NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Pengakuan yang Terlambat

Sore itu, Shaka menjemput Jenna tepat setelah jam kerjanya selesai.

Mobil hitamnya berhenti di depan Jenna’s Bloom Café ketika langit mulai berubah jingga. Dari balik kaca besar kafe, Shaka bisa melihat Jenna masih berdiri di meja bunga, berbicara dengan Naya dan Alya sambil menunjuk beberapa catatan pesanan.

Jenna terlihat sibuk, tetapi wajahnya tidak secerah biasanya.

Shaka tahu penyebabnya.

Dirinya sendiri.

Setelah memarkir mobil, Shaka turun dan masuk ke dalam kafe. Bel kecil di atas pintu berbunyi, membuat beberapa karyawan menoleh.

“Kak Jenna, Pak Shaka datang,” bisik Naya, meski suaranya tetap cukup terdengar.

Jenna mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak seperti beberapa hari sebelumnya, Jenna tidak langsung menyambutnya dengan mata yang lembut. Ia hanya menatap sebentar, lalu kembali memberi instruksi kepada karyawannya.

“Naya, pesanan buket untuk besok pagi tolong disiapkan bunganya dari malam ini. Alya, cek kembali pembayaran pelanggan atas nama Rendra. Kevin, kalau kafe sudah mau tutup, pastikan stok susu untuk besok dicatat.”

“Siap, Kak,” jawab mereka hampir bersamaan.

Setelah itu Jenna mengambil tas kecilnya dari balik meja kasir.

“Jenna pulang dulu. Kafe Jenna titip ke kalian, ya.”

Naya mengangguk. “Aman, Kak. Hati-hati.”

Kevin melirik Shaka sebentar, lalu berbisik kepada Alya, “Aura Pak Shaka hari ini lebih manusiawi.”

Alya langsung menyikutnya.

Jenna pura-pura tidak mendengar. Ia berjalan ke arah Shaka, tetapi tidak banyak bicara.

“Ayo, Mas.”

Shaka mengangguk.

Ia membukakan pintu kafe untuk Jenna, lalu membiarkannya berjalan lebih dulu. Beberapa karyawan saling melirik setelah pasangan itu keluar. Naya, yang paling peka, langsung tahu ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.

Di dalam mobil, suasana langsung hening.

Shaka menyalakan mesin, lalu mulai melajukan mobil meninggalkan kafe. Beberapa menit pertama berlalu tanpa suara. Jenna menatap keluar jendela, sementara Shaka beberapa kali meliriknya dari sudut mata.

Ia harus bicara.

Rafa benar.

Syana mungkin juga benar, meski Shaka tidak tahu bahwa Jenna sudah menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.

Namun memulai percakapan ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin rapat direksi.

Akhirnya Shaka menarik napas pelan.

“Hari ini di kafe bagaimana?”

Jenna menoleh sedikit.

Keningnya mengernyit samar.

Pertanyaan itu membuatnya heran. Pagi tadi Shaka masih diam dengan wajah dingin. Sekarang, tiba-tiba suaminya kembali ke mode ingin tahu, seolah tidak terjadi apa-apa.

Jenna menatapnya beberapa detik, lalu menjawab dengan nada cuek, “Tidak ada yang istimewa.”

Shaka terdiam.

Jenna melanjutkan sambil kembali menatap keluar jendela, “Hanya Syana ke kafe untuk membeli bunga. Lalu kami mengobrol sebentar.”

Shaka mati kutu.

Jawaban Jenna singkat. Datar. Tidak kasar, tetapi jelas tidak memberi ruang banyak untuk percakapan.

Padahal biasanya, jika Jenna sedang nyaman, ia bisa bercerita panjang. Tentang pelanggan yang lucu. Tentang pesanan bunga yang rumit. Tentang Kevin yang salah membuat latte art. Tentang Naya yang terlalu banyak menggoda. Tentang Syana yang cerewet.

Namun sekarang Jenna hanya memberi kalimat pendek.

Shaka akhirnya tahu rasanya berada di sisi yang tidak diajak masuk.

Dan rasanya tidak menyenangkan.

“Syana membeli bunga untuk apa?” tanya Shaka, mencoba lagi.

“Untuk calon mertuanya.”

“Oh.”

Hanya itu yang bisa Shaka ucapkan.

Jenna menoleh sekilas, lalu kembali diam.

Keheningan kembali memenuhi mobil.

Shaka menggenggam kemudi lebih erat. Ia ingin membahas kejadian kemarin. Ia ingin meminta maaf. Ia ingin mengatakan bahwa ia cemburu kepada Sagara. Namun setiap kali kalimat itu hampir keluar, lidahnya terasa kaku.

Sementara Jenna, meski terlihat cuek, sebenarnya menunggu.

Ia ingin tahu apakah Shaka akan berani bicara atau kembali bersembunyi di balik diamnya.

Ternyata sampai mobil memasuki halaman rumah, Shaka belum mengatakan apa pun.

Jenna menghela napas pelan.

Baiklah.

Kalau Shaka ingin diam lagi, maka ia juga bisa diam.

Mereka masuk ke rumah dalam suasana canggung. Setelah makan malam singkat yang kembali diisi kalimat seperlunya, Jenna naik ke kamar lebih dulu. Shaka menyusul beberapa menit kemudian.

Di kamar, Jenna mengambil pakaian tidur dari lemari. Ia ingin segera mandi dan beristirahat. Hari itu pikirannya terlalu penuh. Ia lelah bekerja, lelah memikirkan sikap Shaka, dan lelah menebak-nebak sesuatu yang seharusnya bisa dibicarakan.

Jenna baru saja melangkahkan kaki ke arah kamar mandi ketika suara Shaka terdengar.

“Jenna.”

Langkah Jenna berhenti.

Ia menoleh.

Shaka berdiri tidak jauh dari pintu kamar. Wajahnya tampak serius, tetapi matanya menyimpan keraguan yang jelas.

“Ada apa, Mas?”

Shaka membuka mulut.

Lalu diam.

Jenna menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Shaka tetap tidak bicara.

Jenna mulai gemas.

Ia sudah cukup lelah dengan semua diam itu.

“Mas Shaka,” ucapnya, menahan kesal, “kalau tidak ada yang mau Mas katakan, ya sudah. Jangan tidak jelas seperti itu.”

Shaka menegang.

Jenna melanjutkan dengan nada yang lebih tegas dari biasanya, “Jenna capek menebak-nebak.”

Setelah mengatakan itu, Jenna kembali melangkah ke arah kamar mandi.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Shaka terdengar lagi.

“Maaf.”

Jenna berhenti.

Kali ini, ia tidak langsung menoleh.

Shaka menatap punggung Jenna. Jantungnya berdebar dengan cara yang aneh. Mengatakan satu kata itu saja ternyata tidak cukup. Ia tahu ia harus melanjutkan.

“Maaf karena kemarin saya mendiamkan kamu.”

Jenna diam.

Tangannya masih berada di dekat gagang pintu kamar mandi.

Shaka menarik napas pelan.

“Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Jenna menutup mata sebentar.

Kalimat itu terdengar lebih jelas daripada semalam.

Namun ia tetap diam, menunggu.

Shaka mengepalkan tangan pelan di sisi tubuhnya.

“Saya yang salah. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

Jenna perlahan menoleh, tetapi belum sepenuhnya menghadapkan tubuhnya kepada Shaka.

“Tidak tahu bersikap bagaimana karena apa?”

Shaka menatapnya.

Inilah saatnya.

Kalau ia kembali diam, Jenna mungkin akan semakin jauh.

Ia menelan egonya.

“Karena saya cemburu.”

Kamar itu mendadak hening.

Jenna membeku.

Untuk beberapa detik, ia tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar.

Shaka, laki-laki dingin yang selalu terlihat mengendalikan segala hal, baru saja mengakui bahwa ia cemburu.

Pada Sagara.

Jenna masih membelakangi Shaka, tetapi bibirnya perlahan tertarik membentuk senyum lebar. Hatinya yang sejak kemarin kesal mendadak terasa berbunga-bunga.

Jadi benar.

Syana benar.

Shaka cemburu.

Namun Jenna segera menahan senyumnya. Ia tidak boleh terlalu cepat terlihat senang. Ia masih kesal. Shaka tetap salah karena mendiamkannya tanpa penjelasan. Cemburu boleh saja, tetapi membuatnya merasa bersalah sepanjang malam bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja.

Jenna mengatur ekspresi, lalu berbalik perlahan.

“Mas cemburu?”

Shaka terlihat sangat tidak nyaman mendengar kata itu diulang.

Namun ia tetap menjawab, “Iya.”

“Kepada Kak Sagara?”

Rahang Shaka mengeras sedikit ketika nama itu disebut.

“Iya.”

Jenna menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum.

“Kenapa?”

Shaka menatapnya dengan sorot yang lebih gelap.

“Karena dia menatapmu seperti laki-laki yang menyukaimu.”

Jenna terdiam.

Shaka melanjutkan, suaranya lebih rendah, “Karena anak-anak panti bahkan mengira dia calon suamimu. Karena dia terlihat sudah mengenal bagian hidupmu yang belum saya kenal. Karena saya merasa…” Ia berhenti sebentar, seperti kesulitan mengakui bagian terakhir. “Saya merasa terlambat.”

Senyum Jenna perlahan menghilang.

Bukan karena ia tidak senang, tetapi karena kalimat terakhir Shaka terdengar lebih jujur daripada yang ia duga.

Terlambat.

Jenna menatapnya lebih lembut, meski masih menahan sikap.

“Mas Shaka tidak terlambat untuk mengenal hidup Jenna,” ucapnya pelan. “Tapi Mas akan terlambat kalau setiap kali merasa tidak nyaman, Mas memilih diam dan menjauh.”

Shaka menunduk sedikit.

“Saya tahu.”

“Jenna bukan orang yang bisa membaca pikiran Mas.”

“Saya tahu.”

“Kalau Mas cemburu, bilang. Kalau Mas tidak suka, bicara. Jangan membuat Jenna merasa seolah Jenna melakukan kesalahan padahal Jenna tidak tahu apa-apa.”

Shaka menerima teguran itu tanpa membantah.

“Saya minta maaf.”

Jenna menatapnya cukup lama.

Biasanya Shaka selalu tampak tinggi, dingin, dan sulit disentuh. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti laki-laki yang sedang belajar mengakui kelemahannya sendiri.

Dan entah kenapa, itu membuat hati Jenna melunak.

Tetapi ia tetap mengangkat dagu sedikit.

“Jenna masih kesal.”

Shaka menatapnya.

“Saya mengerti.”

“Jenna sangat kesal.”

“Iya.”

“Jenna sudah membuatkan kopi, sudah bertanya baik-baik, tapi Mas tetap menjawab pendek.”

“Saya salah.”

Jenna terdiam.

Sulit sekali mempertahankan kesal jika Shaka terus mengakui kesalahannya seperti itu.

Apalagi setelah kalimat cemburu tadi.

Jenna akhirnya membuang napas pelan.

“Kak Sagara hanya teman kegiatan sosial Jenna, Mas. Jenna menghormati beliau karena beliau banyak membantu anak-anak panti. Tapi Jenna tidak pernah memberi harapan apa pun.”

Shaka menatapnya.

“Saya tahu.”

“Kalau Mas tahu, kenapa masih cemburu?”

Shaka diam sebentar, lalu menjawab jujur, “Karena saya tidak suka ada laki-laki lain yang menyukaimu.”

Wajah Jenna langsung menghangat.

Ia menunduk cepat.

Kalimat itu terlalu langsung.

Terlalu tidak terduga.

Shaka sendiri tampak baru sadar bahwa ia mengucapkan sesuatu yang sangat jujur. Namun kali ini, ia tidak menariknya kembali.

Jenna menggenggam pakaian tidur di tangannya lebih erat.

“Mas Shaka…”

“Apa?”

“Mas tahu kalimat Mas barusan terdengar seperti suami yang posesif?”

Shaka mengerutkan kening.

“Saya suamimu.”

Jenna hampir tersenyum.

“Itu bukan alasan untuk mendiamkan Jenna.”

“Saya tahu.”

“Dan bukan alasan untuk bersikap dingin tanpa penjelasan.”

“Iya.”

“Dan bukan alasan untuk menatap Kak Sagara seperti ingin mengusirnya dari bumi.”

Shaka diam.

Jenna menatapnya.

“Mas?”

“Saya tidak menatapnya seperti itu.”

Jenna mengangkat alis.

“Mas menatapnya seperti itu.”

Shaka mengalihkan pandangan.

Jenna akhirnya tidak bisa menahan senyum kecilnya.

Melihat itu, Shaka kembali menatapnya.

“Kamu tersenyum.”

Jenna langsung menahan ekspresi.

“Tidak.”

“Iya.”

“Jenna masih kesal.”

“Tapi kamu tersenyum.”

Jenna memalingkan wajah, pipinya semakin hangat.

“Mas Shaka menyebalkan.”

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, suasana di kamar itu mencair.

Shaka menatap Jenna yang berusaha menahan malu sekaligus kesal. Ada sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Ia tidak menyangka mengakui kecemburuan bisa membuatnya merasa seringan ini, meski gengsinya jelas terluka.

Ia melangkah sedikit mendekat, tetapi tetap menjaga jarak agar Jenna tidak merasa terdesak.

“Saya akan belajar bicara,” ucapnya pelan.

Jenna menatapnya kembali.

“Jenna juga akan belajar mendengar.”

Shaka mengangguk.

“Dan kalau saya cemburu lagi…”

“Mas bilang.”

“Kalau kamu kesal?”

“Jenna juga akan bilang.”

Shaka terdiam sebentar.

“Jadi sekarang kamu masih kesal?”

Jenna menatapnya datar.

“Masih.”

Shaka mengangguk pelan.

“Baik.”

“Tapi…” Jenna menunduk, suaranya mengecil, “sedikit berkurang.”

Shaka hampir tersenyum.

Hampir.

Jenna segera berbalik menuju kamar mandi sebelum wajahnya semakin merah.

“Jenna mandi dulu.”

“Jenna.”

Langkahnya berhenti lagi.

“Iya, Mas?”

Shaka menatapnya dengan suara rendah.

“Terima kasih karena tetap menjelaskan tentang Sagara.”

Jenna diam sesaat.

Lalu ia menjawab pelan, “Terima kasih juga karena akhirnya Mas jujur.”

Setelah itu Jenna masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.

Begitu pintu tertutup, Jenna langsung menempelkan punggungnya pada pintu kamar mandi. Senyum yang sejak tadi ia tahan akhirnya merekah lebar.

Tangannya menyentuh dadanya yang berdebar.

Shaka cemburu.

Shaka benar-benar cemburu.

Ia masih kesal, tentu saja.

Tetapi hatinya tidak bisa berbohong.

Ada rasa bahagia kecil yang tumbuh diam-diam, seperti bunga yang baru disiram setelah lama menunggu hujan.

Di luar kamar mandi, Shaka berdiri sendirian di kamar.

Ia menghela napas panjang.

Mengakui cemburu ternyata tidak membunuhnya.

Malah membuat Jenna tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, Shaka berpikir bahwa mungkin Rafa benar.

Romantis memang sulit.

Jujur juga sulit.

Tetapi jika hasilnya adalah melihat mata Jenna kembali melengkung seperti tadi, mungkin Shaka harus belajar lebih cepat.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!