Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Wajah di Balik Cadar
Makan malam malam itu selesai lebih hangat daripada malam-malam sebelumnya.
Tidak banyak percakapan yang terjadi di meja makan, tetapi diam di antara mereka tidak lagi setajam sebelumnya. Sesekali Shaka mengambil sop iga lagi ke dalam mangkuknya. Jenna melihat itu dalam diam, lalu tanpa sadar merasa sedikit lega.
Setidaknya masakannya tidak gagal.
Shaka memang tidak banyak berkomentar. Namun seperti yang Aruna katakan, laki-laki itu bukan tipe yang mudah memuji makanan. Cara ia menghabiskan makanannya sudah cukup menjadi jawaban.
Setelah makan malam, Jenna membantu Mbak Rini membereskan meja meski sudah beberapa kali dilarang. Shaka sempat memperhatikannya dari ruang makan, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri, mengambil ponsel dan beberapa dokumen dari meja kecil, lalu berkata pelan, “Saya lanjut kerja sebentar di ruang kerja.”
Jenna menoleh.
“Iya, Mas.”
Shaka mengangguk singkat, kemudian naik ke lantai dua.
Jenna menatap punggung Shaka yang menjauh.
Malam itu, entah kenapa, ia tidak ingin membiarkan rumah kembali terasa dingin setelah makan malam yang sedikit membaik. Ia teringat pesan Syana sore tadi.
Tindakan kecil yang konsisten.
Jenna menunduk, lalu berjalan ke dapur.
“Mbak Rini,” panggilnya lembut.
“Iya, Bu?”
“Mas Shaka biasanya kalau kerja malam minum kopi?”
“Iya, Bu. Biasanya kopi hitam tanpa gula.”
Jenna mengangguk pelan. “Boleh ajari Jenna membuatnya seperti yang biasa Mas Shaka minum?”
Mbak Rini tersenyum kecil.
“Tentu, Bu.”
Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hitam hangat sudah berada di atas nampan kecil. Jenna membawanya dengan hati-hati menuju ruang kerja Shaka.
Di depan pintu, ia berhenti sebentar.
Lalu mengetuk pelan.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Jenna membuka pintu.
Shaka duduk di balik meja dengan laptop menyala, beberapa dokumen terbuka di sampingnya. Wajahnya tampak serius, tetapi saat melihat Jenna masuk membawa secangkir kopi, ekspresinya berubah samar.
Heran.
“Kopi, Mas,” ucap Jenna pelan.
Shaka menatap cangkir itu, lalu menatap Jenna.
“Kamu yang buat?”
“Dibantu Mbak Rini.”
Shaka terdiam beberapa detik.
Tidak biasanya Jenna melakukan itu.
Sejak awal tinggal di rumah ini, Jenna selalu bersikap seperlunya. Sopan, tetapi berjarak. Ia meminta izin, menjawab saat ditanya, dan lebih banyak diam. Namun malam ini, ia memasak makanan kesukaannya. Sekarang ia mengantarkan kopi ke ruang kerjanya.
Shaka tidak tahu harus membaca perubahan itu sebagai apa.
Apakah Jenna sudah tidak marah?
Atau ia hanya sedang berusaha menjadi istri yang baik meski hatinya masih terluka?
Pikiran kedua membuat dada Shaka terasa tidak nyaman.
Jenna meletakkan cangkir kopi di sisi meja yang tidak penuh dokumen.
“Semoga tidak terlalu pahit.”
Shaka menatap kopi itu.
“Saya memang biasa minum pahit.”
Jenna mengangguk. “Mbak Rini bilang begitu.”
Lagi-lagi Shaka diam.
Berarti Jenna bertanya.
Ia mencari tahu hal-hal kecil tentang dirinya.
Setelah semua batas yang ia buat, Jenna justru mulai mengetuk pelan dari sisi lain. Tidak memaksa masuk, tidak menuntut, hanya hadir dengan cara yang sederhana.
“Terima kasih,” ucap Shaka.
Jenna menunduk sedikit.
“Sama-sama, Mas. Jenna ke kamar dulu.”
Shaka ingin menahannya lebih lama. Entah untuk bertanya bagaimana harinya, atau sekadar mengatakan bahwa makan malam tadi enak. Namun sebelum ia menemukan kalimat yang tepat, Jenna sudah berbalik menuju pintu.
“Jenna,” panggilnya.
Langkah Jenna berhenti. “Iya, Mas?”
Shaka menatapnya.
“Makan malam tadi…” Ia berhenti sebentar, seolah kata pujian terasa asing di lidahnya. “Enak.”
Mata Jenna melembut.
Meski hanya sedikit, Shaka melihatnya.
“Alhamdulillah kalau Mas suka.”
Setelah itu Jenna keluar dari ruang kerja, menutup pintu perlahan.
Shaka menatap pintu itu beberapa detik, lalu mengambil cangkir kopi. Ia menyeruputnya perlahan. Kopi itu pahit, seperti biasa, tetapi entah kenapa terasa lebih hangat malam itu.
Mungkin karena bukan hanya kopi yang Jenna antarkan.
Ada niat baik di dalamnya.
Dan Shaka mulai merasa dirinya terlalu jahat jika terus membiarkan niat baik itu berdiri sendirian.
Pukul sepuluh malam, pekerjaan Shaka akhirnya selesai.
Ia menutup laptop, merapikan dokumen, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Ruang kerja sudah hening. Kopi buatan Jenna tinggal setengah, tetapi kehangatannya masih tertinggal di tenggorokan.
Shaka menatap cangkir itu.
Pikirannya kembali pada Jenna.
Pada makan malam.
Pada kopi.
Pada wajah samar yang ia lihat di sepertiga malam kemarin.
Perasaan penasaran itu belum hilang. Justru semakin kuat.
Shaka berdiri, mengambil ponsel, lalu keluar dari ruang kerja menuju kamar.
Ketika ia membuka pintu kamar, Jenna masih belum tidur.
Ia duduk di sisi kanan ranjang, punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Di tangannya ada sebuah buku kecil. Khimarnya masih rapi. Cadarnya juga masih terpasang, seperti biasa, menutupi wajahnya.
Shaka berhenti di dekat pintu.
Jenna mengangkat wajah.
“Mas sudah selesai kerja?”
“Iya.”
Shaka masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia meletakkan ponsel di meja kecil, lalu menatap Jenna lebih lama dari biasanya.
Jenna menyadari tatapan itu.
“Ada apa, Mas?”
Shaka diam sebentar.
Pertanyaan itu sudah beberapa kali tertahan sejak pagi. Namun malam ini, setelah Jenna memasak untuknya, setelah Jenna membuatkan kopi, setelah jarak di antara mereka sedikit lebih lunak, ia merasa perlu mengatakannya.
“Kenapa kamu masih memakai cadar di rumah?”
Jenna terdiam.
Shaka melanjutkan, nadanya tetap rendah, tetapi tidak sedingin dulu. “Terutama di kamar. Di sini hanya ada saya dan kamu.”
Jenna menunduk pelan.
Jari-jarinya menggenggam tepi buku.
“Jenna hanya belum terbiasa.”
“Dengan saya?”
Pertanyaan itu membuat Jenna mengangkat wajah.
Mata mereka bertemu.
Shaka melihat kejujuran yang tertahan di mata Jenna. Ada ragu. Ada hati-hati. Ada sisa luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Jenna tidak langsung menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
Shaka menarik napas pelan.
“Jenna, saya tidak akan memaksa.” Suaranya lebih rendah. “Tapi kamu tidak perlu merasa takut wajahmu terlihat oleh saya. Kamu istri saya.”
Jenna menatapnya beberapa saat.
Kalimat itu sederhana. Namun malam ini, tidak terdengar seperti tuntutan. Tidak terdengar seperti hak yang dipaksakan. Lebih seperti pintu yang dibuka sedikit, memberi Jenna pilihan untuk melangkah atau tetap diam di tempatnya.
Jenna menunduk.
Di dalam hatinya, ia teringat doanya semalam.
Ia berdoa agar hati Shaka diluluhkan.
Ia berdoa agar rumah tangga mereka diberi jalan menuju bahagia.
Lalu siang tadi, ia memutuskan ingin mencoba mengambil hati Shaka. Bukan dengan cara yang berlebihan, bukan dengan mengabaikan luka sendiri, tetapi dengan memberi kesempatan kecil bagi hubungan mereka untuk bergerak.
Mungkin ini salah satunya.
Mungkin membuka cadar di hadapan suaminya sendiri bisa menjadi cara kecil untuk mulai menghapus jarak yang selama ini berdiri di antara mereka.
Jenna menarik napas pelan.
“Mas Shaka benar-benar tidak akan membuat Jenna merasa tidak nyaman?”
Shaka menatapnya tanpa berkedip.
“Tidak.”
Jenna diam sejenak.
Lalu perlahan, tangannya bergerak ke arah cadar.
Shaka tanpa sadar menahan napas.
Gerakan Jenna pelan sekali. Jari-jarinya membuka pengait kecil di sisi cadar, lalu menurunkannya dengan hati-hati. Kain itu terlepas dari wajahnya, memperlihatkan bagian yang selama ini hanya hidup dalam rasa penasaran Shaka.
Dan saat wajah Jenna benar-benar terlihat, Shaka membeku.
Benar.
Itu wajah yang ia lihat semalam.
Bukan mimpi.
Perempuan yang berdiri di hadapannya pada sepertiga malam, menyelimutinya dengan hati-hati, adalah Jenna.
Kulitnya putih bersih dan halus. Wajahnya lembut dengan garis yang anggun. Bibirnya tampak tenang, sedikit merah alami. Hidungnya kecil dan proporsional. Namun yang paling menahan Shaka tetaplah matanya—mata cokelat terang yang teduh, seolah menyimpan banyak doa dan luka yang tidak pernah ia ucapkan.
Cantik.
Sangat cantik.
Tetapi bukan hanya karena rupa.
Ada sesuatu pada wajah Jenna yang membuat Shaka merasa diam-diam disentuh oleh ketulusan. Wajah itu tidak berusaha memikat. Tidak berusaha terlihat sempurna. Justru karena itu, ia tampak jauh lebih indah.
Shaka menatapnya terlalu lama.
Jenna mulai salah tingkah.
“Mas?”
Shaka tersadar sedikit, tetapi matanya tetap tidak lepas dari wajah Jenna.
Pikirannya dipenuhi satu kalimat.
Ia beruntung.
Benar-benar beruntung menikahi gadis seperti Jenna. Baik hati, lembut, sabar, dan ternyata secantik itu. Gadis yang masih mau membuatkannya makan malam setelah ia lukai dengan kata-kata. Gadis yang masih mau mendoakannya di sepertiga malam. Gadis yang menyelimutinya diam-diam meski ia sendiri belum pantas menerima kelembutan itu.
Tanpa sadar, Shaka berucap pelan, “Kamu cantik.”
Jenna membeku.
Detik berikutnya, rona merah muncul di pipinya.
Ia menunduk cepat, jemarinya menggenggam cadar yang kini berada di pangkuannya.
“Mas Shaka…”
Shaka baru menyadari apa yang ia katakan.
Untuk pertama kalinya, wajah dinginnya tampak sedikit berubah. Ada rasa canggung yang sangat tipis di sana, hampir tidak terlihat, tetapi cukup jelas bagi Jenna.
Shaka mengalihkan pandangan sebentar.
“Saya hanya mengatakan yang saya lihat.”
Kalimat itu membuat pipi Jenna semakin hangat.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Selama ini, banyak orang memujinya dengan sopan. Keluarga, sahabat, bahkan pelanggan. Namun mendengar kata cantik dari Shaka terasa berbeda. Mungkin karena laki-laki itu jarang memuji. Mungkin karena selama ini ia terlalu dingin. Atau mungkin karena, tanpa Jenna sadari, ada bagian kecil dari hatinya yang memang ingin dilihat baik oleh suaminya.
Jenna menunduk lebih dalam.
“Terima kasih,” bisiknya.
Shaka memperhatikan Jenna yang tersipu.
Ada sesuatu yang hangat bergerak di dadanya.
Sesuatu yang asing, tetapi tidak buruk.
Malam itu, kamar mereka masih sama. Ranjang yang sama. Sofa yang sama. Lampu tidur yang sama. Namun jarak di antara mereka terasa sedikit berubah.
Tidak langsung hilang.
Tidak langsung dekat.
Tetapi ada satu lapisan dinding yang mulai retak perlahan.
Shaka berjalan ke arah sofa untuk mengambil bantalnya, tetapi sebelum duduk, ia kembali menoleh kepada Jenna.
“Kalau kamu tidak nyaman, kamu boleh memakainya lagi.”
Jenna mengangkat wajah, lalu menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa.”
Shaka terdiam.
Jenna menatap cadar di tangannya, lalu meletakkannya di meja kecil samping ranjang.
“Mungkin Jenna juga harus belajar percaya.”
Kalimat itu pelan, tetapi cukup membuat Shaka merasa tertampar halus.
Belajar percaya.
Padahal seharusnya ia yang lebih dulu memberi alasan agar dipercaya.
Shaka menatap Jenna lebih lembut dari biasanya.
“Saya juga.”
Jenna menoleh.
Shaka duduk di sofa, suaranya rendah saat melanjutkan, “Saya juga harus belajar.”
Tidak ada penjelasan panjang setelah itu.
Namun bagi Jenna, kalimat itu sudah berarti banyak.
Ia merebahkan tubuh di sisi kanan ranjang, kali ini tanpa cadar menutupi wajahnya. Shaka duduk di sofa, menatap langit-langit kamar dalam diam.
Di antara mereka, masih ada jarak.
Namun malam itu, jarak tersebut tidak lagi terasa seperti hukuman.
Lebih seperti jalan panjang yang mulai mereka sadari harus ditempuh bersama.
Dan sebelum tidur, Shaka kembali teringat wajah Jenna yang ia lihat dalam remang malam.
Bukan mimpi.
Bukan bayangan.
Istrinya benar-benar seindah itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak akad, Shaka merasa takut.
Bukan takut dikhianati.
Tetapi takut terlambat menyadari bahwa perempuan sebaik Jenna adalah anugerah yang tidak boleh ia sia-siakan.