NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tameng Sang CEO

Langkah kaki Aulia Putri terasa sangat berat saat ia melangkah keluar dari lift eksekutif lantai 42 Gedung KALUMPERRI CORP.

Meskipun ia berhasil mempertahankan topeng ketenangannya di depan Tiffany beberapa menit lalu, realitas dingin dari ancaman foto-foto itu kini mulai merayap naik, mencekik lehernya dengan rasa cemas yang teramat sangat.

Jemari tangannya yang memegang tali tas selempang masih terasa dingin dan sedikit bergetar.

"Mbak Aulia? Mbak baik-baik saja?" tanya Murni dari balik meja resepsionis, dahinya berkerut cemas melihat wajah sekretaris eksekutif itu yang tampak sedikit pucat.

"Mbak kelihatan lemas sekali. Apa makan siang di seberang tadi kurang cocok di lambung?"

Aulia memaksakan seulas senyum tipis yang tampak sangat canggung di wajah cantiknya.

"Tidak apa-apa, Murni. Hanya sedikit pening karena cuaca Sudirman di luar sedang sangat terik. Aku masuk ke ruangan dulu, ya."

"Oh, baik, Mbak. Jangan lupa minum air hangat," sahut Murni penuh perhatian.

Aulia berjalan cepat menuju meja kerjanya yang terletak di depan pintu ganda kayu jati ruang kerja CEO.

Ia terduduk lemas di kursi ergonomisnya. Ia melepas kacamata bacanya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan mencoba menata napasnya yang masih tidak beraturan.

“Judul beritanya pasti akan sangat menarik: Sekretaris Pribadi KALUMPERRI CORP Menggunakan Skema Ranjang demi Mendikte Keputusan Strategis CEO Pemalas...”

Kata-kata penuh racun dari Tiffany seolah terus bergaung di dalam kepalanya, memicu rasa takut yang luar biasa.

Aulia sangat tahu bagaimana kejamnya dunia korporasi terhadap seorang wanita mandiri yang merintis karier dari bawah.

Sekali saja rumor kotor seperti itu menyebar, tidak akan ada satu pun direksi yang peduli pada kerja kerasnya malam suntuk untuk merancang Cheat Sheet atau menyelamatkan investasi triliunan rupiah.

Mereka hanya akan melihatnya sebagai wanita penggoda yang menggunakan tubuhnya untuk memanjat tangga karier.

Sebelum air mata kecemasannya sempat menetes, pintu ganda kayu jati di depannya terbuka perlahan.

Khatyr Ali Fatih melangkah keluar. Pria itu tampak sangat tampan dengan kemeja biru dongker yang lengannya digulung hingga ke siku, memancarkan aura santai namun tegas.

Namun, begitu sepasang netra gelapnya tertuju pada sosok Aulia yang sedang menunduk layu di mejanya, seluruh binar santai di wajah tampan Khatyr seketika lenyap tanpa bekas.

Khatyr melangkah cepat mendekati meja Aulia, lalu berlutut di samping kursi sekretarisnya dengan gerakan yang sangat tangkas dan penuh perhatian.

"Aulia..." panggil Khatyr, suaranya yang bariton terdengar sangat lembut namun sarat akan rasa khawatir yang mendalam.

Ia meraih pergelangan tangan Aulia, perlahan menurunkan kedua telapak tangan hangatnya yang menutupi wajah cantik wanita itu.

"Hei, ada apa? Kenapa tanganmu dingin sekali? Dan matamu... kenapa berkaca-kaca seperti ini?"

Aulia menatap wajah tampan Khatyr yang kini berada sangat dekat dengannya. Kehangatan dari genggaman tangan pria itu seolah menjadi satu-satunya pelampung penyelamat yang tersisa di tengah badai kepanikannya. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar.

"Khatyr... kita dalam masalah besar," bisik Aulia sangat lirih, melirik cemas ke arah meja Murni di depan. "Ikut aku ke dalam ruanganmu. Sekarang."

Khatyr segera bangkit berdiri. Tanpa membuang waktu, ia menarik tangan Aulia dengan lembut namun mantap, menuntunnya masuk ke dalam ruang kerja CEO yang sangat luas, lalu mengunci pintu ganda kayu jati tersebut rapat-rapat dari dalam.

Di dalam ruangan yang sunyi dan beraroma kayu cendana itu, Khatyr menuntun Aulia untuk duduk di sofa kulit panjang yang empuk. Ia berjalan cepat menuju dispenser, mengambil segelas air hangat, lalu menyodorkannya ke tangan Aulia yang masih gemetar.

"Minumlah dulu, Partner," ujar Khatyr sangat lembut, duduk tepat di samping Aulia dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah cemas wanita yang dicintainya itu.

Aulia meneguk air hangat itu perlahan, membiarkan kehangatannya menenangkan tenggorokannya yang terasa sangat kering.

Setelah meletakkan gelasnya di atas meja kecil, ia membuka tas selempangnya, merogoh bagian dalamnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto fisik yang tadi sempat ia rampas dari meja marmer kafe sebelum meninggalkan Tiffany.

Aulia menyodorkan foto-foto tersebut ke hadapan Khatyr dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Tiffany Mahardika... dia menyewa agensi penyelidik swasta untuk membuntuti dan memata-matai kita," bisik Aulia, suaranya terdengar sangat parau dan rapuh.

"Dia mendapatkan foto-foto ini, Khatyr. Foto saat aku keluar dari penthousemu, foto saat kamu membukakan pintu mobil di apartemenku, dan... foto kita di balkon malam itu."

Khatyr menerima lembaran foto tersebut.

Sepasang netra gelapnya menyapu setiap gambar dengan sangat teliti. Detik demi detik berlalu, dan Aulia bisa merasakan atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.

Urat-urat di rahang tegas Khatyr tampak mengencang kuat. Sorot matanya yang biasanya memancarkan kemalasan manja atau kehangatan manis, kini seketika bertransformasi menjadi sorot mata elang yang sangat dingin, kejam, dan dipenuhi oleh kemarahan berdarah dingin yang mengerikan.

Aura kepemimpinan "Alpha-CEO" yang sangat dominan dan berbahaya memancar kuat dari tubuh tegap Khatyr, membuat seluruh ruangan mewah itu terasa begitu mengintimidasi.

"Dia... berani menyewa orang untuk mengawasimu?" suara Khatyr terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman harimau yang tertahan, namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang mendengar kedinginan di dalamnya.

"Dia mengancam akan menyebarkan foto-foto ini ke Pak Haryo, dewan direksi, dan seluruh portal media bisnis nasional besok pagi," lanjut Aulia, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya yang kemerahan.

"Dia ingin menghancurkan karierku, Khatyr. Dia ingin menuduhku menggunakan skema ranjang untuk mendikte keputusan strategismu di Kalumperri. Aku takut... aku takut semua kerja keras dan harga diri profesional yang kuperjuangkan dari nol akan hancur hanya karena ego kotornya."

Melihat air mata wanita yang sangat dicintainya menetes karena rasa takut akibat ancaman kotor dari Tiffany, hati Khatyr terasa sangat hancur sekaligus terbakar oleh amarah yang luar biasa dahsyat.

Khatyr perlahan meletakkan foto-foto tersebut di atas meja. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Aulia, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan protektif, ia menarik tubuh mungil Aulia ke dalam dekapannya yang sangat erat.

Ia mendekap kepala Aulia di dada bidangnya, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh air mata kecemasannya di sana.

"Sstt... tenanglah, Aulia," bisik Khatyr di dekat telinga wanita itu, jemari tangannya yang panjang mengusap lembut rambut cokelat Aulia dengan kelembutan yang sangat memabukkan.

"Aku di sini. Tameng bajumu di sini. Aku bersumpah demi nama mendiang ayahku... aku tidak akan membiarkan sehelai rambutmu pun terluka, dan aku tidak akan membiarkan satu pun rumor kotor dari Tiffany menyentuh reputasi profesionalmu."

Aulia meremas kemeja biru dongker Khatyr erat-erat, menghirup aroma maskulin kayu cendana yang menenangkan dari tubuh pria itu, merasakan perlindungan mutlak yang luar biasa aman menyelimuti dirinya.

"Tapi bagaimana cara membendung foto-foto itu, Khatyr?" tanya Aulia di sela-sela tangisnya.

"Tiffany memegang file digitalnya. Dia bisa mengirimkannya kapan saja ke media."

Khatyr melonggarkan pelukannya sedikit. Ia menatap wajah cantik Aulia dengan sepasang mata gelap yang kini berkilat penuh dengan kelicikan jenius dan tekad protektif yang sangat mematikan.

Pria pemalas itu kini telah sepenuhnya bangun dari tidurnya untuk menjadi monster bisnis yang paling mengerikan demi melindungi wanitanya.

Khatyr menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sangat menawan namun sarat akan ancaman bahaya bagi lawannya.

"Jika Tiffany ingin bermain kotor di luar jam kantor, maka aku akan menghancurkan seluruh dunianya di dalam wilayah korporasi yang paling ia banggakan," bisik Khatyr dengan nada suara yang sangat tenang namun menghujam tajam.

Khatyr bangkit berdiri dari sofa, melangkah cepat menuju meja kerjanya, lalu membuka laptop hitam terenkripsi militernya.

Jemari tangannya yang panjang mulai menari lincah di atas papan ketik dengan kecepatan yang luar biasa, membelah sistem keamanan digital eksternal untuk melacak agensi penyelidik swasta di Singapura yang disewa oleh Tiffany.

"Pertama," ujar Khatyr sambil menatap baris-baris kode di layarnya dengan senyum sinis.

"Aku baru saja melacak alamat IP agensi penyelidik swasta itu di Singapura. Menggunakan hak protokol darurat siber Project Slacker, aku telah menanamkan virus enkripsi khusus yang akan menghapus seluruh basis data dan file cadangan di server mereka dalam waktu tiga menit ke depan, termasuk file digital foto-foto kita. Agensi itu sekarang sedang sibuk menyelamatkan komputer mereka dari kebangkrutan digital."

Aulia tertegun diam di sofa, menatap kejeniusan siber bosnya dengan rasa kagum yang luar biasa. "File digitalnya... sudah terhapus?"

"Seratus persen musnah tanpa sisa dari server mereka," jawab Khatyr tenang, menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas.

"Dan kedua... mengenai Tiffany Mahardika sendiri."

Khatyr berjalan mendekati jendela kaca raksasa, menatap menara gedung pencakar langit Mahardika Group yang menjulang di seberang kawasan Sudirman.

"Mahardika Group saat ini sedang berada di ambang krisis likuiditas akibat ekspansi mal baru mereka di Surabaya yang mangkrak. Satu-satunya pelampung penyelamat yang mereka harapkan adalah perpanjangan kontrak sewa lahan jangka panjang seluas lima puluh hektar di kawasan bisnis SCBD yang dimiliki oleh Kalumperri Land, perusahaan anak grup kita yang hak veto keputusannya berada sepenuhnya di tanganku sebagai CEO."

Khatyr berbalik, menatap Aulia dengan binar mata yang dipenuhi oleh kekuasaan mutlak yang mendominasi.

"Jika kontrak sewa lahan itu tidak kuperpanjang minggu depan, seluruh proyek mal dan gedung perkantoran Mahardika Group di SCBD akan disita oleh negara, dan saham mereka di bursa akan terjun bebas menuju kebangkrutan total. Tiffany dan ayahnya akan kehilangan seluruh kasta sosial yang sangat mereka agung-agungkan itu dalam sekejap."

Khatyr berjalan menghampiri Aulia, kembali berlutut di hadapannya, lalu menggenggam kedua tangan hangat Aulia dengan sangat erat dan mantap.

"Sore ini juga, aku akan meminta Paman Haryo untuk mengirimkan draf pembatalan perpanjangan sewa lahan tersebut secara resmi kepada ayah Tiffany. Aku akan memastikan ayah Tiffany tahu bahwa kelangsungan hidup perusahaannya saat ini berada di ujung tanduk... hanya karena kecerobohan putri tunggalnya yang berani menyewa mata-mata ilegal untuk mengancam Sekretaris Eksekutif KALUMPERRI CORP."

Khatyr menatap lurus ke dalam manik mata bulat Aulia dengan tatapan yang dipenuhi oleh cinta, perlindungan, dan kesungguhan yang teramat mendalam.

"Aku akan memaksa ayah Tiffany sendiri yang menyeret putrinya itu berlutut di hadapanmu untuk meminta maaf, Aulia. Aku akan membuat mereka tahu bahwa mengganggumu... adalah kesalahan terbesar yang akan menghancurkan seluruh hidup mereka."

Mendengar seluruh rencana serangan balik yang begitu taktis, dominan, dan luar biasa protektif dari Khatyr, seluruh rasa takut, cemas, dan dingin di dalam dada Aulia Putri seketika menguap tanpa bekas.

Rasa aman dan kebahagiaan yang murni mengalir memenuhi seluruh rongga dadanya, membuat air matanya kini sepenuhnya berubah menjadi senyuman manis yang paling indah yang pernah ia tunjukkan selama bekerja di Kalumperri.

Ia menyadari dengan kepastian mutlak, pria pemalas di hadapannya ini bukan lagi sekadar bos yang harus ia gembalakan setiap hari... melainkan adalah seorang tameng baja terkuat yang akan selalu berdiri di garis depan untuk melindungi hidup, harga diri, dan cinta sejati mereka dari setiap peluru dunia luar, selamanya.

Aulia perlahan mengulurkan tangannya, dengan sangat lembut mengusap pipi tampan Khatyr dengan gerakan yang memabukkan.

"Terima kasih, Khatyr... tameng terbaikku,, kesayanganku," bisik Aulia hangat dengan senyum manisnya yang menawan.

Khatyr tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kehangatan cinta yang murni. Ia menunduk perlahan, memotong jarak di antara wajah mereka, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut, hangat, dan penuh perasaan cinta yang mendalam di atas bibir manis Aulia, sebuah kecupan manis di ruang kerja CEO yang terkunci rapat, yang menjadi penanda bahwa tidak ada satu pun badai di dunia korporasi ini yang akan mampu memisahkan ikatan cinta sejati mereka, selamanya.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!