NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KABAR DUKA

​Langkah Naya tertatih di sepanjang koridor rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya, seketika memutar balik waktu ke memori pahit saat ia harus kehilangan ibunya setelah percakapan terakhir dengan Randi kala itu.

Ketakutan tersebut mencengkeram dadanya, lebih kuat dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.

​Sekarang, haruskah terulang kembali? batin Naya perih. Dua orang yang paling berharga dalam hidupku... mereka berdua ada di dalam sana.

​Ia berhenti di depan meja resepsionis, napasnya memburu dan matanya sembab. Seorang perawat dengan seragam putih yang tampak kontras di bawah lampu neon menyambutnya dengan senyum profesional yang berusaha menenangkan.

​"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

​"Malam, Suster," suara Naya bergetar hebat. "Apa benar pasien atas nama Hana dan Reno dilarikan kemari pasca kecelakaan sekitar jam lima sore tadi?"

​Perawat itu mengetik sesuatu di komputernya dengan tenang, namun bagi Naya, setiap dentuman tombol itu terasa seperti detak jantung yang makin melambat. "Sebentar ya, Mbak, saya cek dulu."

​Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Naya mengepalkan tangannya di balik tas selempangnya, memanjatkan doa dalam hati agar kenyataan tak seburuk yang ia bayangkan.

​"Iya, benar. Mereka masih berada di ruang ICU di lantai dua," jawab perawat itu.

​ICU.

​Satu kata itu seolah menghantam kepala Naya. Ruang ICU. Tempat yang biasanya menjadi persimpangan antara harap dan doa, antara kehidupan dan kepulangan. Kakinya lemas, tapi tekadnya mendorongnya untuk tetap bergerak.

​"Terima kasih, Suster," bisik Naya singkat.

​Tanpa membuang waktu lagi, Naya melangkah cepat menuju lift. Di depannya, angka-angka lantai bergeser perlahan. Setiap detik yang terbuang terasa sangat menyiksa. Ia hanya ingin sampai di sana, ingin memastikan bahwa ia tidak akan kehilangan orang-orang yang tersisa di dunianya.

​Begitu Naya keluar dari pintu lift, ia berjalan menelusuri koridor, melihat ke depan hingga bayang seseorang yang semakin dekat tengah mematung di ambang pintu dengan wajah cemas dan khawatir sambil menggendong gadis kecil yang nampak malang.

​Langkah Naya pun akhirnya terhenti tepat di depan bangku tunggu depan ruang ICU. Di sana, Bik Retno duduk bersimpuh, bahunya terguncang pelan, menenggelamkan wajahnya di atas telapak tangan yang kasar. Mendengar derap langkah yang terburu-buru, wanita itu langsung mendongak. Wajahnya pucat pasi dan matanya bengkak

​"Bik Retno!" seru Naya, napasnya tersengal. Ia mempercepat langkah, menjatuhkan tasnya sembarangan di lantai dan segera berlutut di depan asisten rumah tangga yang sudah mengabdi pada keluarganya sejak lama itu.

​Bik Retno menoleh, menatap Naya dengan sorot mata yang penuh kelegaan yang getir, seolah ia baru saja melihat harapan di tengah keputusasaan. "Non Naya..." suaranya pecah, hanya berupa bisikan parau.

​Naya tidak mempedulikan tubuhnya yang gemetar. Ia mencengkeram bahu Bik Retno, mencoba mencari kekuatan di tengah badai kecemasan yang menghantam jiwanya. "Bik, gimana keadaan Hana dan Reno? Mereka... mereka baik-baik aja, kan? Dokter bilang apa?"

​Bik Retno yang sambil menggendong Kikan, menarik napas panjang, namun yang keluar hanyalah isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Ia menunjuk ke arah pintu kaca yang tebal di hadapan mereka, tempat di mana Hana dan Reno terbaring tak berdaya, dikelilingi oleh kabel-kabel monitor yang berbunyi nyaring.

​"Dokter bilang... benturannya sangat keras, Non," ujar Bik Retno dengan tangan gemetar menunjuk ke dalam ruang ICU. "Bapak mengalami pendarahan hebat di kepala, dan Ibu... dia masih belum menunjukkan tanda-tanda sadar setelah operasi. Mereka bilang ini masa kritis, Non. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa."

​Naya merasakan dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya. Penjelasan itu terasa seperti belati yang menusuk ulu hatinya. Ia menoleh ke arah pintu kaca ICU, menatap sosok kedua orang yang paling ia cintai di dunia ini yang kemarin-kemarin masih bisa berbincang bersamanya, menatapnya dengan kekhawatiran tentang "patah hati" dirinya, kini hanya menjadi sekumpulan detak monitor yang rapuh.

Seorang dokter bedah dengan pakaian operasi akhirnya melangkah keluar. Masker hijau yang ia kenakan sudah turun ke bawah dagu, menyisakan wajah yang tampak terkuras habis, dengan guratan keletihan dan kesedihan yang tak tertahankan.

Bik Retno, yang sejak tadi duduk meringkuk, langsung beranjak dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sedangkan Naya, yang sedari tadi menahan napas, sudah berdiri tepat di depan sang dokter. Matanya yang sembab menatap tajam, menuntut jawaban yang ia harapkan akan menjadi penyelamat dunianya.

​"Dokter..." suara Naya parau, nyaris pecah. "Bagaimana keadaan dua sahabat saya? Hana dan Reno... mereka selamat, kan?"

​Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia menunduk dalam, bahunya merosot, menunjukkan beban duka yang seolah terlalu berat untuk dipikul sendirian. Hening yang tercipta di koridor rumah sakit itu terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis tersedot.

​"Dokter, jawab saya!" desak Naya, suaranya naik satu oktaf, penuh dengan ketakutan yang mulai berubah menjadi histeria. Ia mencengkeram lengan jas putih dokter itu. "Tolong katakan sesuatu! Mereka hanya terluka, bukan? Mereka akan segera bangun, kan?"

​Dokter itu perlahan menatap Naya, matanya berkaca-kaca. Dengan suara yang sangat pelan, namun terdengar jelas bagaikan vonis hukuman mati, ia berujar, "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu. Tim medis telah melakukan tindakan terbaik dengan segala peralatan yang tersedia. Namun... benturan pada kepala keduanya terlalu fatal. Pendarahan internal yang dialami tidak dapat dihentikan, dan fungsi organ vital mereka menurun drastis dalam waktu singkat. Jadi, maaf... kedua pasien tidak bisa kami selamatkan."

​Dunia Naya mendadak gelap. Seluruh persendian di kakinya seolah hilang. Ia menggelengkan kepala dengan panik, menolak kenyataan yang baru saja dituturkan. "Tidak... tidak mungkin! Dokter bohong! Tolong periksa lagi, Dok! Pasti ada cara lain! Periksa mereka lagi!" teriaknya, air matanya tumpah deras, membasahi pipinya yang pucat.

​Tubuhnya limbung, lalu jatuh terduduk di lantai koridor yang dingin. Bik Retno, yang berada di belakangnya, mundur terhuyung-huyung, terduduk kembali di kursi tunggu dengan isak yang lebih kencang. Di dalam gendongannya, Kikan, bayi Hana dan Reno yang sejak tadi gelisah mendadak pecah dalam tangisan yang pilu.

Tangisan bayi itu terdengar begitu menyayat hati, seolah Kikan memahami bahwa dunianya telah kehilangan dua pilar utamanya. Kikan menangis seolah ia tahu bahwa mulai detik ini, dekapan hangat orang tuanya takkan pernah ia rasakan lagi.

​Naya menatap kosong ke arah pintu ICU, lalu ke arah Kikan yang menangis di gendongan Bik Retno. Dunianya, yang baru saja ia coba bangun kembali, kini hancur berkeping-keping. Orang-orang yang ia cintai, sahabat yang selalu ada untuknya, yang menjadi tempatnya bersandar, kini telah tiada.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!