NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Detonasi Dendam Purba

Bunyi *bip* pendek dari tabung perak di tangan Alexei Volkov terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian kompleks pemakaman yang mencekam. Detik itu juga, waktu seolah berjalan melambat. Seringai mematikan di wajah Arsen Valentino menjadi pemandangan terakhir sebelum kegelapan malam di sayap selatan kota itu pecah oleh kilatan cahaya jingga yang membutakan.

*Duar!!!*

Ledakan dahsyat mengguncang tanah pemakaman, meruntuhkan pilar-pilar batu granit hitam dan melemparkan tubuh beberapa pasukan taktis Volkov ke udara seperti boneka perca. Tabung perak yang dicuri Valeria ternyata bukan berisi cetak biru teknologi, melainkan bom termobarik mini yang dirancang khusus oleh faksi Valentino untuk memusnahkan target dalam radius dekat. Gelombang kejutnya yang masif menghantam sisa-sisa bangunan mausoleum tua, menciptakan badai debu, api, dan serpihan batu yang berhamburan ke segala arah.

"Nona, merunduk!" teriak Marco, menggunakan tubuhnya sendiri untuk memayungi Arunika di balik reruntuhan dinding batu tempat mereka bersembunyi.

Hantaman debu dan hawa panas yang menyengat membuat Arunika terbatuk hebat.

Telinganya berdengung panjang, meredam suara jeritan histeris dan erangan kesakitan para pengawal Rusia yang terkena dampak ledakan langsung. Ketika kepulan asap hitam mulai sedikit menipis, pemandangan di depan pusara ibu Arsen tampak begitu kacau dan mengerikan.

Alexei Volkov terkapar di tanah, jubah bulu beruangnya terbakar sebagian, sementara lengan kanan yang digunakannya untuk memegang tabung tadi hancur bersimbah darah. Pria raksasa itu menggeram kesakitan seperti serigala yang sekarat, mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang dia miliki.

Di sisi lain, Valeria terlempar beberapa meter ke arah timur, gaun hitamnya robek dan dipenuhi noda abu tanah makam. Namun, dengan ketahanan fisik yang luar biasa, wanita itu berhasil menegakkan tubuhnya kembali, batuk memuntahkan darah segar sambil menatap Arsen dengan pandangan penuh amarah yang menyala-nyala.

"Kau... kau gila, Arsen!" jerit Valeria, suaranya parau membelah sisa dengung ledakan. "Kau menghancurkan makam ibumu sendiri demi membunuh kami?!"

Arsen Valentino melangkah tegap menembus kobaran api kecil yang menyala di atas rumput makam yang kering. Wajah tampannya yang terbias cahaya api tampak begitu dingin, tanpa ada sedikit pun penyesalan atas hancurnya kompleks pusara suci tersebut. "Ibuku sudah tenang di atas sana, Valeria. Dan dia tidak akan keberatan jika rumah sementaranya ini dijadikan tempat pembantaian untuk anjing-anjing yang telah merenggut nyawanya sepuluh tahun lalu."

Arsen mengarahkan senapan serbunya laras pendek tepat ke arah dada Valeria, siap menarik pelatuk untuk mengakhiri takdir wanita yang disebut-sebut sebagai pembunuh ibunya itu.

"Tunggu, Arsen!" sebuah teriakan parau menggelegar dari atas pilar batu yang masih berdiri kokoh.

Katarina Vane melompat turun dari ketinggian dengan gerakan yang sangat tangkas untuk wanita seusianya. Dia mendarat tepat di antara Arsen dan Valeria, memegang sepasang pistol semi-otomatis yang diarahkan masing-masing ke arah Arsen dan ke arah... Valeria sendiri.

Arunika yang melihat momen itu dari balik persembunyiannya tidak bisa lagi menahan diri. Rasa penasaran, amarah atas kebohongan identitasnya, dan keputusasaan yang mendalam mendorongnya untuk keluar dari balik reruntuhan dinding batu, mengabaikan tarikan tangan Marco yang mencoba mencegahnya.

"Ibu... Kak Valeria... katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!" jerit Arunika, suaranya melengking tinggi, memecah ketegangan berdarah di tengah makam. Air matanya menetes deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu ledakan. "Siapa aku sebenarnya?! Mengapa kalian memperlakukanku seperti sampah yang bisa ditukar-tukar?!"

Mendengar suara Arunika, ketiga orang di tengah makam itu secara serentak menoleh.

Katarina Vane menatap Arunika dengan sepasang mata yang mendadak melunak, sebuah tatapan sarat akan rasa bersalah yang teramat dalam yang belum pernah diperlihatkannya selama ini. "Arunika... putri kecilku... maafkan Ibu. Kau bukan anak yang dipungut dari jalanan seperti yang dikatakan Rangga. Kau adalah darah dagingku sendiri. Anak kandung dari Katarina Vane."

Kepala Arunika mendadak pening. "Lalu... lalu jika aku anakmu, siapa Valeria?!"

Katarina mengalihkan pandangan matanya yang tajam dan dipenuhi kebencian lurus ke arah Valeria yang sedang menyeka darah di sudut bibirnya. "Dia adalah anak dari mendiang pemimpin tertinggi faksi Volkov terdahulu. Anak kandung Rusia yang diadopsi oleh Baskoro sepuluh tahun lalu sebagai bagian dari perjanjian politik rahasia untuk menyembunyikan identitas asli sang pewaris takhta Volkov!"

*Plot twist* gila itu kembali menghantam isi kepala Arunika hingga dia merasa dunianya benar-benar terbalik lagi. Jadi, selama ini dialah sang pewaris darah Eclipse yang asli, sementara Valeria—kakak yang selalu dianggapnya sebagai anak kesayangan Baskoro—adalah darah murni dari musuh terbesar faksi Valentino!

"Baskoro sengaja menukar posisi kalian sejak bayi," lanjut Katarina dengan suara yang bergetar penuh amarah purba. "Dia tahu faksi Valentino akan memburu seluruh keturunanku setelah pembantaian malam itu. Jadi, dia mengukir tanda bulan sabit merah palsu di bahu Valeria saat dia masih kecil, dan membiarkan dunia bawah tanah mengira dialah anakku. Namun, saat utang judinya membengkak dua puluh miliar, tua bangka itu panik. Dia tahu Arsen adalah pria yang teliti. Dia takut Arsen akan mengetahui bahwa Valeria adalah seorang Volkov, maka dia membuat sandiwara ganda... dia membuat tanda lahir palsu baru di bahumu, Arunika, mengubah namamu dalam paspor, dan menyerahkanmu sebagai tumbal agar Valeria yang asli bisa lolos ke Eropa membawa aset faksi Valentino!"

Emosi Arunika naik turun seperti roller coaster yang kehilangan rem. Rasa benci yang amat sangat pada Baskoro kembali membubung tinggi di dalam dadanya. Pria paruh baya yang selama ini dia panggil 'Ayah' ternyata telah merancang skenario paling biadab untuk menjadikannya perisai hidup bagi anak dari faksi musuh mereka sendiri!

Valeria mendengar penuturan itu justru tertawa rendah, sebuah tawa yang begitu dingin dan manipulatif yang menggema mengerikan di antara nisan-nisan marmer. "Kisah fiksi yang sangat bagus, Ibu kandungku yang malang. Tapi ada satu hal kecil yang kau lupakan dalam dongengmu ini."

Valeria perlahan bangkit berdiri, tangannya bergerak ke balik gaun hitamnya yang robek, mengeluarkan sebuah perangkat perekam digital kecil yang berkilau perak. "Sepuluh tahun lalu, saat mansion Valentino terbakar, orang yang menarik pelatuk senjata ke arah ibu Arsen bukan Katarina Vane. Dan bukan juga anak kecil bernama Valeria."

Valeria menekan tombol *play* pada perangkat tersebut, mengarahkan pengeras suaranya ke arah Arsen yang masih berdiri dengan senapan terkokang.

Sebuah rekaman audio dengan suara digital yang agak terdistorsi akibat usia mulai terdengar membelah keheningan makam. Itu adalah suara rekaman percakapan rahasia antara Baskoro dan seorang wanita paruh baya sepuluh tahun lalu, tepat beberapa jam setelah pembantaian keluarga Valentino terjadi.

*“Baskoro, tugas kita sudah selesai. Wanita itu sudah mati. Aku sudah menembak dada kirinya tepat di depan anak lakis-lakinya yang bersembunyi di balik lemari. Sekarang, bawa bayi kita, Arunika, menjauh dari kota ini. Biarkan faksi Valentino mengira aku yang melakukannya sendirian... aku akan memalsukan kematianku agar darah kita tidak diendus oleh Arsen saat dia dewasa nanti...”*

Suara wanita di dalam rekaman tua itu... adalah suara yang sama persis dengan suara Katarina Vane yang saat ini sedang berdiri di depan mereka.

Arsen Valentino tertegun, sepasang mata elangnya seketika melebar dengan kilatan amarah yang jauh lebih mengerikan dari ledakan bom sebelumnya. Dia menoleh dengan lambat, mengarahkan moncong senapannya bergeser dari Valeria, kini terkunci tepat di antara kedua mata Katarina Vane.

"Jadi..." desis Arsen, suaranya bergetar hebat oleh kombinasi dendam sepuluh tahun yang akhirnya menemukan ujungnya. "Kau yang menarik pelatuk itu, Katarina. Kau yang membunuh ibuku tepat di depan mataku sendiri."

Katarina Vane memejamkan matanya rapat-rapat, air mata penyesalan perlahan mengalir melewati bekas luka tembak di pipi kanannya. Dia tidak membantah rekaman suara tersebut. Keheningan mutlak kembali merajai kompleks makam yang hancur itu, menyisakan deru napas Arsen yang memburu bagai naga yang siap memuntahkan api maut.

Arunika merasakan seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas. Ibu kandungnya yang asli... wanita yang baru saja dia ketahui identitas sebenarnya beberapa menit lalu... ternyata adalah pembunuh dari ibu pria yang saat ini memegang kendali atas hidup dan matinya.

Takdir gila ini benar-benar tidak memberikan celah sedikit pun baginya untuk bernapas lega.

Di tengah ketegangan masif yang berada di titik didih tersebut, Alexei Volkov yang terkapar bersimbah darah di tanah tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya yang masih utuh.

Pria raksasa Rusia itu merangkak perlahan menuju ke arah sebuah detonator cadangan yang terpasang di balik salah satu pilar panggung makam yang runtuh—sebuah sistem penghancur massal darurat yang sengaja dipasang oleh pasukannya sebelum penyergapan dimulai untuk memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang keluar hidup-hidup jika misi gagal.

Arunika yang posisinya paling dekat dengan pilar runtuh tersebut, melihat pergerakan tangan Alexei. Dia ingin berteriak memberi tahu Arsen, namun suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat jari-jari berdarah Alexei sudah menempel di atas tombol merah detonator darurat itu.

Alexei menatap mereka semua dengan tatapan gila penuh kemenangan yang mematikan. "Jika aku harus tumbang di kota ini... maka sang Raja Mafia baru dan seluruh keturunan berdarah Eclipse akan ikut membusuk bersamaku di bawah tanah pusara ini!"

*Bip. Bip. Bip.*

Suara alarm penghitungan mundur berdurasi lima detik menggema nyaring dari seluruh sudut bawah tanah kompleks pemakaman suci keluarga Valentino, disusul oleh suara getaran mesin hidrolik masif yang siap meledakkan seluruh area sayap selatan kota menjadi kawah abu yang tak berdasar.

_____________________________

**Bersambung ke Bab 14...**

*Akankah Arsen Valentino melepaskan dendam sepuluh tahunnya pada Katarina Vane di detik-detik terakhir sebelum seluruh kompleks makam meledak hancur? Bagaimanakah nasib Arunika saat menyadari bahwa sisa waktu hidupnya kini hanya bergantung pada hitungan detik di tengah lingkaran maut dunia bawah tanah? Dan rahasia konspirasi berdarah apa lagi yang akan terkubur bersama runtuhnya takhta sang raja mafia jika mereka gagal keluar hidup-hidup? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin menegangkan dan penuh letupan emosi luar biasa di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!