NovelToon NovelToon
Harusnya Aku Yang Disana

Harusnya Aku Yang Disana

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu Rumah yang Terkunci dan Air Mata di Kaki Ibu

Satu minggu telah berlalu semenjak badai kehancuran melanda rumah tangga Dimas dan Ratna. Sepanjang tujuh hari itu, atmosfer di ruko konveksi busana ibadah premium milik Kirana berjalan dengan begitu tenang... mencari satu sosok anggun yang ia rindukan dalam diam kesopanan batinnya.

​Pagi itu, deru mobil yang sangat familiar akhirnya berhenti di depan ruko. Dr. Adrian melangkah turun dengan setelan kemeja rapi yang sedikit kusut. Wajah tampannya memancarkan rona kelelahan yang teramat sangat jelas setelah satu minggu penuh disibukkan oleh jadwal operasi beruntun dan dinas luar kota yang sangat padat di rumah sakit pusat. Begitu menapakkan kaki di dalam ruko, sepasang mata teduh sang dokter muda langsung mengitari seisi ruangan, mencari satu sosok anggun yang ia rindukan dalam diam syariatnya.

​Sayangnya, ruko itu sepi. Hanya ada Aisyah yang sedang sibuk merapikan tumpukan benang rajut di sudut meja.

"Selamat pagi, Mbak Aisyah," sapa dr. Adrian dengan suara bariton yang teratur dan, terdengar sedikit terburu-buru. "Maaf... Kirana sedang tidak ada ya?"

Aisyah langsung menghentikan aktivitasnya, berbalik dan mengulas senyuman tipis begitu melihat siapa yang datang. "Selamat pagi, Dokter Adrian. Iya, Dok... Kirana sedang tidak ada di ruko sejak subuh tadi. Dia sedang pulang ke kampung halaman, ke rumah orang tua kandungnya."

​Mendengar jawaban Aisyah, dr. Adrian langsung tertegun kaku. Sorot mata teduhnya seketika berubah menjadi teramat sangat cemas. Ingatan tentang bagaimana kejamnya keluarga Dimas mengusik Kirana seminggu lalu membuat insting pelindungnya bergejolak hebat. "Pulang ke rumah orang tuanya? Sendirian? Tapi... apakah kondisinya benar-benar aman, Mbak? Mengingat masalah yang kemarin—"

​Aisyah yang bisa menangkap dengan sangat jelas gurat kekhawatiran yang teramat dalam di wajah dokter tampan tersebut, langsung menghela napas panjang. Aisyah melangkah mendekat, memberikan senyuman menenangkan yang sangat dewasa.

​"Gak usah khawatir, Dokter Adrian," ucap Aisyah dengan nada suara yang lembut tapi penuh keyakinan. "Kirana itu wanita yang teramat sangat tangguh. Dia pergi ke sana untuk mengatakan yang sejujurnya tentang keyakinannya yang telah berpindah memeluk keyakinan baru. Ini adalah babak paling berat dalam hidupnya, Dok. Kirana pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri... Kita... hanya bisa bantu doa saja dari sini untuk keselamatannya."

​Dr. Adrian terdiam membisu, dadanya bergemuruh oleh rasa cemas sekaligus rasa takjub yang kian membubung tinggi atas keberanian jiwa wanita yang memeluk keteguhan jiwa yang diam-diam telah mengetuk pintu hatinya itu. Di dalam keheningan doanya nanti, dr. Adrian berjanji akan melangit kan nama Kirana dengan teramat khusyuk.

​Sementara itu, di sebuah sudut kota kecil yang berjarak ratusan kilometer, sebuah taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat putih yang tampak begitu familier. Pintu taksi terbuka, dan melangkah turun sosok Kirana.

​Kaki Kirana melangkah dengan sangat ragu melewati halaman rumah masa kecilnya. Namun, rasa rindu yang teramat sangat menggebu terhadap sang ibu mengalahkan segala rasa takut yang berkecamuk di dalam batinnya. Dengan tangan yang bergetar hebat menahan luapan emosi, Kirana mengangkat jemarinya dan mengetuk pelan permukaan pintu kayu rumah tersebut.

​Tok... Tok... Tok...

​Dadanya berdebar-debar dengan sangat kencang rasanya seperti mau copot saat telinganya mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah yang semakin lama semakin mendekat ke arah pintu.

​Creeek...

​Saat pintu akhirnya terbuka sempurna, sesosok wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih berdiri di ambang pintu. Itu adalah ibu kandung Kirana.

​Dengan suara yang teramat sangat bergetar menahan tangis, Kirana langsung menyapa wanita yang paruh baya itu. "Ibuuu..."

​Ibu Kirana sempat terkejut luar biasa selama beberapa saat. Manik matanya menatap tanpa berkedip melihat perubahan drastis pada putri satu-satunya, yang kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan pakaian busana anggun longgar dipadu kerudung panjang yang menutup dada—pakaian dari jalan hidup yang lain. Sang ibu hanya diam saja, membeku, tidak mampu berkata-kata sepatah pun karena guncangan batin yang teramat dahsyat.

​Kirana tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung maju, menggenggam lembut kedua tangan ibunya yang terasa dingin. "Ibu... boleh... boleh Kirana masuk, Bu?"

​Ibu Kirana tidak menjawab lewat kata, beliau hanya mengangguk pelan dengan pandangan mata yang mendadak meredup layu.

​Mereka berdua berjalan masuk dan duduk di dalam ruang tamu yang sederhana. Kirana membiarkan sang ibu duduk di atas kursi sofa lama, sementara dirinya sendiri langsung menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh dengan sangat rendah di atas lantai dingin tepat di kaki sang ibu.

​Kirana menenggelamkan wajahnya ke paha sang ibu, memeluk erat paha wanita paruh baya itu laksana anak kecil yang sedang ketakutan di tengah badai. Detik itu juga, pertahanan air mata Kirana langsung tumpah ruah, tangisannya pecah dengan sangat menyayat hati memenuhi keheningan ruang tamu.

​"Ibu... maafkan Kirana, Bu... Maafkan Kirana..." ratap Kirana dengan suara yang timbul tenggelam akibat sesak dada yang teramat sangat akut.

"Kirana mau menceritakan semuanya, Bu. Awal mula... awal mula Kirana mengambil keputusan besar untuk berpindah keyakinan menjadi jalan yang baru... karena hancurnya hubungan Kirana bersama Mas Dimas. Saat itu Kirana patah hati, Kirana mencari ketenangan, dan Kirana menemukannya di dalam keyakinan ini, Bu...."

​Kirana kian mempererat pelukannya di paha sang ibu, meremas kain rok ibunya dengan tubuh yang terguncang hebat sekujur tubuh.

​"Tapi takdir tidak merestui kami, Mas Dimas dipaksa menikah dengan wanita lain. Dan sekarang... demi Tuhan, Bu... Kirana sudah memurnikan keyakinan Kirana hanya untuk Sang Maha Kuasa. Kirana tidak lagi mencari manusia, Kirana sudah menemukan kedamaian batin di dalam keteguhan ini, Bu."

"Kirana minta maaf karena telah memilih jalan hidup Kirana sendiri yang berbeda dari Ibu dan Kakak... Maafkan Kirana yang sudah mengecewakan Ibu...."

​Sepanjang racauan tangis Kirana yang teramat jujur itu, ibu Kirana hanya diam saja. Beliau tidak mampu berkata apa-apa seolah lidahnya telah kelu sekujur tubuh. Namun, perlahan-lahan, air mata wanita paruh baya itu ikut menetes jatuh membasahi kerudung panjang yang dikenakan Kirana. Ada rasa kekecewaan yang teramat sangat mendalam, perih, dan luka batin yang tak berdarah mencuat di dalam hati sang ibu melihat putri satu-satunya telah memilih jalan hidup yang berbeda dari keluarga mereka.

​Bertepatan dengan momen yang teramat sangat menguras air mata itu, pintu depan rumah mendadak terbuka dengan kasar. Sosok kakak lelaki Kirana yang bernama Willy melangkah masuk ke dalam rumah.

Willy langsung mengernyitkan dahinya, menghentikan langkah kaki sejenak karena merasa heran dan asing melihat ada seorang gadis asing mengenakan kerudung panjang di dalam rumahnya sedang menangis meraung-raung bersimpuh di paha sang ibu.

​"Ibuuu... ini ada apa?!" tegur Willy dengan suara lantang dan ketus yang memecah suasana sentimentil tersebut.

​Mendengar suara bariton kakaknya yang sangat familiar, perlahan-lahan Kirana mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata penyesalan. Dia menatap ke arah Willy.

​Detik itu juga, Willy langsung membeku sempurna di tempatnya berdiri. Sepasang matanya membelalak lebar, terkejut setengah mati begitu menyadari bahwa wanita berkerudung panjang yang bersimpuh di kaki ibunya itu adalah Kirana....

​Hanya dalam hitungan beberapa detik setelah rasa terkejutnya reda, raut wajah Willy langsung berubah total menjadi teramat sangat dingin, benci, dan dipenuhi amarah yang meluap-luap. Willy melangkah maju dengan sangat brutal. Tanpa belas kasihan sedikit pun, Willy langsung memegangi kedua pundak Kirana dengan sangat kasar dan memaksanya bangkit berdiri dari lantai.

​"Kak Willy, lepaskan! Kak, sakit!" Kirana mencoba memberontak, namun tenaga Willy jauh lebih kuat. Cengkeraman tangan Willy di kedua pundak Kirana terasa mencengkeram kuat laksana mau meremukkan tulang belulangnya.

"Untuk apa kamu kembali ke rumah ini kalau hanya untuk membuat Ibu bersedih dan menangis, Kirana?!" bentak Willy dengan suara menggelegar penuh kebencian atas perbedaan jalan hidup di depan wajah adiknya sendiri. Sepasang mata Willy memancarkan penolakan yang mutlak tanpa ampun.

​"Kak, Kirana cuma mau menengok Ibu—"

​"Diam kamu! Jangan sebut nama Ibu dari mulutmu lagi!" potong Willy dengan sangat kejam. Willy langsung menyeret paksa tubuh Kirana yang lemas menuju ke arah pintu depan rumah. "Sebaiknya kamu jangan pernah datang-datang lagi ke rumah ini, Kirana! Anggap... anggap kami semua di rumah ini sudah mati untuk hidupmu! Hiduplah sesuai dengan agama barumu dan sesuai dengan apa yang kamu kehendaki!"

​Willy mencengkeram lengan Kirana, mendorong tubuh adiknya dengan satu sentakan yang teramat sangat keras hingga tubuh Kirana terdorong keluar, tersungkur di atas teras lantai luar rumah yang keras.

​"Dan ingat satu hal, Kirana!" desis Willy dengan mata yang menyala tajam dari balik ambang pintu, menunjuk tepat di depan wajah Kirana yang menangis histeris di atas lantai teras. "Jika suatu hari nanti terjadi apa-apa dengan hidupmu yang luntang-lantung di luar sana... jangan pernah libatkan kami lagi! Karena mulai detik ini... kamu sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini! Kamu asing buat kami!"

​BAMM!!!

​Willy langsung membanting pintu rumah kayu itu dengan kekuatan penuh hingga menimbulkan suara dentuman yang sangat keras membahana, mengunci rapat pintu rumah dari dalam tanpa memedulikan rintihan adiknya.

​Kirana tertinggal sendirian di atas lantai teras luar yang dingin, menatap pintu rumah yang kini tertutup rapat bagi dirinya untuk selamanya. Di bawah langit siang yang mendadak terasa teramat sangat kelabu, Kirana memeluk dadanya sendiri yang terasa laksana dihantam badai kehancuran yang teramat pekat. Air matanya tumpah ruah sejadi-jadinya membasahi kain khimarnya, meratapi takdir sucinya yang kini harus dibayar mahal dengan kehilangan keluarga kandung seutuhnya!

1
falea sezi
🤣🤣 nenek tua gatel
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
iya ini keputusan yang besar,Kirana tidak cerita ke keluarga
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
ayahnya Dimas udah berjuang untuk membalas Ratna
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas korban keegoisan keluarga tapi Kirana ga ada hubungannya malahan kena juga karena dimas
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas Dimas sadar Kirana udah bukan hak mu lagi weh
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas ga ada otak😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
keluarga kaya tapi minim adab😭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Ratna itu emang ga ada sadar dirinya
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Ratna ga sadar diri banget
udah merebut malahan dia merasa korban😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
itu hasil yang kalian tanam sndri
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
wkwkwk Ratna itu hasil kerja kerasmu itu merebut hak yang awalnya bukan milikmu
rasakan akibatnya sendiri
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
mau alasan kaya apa aja
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas ga tau masa lalu
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Kirana Tuhan tau kamu kuat makanya diksh cobaan ini
ayo tetap semangat
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
penyesalan emang diakhir kirana
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
anjay Dimas lebih memilih menikah dengan Ratna secara diam diam
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
ceritanya bagus
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas udah banyak alasan ini
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
demi Dimas dia rela ninggalin agamanya iya😭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
pst ada sesuatu sama Dimas itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!