NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah

Waktu terus berlalu dengan sangat cepat, saat ini usia kandungan Nadia sudah memasuki bulan kelima, dan bentuk perutnya mulai kelihatan sedikit membuncit di balik baju terusan longgar yang ia kenakan.

Pagi ini, Ubay sengaja libur menarik setoran gerobak kopi di pasar. Dengan setelan andalannya, jaket jeans hitam dan helm half face, ia memacu RX-King miliknya membelah jalanan protokol kota. Hari ini adalah jadwal Nadia untuk melakukan pemeriksaan kandungan rutin ke puskesmas kecamatan. Nadia duduk di boncengan belakang dengan tenang, tangannya kini sudah tidak canggung lagi untuk memegang ujung jaket Ubay demi menjaga keseimbangan.

Saat sampai di perempatan jalan raya utama, lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah. Ubay menarik tuas rem, menghentikan motornya tepat di barisan depan, sejajar dengan sebuah mobil sedan hitam mewah yang kaca jendelanya tertutup rapat.

Di dalam mobil mewah ber-AC sejuk tersebut, duduklah Nyonya Sarah bersama Tuan Pramoedya. Mereka baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis sarapan pagi dengan kolega kaya mereka.

Nyonya Sarah yang sedang membetulkan posisi kalungnya, secara tidak sengaja melirik ke arah luar jendela kiri. Begitu matanya menangkap sosok perempuan yang membonceng motor dua tak berisik di sebelahnya, bola mata Nyonya Sarah seketika melotot sempurna.

"Pap... Papa, lihat itu!" cetus Nyonya Sarah setengah memekik, menyenggol lengan Tuan Pramoedya dengan kasar sambil menunjuk ke arah kaca jendela.

Tuan Pramoedya mengernyitkan dahi, menurunkan sedikit koran bisnis yang sedang dibacanya. "Ada apa sih, Mah? Berisik amat."

"Itu loh, Pa! Lihat! Anak pembantu yang kita usir itu!" seru Nyonya Sarah dengan nada suara yang dipenuhi rasa jijik dan dendam lama. "Si Nadia! Lihat tuh kelakuannya sekarang!"

Tuan Pramoedya menajamkan pandangannya menembus kaca mobil yang gelap. Memang benar, itu Nadia. Gadis yatim piatu yang dulu sempat mereka tampung namun akhirnya diusir karena dituduh menggoda putra tunggal mereka.

Nyonya Sarah langsung mencibir, bibirnya yang berlipstik merah merona ditekuk sinis. Kalimat-kalimat beracun mulai meluncur bebas dari mulut jahatnya.

"Hih! Bener-bener ya, dasar darah pembantu gak bakal bisa bohong! Dulu di rumah kita aja sok-sokan alim, belagu kalau ia dipaksa Axel. Sekarang lihat tuh kelakuannya... udah jadi perempuan murahan yang bergaul sama preman jalanan!" cemooh Nyonya Sarah dengan kekehan sinis yang meremehkan.

Tuan Pramoedya hanya diam, namun matanya tetap memperhatikan Ubay yang berambut gondrong acak-acakan dari balik spion mobil.

"Tampang cowoknya aja kayak bajingan pasar begitu, rambut gondrong, jaket kumal, motornya berisik bikin polusi," lanjut Nyonya Sarah, makin menjadi-jadi menghina. "Pasti si Nadia itu kerjaannya menjual diri sekarang demi bisa tetap hidup dan bayar kuliah! Kasihan banget ya, Pa. Untung bener dulu langsung kita tendang dari rumah, kalau nggak... bisa bawa sial dan bikin malu nama baik keluarga Pramoedya saja!"

Di luar mobil, suasana sangat kontras. Ubay yang memiliki kepekaan instan sebagai anak jalanan, tiba-tiba merasakan ada sepasang mata yang menatap mereka dengan hawa tidak enak dari dalam sedan mewah di sampingnya.

Ubay menolehkan kepalanya perlahan. Dari balik kaca film mobil yang agak gelap, ia samar-samar bisa melihat siluet seorang wanita paruh baya bermata angkuh yang sedang menunjuk-nunjuk ke arah mereka dengan bibir yang komat-kamit penuh kebencian.

Ubay melirik Nadia lewat kaca spion motor. Beruntung, Nadia sedang sibuk membetulkan posisi tasnya dan menatap ke arah berlawanan, sehingga gadis itu tidak menyadari keberadaan mantan majikan kejamnya yang berada tepat di samping mereka.

Rahang Ubay mendadak mengeras di balik helmnya. Meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan wanita di dalam mobil itu, Ubay tahu betul tatapan merendahkan seperti apa yang sedang diarahkan kepada istrinya.

Lampu hijau menyala.

Sebelum Nyonya Sarah menyelesaikan kalimat makian berikutnya, Ubay langsung menghentak tuas gas RX-King-nya dengan kasar.

Breeeeeeeemmm mmm!!

Suara lengkingan knalpot yang memekakkan telinga berbunyi nyaring, sengaja diledakkan Ubay tepat di samping kaca jendela Nyonya Sarah. Kepulan asap putih tebal khas oli samping langsung menyembur keluar, membubung tinggi dan mengepung seluruh bodi mobil sedan mewah tersebut, menghalangi pandangan sinis Nyonya Sarah dalam sekejap.

Motor Ubay melesat cepat ke depan, meninggalkan sedan mewah itu di belakang. Di atas motor, Ubay tersenyum kecut di balik helmnya. “Nih, makan asap jalanan! Mau sekaya apa pun lu di dalam mobil ber-AC, di atas aspal... preman pasar ini yang punya kuasa buat bungkam mulut lu,” batin Ubay puas, terus melaju mengantarkan Nadia demi menjaga titipan nyawa di rahim istrinya.

**

Di dalam sedan mewah yang masih menyisakan bau samar asap knalpot RX-King milik Ubay,

Nyonya Sarah menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil dengan dada yang naik-turun menahan dongkol. Wajahnya yang dilapisi bedak mahal tampak berkerut masam, matanya sesekali melirik spion luar, masih terbayang kepulan asap hitam dari motor RX-King yang baru saja mengotorinya.

"Kurang ajar bener itu preman! Sengaja banget itu ngegas motornya di samping kaca kita! Budek kuping Mama, Pa! Mana polusi, bikin bau, merusak pemandangan!" maki Nyonya Sarah, suaranya melengking kesal di dalam kabin mobil yang senyap. Tangannya bergerak cepat mengipasi lehernya yang mendadak gerah akibat emosi.

Tuan Pramoedya yang duduk di sebelahnya menghembuskan napas panjang, tampak jengah. "Sudahlah, Ma. Nggak usah repot-repot mikirin orang jalanan begitu. Malu dilihat sopir kamu ngomel-ngomel gak jelas."

"Gimana Mama gak ngomel, Pa?! Papa gak lihat tadi siapa yang dibonceng sama preman kurang ajar itu? Si Nadia! Anak si pembantu!" Nyonya Sarah memajukan tubuhnya, menatap suaminya dengan mata melotot penuh kebencian. "Lihat tuh kelakuannya sekarang. Dulu di rumah kita sok-sokan alim, belagu. Begitu diusir, langsung kelihatan belangnya! Dasar darah pelayan nggak tahu diri, sekarang kerjaannya pasti menjual diri, mau-mauan dipelihara sama bajingan pasar begitu demi bisa tetap hidup!"

"Pak! Cepat jalan! Ngapain mobilnya lambat begini, hah?" bentak Nyonya Sarah tiba-tiba pada sopir di depan, meluapkan sisa kekesalannya.

"I-Iya, Nyonya," sahut sang sopir gugup, langsung mempercepat laju kendaraan mewah tersebut membelah jalanan kota.

Nyonya Sarah kembali melipat kedua tangannya di dada, bibirnya ditekuk sinis. "Tapi ya sudah, baguslah! Berarti keputusan kita waktu itu sudah paling bener, Pa. Anak pembantu kayak dia memang tempatnya di jalanan sama sampah masyarakat, bukan di rumah megah kita."

Ia menjeda kalimatnya, lalu menatap Tuan Pramoedya dengan kilat kelicikan yang kembali menyala di matanya. "Makanya, pernikahan si Axel sama Larasati ini harus bener-bener disegerakan. Nggak boleh ditunda-tunda lagi, apapun alasannya! Mama nggak mau ya, nama baik anak laki-laki kita satu-satunya tercoreng cuma gara-gara rumor nggak jelas. Pokoknya minggu depan, kita harus adakan pertemuan keluarga resmi dengan orang tuanya Larasati untuk ngunci tanggal!"

"Iya, Mama atur saja. Yang penting Axel-nya dikasih tahu, jangan sampai dia buat ulah lagi," jawab Tuan Pramoedya dingin, kembali membuka lembaran koran bisnisnya seolah menganggap urusan tersebut sudah selesai di bawah kendali istrinya.

Nyonya Sarah tersenyum puas, membayangkan rencana besarnya berjalan mulus. Di dalam benaknya, noda kotor dari seorang Nadia telah bersih sepenuhnya dari silsilah keluarga mereka, tertutup oleh kasta tertinggi dari calon menantu pilihannya.

****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
tati st🌼🌼
imdahnya jatuh cinta saat halal,...cuman sayang masih ada jarak,di antara mereka,belum pada terus terang😁
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💪
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏😍
Safitri Agus
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
S.R ciplux
🤭 pandangan yg mendebarkan
Susma Wati
menunggu axel dan keluarga nya mendapatkan karma
Anna Annawaliana
benaran ini mah Ubay sama Nadia sudah saling jatuh cinta .

untuk Axel aku tunggu karna untuk keluargamu
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!