Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Setelah beberapa saat, tubuh Abimanyu ambruk di atas Amara. Kedua sikunya tetap bertumpu pada kasur, menopang tubuh tegapnya supaya tidak membebani istri kecilnya.
Wajahnya menyusup di ceruk leher sang istri sementara punggungnya yang berkeringat terlihat berkilauan terkena terpaan sinar mentari pagi yang kian menghangat menyusup lewat celah gorden, seolah tak ingin kehilangan momen sepasang insan yang baru selesai meleburkan perasaan terdalamnya.
Napas keduanya kembali teratur, Amara yang masih berada dalam kurungan Abimanyu perlahan menurunkan tangannya yang sedari tadi mencengkram punggung Abimanyu. "Om... Turun! aku mau ke kamar mandi, lengket." Ucapnya pelan, namun bersamaan dengan itu wajahnya kembali memerah. Bukan tanpa sebab, karena pria di atasnya itu tak melepaskan senjatanya padahal sudah mengeluarkan timah panasnya.
Tak ada sahutan, hanya hembusan napas Abimanyu yang teratur menyapu hangat lehernya. Amara menghela napas, ia memilih diam daripada membangunkan Abimanyu dan ujung-ujungnya kembali huru hara perang senjata sedangkan tenaganya sudah terkuras habis. Tak dipungkiri meski peperangan itu terdengar mengerikan namun tubuhnya mulai menyambut bahkan mengimbangi meski keteteran, sebab tenaga Abimanyu seolah tak ada habisnya.
"Hufh..." Amara menarik napas, ia pun berusaha memejamkan mata meski tubuhnya terasa kaku berharap bisa kembali tidur.
Dibalik matanya yang terpejam, batin Amara terus bergumam. Kalau aku bergerak dan dia kebangun bisa bahaya, kenapa sih tenaganya kuat banget. Tapi... Jangankan sekarang dia badannya sehat, dulu aja lagi sakit segitunya kek orang tiga hari gak makan terus lihat nasi. Kirain enggak nikah-nikah tuh enggak doyan perempuan, ternyata enggak laku...
-
Hangatnya sinar matahari menembus jendela kaca yang telah dibuka tirainya menjadi saksi terlambatnya pagi bagi Amara. Saat membuka mata, gadis itu mendapati jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Ia mengembuskan napas pelan sembari meregangkan tubuh yang terasa pegal di sana-sini, lalu mengucek kedua matanya yang masih berat. Refleks, ia memutar leher ke samping mencari keberadaan Abimanyu.
Kosong.
Amara mengerutkan kening, sudah bangun rupanya, gumam Amara membatin. Selimut bekas Abimanyu telah tertata rapi, pertanda pria itu sudah lama bangun. Seketika rasa penasaran menyelusup di dadanya.
"Kemana dia?" gumamnya lirih, tetapi yang menjawab hanya sunyi.
Belum sempat ia turun dari ranjang untuk mengintip, pintu kamar lebih dulu terbuka. Abimanyu muncul dari balik pintu dengan pakaian santai yang telah rapi. Rambutnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi, pria itu berdiri menatapnya dengan senyuman tipis. "Bangun, sudah jam sepuluh! Jam sebelas kita keluar."
Amara mematung, "keluar?" ucapnya pelan.
"Hem... Tapi sarapan dulu, cepetan!"
"Sarapan?" Lagi-lagi Amara membeo, tak berselang lama ia terlonjak kaget. "Astaga! kan aku belum bikin sarapan." Ucapnya segera turun dari tempat tidur dengan tergesa sembari mengikat asal rambutnya yang berantakan.
Tangannya cekatan menarik gagang pintu yang sudah terbuka sedikit bekas Abimanyu. Sesampainya di ruang tengah saat melewati sofa depan televisi, Abimanyu yang tengah duduk sembari mengotak-atik remote seketika bersuara. "Duduk! rotinya makan dulu, sudah jam sepuluh." Titahnya membuat Amara langsung menghentikan langkahnya.
"Ini baru mau bikin, sebentar!" Jawab Amara ketus, ia meluruskan tatapannya pada Abimanyu sehingga tak menyadari keberadaan nampan berisi dua lembar roti panggang dan telur rebus di atas meja.
Abimanyu menarik napas pelan kemudian membuang wajahnya ke samping, menyembunyikan senyum samar di bibirnya. Tak berselang lama ia berdehem, kemudian menunjuk meja dengan dagunya.
Amara mengerutkan kening, namun tak urung ia mengikuti dagu Abimanyu yang mengarah ke meja di bawahnya. Ia mematung beberapa detik. Pandangannya bergantian menatap wajah suaminya dan sarapan sederhana yang biasa ia siapkan buat Abimanyu di atas meja.
Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dadanya berdebar pelan. "Itu... buat aku?" tanyanya nyaris berbisik.
Abimanyu mengangguk ringan. "Hem... Takut ada yang bangun-bangun malah kelaparan."
Kalimat sederhana itu justru membuat Amara kehilangan kata-kata. Entah mengapa, pipinya tiba-tiba terasa memanas, mungkin jika ada kaca di depannya ia akan melihat dengan jelas kalau pipinya berubah memerah.
Amara buru-buru menundukkan kepala, kancing piyama yang paling bawah belum terpasang menjadi alasannya menyibukkan diri supaya Abimanyu tidak melihat raut mukanya.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Perhatian seperti ini seharusnya biasa saja. Namun entah kenapa, perasaannya saat ini seperti terbang membumbung tinggi. Entah karena dua lembar roti atau karena seorang Abimanyu yang membuatnya?
"I-ini, om yang buat?" Tunjuknya pada roti dan telur rebus.
"Hem, cepet lah makan! tapi cuci muka dulu!" Jawab Abimanyu pura-pura sibuk dengan tontonannya, ia tahu saat ini Amara tengah salah tingkah.
Amara mengerjap, baginya yang belum pernah benar-benar merasakan ada seseorang menyiapkan makanan khusus untuknya, perhatian kecil itu terasa jauh lebih besar daripada sepiring sarapan.
"Kenapa diam?" tanya Abimanyu sambil meletakkan remote disamping nampan.
"N-nggak... cuma..." Amara menggigit bibir bawahnya pelan, semakin salah tingkah ketika pria itu menatapnya lekat.
"Makasih." Ucapnya pendek, begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
Abimanyu hanya mengangguk, sementara Amara diam-diam kembali mencuri pandang ke arah suaminya. Senyum tipis itu masih bertahan di wajahnya, dan tanpa sadar ia kembali menundukkan kepala, berharap Abimanyu tidak menyadari senyum dan juga pipinya yang kini semakin memerah.
-
-
"Rik, gimana temanmu sudah ada kabar lagi belum?" Karenina memutar leher menatap Erik yang tengah fokus pada jalanan.
Erik menggeleng, "belum tan. Kemarin aku coba telepon dia tapi enggak di angkat, kayaknya ada om nya." Ucap Erik tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang lumayan padat.
"Om nya?" Karenina mengerutkan kening, "apa hubungannya sama om nya?" tanya nya penasaran.
"Dia kan tinggal sama om nya tan."
"Lho! memang orang tuanya kemana?"
"Beberapa bulan lalu papanya meninggal kecelakaan, yang waktu itu aku ceritain sama tante yang kecelakaan sama ceweknya."
"What! serius Rik?"
"He'em, terus tak lama kemudian ibunya... Sebenarnya ibu tirinya itu, pindah ke luar kota makanya dia tinggal sama om nya dan om nya itu lumayan galak hehe." Ujar Erik diakhiri kekehan.
"Em, kasian juga ya. Ya sudah kamu coba hubungi lagi, siapa tahu nanti cocok sama tante biar bisa langsung kerja. Daripada di-isi orang kan mending dia."
"Iya tan, aku juga maunya gitu. Amara orangnya oke banget."
"Kok tante curiga ya..." Karenina pura-pura mengetuk-ngetukkan jemarinya ke dagu kemudian tersenyum miring. "Kamu pasti naksir dia, iya kan? Jadi penasaran, seperti apa orangnya."
Mendengar ucapan sang tante, Erik seketika tergelak. "Dia bintang kelas tan."
"Hilih, pantas saja! Jangan-jangan kamu pilih kuliah di Jakarta daripada di LN juga gara-gara dia?" Tanya Karenina menyelidik.
Erik menggaruk kepalanya, "em..."
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️