Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 32.
Malam turun perlahan di atas Mansion Romanov.
Setelah rapat strategi selesai, satu per satu petinggi organisasi meninggalkan ruang pertemuan. Antonio kembali ke markas utama untuk mengawasi pergerakan pasukan, sementara Leon menerima beberapa tamu penting dari organisasi sekutu.
Velicia justru berjalan ke arah taman belakang. Udara malam cukup dingin disana, cahaya lampu taman memantul di permukaan danau buatan yang tenang.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang dikenalnya berhenti di belakangnya.
"Kau mencariku?"
Velicia menoleh ke arah belakang, Lorenzo berdiri beberapa langkah darinya. Meski wajahnya masih sedikit pucat akibat luka tembak di dada kiri, posturnya tetap tegap seperti biasa.
"Ada yang ingin kubicarakan, sangat penting."
"Kalau begitu... hanya kita berdua." Lorenzo memberi isyarat kepada dua pengawal yang mengikutinya. "Tinggalkan kami."
Kedua pria itu langsung menjauh tanpa banyak bertanya, kini hanya tersisa mereka berdua. Suara angin menjadi satu-satunya pengisi keheningan, Velicia menatap permukaan danau beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Lorenzo."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti... seseorang yang sangat kau percaya ternyata mengkhianatimu, apa yang akan kau lakukan?"
Lorenzo tidak langsung menjawab, Ia justru balik bertanya. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Hanya ingin tahu."
"Itu saja?"
Velicia mengangguk kecil, sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar, Ia memang sedang menguji sesuatu. Sejak Antonio menunjukkan foto Bianca bertemu Joseph Bonanno, Velicia terus memikirkan satu hal.
Bagaimana reaksi Lorenzo jika mengetahui orang yang paling ia percaya ternyata menusuknya dari belakang? Apakah pria itu akan tetap berpihak pada orang itu? Atau... mengambil keputusan dengan kepala dingin?
Keheningan menyelimuti keduanya.
"Aku sudah tahu." Lorenzo akhirnya berbicara.
Velicia perlahan mengangkat wajah. "Apa?!"
"Aku sudah tahu siapa yang mengkhianatiku."
Jawaban pria itu membuat tatapan Velicia berubah, Ia benar-benar tidak menyangka. "Kau... sudah tahu?"
"Sudah."
"Lalu kenapa kau—?"
"Kenapa tidak menangkapnya?" Lorenzo mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang ke langit malam. "Karena hidup tidak selalu sesederhana menghukum pengkhianat."
Velicia terdiam.
"Dia... adalah seseorang yang membangun organisasi ini bersamaku." Tatapan pria itu perlahan melembut, seolah sedang mengenang masa lalu. "Dulu, kami tinggal di panti asuhan yang sama. Kami sama-sama tidak punya keluarga, sama-sama tidak punya nama. Dan sama-sama... hidup dari mencuri makanan agar bisa bertahan hidup."
Velicia mendengarkan tanpa menyela.
"Ketika aku memutuskan membangun organisasi... dia orang pertama yang mengikutiku. Saat aku ditembak, dia yang menggendongku keluar. Dan saat kami tidak punya uang membeli senjata, dia menjual semua miliknya."
Lorenzo tersenyum tipis. "Itulah sebabnya, aku tidak bisa langsung menjatuhkan hukuman."
Velicia akhirnya memahami, Bianca bukan sekadar bawahan dan tangan kanan pria itu. Wanita itu adalah bagian dari masa lalu Lorenzo, bagian dari perjalanan hidupnya.
"Apa kau akan memaafkannya?"
"Tidak." Lorenzo menggeleng pelan.
"Lalu?"
"Aku sedang memberinya kesempatan."
"Kesempatan?"
"Kalau dia berhenti sekarang, aku akan mengasingkannya. Kalau dia tetap melangkah..." Tatapan Lorenzo berubah dingin. "...aku sendiri yang akan mengakhiri semuanya."
Kalimat terakhir diucapkan tanpa keraguan sedikit pun, itulah Lorenzo Sullivan. Pria yang mampu memisahkan perasaan pribadi dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.
Velicia menatap pria itu untuk beberapa saat, dan dadanya terasa sedikit lebih ringan. Namun masih ada satu pertanyaan yang mengganggunya, pertanyaan yang sejak tadi ia tahan.
"Lorenzo, jawab dengan jujur."
"Tentu."
Velicia menarik napas pelan. "Kalau suatu hari nanti, kau dipaksa memilih. Antara Bianca atau aku, siapa yang akan kau pilih?“
Keheningan kembali memenuhi taman, angin malam berembus pelan. Lorenzo memandang Velicia tanpa ekspresi, wajahnya tetap serius. Ia tahu, pertanyaan itu tidak dilontarkan tanpa alasan.
"Apa alasanmu bertanya seperti itu?"
Velicia mengalihkan pandangannya. "Kau juga tahu kehidupan pernikahanku dengan Michael. Pada akhirnya, dia memilih mempercayai wanita lain. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya ketika seorang pria lebih memilih mempercayai orang lain dibanding wanitanya sendiri. Jadi, aku tidak ingin... mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya."
Lorenzo memandang wanita itu tanpa berkedip, kini ia akhirnya mengerti. Ini bukan tentang Bianca atau tentang organisasi. Ini adalah ketakutan yang ditinggalkan Michael, Velicia takut kembali mempercayai seseorang. Wanita itu takut kembali disisihkan dan kembali kehilangan orang yang dicintainya.
Lorenzo melangkah satu langkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang membuat Velicia nyaman.
"Velicia."
Wanita itu perlahan menatap wajah Lorenzo, pria itu menatap kedua matanya dengan tenang. "Kalau suatu hari nanti aku harus memilih, aku tidak akan memilih berdasarkan siapa yang lebih lama mengenalku."
Lorenzo berhenti sejenak, tatapannya semakin dalam. "Aku juga tidak akan memilih berdasarkan rasa kasihan. Aku akan memilih... orang yang berada di pihak yang benar. Kalau Bianca benar, aku akan berdiri di sisinya. Kalau kau yang benar... seluruh dunia pun tidak akan membuatku meninggalkanmu."
Lorenzo tidak mengucapkan rayuan. Ia juga tidak memberi janji kosong, yang ia sampaikan hanyalah prinsip hidupnya.
Namun justru jawaban itu membuat Velicia terdiam. Selama ini, belum pernah ada yang berbicara kepadanya seperti itu. Michael memilih memercayai Sania, karena dibayangi rasa cintanya pada wanita itu di masa lalu. Sementara Lorenzo memilih berdasarkan fakta, bukan kedekatan ataupun perasaan.
Melihat Velicia masih terdiam, Lorenzo menyunggingkan senyum tipis. "Lagipula, aku tidak pernah ingin menjadi Michael Kensington."
Ucapan itu membuat sudut bibir Velicia ikut terangkat, ia benar-benar tersenyum meski hanya samar. Senyum kecil itu sudah cukup membuat Lorenzo merasa luka yang ia terima beberapa hari terakhir tidak sia-sia.
Keheningan kembali menyelimuti taman belakang mansion, angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga yang memenuhi halaman.
Lorenzo masih berdiri di samping Velicia, tatapannya tidak lagi setajam biasanya. "Veli, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan."
"Apa?"
Lorenzo menghela napas pelan, sorot matanya melembut saat menatap wajah Velicia yang diterpa cahaya rembulan. "Aku menyukaimu, Velicia."
Tak ada keraguan dalam suaranya, dan tak ada pula usaha untuk merangkai kata-kata indah.
"Aku tidak meminta jawabanmu sekarang, kalau memang kamu belum siap. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa perasaanku bukan karena rasa kasihan, bukan karena ingin menggantikan siapapun, dan bukan karena luka masa lalumu."
Pria itu berhenti sejenak. "Aku menyukaimu... karena kamu adalah dirimu sendiri."
Dada Velicia terasa hangat mendengar pengakuan pria itu. Selama bertahun-tahun, ia selalu berusaha menjadi sosok yang diharapkan orang lain. Baru kali ini ada seseorang yang menerima dirinya apa adanya.
"Aku tahu hatimu pernah hancur," lanjut Lorenzo. "Aku juga tahu kamu masih belajar percaya lagi, karena itu lah... aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau kamu bersedia, izinkan aku menjadi orang yang berjalan di sisimu mulai hari ini."
Tatapan mereka saling bertemu, Velicia memandang pria di hadapannya cukup lama. Lalu perlahan, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Aku tidak bisa menjanjikan semuanya akan mudah."
"Aku juga tidak menginginkan hubungan yang sempurna," jawab Lorenzo.
Velicia mengangguk pelan. "Kalau begitu... aku ingin mencobanya."
Untuk sesaat, Lorenzo tampak tidak percaya.
"Kamu... menerimaku?"
"Iya."
Jawaban yakin Velicia membuat sudut bibir Lorenzo terangkat, Ia mengulurkan tangan ke arah Velicia. "Boleh?"
Velicia menatap tangan itu beberapa detik, lalu meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Lorenzo. Jemari mereka saling bertaut.
"Aku menerima perasaanmu, Lorenzo." Suara Velicia terdengar pelan, tetapi penuh keyakinan. "Aku juga ingin memulai hidup yang baru."
Senyum Lorenzo semakin lebar, meski tetap terlihat tenang. "Aku akan menjagamu."
"Dan aku akan belajar mempercayaimu." timpal Velicia.
Malam itu... tanpa pesta maupun janji yang berlebihan, mereka resmi memulai hubungan sebagai sepasang kekasih. Hubungan mereka lahir tanpa rasa kasihan ataupun keinginan melupakan masa lalu, yang menyatukan keduanya adalah kepercayaan yang perlahan tumbuh setelah melewati begitu banyak luka.
Dari kejauhan, Antonio yang tak sengaja menyaksikan momen itu mengulas senyum tipis. "Akhirnya... ada seseorang yang memilih adikku tanpa syarat."
Di sisi lain mansion, Bianca De Luca berdiri di balik jendela dengan rahang mengeras. Pemandangan tangan Lorenzo dan Velicia yang saling bertaut membuat api cemburu di dadanya semakin berkobar.
"Kalau itu keputusanmu... suatu hari nanti, kau akan menyesal Lorenzo."
Bianca berbalik dan melangkah pergi tanpa ragu.
Sementara di taman, Lorenzo dan Velicia masih menikmati tenangnya malam, sama sekali tidak menyadari bahwa langkah mereka baru saja menjadi awal dari badai yang jauh lebih besar.