompleks pemakaman keluarga Valentino di sayap selatan ini tampak begitu sunyi dan berkabut. Ratusan nisan marmer putih berdiri berjejer di bawah naungan pohon-pohon kamboja tua yang rantingnya menjuntai kaku seperti jemari mayat.

Di tengah-tengah kompleks pemakaman, sebuah makam yang paling besar dan megah dikelilingi oleh pilar-pilar batu yang tinggi—makam milik mendiang ibu Arsen Valentino.

Di sana, di bawah remang-remangnya cahaya bulan yang sesekali tertutup awan mendung, sesosok wanita dengan gaun beludru hitam panjang tampak berdiri tegak di depan pusara.

Rambut panjangnya yang hitam berkibar pelan ditiup angin malam. Di sampingnya, Baskoro terduduk lemas di atas kursi roda dengan kedua kaki yang dibalut perban putih bersimbah darah, wajah pria tua itu dipenuhi oleh ketakutan yang amat sangat.

Namun, bukan kehadiran mereka yang membuat langkah kaki Marco dan Arunika terhenti di balik bayang-bayang mausoleum. Melainkan kehadiran belasan pria berpakaian taktis serba hitam yang berdiri mengepung area makam tersebut dengan senjata laras panjang tersorot ke depan. Di tengah-tengah mereka, seorang pria bertubuh raksasa dengan jubah bulu beruang khas faksi Rusia berdiri sambil memegang sebuah pemantik api emas.

Pria itu adalah Alexei Volkov, sang Raja yang Asli dari faksi utara.

"Kau terlambat membawa mainan barumu, Arsen," suara Alexei menggelegar membelah kesunyian makam, meskipun Arsen sendiri belum tampak muncul di area tersebut. Pria raksasa itu menyalakan pemantiknya, menerangi wajahnya yang dipenuhi oleh bekas luka bakar yang mengerikan di sisi kiri. "Atau kau terlalu sibuk bermain dengan anjing-anjing kecilku di dalam hutan?"

Valeria—atau wanita yang mengenakan gaun hitam itu—perlahan berbalik. Wajahnya yang cantik tampak begitu tenang, tanpa ada riak ketakutan sedikit pun di depan sang raja mafia Rusia. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah tabung perak kecil yang berkilau di bawah cahaya bulan—cetak biru teknologi militer milik faksi Valentino yang dicurinya.

"Arsen tidak akan datang sendirian, Alexei," ucap Valeria, suaranya terdengar begitu merdu namun memiliki daya tekan yang tajam. "Dia adalah seekor singa yang terluka. Dan seekor singa yang terluka selalu membawa seluruh pasukannya untuk menghancurkan apa yang telah merenggut wilayahnya."

Valeria kemudian melirik ke arah kegelapan di balik bangunan mausoleum hitam, tepat ke arah posisi bersembunyi Arunika dan Marco. Sepasang matanya yang cerdik tampak menyipit, seolah dia tahu persis bahwa adiknya sedang menonton pertunjukan ini dari balik bayang-bayang.

"Dan untukmu... adik kecilku yang malang..." Valeria menaikkan nada suaranya sedikit, membiarkan suaranya bergema di antara deretan nisan marmer. "Kau sudah mendengar rekaman suara itu, kan? Kau pasti sangat membenciku sekarang. Tapi kau tidak pernah tahu bahwa tanda lahir palsu di bahumu itu... adalah satu-satunya alasan mengapa kau masih diizinkan bernapas oleh wanita yang melahirkanmu."

Arunika mencengkeram erat belati kecil di tangannya, dadanya kembang kempis oleh emosi yang kembali meluap. Dia ingin berlari keluar dan berteriak menuntut kebenaran, namun Marco menahan bahunya dengan tegas, memberikan isyarat agar tetap berada di tempat persembunyian mereka.

Tiba-tiba, dari arah gerbang masuk pemakaman, suara langkah sepatu bot yang berat terdengar mendekat dengan teratur.

Arsen Valentino melangkah masuk ke dalam area makam dengan santai. Jas hitamnya sudah hilang, kemeja putihnya robek di beberapa bagian menampilkan otot-otot tubuhnya yang kekar penuh luka sayatan baru, dan senapan serbunya tersampir di tangan kanan dengan posisi siap tembak. Pria itu berjalan sendirian menembus kabut, tanpa ada pengawal atau pasukan bayangan yang menyertainya dari belakang.

"Alexei," panggil Arsen datar, sepasang mata elangnya mengabaikan pria raksasa Rusia itu dan langsung terkunci pada sosok Valeria yang berdiri di depan pusara ibunya. "Panggung sandiwara kalian terlalu membosankan. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku, dan menagih darah yang belum lunas sepuluh tahun lalu."

Alexei Volkov tertawa terbahak-bahak, suara tawanya membuat kawanan burung gagak di atas pohon kamboja beterbangan panik. "Kau sendirian, Arsen! Kau pikir kau bisa menghancurkan pasukanku di sini hanya dengan modal kesombonganmu?!"

"Siapa bilang dia sendirian?" sebuah suara wanita yang sangat berat dan parau tiba-tiba menyahut dari arah atas atap pilar bangunan makam megah tersebut.

Semua orang di dalam kompleks makam secara serentak mendongak, termasuk Arsen dan Alexei.

Sesosok wanita paruh baya dengan pakaian taktis serba hitam yang compang-camping tampak berdiri tegak di atas pilar batu. Wajahnya dipenuhi oleh garis-garis penuaan dan bekas luka tembak di pipi kanannya, namun sepasang matanya memancarkan sinar mematikan yang sangat identik dengan milik... Arunika. Di bahu kirinya yang terbuka akibat robekan pakaian, terdapat sebuah tanda lahir bulan sabit merah yang asli dan mulai memudar akibat usia.

Wanita itu adalah Katarina Vane yang asli, sang penembak jitu dari faksi Eclipse yang dikabarkan telah tewas sepuluh tahun lalu.

Katarina menurunkan pandangannya, menatap lurus ke arah Arunika yang berada di balik mausoleum hitam, lalu beralih menatap Valeria dengan pandangan penuh kebencian yang amat dalam.

"Sandiwara pertukaran bayi ini selesai malam ini, Valeria," ucap Katarina, suaranya bergetar oleh kombinasi amarah purba. "Kau mengira kau bisa membodohi Arsen dengan mengorbankan adik kemu—maksudku, adik tirimu di mansion? Kau tidak pernah tahu bahwa cetak biru yang kau pegang di tanganmu itu... adalah bom pemicu yang akan meledakkan seluruh faksi Volkov dalam hitungan detik setelah kau membukanya."

Arunika terbelalak di balik persembunyiannya. Adik tiri? Kompleksitas kebohongan keluarga Baskoro ternyata memiliki satu lapisan rahasia yang jauh lebih mengerikan dari apa yang diungkapkan oleh siapa pun malam ini.

Valeria yang mendengar ucapan itu untuk pertama kalinya memperlihatkan ekspresi panik di wajah cantiknya. Dia refleks melihat ke arah tabung perak di tangannya, namun sebelum dia sempat membuang benda tersebut, Alexei Volkov telah merenggutnya dengan kasar menggunakan tangan raksasanya.

"Buka benda ini sekarang!" perintah Alexei pada salah satu ahli IT taktisnya di sampingnya.

Namun, tepat di saat tabung perak itu dibuka paksa dan sebuah kode aktivasi digital berbunyi *bip* pendek bergema di keheningan makam, Arsen Valentino menyunggingkan sebuah seringai mematikan yang paling mengerikan yang pernah Arunika lihat. Pria itu mengangkat tangan kirinya, memegang sebuah alat pemicu detonator kecil yang sejak tadi disembunyikannya di balik telapak tangannya.

"Selamat tinggal, Faksi Volkov," bisik Arsen dingin.

_____________________________

**Bersambung ke Bab 13...**

*Ledakan masif seperti apakah yang akan dipicu oleh Arsen Valentino di tengah-tengah kompleks pemakaman suci ibunya? Rahasia berdarah tentang status 'adik tiri' antara Arunika dan Valeria yang diungkapkan oleh Katarina Vane akan membawa arah baru seperti apa dalam dendam masa lalu mereka? Dan siapakah yang akan keluar hidup-hidup saat seluruh faksi mafia internasional ini saling hantam dalam lingkaran maut di atas pusara? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh kejutan luar biasa di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!