“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Keraguan
Beberapa hari sejak kejadian tersebut, sikap Nasya kepada Elgan sudah tidak seperti biasanya. Lebih banyak diam dan dingin. Nasya tidak mengerti kenapa sikapnya begitu. Namun, melihat Elgan kembali dekat dan kadang tak menghiraukannya sangat menjengkelkan. Disisi lain, Nasya juga tidak bisa protes dengan posisinya saat ini.
Sama seperti biasanya, malam ini Elgan tak berada di rumah. Dia sering pulang larut dan tidak pernah mengabarkan apapun pada Nasya. Selama suaminya itu dekat lagi dengan mantannya, Elgan tak pernah membicarakannya.
“Ini lagi si Revan ngapain sih harus menghubungi aku setiap hari? Apa aku harus jujur biar dia berhenti?” kesal Nasya berkali-kali memutuskan panggilan Revan secara pihak.
Merasa kesal dengan keadaannya. Nasya pun terpaksa menjawab panggilan tersebut. Seperti biasanya, Revan selalu antusias dengan Nasya. Meskipun, Nasya selalu menolak Revan tetap pada pendiriannya ingin hubungannya kembali seperti dulu.
“Apa sih, Van? Gak capek begini terus?” ucap Nasya sangat lelah meladeni Revan.
“Sekali aja, Nas. Mau ya ketemu,” pinta Revan sangat memohon.
Nasya belum menjawab, nampak sedang berpikir serta mempertimbangkan. Di rumah ini, dia benar-benar jenuh. Harus selalu menjaga pergerakannya, belum lagi harus menghadapi mertuanya yang datang tiba-tiba. Nasya dengan pertimbangan akhirnya menyetujui Revan.
“Kita mau ketemu dimana? Aku yang kesana, gak perlu dijemput,” balas Nasya.
Revan tersenyum senang. “Di taman pertama kali kita ketemu. Kalau gitu aku tunggu, ya. Aku udah disini dari tadi nunggu kamu angkat telpon dari aku,” ucap Revan.
Nasya mengetahui tempat itu. Selepas panggilan berakhir, Nasya berganti pakaian dan bersiap. Tidak ada yang ingin diubah dari penampilannya. Dia tetap ingin dikenal sebagai Nasya. Lagipula, jika berdandan terlalu berlebihan Nasya masih belajar dan tak ingin terlihat aneh.
Tanpa berpamitan dengan Elgan yang entah dimana keberadaannya. Nasya memesan ojek untuk berangkat menuju ke taman yang Revan maksud. Ternyata malam ini lumayan dingin, Nasya tak memakai pakaian cukup hangat.
“Hm ... Revan duduk dimana, ya?” gumam Nasya berjalan menuju taman yang beberapa tempat duduk sudah ada yang menempati.
Nasya terdiam saat Revan yang melihatnya melambaikan tangan. Dengan langkah yang agak ragu, Nasya berjalan menghampiri Revan. Kedua manusia yang sudah lumayan lama tak bertemu dalam keadaan baik. Kini, dipertemukan dengan suasana yang sangat berbeda.
“Kamu kok gak pake baju yang tebal, sih. Disini dingin, loh.” Revan melepaskan jaketnya untuk dipakaikan ke Nasya.
Nasya hendak menolak, tetapi Revan sudah meletakkan jaketnya di badan Nasya. Revan juga memeriksa kedua tangan Nasya yang dingin. Menghangatkan dengan menggesek-gesekkan tangannya berharap bisa menyalurkan kehangatan.
“Gak perlu, Van. Aku gak papa, kamu mau apalagi?” ucap Nasya.
Revan tak menjawab, memilih mengajak Nasya duduk di kursi yang dipilihnya. Nasya mengikuti arahan Revan meski rasanya sangat canggung sekali. Hatinya saja belum selesai, kini harus menghadapi Revan lagi. Nasya hanya berharap tidak akan goyah dalam memilih keputusan yang diambilnya.
“Duduk dulu. Aku tau kalau kamu pasti capek dan bosan banget sama permintaan maaf dariku, tapi aku gak bisa, Nasya. Aku gak bisa berpaling maupun melupakan. Kamu masih inget janji kita, kan? Aku mau berjuang untuk ngeyakinin ibu kamu dan kamu cukup menunggu. Nasya, 4 tahun bukan 4 hari. Gimana bisa waktu selama itu aku lepaskan?” jelas Revan yang ingin membangkitkan ingatan Nasya.
Tanpa sengaja satu air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya. Bukan sebentar memang, banyak hal yang sudah terlalui bersama. Sosok Revan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dulu Nasya selalu berharap akan bisa hidup bahagia bersamanya. Namun, semuanya pupus karena satu hari yang Nasya tahu bahwa dirinya juga memiliki hubungan dengan sahabat dekatnya.
“Ak—aku bingung harus jawab apa, Van. Kamu tau gimana aku bertahan hidup hanya untuk makan. Kamu juga tahu kalau dulu cuma kamu yang ada untuk aku. Rasanya kayak masih mimpi kamu ngelakuin semua ini. Masih pacaran aja sakit, apalagi kalau udah nikah,” sahut Nasya.
“Aku salah, aku minta maaf lagi. Dan makasih kamu udah mau dateng. Aku minta kamu kesampingkan dulu ya masalah kita. Ada hal yang lebih penting daripada ini,” balas Revan.
‘Maksudnya?” sahut Nasya penasaran karena wajah Revan tampak serius.
Revan tidak menjawab ucapan Nasya. Dia meninggalkan Nasya dengan langkah besar. Mata Nasya mengikuti arah Revan melangkah. Tidak lama, Revan yang sangat bersemangat dengan membawa barang bawaannya menuju ke arah Nasya. Senyumannya tidak pernah pudar saat menatap Nasya yang sedang menunggunya.
“Selamat ulang tahun, Nasya. Maafin aku ya belum bisa jadi yang terbaik dari apa yang kamu mau. Aku harap, kamu tetap sehat, sehat, dan mau menerima maaf dari aku. Di hari spesialmu ini, aku sengaja buat kue ulang tahun sendiri. Ya … walaupun bentuknya gak bagus dan rasanya juga belum tentu enak. Aku beneran tulus buatnya,” ungkap Revan yang benar saja membuat Nasya terharu.
Dari keluarga dan beberapa orang yang dikenalnya. Hanya Revan yang selalu mengingat tanggal lahirnya. Hari dimana dia dilahirkan di dunia ini. Hari yang tak pernah Nasya ingat karena memang tidak ada yang mengingatnya. Nasya menangis sejadi-jadinya. Mengingat perjalanan yang dilaluinya yang tak pernah cukup untuk orang lain.
“Kenapa kamu masih inget, sih? Kamu gak perlu ngelakuin semua ini, Van. Kamu bisa dapetin yang lebih daripada aku. Kenapa, Van? Kenapa?” Nasya menangis tersedu-sedu merasa tak layak mendapatkannya.
“Hei, bukan waktunya sedih. Ini ditiup dulu lilinnya. Keburu habis,” ujar Revan sambil mengusap air mata Nasya.
Nasya menghargai usaha Revan dan meniup lilin yang berada di atas kue yang bergambarkan wajahnya meski sangat tidak mirip. Tersirat senyum tipis saat Nasya memandangi gambar tersebut. Revan ikut mengembangkan senyumnya melihat tersebut.
“Sebelum kamu cobain kue buatan aku, ini ada kado yang memang gak seberapa, tapi selalu aku usahakan dari hati. Diterima, ya.” Revan memberikan bingkisan tas kertas berwarna cokelat pada Nasya.
“Aku berharap banyak sama hubungan kita, Nasya. Memang ini aku lagi bujuk kamu, tapi tetep keputusan ada di kamu. Aku sudah berusaha semampu aku, kalau kamu terus mau aku mundur. Aku akan jawab gak akan bisa,” lanjut Revan penuh harap.
“Aku takut kamu nyesel, Van. Gak sepadan semuanya, aku terus takut untuk bahagia. Aku selalu dijatuhkan dengan harapan dan kenapa kamu jadi salah satu alasannya juga? Aku selalu diambang ketakutan dan keraguan,” balas Nasya menundukkan kepalanya.
“Kamu butuh waktu, aku bakalan nunggu. Gimana? Aku masih menunggu sampai kamu mau jawab, Nasya. Aku mohon.”