NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam itu, suasana di rumah Elio sudah benar-benar sunyi. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik dari halaman luar dan hembusan angin malam yang berdesir lembut melewati jendela. Semua lampu ruang tamu dan lorong sudah dimatikan, menyisakan hanya cahaya remang dari lampu tidur yang dipasang redup di setiap kamar. Kakek Baskara sudah terlelap sejak pukul sembilan malam, dan seluruh pembantu rumah tangga pun sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Di dalam kamar Alena, suasana terasa tenang dan damai. Gadis itu sudah berbaring di atas tempat tidur empuknya, memeluk erat boneka kelinci pemberian Elio yang kini menjadi teman setianya setiap malam. Setelah seharian penuh beraktivitas di sekolah dan menghadapi berbagai kejadian yang membuat jantungnya berdebar kencang, tubuh dan pikirannya terasa sangat lelah. Tak lama setelah memejamkan mata, ia pun perlahan terhanyut ke dalam alam mimpi yang tenang.

Sementara itu, di kamar sebelah, Elio justru masih terjaga. Pikirannya terus melayang memikirkan Alena. Sejak kejadian di perpustakaan tadi siang, perasaan dan keinginannya terhadap gadis itu terasa semakin membesar dan sulit dikendalikan. Ia sadar dirinya seolah sudah ketagihan untuk mendekati, menyentuh, dan merasakan kehangatan tubuh Alena. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajah manis dan reaksi polos gadis itu selalu muncul di benaknya, membuatnya sulit untuk segera terlelap.

“Aduh, kenapa rasanya semakin sulit untuk menahan diri ya?” gumam Elio pada dirinya sendiri sambil duduk di tepi tempat tidur, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Baru saja berpisah beberapa jam, tapi rasanya sudah ingin melihatnya lagi.”

Setelah berguling-guling di tempat tidur selama hampir satu jam tanpa bisa tidur, akhirnya keinginan itu mengalahkan rasa takutnya untuk ketahuan. Dengan langkah yang sangat hati-hati dan pelan, Elio melangkah keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong gelap dengan cahaya minim, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan siapa pun. Begitu sampai di depan pintu kamar Alena, ia berhenti sejenak, mendengarkan suara dari dalam. Tidak ada suara apa pun selain napas teratur yang menandakan gadis itu sudah tertidur pulas.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Elio memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan hingga terbuka cukup untuk ia masuk. Ia melangkah masuk dan menutup kembali pintu dengan hati-hati, hingga ruangan itu kembali sunyi seperti semula. Cahaya remang dari lampu tidur yang terpasang di sudut kamar cukup untuk membuatnya melihat sosok Alena yang terbaring miring membelakangi pintu.

Melihat pemandangan itu, senyum tipis langsung terukir di bibir Elio. Wajah Alena terlihat sangat damai dan polos saat tidur, rambutnya terurai indah di atas bantal, dan tubuhnya yang tertutup baju tidur berbahan katun tipis terlihat sangat lembut. Jantung Elio berdegup sedikit lebih kencang, namun perasaan itu bercampur dengan rasa damai yang sulit dijelaskan.

“Cantik sekali bahkan saat sedang tidur,” bisik Elio pelan, suaranya hanya cukup terdengar oleh dirinya sendiri.

Tanpa membuang waktu lagi, Elio melangkah mendekati tempat tidur, lalu perlahan mengangkat selimut dan berbaring di sisi kosong yang tersedia. Ia bergerak sangat pelan agar tidak menggetarkan kasur terlalu banyak, hingga akhirnya posisinya tepat berada di belakang tubuh Alena. Dengan perasaan yang campur aduk antara gembira dan sedikit gugup, Elio melingkarkan kedua lengannya dan memeluk pinggang Alena dari belakang, menarik tubuh gadis itu mendekat hingga menempel rapat pada tubuhnya sendiri.

Kehangatan yang langsung terasa membuat Elio menghela napas panjang, merasa seolah menemukan tempat yang paling pas untuk beristirahat. Ia menempelkan dahinya di punggung Alena, menikmati aroma sabun dan wangi alami tubuh gadis itu yang menenangkan.

Namun, kehangatan dan sentuhan itu tidak luput dari perhatian Alena. Meskipun awalnya ia mengira hanya mimpi, namun rasa pelukan yang nyata dan hangat perlahan membuat kesadarannya kembali bangun. Matanya perlahan terbuka, dan ia merasakan adanya lengan yang melingkar erat di pinggangnya serta tubuh lain yang menempel rapat di punggungnya.

Jantung Alena langsung berdegup kencang. Ia menoleh perlahan ke belakang, dan matanya terbelalak lebar saat melihat wajah Elio yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari dirinya.

“Elio?! Kamu… kenapa ada di sini? Bagaimana bisa masuk ke kamarku?” tanya Alena dengan suara berbisik yang terkejut, matanya melotot menatap pemuda itu. Jantungnya berpacu cepat karena terkejut dan bingung.

Elio hanya tersenyum santai, tidak terlihat sedikit pun merasa bersalah atau ketahuan. Ia malah mempererat pelukannya sedikit sambil menjawab dengan nada lembut dan sedikit menggoda.

“Kenapa terkejut begitu? Aku hanya merasa tidak bisa tidur sendirian, jadi aku datang menemani kamu. Lagipula, kita akan segera bertunangan, kan? Jadi tidak apa-apa kalau tidur berdampingan seperti ini,” jawab Elio dengan nada tenang seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

Alena masih tertegun, belum sempat memprotes atau mengusir Elio, namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang membuatnya semakin bingung dan terkejut. Di bagian belakang tubuhnya, tepatnya di area pinggul dan paha, terasa ada benda yang keras, padat, dan menonjol yang menempel cukup nyata di sana. Karena posisi mereka yang menempel rapat, rasanya sangat jelas dan tidak bisa diabaikan.

Alena mengerutkan kening, pikirannya mulai bekerja keras mencoba menebak benda apa itu. Ia mencoba menggerakkan pinggangnya sedikit untuk menjauh, namun justru membuat benda itu terasa semakin menekan dan terasa nyata. Ia menoleh lagi ke belakang, matanya menatap Elio dengan tatapan bingung polos, lalu dengan suara lirih dan penuh rasa ingin tahu yang naif, ia bertanya.

“Elio… apa itu? Kenapa ada benda keras yang menempel di belakangku? Rasanya aneh dan terasa sangat jelas. Apakah kamu membawa benda keras di dalam celanamu? Atau ada sesuatu yang mengganjal?” tanya Alena dengan nada sungguh-sungguh, benar-benar tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan.

Mendengar pertanyaan polos dan lugu itu, Elio tidak bisa menahan tawa kecil yang keluar dari tenggorokannya. Ia tertawa pelan namun jelas, membuat bahunya sedikit berguncang karena menahan tawa agar tidak terlalu keras. Tatapannya menatap wajah Alena yang terlihat bingung dan polos itu dengan pandangan yang semakin lembut dan penuh godaan.

Ia mendekatkan bibirnya tepat di telinga Alena, lalu membisikkan kalimat dengan suara yang rendah, berat, dan penuh makna yang membuat bulu kuduk Alena langsung merinding.

“Itu bukan benda asing, sayang. Itu milikku. Bagian dari tubuhku yang akan semakin terasa keras dan nyata setiap kali aku merasa dekat denganmu, setiap kali aku memelukmu seperti ini, atau setiap kali aku merasakan kehangatan tubuhmu yang lembut ini,” bisik Elio perlahan, nadanya terdengar lembut namun penuh gairah yang terpendam.

Penjelasan itu membuat Alena langsung mengerti apa yang dimaksudkan. Wajahnya yang tadi masih terlihat bingung, seketika berubah menjadi sangat merah padam hingga ke telinga dan lehernya. Ia merasakan tubuhnya seketika menegang kaku, seolah tidak tahu harus bergerak ke mana. Rasa malu yang luar biasa menyelimuti hatinya, membuat napasnya terasa tertahan dan jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

“Ya ampun… jadi itu… itu…” gumam Alena terbata-bata, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Rasa malu itu membuatnya ingin segera menjauh sejauh mungkin dari tubuh Elio, namun ia juga merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dengan gerakan yang tergesa namun terasa kaku, Alena mencoba mendorong tubuh Elio dan menggeser badannya ke sisi tempat tidur yang kosong, berusaha menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari benda yang baru diketahuinya itu.

“Jangan dekat-dekat lagi! Jauh sedikit, Elio! Rasanya malu sekali… kenapa bisa menjadi seperti itu?” seru Alena dengan suara berbisik namun terdengar sedikit panik, wajahnya masih tertunduk dalam-dalam.

Namun, usaha Alena untuk menjauh tidak membuahkan hasil. Begitu ia berusaha menggeser tubuhnya, Elio justru mempererat pelukannya dengan sangat kuat, tidak memberikan celah sedikit pun untuk Alena lepas. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang gadis itu, menahan tubuhnya agar tetap menempel rapat pada dirinya. Bahkan, ia justru mendekatkan tubuhnya lebih erat lagi, membuat jarak di antara mereka seolah tidak ada lagi.

“Jangan berusaha menjauh, Alena. Tidak ada gunanya,” bisik Elio sambil menempelkan wajahnya di leher Alena, menghirup aroma wangi yang membuatnya semakin tenang. “Semakin kamu menjauh, rasanya justru semakin terasa nyata. Lagipula, ini hal yang wajar terjadi pada pria yang sedang mencintai dan mendekati wanitanya. Kamu tidak perlu takut atau malu, karena ini hanya milikmu dan hanya akan terasa seperti ini untukmu saja.”

Alena tetap berusaha memberontak pelan, meskipun ia sadar tenaganya tidak sekuat Elio. Ia meremas selimut di tangannya sambil tetap menunduk, wajahnya masih terasa sangat panas.

“Tapi rasanya aneh dan membuatku gugup sekali… Tolong jangan dipeluk seerat ini, Elio. Rasanya jantungku mau copot saja,” rengek Alena dengan suara lirih yang terdengar menggemaskan di telinga Elio.

Mendengar suara rengekan itu, Elio tertawa lagi pelan. Ia mengendurkan sedikit kekuatan pelukannya namun tetap tidak melepaskan genggamannya sepenuhnya, cukup untuk membuat Alena merasa aman namun tetap tidak bisa menjauh. Tangannya mulai bergerak lembut, mengusap perut dan pinggang Alena dengan gerakan menenangkan, berusaha meredakan rasa gugup dan kaku yang melanda tubuh gadis itu.

“Lihat, lihatlah aku. Tidak ada yang perlu ditakutkan, ya?” bujuk Elio lembut. “Aku tidak akan melakukan hal yang menyakiti atau membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya ingin memelukmu, merasakan bahwa kamu benar-benar ada di sini, di sampingku. Hal yang terjadi pada tubuhku ini hanyalah bukti betapa besarnya rasa cintaku dan keinginanku padamu. Semakin dekat aku denganmu, semakin aku menginginkanmu.”

Perlahan namun pasti, usapan lembut dan kata-kata menenangkan Elio mulai mempan. Rasa kaku di tubuh Alena perlahan hilang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Meskipun rasa malu itu masih ada dan wajahnya tetap memerah, ia mulai menyadari bahwa tidak ada niat buruk di balik tindakan Elio. Pria itu hanya ingin dekat dan merasa nyaman bersamanya, sama seperti perasaannya sendiri.

Alena berhenti memberontak, lalu perlahan mengendurkan tubuhnya agar bisa bersandar kembali pada pelukan Elio. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan dirinya terbungkus dalam kehangatan lengan pria itu. Napasnya mulai teratur kembali, meskipun detak jantungnya masih berdegup lebih cepat dari biasanya.

“Kamu ini benar-benar membuatku terkejut setiap kali, Elio. Mulai dari menyelinap masuk, sampai hal yang baru saja terjadi… kamu benar-benar membuatku tidak bisa berpikir jernih,” gumam Alena pelan, suaranya terdengar lebih tenang namun masih menyisakan rasa malu.

Elio tersenyum puas, lalu mencium lembut bagian belakang leher Alena yang terasa hangat. “Maafkan aku kalau membuatmu kaget. Tapi percayalah, kalau aku tidak melakukannya, aku tidak akan bisa tidur semalaman. Sekarang, tutup matamu dan tidurlah. Aku akan tetap di sini, memelukmu sampai pagi. Tidak akan ke mana-mana.”

Mereka berdua pun akhirnya terdiam, menikmati keheningan malam yang dipenuhi dengan kehangatan dan kedekatan yang baru saja mereka lalui. Alena tetap merasakan keberadaan tubuh Elio yang menempel di belakangnya, dan sesekali ia masih merasakan benda keras itu yang tidak kunjung hilang, namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa dan menganggapnya sebagai bagian dari kehadiran Elio yang melindunginya.

Di dalam hati Alena, ia menyadari bahwa hubungan mereka kini semakin mendalam dan semakin dekat. Setiap kejadian yang membuatnya terkejut, malu, atau bahkan sedikit panik, justru menjadi bukti bahwa ikatan cinta mereka semakin kuat dan nyata. Meskipun terkadang tingkah Elio terasa nakal dan berani, ia tahu bahwa di balik semua itu tersimpan rasa sayang yang tulus dan kesungguhan hati untuk menjaganya selamanya.

Sementara itu, Elio memejamkan matanya dengan senyum bahagia terukir di wajahnya. Ia merasa sangat puas dan tenang bisa memeluk gadis yang paling dicintainya seerat ini. Ia berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan menjaga batas dan tidak melampaui hal yang tidak diinginkan Alena, namun ia juga tidak akan pernah berhenti mendekati dan mencurahkan seluruh rasa cintanya dengan cara apa pun yang ia bisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!