NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Anak Majikan

Cinta Terlarang Dengan Anak Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.

​Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.

​"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.

​Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.

​Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Siang Hari

​Belum sempat Aluna mencerna bisikan berbahaya itu, ponsel di dalam saku kemeja Arsen mendadak berdering nyaring. Nada dering itu seketika memecahkan atmosfer intim yang sempat tercipta di sudut dapur.

​Arsen merogoh sakunya dan menggeser layar ponsel. Seketika, raut santai di wajahnya berubah menjadi serius dan tegas.

​"Ya, Sekertaris Rian? Ada apa?" tanya Arsen dengan suara dingin khas seorang pimpinan perusahaan.

​Hening sejenak saat Arsen mendengarkan penjelasan dari seberang telepon. Alis tebalnya bertaut tajam.

​"Jadwal meeting dengan klien dari Jepang dimajukan jadi jam delapan pagi? Kenapa baru mengabari sekarang?" tegurnya bernada menuntut. Ia menghela napas kasar, lalu melihat jam tangan mewahnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. "Baik, siapkan semua berkasnya di meja saya. Tiga puluh menit lagi saya sampai."

​Arsen mematikan sambungan telepon dan mengurungkan niatnya untuk mengambil cangkir kopi yang disiapkan Aluna. Tatapan tegas pimpinan bisnis kini menghiasi wajah tampannya.

​"Saya harus ke kantor sekarang. Ada meeting mendadak yang tidak bisa ditunda," ucap Arsen cepat sembari membetulkan posisi kerah kemejanya.

​"B-baik, Den. Tapi sarapannya—"

​"Tidak usah, saya tidak sempat," potong Arsen cepat.

​Ia membalikkan badan dan melangkah lebar menuju pintu utama, mengambil kunci mobil mewahnya dari atas meja konsol. Namun, tepat di ambang pintu, Arsen sempat menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke belakang, menatap Aluna yang berdiri di ujung koridor dapur.

​Sebuah senyuman tipis dan sarat makna kembali terukir di bibirnya. "Simpan saja percakapan kita tadi untuk nanti malam, Aluna," ucapnya tajam sebelum akhirnya menghilang di balik pintu dan memacu mobilnya membelah jalanan pagi.

​Aluna mengembuskan napas panjang, merosotkan bahunya yang tegang. Setidaknya, untuk beberapa jam ke depan, ia bisa bernapas lega di rumah besar ini.

​Derum mesin mobil sport milik Arsen perlahan menjauh dan akhirnya menghilang ditelan riuk gemuruh lalu lintas pagi. Suasana rumah mewah keluarga Mahendra kembali diselimuti keheningan yang mencekam.

​Aluna berdiri mematung di ambang dapur, menatap piring sarapan dan cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja. Pria itu pergi begitu cepat, meninggalkan helaan napas lega dari dada Aluna—sekaligus kecemasan baru yang merambat pelan di benaknya.

​"Nanti malam, jangan mengunci pintumu terlalu cepat."

​"Simpan saja percakapan kita tadi untuk nanti malam, Aluna."

​Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala Aluna bagai kaset rusak. Janji bernada ancaman manis itu terasa jauh lebih mengintimidasi daripada amarah langsung.

​Untuk mengalihkan pikirannya yang kacau, Aluna mulai menyibukkan diri. Ia membereskan meja makan, mencuci peralatan dapur, hingga membersihkan setiap sudut lantai di rumah berlantai dua tersebut. Pekerjaan rumah tangga yang berat ia lakoni tanpa henti, berharap rasa lelah fisik mampu menumpulkan rasa takut yang merayapi dadanya.

​Namun, makin sore matahari bergulir ke barat, makin cepat pula detak jantung Aluna berpacu. Suasana rumah yang mulanya terasa menenangkan kini justru bagaikan sangkar emas yang makin menyempit.

​Jarum jam dinding di ruang tengah terus bergerak tanpa kompromi, mengikis sisa-sisa waktu aman yang dimilikinya sebelum sang majikan muda melangkahkan kaki kembali ke rumah ini.

Sekitar pukul satu siang, saat Aluna baru saja selesai membersihkan kaca-kaca jendela di ruang keluarga, ponsel rumah yang terletak di atas meja konsol mendadak berdering nyaring.

​Aluna mengusap keringat di dahinya dengan celemek lalu berjalan mendekat. Dengan ragu, ia mengangkat gagang telepon tersebut.

​"Halo, kediaman Mahendra," ucap Aluna sopan.

​"Ini aku," suara bariton khas Arsen terdengar dari seberang telepon. Nada bicaranya terdengar sibuk, disertai latar belakang suara langkah kaki dan riuh suasana kantor.

​Jantung Aluna seketika berdesir mendengarnya. "A-Den Arsen. Ada yang bisa saya bantu?"

​"Nanti malam sekitar jam delapan, tiga orang temanku mau mampir ke rumah," ujar Arsen langsung pada intinya, tanpa basa-basi. "Kamu bersiap-siaplah. Begitu aku sampai rumah nanti sore, kamu ikut aku keluar sebentar untuk beli beberapa makanan dan camilan buat mereka."

​Aluna tertegun sejenak. "Ikut Den Arsen... keluar?"

​"Iya. Aku tidak tahu camilan dan bahan apa saja yang perlu dibeli, jadi kamu yang harus pilihkan," potong Arsen tegas. "Ganti pakaianmu yang rapi sebelum aku pulang. Jangan sampai membuatku menunggu."

​"B-baik, Den Arsen. Saya mengerti," sahut Aluna pasrah.

​"Bagus," balas Arsen pendek sebelum langsung mematikan sambungan telepon.

​Aluna perlahan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Berbelanja bersama Arsen berarti ia harus berada di dalam satu mobil dan berdua saja dengan pria itu di luar rumah. Hatinya kembali berdebar cemas, membayangkan apa lagi godaan atau intrik yang akan dilancarkan sang majikan muda padanya nanti.

1
Erna Riyanto
suka deh sm Arsen..sat .set...GK pandang bulu...wlpun itu shbtnya
Erna Riyanto
kapok tuh si Rafa dpt bogem...
Erna Riyanto
hahh....mksih Arsen GK memanfaatkan keadaan...
Erna Riyanto
semoga Arsen TDK memanfaatkan keadaan Aluna...jdi laki" sejati Sen..
Erna Riyanto
harus nya cukup dgn "saya"...TDK perlu sampai "hamba" ..GK cocok untuk ukuran ke manusia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!