"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Happy reading guys
Bab 8: Jejak yang Terendus
Malam sudah sangat larut, tetapi Siska Amalia masih enggan beranjak dari sudut sebuah bar remang-remang di pinggiran Jakarta.
Jari-jarinya mencengkeram gelas alkohol di atas meja dengan begitu kuat, hingga kukunya memutih.
Sesekali ia meneguk isinya dengan kasar untuk meredakan gemuruh di dadanya, sementara matanya terus melirik ke arah pintu masuk dengan cemas.
Riasan wajahnya yang tebal mulai luntur oleh keringat dingin yang terus keluar di pelipisnya.
Dipecat secara tidak hormat oleh Devan di depan para direksi siang tadi benar-benar menghancurkan harga dirinya, namun ketakutan yang kini bersarang di kepalanya jauh lebih mengerikan dari sekadar kehilangan jabatan.
Seorang pria dengan jaket kulit hitam dan topi yang diturunkan rendah perlahan berjalan mendekat, lalu duduk tepat di hadapan Siska.
Kedatangan pria yang merupakan informan bayaran dari jaringan bawah tanah itu langsung membuat Siska memajukan tubuhnya demi menuntut kejelasan.
"Bagaimana hasilnya? Apa kamu sudah menemukan di mana jalang itu menyembunyikan anak-anaknya?!" desis Siska dengan suara tertahan, menatap tajam pria di depannya.
Pria itu tidak segera menjawab, Ia memberi isyarat kepada pramusaji untuk memesan minuman sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari balik jaketnya.
Ia menggeser amplop tersebut di atas meja marmer yang sedikit basah.
"Keluarga Wijaya bukanlah lawan yang mudah, Nona Siska. Mereka memiliki sistem pengamanan cyber dan barikade pengawal yang sangat ketat. Namun, saya berhasil mendapatkan data manifes kedatangan dari hotel milik korporasi mereka sendiri, Hotel Wijaya Internasional," jelas sang informan secara detail.
Siska dengan cepat menyambar amplop tersebut dan merobek ujungnya dengan tangan yang gemetar hebat.
Matanya menyusuri selembar kertas laporan di dalamnya dengan saksama.
"Rombongan Anastasia Wijaya menempati lantai Penthouse teratas. Seluruh lantai itu telah dikosongkan secara sepihak dan dijaga oleh dua belas pengawal bersenjata dari komando Wijaya Corps selama dua puluh empat jam," lanjut sang informan.
"Dan mengenai sepasang anak kembar yang Anda tanyakan... mereka terdaftar dengan nama Alta Wijaya dan Arka Wijaya. Tidak ada nama belakang Mahendra atau dokumen resmi yang mengaitkan mereka dengan pria lain di sana."
Mendengar nama "Alta" dan "Arka", dada Siska mendadak berdenyut menyakitkan akibat rasa panik yang kian mengganas.
Kemiripan fisik kedua anak itu dengan Devan saat insiden di koridor siang tadi,
ditambah dengan fakta bahwa Anastasia menyembunyikan mereka selama lima tahun di Singapura,
membuat teka-teki ini mengarah pada satu kesimpulan yang fatal bagi masa depannya.
Anak-anak itu adalah darah daging Devan Mahendra yang sah.
‘Jika Devan sampai berhasil menemui mereka lagi dan melakukan tes DNA secara mandiri, seluruh kebohonganku lima tahun lalu akan terbongkar! Dia akan tahu bahwa akulah yang menjebak Anya di kamar hotel malam itu!’ batin Siska menjerit histeris dalam keputusasaan yang ekstrem.
Siska meraba tas mewahnya, mengeluarkan seikat uang tunai pecahan seratus ribu dalam jumlah yang sangat besar, lalu mengempaskannya ke hadapan sang informan hingga menimbulkan bunyi bedebuk yang pelan.
"Saya ingin kamu melakukan satu hal lagi," ucap Siska, sepasang matanya berkilat penuh dengan intrik kelam yang mengerikan.
"Cari celah di pengamanan hotel itu. Saya tidak peduli bagaimana caranya, buat kekacauan kecil yang bisa memisahkan salah satu anak kembar itu dari pengawalnya. Setelah itu... bawa anak itu ke tempat yang aman. Kita butuh sandera untuk menekan Anastasia agar dia menarik kembali surat pembatalan investasinya, sekaligus menjauhkan anak-anak itu dari jangkauan Devan seumur hidup."
Pria berjaket kulit itu menatap tumpukan uang di hadapannya, lalu menyunggingkan senyum licik yang dingin.
"Urusan menculik pewaris Wijaya Corps memiliki risiko dihukum mati, Nona. Tapi dengan nominal yang tepat, tidak ada hal yang mustahil di kota ini. Saya akan menyiapkan tim inti malam ini juga."
Sementara itu, di dalam ruang kerja CEO Mahendra Group yang sunyi, Devan masih enggan untuk beranjak pulang.
Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun pria itu masih duduk terhenyak di kursi kebesarannya dengan bertemankan keheningan yang menyiksa batinnya.
Di atas meja kerjanya yang luas, kini telah tersusun beberapa salinan dokumen medis usang yang baru saja diantarkan oleh Rian beberapa menit lalu.
Dokumen tersebut adalah salinan arsip rekam medis Rumah Sakit Pusat Wijaya tepat pada malam badai lima tahun lalu.
Devan membuka lembar demi lembar dokumen berstempel rahasia itu dengan jantung yang berdegup kencang, menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
Sepasang netra elangnya yang merah akibat kurang tidur mendadak terpaku pada satu kejanggalan besar pada lembar manifes korporasi.
Tercatat dengan jelas bahwa Angga Wijaya sendiri yang menandatangani perintah pemindahan seorang pasien wanita tanpa identitas dari ruang IGD menuju ruang operasi ICU terisolasi pada pukul dua dini hari—tepat satu jam setelah Devan mengusir Anya dari kediamannya di bawah guyuran hujan badai.
Di lembar berikutnya, terdapat catatan manipulasi sistem keuangan di mana yayasan Wijaya memberikan santunan tunai dalam jumlah fantastis kepada keluarga korban kecelakaan bus kota di malam yang sama, dengan syarat manifes korban tewas harus menyertakan nama "Anya".
Benang merah yang selama lima tahun ini terputus akibat konspirasi tingkat tinggi, kini mulai terajut dengan begitu benderang di hadapan Devan.
‘Kecelakaan bus itu... tubuh yang hangus terbakar hingga tidak bisa dikenali... itu semua adalah rekayasa rahasia Keluarga Wijaya untuk menyembunyikan Anya dariku!’
Kesadaran itu menghantam mental Devan bagaikan godam besi yang menghancurkan seluruh sisa dinding egonya.
Air mata penyesalan yang mendalam kembali mengalir, membasahi dokumen medis di tangan tanpa bisa ditahan lagi.
"Anya... kamu tidak mati..." bisik Devan,
suaranya terdengar begitu parau, serak, dan bergetar hebat di tengah kesunyian ruangan.
Rasa bersalah yang teramat pekat mencengkeram ulu hatinya, menimbulkan rasa nyeri yang membuatnya nyaris kesulitan untuk meraup pasokan oksigen.
"Kamu diselamatkan oleh kakekmu... dan kamu melahirkan anak-anak kita sendirian di dalam ruang operasi darurat itu dalam kondisi kritis..."
Pria itu meremas dadanya sendiri yang berdenyut nyeri yang amat sangat. Pikiran tentang bagaimana perjuangan Anya yang sedang hamil tua delapan bulan,
berjalan tertatih-tatih di bawah guyuran hujan badai setelah diusir dan dicaci maki olehnya sebagai wanita murahan yang mengandung anak haram,
kini menjelma menjadi siksaan mental terbesar dalam hidup Devan.
Dia telah mengutuk darah dagingnya sendiri. Dia telah membuang wanita yang teramat mencintainya demi sebuah fitnah murahan yang belum pernah ia selidiki kebenarannya.
Devan bangkit berdiri dengan tubuh yang sedikit limbung akibat hantaman emosi yang luar biasa.
Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja dengan gerakan yang terburu-buru, mengabaikan seluruh formalitas sebagai seorang pimpinan korporasi raksasa.
"Tuan Besar, Anda mau ke mana dalam kondisi seperti ini?"
tanya Rian yang sejak tadi berjaga di depan pintu ruangan, tampak cemas melihat kondisi fisik dan mental atasannya yang begitu berantakan dan kacau.
"Situasi bursa saham besok pagi membutuhkan kehadiran Anda untuk menenangkan para komisaris—"
"Siapkan mobil sekarang juga, Rian! Saya tidak peduli dengan urusan bursa saham jahanam atau komite komisaris itu lagi!"
potong Devan dengan tegas, sepasang matanya memancarkan ketetapan hati yang tidak menerima bantahan sedikit pun dari siapa pun.
"Saya harus pergi ke Hotel Wijaya Internasional malam ini juga. Saya harus menemui Anastasia. Walaupun saya harus berlutut sampai kedua kaki saya mati rasa di hadapannya di tengah lobi, saya harus memohon ampun padanya dan anak-anakku."
"Tapi Tuan Besar, pengawalan di hotel milik Keluarga Wijaya itu sangat ketat dan berlapis. Pihak Wijaya Corps pasti akan langsung mengusir Anda secara paksa jika Anda membuat keributan," Rian mencoba memperingatkan secara logis demi keselamatan atasannya.
"Kalau begitu biarkan mereka mengusirku! Biarkan para pengawal itu memukuliku sampai mati jika itu bisa meredakan sedikit saja rasa benci dan luka di dalam hati Anya!"
raung Devan dengan emosi yang meledak-ledak sebelum melangkah lebar meninggalkan koridor kantornya menuju lift khusus karyawan.
Badai yang baru kini tengah bersiap menerjang Hotel Wijaya Internasional.
Devan bergerak membelah malam dengan seluruh penyesalan yang menghancurkan jiwanya, sementara di sudut lain kota, belati kejahatan kelompok bayaran Siska telah mulai diarahkan pada si kembar Alta dan Arka.
Di atas lantai Penthouse yang tenang, Anastasia Wijaya masih belum menyadari bahwa malam ini,
benteng pertahanan yang ia bangun selama lima tahun akan segera diuji oleh kedatangan sang mantan suami dan bahaya yang mengintai putra-putranya dari kegelapan.
Bersambung.........
Jangan lupa tinggalin jejak