NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Hujan badai malam itu seolah menjadi saksi bisu runtuhnya ego seorang Arkananta Mahendra. Di dalam mobil sport hitamnya yang melaju tanpa arah di bawah guyuran hujan deras, Arkan mencengkeram erat setir mobil. Buku-buku jarinya memutih, dan napasnya terdengar berat serta patah-patah.

Pikiran Arkan sepenuhnya kacau. Bayangan Milly yang polos, yang biasanya selalu menyambutnya dengan senyuman hangat walau kadang bertingkah sedikit lambat, kini berkelebat di benaknya. Namun, ingatan itu langsung terpotong oleh ancaman dingin Milly di telepon umum tadi.

“...Anda hanya akan mendapatkan jasad saya, Pak Suami.”

"Sialan!" raung Arkan, menghantam setir mobilnya dengan keras hingga klakson berbunyi nyaring membelah keheningan malam.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya. Pria dingin yang ditakuti di dunia bisnis itu kini tampak begitu rapuh. Ia menyadari satu hal yang teramat terlambat dengan memenjarakan Milly di dalam lingkaran obsesi dan proteksinya yang berlebihan, ia justru perlahan membunuh jiwa gadis itu. Milly bukan lagi merasa dilindungi, melainkan tercekik oleh ketakutan akan status kontrak mereka.

Arkan menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi. Ia mengambil ponselnya yang retak, lalu menghubungi Bara dengan suara yang sangat rendah, hampir berbisik namun sarat dengan perintah yang mutlak.

"Bara... cari dia," ucap Arkan, suaranya bergetar menahan tangis. "Tapi kali ini, tarik semua pengawal berjas. Jangan gunakan kamera pengawas publik atau melacaknya dengan kekerasan. Cari dia secara senyap, seperti embun yang tidak bersuara."

"Presdir? Apakah kami harus membawanya kembali jika sudah menemukannya?" tanya Bara di seberang sana dengan nada ragu.

Arkan memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan nyeri yang teramat sangat di dadanya. "Tidak. Cukup pastikan dia aman. Pastikan tempatnya hangat, pastikan dia tidak kelaparan, dan pastikan tidak ada satu pun orang jahat yang bisa mendekatinya. Jangan biarkan dia tahu kalau aku mengawasinya. Biarkan dia berpikir dia berhasil lari dariku."

Sementara itu, di sebuah sudut sempit rumah susun tua di pinggiran Jakarta Utara, Milly sedang duduk di lantai beralaskan tikar tipis. Kipas angin tua di dinding berputar dengan suara berderit yang konstan, mengusir udara pengap di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu.

Milly mencoba menyibukkan diri dengan membantu Ibu Nur melipat pakaian-pakaian bekas layak pakai yang akan disumbangkan. Namun, pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Fokusnya buyar, membuat tangannya beberapa kali salah melipat dan menjatuhkan tumpukan baju.

"Aduh, Milly... kamu ini memang tidak berubah ya, masih saja ceroboh," ujar Ibu Nur lembut sembari tersenyum maklum. "Pikiranmu sedang terbang ke mana, Nak?"

Milly tersentak kecil, lalu memberikan cengiran khasnya yang sedikit kaku. "Eh, maaf, Bu Nur. Milly cuma sedikit mengantuk."

Milly menatap jari manisnya yang kini terasa sangat ringan tanpa cincin berlian berukir nama Mahendra yang biasa melingkar di sana. Ada rasa lega karena ia akhirnya berhasil menyelamatkan diri dari takdir menjadi wanita yang didepak setelah kontrak usai. Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada kekosongan besar yang tidak bisa ia pungkiri.

Setiap kali mendengar suara deru mobil yang lewat di bawah rusun, jantung Milly bertalu cepat, takut jika itu adalah rombongan pengawal hitam milik Arkan yang datang untuk menyeretnya kembali. Namun, setelah berhari-hari berlalu, mansion Mahendra tampak sangat tenang. Tidak ada pengepungan, tidak ada teror ke panti asuhan.

Apakah dia benar-benar sudah melepaskanku? batin Milly, dadanya mendadak terasa sesak oleh pikiran itu. Bukankah ini yang kuinginkan? Tapi kenapa rasanya sesakit ini?.

Malam berikutnya, demam tinggi mendadak menyerang tubuh Milly. Mungkin karena kelelahan fisik dan tekanan batin yang ia pendam sendiri selama pelariannya, tubuh mungilnya akhirnya tumbang. Ibu Nur yang panik segera keluar di tengah malam yang gerimis untuk mencari obat di apotek terdekat.

Milly berbaring di atas kasur busa yang tipis, tubuhnya menggigil hebat di bawah selimut lusuh. Kesadarannya mulai timbul tenggelam. Dalam igauannya, ia terus memanggil satu nama yang paling ingin ia lupakan.

"Pak Suami... dingin... jangan buang Milly..." isaknya pelan dengan air mata yang meleleh di sudut matanya yang terpejam.

Tanpa Milly ketahui, di koridor luar rusun yang gelap dan sepi, sesosok pria tinggi dengan jaket hitam biasa tanpa setelan jas mewah senilai ratusan juta sedang berdiri bersandar di dekat pintu kamar nomor 402. Pria itu adalah Arkananta Mahendra.

Arkan sudah berada di sana sejak kemarin, menyewa kamar rusun tepat di sebelah kamar Milly secara rahasia melalui nama samaran. Ia sengaja memangkas semua fasilitas mewahnya hanya untuk bisa berada sedekat mungkin dengan istrinya tanpa memicu ketakutan gadis itu.

Mendengar suara erangan lirih Milly dari balik pintu yang tipis, pertahanan Arkan runtuh seketika. Dengan langkah tergesa namun sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik, Arkan membuka pintu kamar yang sengaja tidak dikunci rapat oleh Ibu Nur.

Arkan melangkah masuk, lalu berlutut di samping kasur busa Milly. Jantungnya mencelos melihat wajah pucat istrinya yang kini dipenuhi keringat dingin.

Dengan tangan yang gemetar karena rasa rindu dan bersalah yang mendalam, Arkan mengulurkan jemarinya. Ia mengusap dahi Milly yang terasa sangat panas, menyeka air mata di pipi gadis itu dengan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini.

"Aku di sini, Sayang... Pak Suami di sini," bisik Arkan lirih, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia mengecup punggung tangan Milly yang terasa begitu dingin. "Maafkan aku... maaf karena telah membuatmu ketakutan."

Milly sedikit melenguh, merasakan sentuhan hangat yang sangat ia kenali dalam mimpinya. Namun sebelum kesadaran Milly pulih sepenuhnya akibat efek demam, Arkan segera menarik tangannya dan mundur kembali ke dalam kegelapan malam, menyisakan kehangatan yang asing di kening Milly saat gadis itu perlahan membuka matanya yang sayu.

Ketika kelopak mata Milly terbuka dengan susah payah, pandangannya masih kabur oleh sisa-sisa efek demam. Langit-langit tripleks kamar rusun yang menguning menyambutnya, diiringi suara decit kipas angin tua yang kini terdengar lebih bersahabat. Milly berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat melayang jauh.

Ia menyentuh keningnya sendiri. Di sana, rasa panas tubuhnya memang belum sepenuhnya hilang, tetapi ada sensasi dingin yang menenangkan, seolah baru saja ada telapak tangan kokoh yang mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

"Aroma ini..." gumam Milly lirih.

Napasnya tertahan. Hidungnya yang sensitif menangkap sekelebat aroma kayu cendana yang sangat samar, bercampur dengan wangi maskulin yang teramat ia kenali. Itu adalah aroma tubuh Arkan. Aroma yang selalu mendekapnya setiap malam di mansion mewah Mahendra.

Milly menoleh ke samping dengan panik, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya. Namun, ruangan itu kosong. Hanya ada Ibu Nur yang baru saja melangkah masuk membawa kantong plastik berisi obat-obatan dan sebungkus bubur ayam hangat.

"Lho, Milly? Kamu sudah bangun, Nak? Jangan banyak bergerak dulu, badanmu masih sangat panas," ujar Ibu Nur cemas, segera meletakkan kantong belanjaannya dan duduk di tepi kasur busa.

"Bu Nur..." suara Milly parau, nyaris habis. "Tadi... apa ada orang lain yang masuk ke kamar ini saat Ibu pergi?"

Gerakan tangan Ibu Nur yang sedang membuka bungkus obat sempat terhenti sekejap, namun wanita tua itu segera menguasai ekspresi wajahnya. Sesuai instruksi rahasia dari pria berjaket hitam yang ia temui di koridor tadi yang telah membayar seluruh biaya pengobatan Milly dan menjamin keamanan panti asuhan tanpa meminta imbalan apa pun Ibu Nur harus tetap tutup mulut.

"Orang lain siapa, Milly? Di rusun ini kan pintunya memang sedikit rusak, mungkin angin gerimis tadi yang masuk membuatmu merasa ada orang," dusta Ibu Nur selembut mungkin sembari mengompres kembali dahi Milly dengan kain basah. "Sudah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Minum obatmu lalu makan bubur ini."

Milly kembali memejamkan mata, membiarkan kain kompresan mendinginkan dahinya. Di dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Milly, sadarlah. Kamu sudah melarikan diri darinya. Pria sedingin Arkananta Mahendra tidak akan mungkin sudi menginjakkan kaki di tempat kumuh seperti ini hanya untuk melihat wanita yang sudah mencampakkannya.

Di balik dinding semen tipis yang membatasi kamar nomor 402 dan 403, Arkan duduk di atas kursi plastik usang. Ponselnya yang retak diletakkan di atas meja kayu kecil, menampilkan laporan perkembangan kondisi kesehatan Milly yang dikirimkan oleh dokter pribadi yang sengaja ia sewa untuk memantau dari jauh.

Mendengar suara batuk kecil Milly dan percakapan gadis itu dengan Ibu Nur dari balik dinding, Arkan perlahan menyandarkan kepalanya. Setelan jas mahalnya telah berganti dengan kaos hitam polos dan celana jeans berdebu. Garis wajahnya tampak luar biasa lelah, namun sorot matanya yang biasa dingin kini memancarkan kelembutan yang menyakitkan.

“Aroma ini...”

Suara lirih Milly yang sempat mengenali aromanya tadi membuat dada Arkan berdenyut ngilu. Pria itu menatap telapak tangannya sendiri. Ia sangat ingin kembali masuk, mendekap tubuh mungil yang menggigil itu ke dalam pelukannya, dan membawanya pulang ke tempat tidur mereka yang layak. Namun, ancaman Milly tentang "hanya akan mendapatkan jasad" menahan seluruh ego dan tubuhnya untuk tidak melangkah lebih jauh.

"Presdir," sebuah pesan teks masuk dari Bara. "Clarissa Gunarto sudah resmi ditahan malam ini atas dugaan keterlibatan penggelapan pajak keluarga mereka. Aset mansion utama Mahendra juga sudah dalam proses pengalihan ke akun pribadi Anda."

Arkan melirik pesan itu dengan tatapan datar tanpa minat. Kehancuran musuh-musuhnya dan kepemilikan mutlak atas harta Mahendra yang dahulu menjadi ambisinya, kini terasa hambar. Semua kemewahan itu tidak ada artinya jika singgasana di sampingnya kosong tanpa kehadiran gadis ceroboh yang dicintainya.

"Biarkan saja," balas Arkan singkat. "Fokuskan seluruh tim untuk menjaga perimeter rusun ini dari jauh. Jangan sampai ada lalat pun yang mengganggu istirahat Milly."

Satu minggu berlalu, dan kondisi fisik Milly berangsur-angsur pulih sepenuhnya. Mode "Gadis Panti Taktis" di dalam dirinya kembali aktif. Ia tidak bisa selamanya menumpang di rusun Ibu Nur dan hidup dari sisa tabungan tunainya yang mulai menipis. Milly harus mencari pekerjaan untuk menyambung hidup dan membantu anak-anak panti secara mandiri.

Pagi itu, dengan mengenakan kemeja katun sederhana yang sedikit pudar dan rok kain panjang, Milly mengikat rambutnya ke belakang. Ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di area pasar swalayan kecil yang terletak beberapa blok dari rusun.

"Bu Nur, Milly berangkat kerja dulu, ya! Hari ini ada wawancara untuk posisi staf administrasi gudang di swalayan depan," pamit Milly dengan semangat yang dipaksakan.

"Hati-hati, Milly. Jangan terlalu lelah, badanmu baru saja sembuh," pesan Ibu Nur hangat.

Milly berjalan menyusuri tangga rusun yang berdebu dengan langkah ringan. Di depan gerbang swalayan, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa babak baru kehidupannya tanpa embel-embel nama Mahendra telah dimulai.

Namun, yang tidak pernah Milly sadari adalah, pemilik swalayan kecil tempat ia melamar kerja itu baru saja berganti kepemilikan secara mendadak tadi malam. Mahendra Group telah membeli seluruh saham swalayan tersebut dalam waktu tiga jam, hanya demi memastikan bahwa manajer gudang yang akan mewawancarai Milly hari ini tidak akan memberikan pekerjaan yang terlalu berat atau membentak gadis itu jika ia kembali melakukan kecerobohan.

Dari dalam mobil umum yang terparkir agak jauh di seberang jalan, mata elang Arkananta terus mengawal setiap jengkal langkah kaki Milly, menjadi malaikat pelindung tak kasat mata di dalam kegelapan pelarian sang istri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!