NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Senyum Ada Luka & Bahaya Mengintai

Tak lama kemudian Fara mengusap sisa air matanya kasar, menarik napas panjang sekuat tenaga, lalu melangkah masuk kembali ke dalam aula. Ia memaksakan senyum melekat rapat di wajah, seolah tak satu pun hal buruk terjadi, lalu berjalan menghampiri Adrian, Elina, dan para tamu. Ia berdiri tenang di sisi Adrian, terlihat anggun dan sempurna di mata semua orang.

Namun suasana berubah sedikit saat salah satu tamu tertawa ringan sambil menatap penasaran: “Adrian, kenapa kau hanya membawa satu istri saja? Mengapa tidak bawa yang satu lagi juga? Kami sangat ingin melihatnya, pasti dia pun tak kalah cantik, bahkan mungkin lebih memesona.”

Belum sempat Adrian membuka mulut menjawab, Elina sudah menyela dengan suara lembut dan meyakinkan, senyumnya tak luntur sedikit pun: “Wah, maafkan dia. Sedang ada kerabat yang sakit di rumah, jadi dia pergi menjenguk sebentar saja.”

Para tamu hanya mengangguk lambat, merasa cukup puas dengan jawaban itu dan kembali melanjutkan obrolan.

Perjalanan pulang terasa sunyi di dalam mobil. Begitu pintu tertutup rapat, senyum palsu itu langsung luruh dari wajah Fara. Ia menatap lurus ke depan, matanya kosong, rautnya berubah hening dan menyimpan kepedihan yang tak terucapkan. Adrian hanya melirik sekilas saja, lalu kembali memalingkan wajah — dingin dan tak sedikit pun peduli.

Begitu mobil berhenti di halaman, Fara segera melangkah turun, ingin segera masuk ke kamar dan melupakan semuanya. Tapi saat mengangkat kepala menuju pintu, langkahnya terhenti seketika. Di sana berdiri Zara, menunggu dengan sabar.

Zara mengenakan setelan baju tidur berwarna merah muda lembut, bahannya halus bagaikan sutra, dingin dan nyaman saat menyentuh kulit. Potongannya longgar tapi tetap terlihat anggun — kerahnya dihias renda halus, ujung lengan dan celananya berpinggiran kecil yang melambai pelan setiap kali ia bergerak.

Matanya tak pernah lepas dari arah gerbang, sesekali melangkah maju mundur gelisah, jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung bajunya sedikit. Wajahnya terlihat tenang, tapi di balik itu hatinya gelisah menahan kekhawatiran. Ia sudah menunggu cukup lama, selalu berdoa agar Fara pulang dengan selamat. Setiap kali mendengar suara kendaraan lewat, ia segera menegakkan badan, hanya untuk menghela napas pendek saat ternyata bukan mobil yang ditunggunya. Cahaya lampu temaram menyentuh bajunya, membuatnya memancarkan kilau lembut yang mencerminkan hatinya — polos, tulus, dan penuh kasih.

Fara menghampirinya segera, suaranya terdengar sedikit berat: “Zara, kenapa jam segini kau belum tidur?”

Aku sempat terdiam sejenak, tepat saat Adrian lewat berjalan melewati kami. Lalu aku mendongak, matanya bening dan tulus, suara lembut penuh rasa khawatir: “Kak Fara… aku cuma mengkhawatirkanmu.”

Satu kalimat itu langsung menusuk tepat ke hati Fara. Dadanya terasa sesak, matanya langsung berkaca-kaca, air mata hampir meluap tapi ia gigit bibir kuat-kuat menahannya. Dalam hatinya berteriak: Ya Tuhan… tak sanggup kubayangkan kalau Zara yang ada di posisiku. Dia masih polos, masih belia, belum mengenal kejamnya dunia. Cuma membayangkannya saja rasanya ingin hancur menangis.

Ia memaksakan senyum tipis yang terasa pahit, lalu memalingkan wajah sebentar agar Zara tak melihat matanya yang basah. “Aku baik-baik saja, Zara. Ayo masuk, kakak lelah sekali, ingin segera beristirahat.”

Tangannya menarik pelan lengan Zara masuk ke dalam rumah, berusaha menyembunyikan semua luka dan rasa sakit yang baru saja ia terima. Padahal Zara sudah merasakan ada yang janggal, ada sesuatu yang ditutup-tutupi, tapi Fara terlalu cepat menutupnya rapat-rapat — tak ingin sedikit pun ketakutan itu menyentuh hati zara.

Keesokan harinya di sekolah, kantin terasa ramai. Di meja panjang berjejer lauk-pauk yang masih mengepul hangat, semuanya harus diambil sendiri. Aku ambil piring, menaruh sedikit nasi putih, sepotong ayam goreng yang renyah, sesendok kecil sambal pedas, beberapa suapan tumis sayuran, dan satu buah jeruk manis untuk penutup.

Setelah mencari meja kosong dan duduk, tak lama Sarah dan Alina datang menyusul, hendak duduk tepat di hadapanku. Belum sempat mereka mendudukkan badan, tiba-tiba langkah mantap terdengar — Fernando datang dan langsung duduk di bangku kosong itu, tepat di depanku.

Suasana seketika terasa berbeda. Semua mata di kantin tertuju padanya. Ada yang memandang penuh kekaguman, ada yang menghela napas panjang karena iri, dan tak sedikit yang terlihat cemburu. Apalagi Liora dan Alina — raut wajah mereka berubah drastis, terutama Liora yang meremas gagang sendoknya sampai buku jarinya memutih, matanya menyipit tajam seolah memancarkan bara api yang tak terlihat.

Setelah selesai makan, aku, Sarah, dan Alina duduk di pinggir lapangan menonton Fernando bermain basket sendirian. Ia terlihat pandai dan lincah, tapi sikapnya dingin — seolah tak ingin bergaul dengan siapa pun.

Saat itu Liora datang menghampiri sambil membawa tiga botol minuman dingin, memberikannya satu per satu kepada kami.

Baru saja aku menyesap minuman itu — rasanya manis menyegarkan, hanya sedikit ada rasa pahit samar di ujung lidah yang kupikir hanyalah rasa buahnya. Belum lewat lima menit, tiba-tiba perutku terasa berubah. Awalnya cuma berdenyut pelan, lalu perlahan berubah seperti ada sesuatu yang berputar dan bergolak hebat di dalam sana.

Tanganku segera menekan ulu hati, dahi mulai mengembun keringat dingin meski udara di lapangan terasa sejuk. Rasa mual naik mendesak cepat ke kerongkongan, membuatku menelan ludah berulang kali agar tak muntah di depan mereka. Tak lama kemudian nyeri itu makin tajam — terasa seperti dinding perutku diremas kuat, dipelintir pelan tapi makin menyiksa setiap detiknya.

Wajahku perlahan memucat, darah seolah mengalir keluar dari seluruh tubuhku. Kepala terasa ringan berputar, pandangan sedikit kabur seolah diselimuti kabut tipis. Badanku lemas luar biasa, jari-jariku gemetar sampai botol di tangan hampir terlepas. Mulut terasa makin pahit, rasa haus aneh muncul, dan setiap tarikan napas justru membuat rasa sakit itu makin menjalar ke pinggang dan punggung.

Aku menunduk, menggigit bibir pelan berusaha menahannya, tapi rasa sakit itu makin tak tertahankan. Dalam hati sempat bertanya-tanya — kenapa tiba-tiba begini? Semua yang kumakan tadi biasa saja, hanya minuman itu yang berbeda… Tapi aku bukan tipe orang yang mudah berprasangka buruk, sampai akhirnya Sarah, Alina, bahkan Liora melihatku meringis kesakitan dan segera mendekat dengan raut khawatir.

Dari kejauhan, Fernando yang sedang bermain basket menangkap pandangan itu seketika. Tanpa ragu ia berhenti, melempar bola begitu saja, lalu melangkah cepat menghampiri. Begitu melihatku pucat pasi, tubuh gemetar hebat, dan nyaris tak sanggup berdiri tegak, ia tak buang waktu lagi.

Tanpa banyak bicara, ia langsung membungkuk, melingkarkan kedua lengannya dan mengangkat tubuhku dengan kokoh namun hati-hati. Dadanya terasa hangat dan kuat, langkah kakinya pasti dan cepat, seolah tak merasakan berat sedikit pun. Cahaya matahari menyentuh dahinya, terlihat butiran keringat kecil, tatapannya tegang dan penuh kekhawatiran — seluruh perhatiannya hanya tertuju padaku. Aku bersandar lembut di bahunya, merasa aman meski rasa sakit masih melilit, sementara ia bergegas membawa aku keluar dari keramaian menuju ruang UKS sekolah.

Semua orang hanya memandangi punggungnya yang menjauh, diikuti Sarah dan Alina yang berjalan cepat dengan wajah benar-benar cemas dan bingung. Tapi tak ada satu pun yang memperhatikan Liora — raut khawatirnya perlahan memudar, lalu berubah menjadi senyum samar yang aneh dan dingin terukir di bibirnya. Matanya menyipit pelan menatap kepergian kami, menyembunyikan rasa puas dan lega yang tak berani ia tunjukkan kepada siapa pun.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!