Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : FITNAH ISTANA
BAB 22: FITNAH ISTANA
Kentongan di halaman Istana Galuh dipukul beruntun tiga kali panjang. Bunyinya berat, bergema sampai ke sudut-sudut taman, membuat burung-burung di pohon cempaka terbang berhamburan. Udara pagi yang biasanya sejuk seketika terasa menyesakkan.
Di dalam Pendopo Agung, Prabu Kertayuda duduk tegak di singgasana kayu jati. Wajahnya yang biasanya teduh kini penuh kerut dalam. Tangannya mengepal erat di lengan kursi. Di hadapannya berlutut dua utusan yang baru tiba dari Kadipaten Ciaruteun, napasnya masih terengah setelah menempuh jalan berhari-hari.
“Katakan sekali lagi, perlahan,” suara Prabu rendah namun tegas. “Jangan ada satu kata pun yang ditutupi.”
Utusan yang lebih tua menunduk makin dalam.
“Inggih, Kanjeng Prabu. Tiga hari silam, gudang pajak Kadipaten dirampok. Lalu kemarin malam, gudang penyimpanan sementara upeti yang akan dikirim ke sini juga terbuka. Kuncinya tak rusak, penjaga pingsan semua tanpa luka. Dan di Bukit Cijambe... ada laporan pusaka leluhur hilang, patung pelindung diduga dirusak.”
Prabu bangkit berdiri. Langkahnya berat saat melangkah ke tepi pendopo, menatap kabut yang menutup arah selatan.
“Dan tanda yang ditinggalkan?”
“Selalu sama, Kanjeng. Tulisan arang di kain lusuh: Dari Pamanah Rasa.”
Permaisuri Dyah Wulandari menyentuh lengan suaminya pelan.
“Rakyat desa berbisik nama itu sebagai pelindung mereka. Tapi merusak pusaka dan mengambil harta istana... itu bukan sifat pelindung.”
“Bukan pelindung, pencuri!”
Suara itu terdengar tegas dari pintu. Semua menoleh. Putri Larasati berdiri di sana, di belakangnya melangkah Raden Sukma. Pakaiannya rapi penuh hiasan emas, dagunya terangkat tinggi, matanya menatap seolah semua yang ada di ruangan ini setingkat di bawahnya.
“Sukma,” panggil Prabu pelan.
“Kau baru tiba kemarin, sudah dengar kabar ini?”
“Dengar jelas, Paman Raja,” jawabnya cepat.
“Sudah pasti siapa pelakunya. Si liar dari hutan Wana Kelor itu. Orang tak punya nama, tak punya kedudukan, tak tahu aturan sopan santun. Dia mulai mencuri sedikit untuk memancing simpati rakyat, lalu berani menyentuh milik Kadipaten, sekarang berani mengusik milik Istana Galuh.”
Larasati melangkah maju sedikit.
“Kita belum tahu pasti, Kakang. Ada laporan dari kampunh Cikabuyutan—barang yang diambil dari gudang Kadipaten justru dibagikan ke warga yang kelaparan. Bukan dibawa lari untuk dirinya sendiri.”
“Trik,” potong Sukma mendadak.
“Itu cuma cara supaya rakyat memihak dia. Supaya saat dia benar-benar berbuat jahat, mereka buta membelanya. Orang yang hidup bersembunyi di hutan takkan pernah mengerti arti kehormatan dan hak milik.”
“Kita tak boleh menghakimi sebelum melihat sendiri,” bantah Larasati tenang.
“Kebenaran tak datang dari dugaan semata.”
Prabu Kertayuda melihat keduanya bergantian, lalu mengangguk pelan.
“Larasati,” katanya tegas.
“Iya,Ramanda.”
“Kau Rama tugaskan menyelidiki hal ini. Pergilah ke wilayah Ciaruteun dan sekitarnya. Cari tahu siapa sebenarnya Pamanah Rasa. Apakah dia musuh kerajaan, atau ada hal lain yang disembunyikan Adipati Rangga Sasmita. Cari kebenaran, apa pun bentuknya.”
Larasati menunduk dalam. “Hamba laksanakan.”
“Saya ikut,” potong Sukma segera.
“Tempat itu liar, penuh orang tak tahu aturan. Larasati putri tunggal Galuh, tak pantas berjalan sendirian di sana. Saya akan menjaganya, sekaligus memberi pelajaran pada pemuda sombong itu kalau saya temui.”
Prabu berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Baik. Berangkat pagi lusa. Bawa dua pengawal terpercaya saja. Ingat: tujuannya mencari tahu, bukan menghukum.”
“Mengerti, Paman Raja,” jawab Sukma. Tapi di matanya tak ada niat mencari tahu—hanya keyakinan bahwa pendapatnya sudah benar sejak awal.
Sore itu, di halaman belakang istana, Larasati merapikan bekal di atas pelana kuda. Sukma berdiri tak jauh, menatap peta wilayah dengan wajah tak suka.
“Kau masih ragu?” tanyanya tiba-tiba.
“Kau pikir dia mungkin orang baik?”
“Saya cuma tak suka menilai orang dari cerita satu pihak saja,” jawab Larasati tanpa menoleh.
“Kadang yang disebut jahat oleh penguasa, justru satu-satunya yang berani melihat penderitaan rakyat.”
Sukma mendengus. “Kebaikan tak perlu sembunyi di balik nama samaran. Kebaikan tak perlu mengambil apa yang bukan miliknya. Lihat saja nanti. Kau akan tahu siapa yang benar.”
Dia berbalik pergi dengan langkah tegap. Larasati hanya menatap arah selatan, tempat di mana kabar tentang pemuda misterius itu bermula.
Jauh di sana, di gua tepi sungai di pinggir Wana Kelor, udara terasa lebih tenang. Bayu duduk di mulut gua, mengusap lembut batang Busur Sanghyang Rasa. Kayu cendana itu terasa hangat di tangannya, seolah ikut merasakan beban yang dipikulnya.
Karta sibuk membolak-balik dua ekor ayam yang sudah dibersihkan di atas api kecil. Matanya berbinar menatap daging yang mulai kecokelatan.
“Kang,” panggilnya tiba-tiba.
“Tadi aku dengar gosip dari pengembara lewat. Katanya Istana Galuh marah besar. Mereka bilang kau yang bikin rusak di Bukit Cijambe, yang curi pusaka istana.”
Bayu berhenti sejenak. “Aku tahu.”
“Terus mereka mau kirim orang ke sini. Ada Putri Larasati, katanya baik dan ingin tahu kebenaran. Tapi ada sepupunya, Raden Sukma. Orangnya sombong banget, nilai orang cuma dari gelar dan baju bagus. Katanya kau pasti si liar hutan yang berniat jahat.”
Bayu tersenyum tipis. “Biar dia berpikir begitu dulu. Nanti kenyataan yang akan bicara.”
Karta mengangguk semangat, lalu tiba-tiba mukanya berubah kesal.
“Sombong banget tuh orang! Kayak dia lebih suci dari siapa! Kalau dia berani ngomong kasar, aku kasih pelajaran!”
Dia mencengkeram gagang pisau Sanghyang Waja di pinggangnya erat. Tapi begitu dia berdiri hendak melangkah, kakinya terhuyung ke depan. Pisau itu terasa seberat batu besar, menarik tangannya ke bawah sampai hampir menyentuh tanah.
“Aduh... berat banget!” keluhnya sambil mengibaskan tangan seolah ada debu.
“Kenapa sih kau jadi berat begini? Kan aku cuma mau kasih pelajaran dikit!”
Bayu tertawa kecil. “Ingat aturannya, Karta. Kalau hatimu penuh amarah atau niat menyakiti tanpa alasan yang benar, pisau itu takkan mau menurut. Dia tak suka kau marah-marah dulu.”
Karta menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Perlahan beban di tangannya berkurang, pisau kembali ringan seperti biasa.
“Dih, rewel juga,” gumamnya pelan, lalu kembali duduk di dekat api.
“Tapi nggak apa-apa, yang penting dia tahu mana yang benar.”
Tiba-tiba dia menoleh ke arah Bayu dengan wajah polos. “Ngomong-ngomong Kang, tadi pengembara itu juga cerita aneh. Katanya ada kambing terbang di atas bukit sebelah! Itu berarti apa ya?”
Bayu geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Itu gosip tak penting, Karta. Tak ada kambing terbang.”
“Tapi dia bilang lihat sendiri!” kekeh Karta, lalu diam sejenak.
“Eh... tapi sebelum cerita itu, dia bilang prajurit istana lewat jalan utamanya. Bukan jalan hutan. Itu berarti mereka mau masuk lewat gerbang Kadipaten dulu ya?”
Bayu langsung tegak. Itu info penting sekali—dan benar-benar dia dapat dari gosip yang tak berhubungan sama sekali.
“Benar juga,” katanya serius.
“Kalau mereka lewat Kadipaten, berarti Adipati Rangga Sasmita pasti sudah menyiapkan cerita bohong lebih dulu. Dia akan memutarbalikkan fakta sebelum Larasati sempat bertanya pada rakyat biasa.”
Mbah Suryanata yang dari tadi diam di sudut gua akhirnya berbicara pelan.
“Itu bahaya, Nak. Fitnah yang datang dari istana lebih cepat dipercaya daripada kebenaran yang datang dari mulut rakyat kecil.”
“Maka kita harus siap,” jawab Bayu mantap.
“Kita tak perlu menyembunyikan diri selamanya. Tapi kita juga tak boleh membiarkan nama Pamanah Rasa dicemari kebohongan.”
Karta menyodorkan paha ayam yang sudah matang. “Makan dulu Kang. Biar kuat menghadapi orang sombong. Lagipula ini ayam yang nyamperin aku sendiri lho! Bukan aku yang nyolong!”
Bayu mengambilnya sambil tertawa. “Iya, iya. Ayam yang tiba-tiba berjalan sendiri ke arahmu.”
“Beneran!” seru Karta semangat.
“Tadi dia jalan pelan-pelan ke arahku, terus diam di dekat kakiku. Aneh kan?”
Mbah Suryanata ikut tersenyum melihat tingkah anak itu. Di tengah bahaya yang mengintip dari segala arah, setidaknya masih ada tawa yang membuat beban terasa lebih ringan.
Malam semakin larut. Api unggun dipadamkan. Bayu berdiri di mulut gua, menatap ke arah cahaya Kadipaten yang berkelap-kelip di kejauhan. Fitnah sudah terbang lebih dulu. Orang-orang penting sudah menilai dia tanpa pernah bertemu. Tapi dia tahu satu hal: kebenaran takkan pernah hilang, sekalipun ditutup rapat-rapat.
Dan di jalan menuju Ciaruteun, dua sosok berjalan di atas kuda. Larasati menatap jalan setapak dengan penuh tanya, sementara Raden Sukma menatap ke depan dengan wajah dingin dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Perjalanan ini bukan sekadar penyelidikan—ini awal dari pertemuan yang akan mengubah pandangan banyak orang.