Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IZIN MENIKAH
Setelah mengetahui kondisi Antika, Aldri berfikir keras tentang langkah apa yang akan diambilnya. Ia mondar-mandir seharian. Dengan beberapa pertimbangan yang matang Aldri membuat sebuah keputusan. Tangannya memencet tombol ponsel miliknya untuk menghubungi dokter, Vino, sahabatnya.
"Hallo, Vin. Aku butuh bantuanmu."
Aldri memutuskan memindahkan Antika ke rumah sakit yang berbeda. Rumah sakit tempat sahabatnya bekerja sekaligus pemilik rumah sakit swasta tersebut. Aldri mengambil langkah ini untuk memudahkan rencana selanjutnya. Vino adalah sahabat yang sangat bisa diandalkan dan dipercaya.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Al? Kamu harus ingat Al dia bukanlah Tiara."
" Aku tahu itu, Vin."
"Menurut ku terlalu berisiko untukmu. Bagaimana seandainya nanti ingatannya kembali? Apakah menurutmu dia bisa menerimanya? Pikir kan lagi dengan kepala dingin, Al!"
"Aku sudah memikirkannya dengan matang. Apakah kamu lupa bahwa aku seorang Aldri Vigoro?"
"Hem, baiklah aku percaya dengan semua pertimbanganmu. Aku hanya berharap kamu tidak kecewa lagi." Vino menepuk bahu Aldri lalu beranjak pergi.
"Al, kenapa tiba-tiba memindahkan Tika ke sini, Nak?" tanya Indira ketika tiba di rumah sakit tempat Antika dirawat sekarang.
Aldri menatap ibunya ragu-ragu, tetapi tekadnya bulat ketika mengingat Antika. Aldri menguatkan diri menyampaikan maksud hatinya kepada sang ibu.
"Ibu, izinkan aku mohon restumu untuk menikahi Antika."
"Apa? Al, apa Ibu tidak salah dengar? Apa yang kamu katakan baru saja?
Aldri mendekati ibunya yang duduk di sofa kantor Vino. Ia duduk di sebelah Indira lalu menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Ibu, apakah salah ataukah berdosa jika saya ingin menikahi Antika? Semua ini saya lakukan karena saya ingin selalu menjaganya, Bu."
Indira menghela nafasnya. Tangan nya perlahan mengelus kepala putra semata wayangnya itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa putranya akan mengambil keputusan seperti ini. Dalam kehidupan Indira, kebahagiaan putranya adalah yang utama. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya menikah dan hidup bahagia apalagi di usia kepala 4. Akan tetapi, bukan seperti ini yang ia inginkan.
"Nak, tidak salah apalagi berdosa kamu ingin menikah khi Antika karena sejatinya kalian bukanlah ayah dan anak kandung. Tapi, Nak pernikahan itu sesuatu yang sangat sakral bukan main-main. Keputusan menikah tidak hanya berdampak pada satu orang, tapi juga pada kehidupan dua belah pihak. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Nak?"
Aldri menjelaskan semua yang terjadi kepada ibunya tak terlewat satupun tentang alasan yang mendasari keputusannya untuk menikahi Antika.
Indira mendengarkan dan menelaah. Wanita itu mencoba mencerna semua kekhawatiran yang dirasakan putranya. Sejujurnya Indira pun tidak rela jika harus berpisah dengan Antika. Gadis yang selalu dianggapnya sebagai cucu kandung yang sangat dia cintai. Akan tetapi, Indira tetap harus menimbang baik buruknya keputusan tersebut.
"Lantas bagaimana seandainya ingatan Tika kembali, Al? Ibu tidak ingin kamu kecewa, Nak. Al kamu juga harus ingat bahwa Antika bukanlah Tiara. Ibu tidak ingin kamu tenggelam dalam masa lalu."
" Ibu, saya tidak pernah menganggap Tika sebagai Tiara apalagi menikahinya karena kemiripannya dengan Tiara sama sekali tidak, Bu. Seperti yang saya jelaskan bahwa semua saya lakukan karena ingin melindunginya. Jika suatu saat nanti ingatannya kembali dan ia tidak ingin menerima pernikahan ini, saya akan dengan sukarela melepasnya, Bu." Indira menghela nafas dan berpasrah.
" Sebelum Ibu menyetujui keputusanmu, Ibu ingin bertanya satu hal."
" Silahkan, Bu."
" Jujur lah pada ibumu ini, Nak. Apakah kamu memiliki perasaan yang lebih dari seorang ayah kepada putrinya?"
Aldri sangat memahami iya tak akan mungkin bisa membohongi ataupun mengelabui wanita yang telah mengandung dan melahirkan itu. Pria berhidung mancung itu tahu bahwa ibunya pasti memperhatikan perubahan sikapnya beberapa bulan ini.
Aldri mengangguk. "Iya, Bu. Maafkan anakmu yang mesum ini." Aldri menunduk malu.
Indira tersenyum lalu memeluk putranya. "Baiklah kalau begitu, Nak. Ibu setuju dengan pernikahan ini. Bagi Ibu jawabanmu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pedoman di hati ibu."
Aldri menatap lekat kedua manik ibunya. Ia kembali memeluk hangat tubuh mungil wanita pertama dalam hidupnya. "Terimakasih banyak, Bu."
Indira mengusap lembut punggung putranya. "Iya, Nak. Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu."
"Al, Tika sudah sadar. Apa yang harus kita lakukan sebelum aku menjawab pertanyaannya?" Vino yang tiba-tiba datang mengalihkan perhatian ibu dan anak itu.
"Benarkah? Vino dan Ibu tolong jawab saja bahwa kami suami istri." keduanya mengangguk.
***
Di ruang perawatan Antika.
"I-ni di-ma-na?" Antika bertanya dengan suara serak dan memicingkan mata.
"Tika kamu sudah sadar, Sayang?" Indira mendekati Antika.
"An- da si- apa?"
"Ini Om - eh ibu mertuamu, Nak." Indira merasa canggung.
"Be-narkah? Itu berarti aku sudah menikah? Indira mengangguk diiringi senyum.
"Ta-tapi ke- napa aku nggak ingat apa-apa?"
"Sudah lah, sayang jangan dipaksakan. Yang terpenting sekarang Tika sudah sadar dan melewati masa kritis. Om - eh Ibu sangat bahagia melihatmu sudah sadar, Nak." air mata tulus seluruh di sudut pipi Indira.
Antika menyaksikan hal itu dan dia merasa terharu hingga tanpa sadar ia menjulurkan tangannya meraih jemari Indira. Indira tak mampu lagi menahan rasa haru birunya ia memeluk Antika yang masih terbaring lemah. Wanita paruh baya itu menangis dalam dekatan Antika.
"Terima kasih karena sudah bertahan, Sayang. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia, ya , Nak." Indira melepas pelukannya dan mengelus kepala Antika.
"Te-rima kasih, Bu." Antika tersenyum bahagia.
Entah rasa apa yang kini menjalani hati Indira. Di satu sisi ia bahagia karena Antika telah sadar sepenuhnya dan memanggilnya 'ibu'. Namun di sisi lain hatinya bersedih karena panggilan itu didasari dengan kebohongan meskipun karena alasan kebaikan.
"Apa yang kamu rasakan, Tika?"
"Ey, ra- Sanya ma-sih sedikit pusing. Badan juga serasa sakit semua, Dok."
"Iya wajar saja kecelakaan dan, membuatmu merasa demikian."
Aldri yang masih bertahan di luar ruangan menguatkan diri untuk menghadapi Antika. Seharusnya iya bahagia karena gadis itu telah sadar, tapi mengapa ia justru merasa khawatir.
"I-bu. Ja- di nama- ku siapa? Dan dimana sua- mi ku sekarang? A - Pakah dia baik-baik saja?"
"Nama mu Antika, sayang. Suami mu baik-baik saja. Dia masih mengurus sesuatu yang penting. Antika mengangguk pelan.
Aldri mengirim pesan singkat kepada Vino dan ibunya.
[Vin, aku titip Tika sebentar. Seperti nya aku butuh keberanian untuk menatap wajahnya]
[Okey, santai, Bro ]
[ Ibu, aku titip Tika sebentar. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya.]
[ Iya, Nak hati-hati, ya]
Aldri memutuskan pulang ke rumah untuk mandi dan memikirkan langkah selanjutnya. Setidaknya saat ini kondisi Antika sudah membaik itu yang utama. Aldri menghubungi sekretaris kepercayaannya untuk membantu mencari penghulu. Baginya yang berduit tak sulit untuk menyelesaikan semua dalam hitungan jam.