NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

"Papa, jagain Mama dulu. Abang bawa adek ke belakang," ucap Kaivandra cepat sambil berlari menuju panggung.

Sesampainya di atas panggung, Kaivandra langsung mengangkat tubuh adiknya yang lemas ke dalam pangkuan, lalu membawanya ke belakang. Semua orang yang berada di sana tampak bingung dan tidak percaya atas kejadian itu.

"Abang ... adek capek. Adek mau pulang ..." ucap Valeska, nyaris seperti bisikan.

"Iya, nanti kita pulang ke rumah, dek. Sekarang tenang dulu, jangan berpikir yang macam-macam," balas Kaivandra lembut, lalu mengelus kening adiknya yang dingin.

"Adek sakit ... adek nggak mau lama-lama di sini ..." isaknya dengan suara bergetar.

Delina dan Girga segera mendekat, penuh kasih mengelus putri mereka.

"Sayang, cantiknya Mama. Capek,ya? Sini Mama peluk. Adek jangan seperti ini," ucap Delina, berusaha menguatkan.

Valeska hanya menatap kosong ke arah perut Delina yang mulai membuncit karena usia kandungan sudah memasuki lima bulan.

"Adek nggak mau nyakitin adek bayi ... sebentar lagi, Adek bayi lahir. Sekarang, tolong antar adek pulang. Adek capek ... adek nggak mau pura-pura kuat lagi," lirihnya, diiringi tangis yang tertahan.

Kaivandra semakin cemas, namun tetap berusaha menenangkan.

"Adek, cantiknya abang. Kita pulang, tap isekarang ke rumah sakit dulu ya? Ketemu dokter Rijal dulu."

"Tapi, bang, adek nggak mau ... sakitnya adek udah nggak bisa disembuhkan lagi ..." jawabnya dengan nada pasrah.

Girga memberi isyarat agar Kaivandra menyerahkan Valeska ke pangkuannya. Dengan lembut, Girga berkata.

"Sebentar lagi kan putrinya Papa ulang tahun. Bisa bertahan dulu, Nak?"

Valeska menggeleng lemah, kali ini air matanya mengalir deras. Dalam hitungan menit, tubuh Valeska mulai berat dan tidak merespons. Semua panik saat dia mengalami collapse. Sedangkan Kaivandra segera lari menuju parkiran untuk menyiapkan mobil.

Satu sisi, Girga mengangkat tubuh Valeska, sementara Delina, yang kondisinya rentan, dipapah oleh teman dekat Valeska menuju mobil.

"Papa masuk, Mama duduk di depan bareng sbang," ucap Kaivandra sambil membantu keduanya masuk ke dalam mobil. Dia langsung memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.

***

Di rumah sakit, Kaivandra turun dengan tergesa-gesa, membawa Valeska dalam gendongannya.

"Suster! Tolong adik saya! Mana dokter Rijal? Saya butuh dokter Rijal sekarang!" teriaknya panik.

Brankar segera disiapkan, dan dengan capet, Valeska dibaringkan. Kaivandra terus menggenggam tangana diknya, yang kian terasa dingin. Girga dan Delina tertinggal beberapa langkah di belakang,

Delina menggunakan kursi roda karena tidak kuat berjalan. Dengan langkah cepat, dokter Rijal pun memasuki ruangan UGD. Matanya langsung tertuju pada Valeska yang terbaring di brankar dengan wajah pucat pasi.

Monitor menunjukkan tekanan darah yang rendah dan saturasi oksigen yang terus menurun. Napasnya terdengar pendek dan tidak teratur, sementara kuku tangan dan kakinya terlihat membiru lantaran dingin. Melihat kondisi itu, tanpa banyak berpikir dokter Rijal segera mengambil alih situasi.

"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya dokter Rijal, pada perawat setelah menggantikan pakaian Valeska menggunakan kimono rumah sakit.

"Tekanan darahnya turun, Dok. 80/50 mmHg. Saturasi oksigen hanya 84% meski sudah diberi oksigen 10 liter. Jantungnya menunjukkan irama takikardia," jelas sang perawat.

Dokter Rijal pun memijat keningnya, "Ini keadaan darurat. Kita harus bertindak cepat. Siapkan alat pemantauan tambahan. EKG terus dipantau, pasang infus dengan cairan RL, dan tambahkan oksigen hingga 15 liter, kemudian pakaikan masker non-rebreathing. Segera laporkan jika ada perubahan!"

"Baik, Dok." Jawabnya patuh.

Dua perawat segera memasang alat pemantau EKG dan memberikan oksigen melalui masker. Valeska tetapt ak sadarkan diri, dengan napas yang semakin pendek dan terputus-putus.

"Kondisinya menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial. Bisa jadi ada perdarahan atau pembengkakan baru. Siapkan ruang radiologi sekarang. Kita harus lakukan Ct-Scan secepat mungkin,"

"Tapi Dok, ada antrian di radiologi, butuh waktu 15 menit untuk membersihkan ruangannya. Dan mengingat kondisi pasien yang seperti ini, kita harus apa?"

Dokter Rijal menghela napas panjang sebelum menjawab.

"Tidak ada waktu untuk itu! Hubungi kepala radiologi dan katakan ini prioritas darurat. Jika tidak ditangani segera, pasien bisa mengalami herniasi otak!"

Para perawat bergerak cepat, berkoordinasi dengan tim radiologi sekadar membuka ruang Ct-Scan secepatnya. Di sisi lain, dokter Rijal terus memberikan arahan untuk menjaga kondisi pasien.

"Saya minta, stabilkan dulu sebisa mungkin, pastikan oksigenasi dan tekanan darahnya cukup untuk perjalanan ke radiologi. Kalau perlu, bawa ventilator portabel. Dan hubungi dokter anestesi untuk berjaga-jaga kalau harus intubasi,"

"Baik, Dok. Apakah kita perlu menyiapkan manitol atau anti konvulsan?"

Dokter Rijal mengangguk lemah, "Siapkan keduanya. Berikan manitol 20% untuk menurunkan tekanan intrakranial dan levetiracetam untuk mencegah kejang. Tapi awasi ketat, ini pasien risiko tinggi!"

Perawat dengan sigap menjalankan instruksi dari sang dokter, sementara dokter Rijal memeriksa ulang kondisi Valeska.

Brankar pun mulai didorong menuju ruang radiologi dengan segala perlengkapan darurat menyertai. Napas Valeska tetap lemah, namun bisa dikatakan stabil untuk sementara waktu. Sesampainya di ruang radiologi, dokter Rijal memberi arahan terakhir.

"Pastikan prosedur Ct-Scan berjalan cepat. Buang gerakan yang tidak perlu. Ini kondisi kritis, kita butuh hasilnya dalam 15 menit untuk menentukan langkah berikutnya. Hubungi saya begitu hasil keluar."

Tim radiologi bersiap, sementara dokter Rijal kembali menemui keluarga Valeska sekedar menjelaskan apa yang sedang terjadi. Waktu terasa berjalan lambat di tengah tekanan yang begitu tinggi, tapi untungnya semua tenaga medis bekerja sebaik mungkin demi menyelamatkan Valeska.

***

Setelah melakukan Ct-Scan, Valeska langsung dipindahkan ke ruangan ICU. Alat medis sudah terpasang disekujur tubuhnya yang kian terlihat ringkih, 3 orang perawat dan satu dokter, menghela napas saat keluar dari ruangan. Meski begitu, perasaan mereka tidak bisa tenang sebelum hasil Ct-Scan keluar.

Dua jam kemudian, dokter Rijal mengajak pihak keluarga untuk datang ke ruangannya. Dia akan memberitahu anggota keluarganya yang tampak gusar menunggu hasil.

"Hasil Ct-Scan menunjukkan, bahwa tumor di lobus frontal dan pariwtal kanan sudah berkembang signifikan. Dan saat ini, ada edema otak yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial. Kondisi ini sangat serius."

Dokter Rijal menatap anggota keluarga penuh empati, "Kita sudah masuk ke tahap di mana pengobatan hanya bisa bersifat paliatif, dan operasi tidak memungkinkan karena lokasi tumor dan kondisinya saat ini sedang kritis seperti beberapa bulan yang lalu."

Girga menghela napas berat, "Berapa lama waktu yang kita miliki, Dok?"

Dokter Rijal terdiam sejenak, "Sulit untuk memastikan. Tapi dengan kondisi ini, kita harus bersiap menghadapi yang terburuk dalam beberapa hari ke depan."

Jawabnya penuh kehati-hatian. Dokter Rijal paham betul dengan perasaan mereka sekarang, terlebih Valeska adalah putri kesayangannya. Dan setelah mengetahui kondisi Valeska yang sekarang, dokter Rijal memutuskan untuk menyerah dalam menanganinya, karena dia tahu, Valeska sudah di puncak kesakitannya.

Semua anggota sedang menangis, tak sanggup menerima kabar buruk yang baru saja disampaikan. Dan Delina, dia dibuat tersiksa terlebih saat mengingat putrinya yang menginginkan adek bayi sebagai pengganti selepas kepergiannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!