NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Namun, video tersebut sudah dipotong sedemikian rupa. Bagian ketika Reno lebih dulu menyindir dan menuduhnya tidak ditampilkan. Yang terlihat justru potongan saat Nadia menjawab dengan nada kesal, kemudian menggandeng tangan Kian dan pergi bersama Fahri.

Di atas video itu tertulis sebuah keterangan: "Kasihan seorang ayah yang hanya ingin dekat dengan anaknya, tapi dihalangi mantan istri karena sudah punya pria baru. Semoga Kian tetap bisa merasakan kasih sayang ayahnya." Tulis Karin.

Nadia membeku. "Ya Allah..."

Kolom komentar terus bertambah setiap detik. Sebagian orang langsung mempercayai narasi yang ditulis Karin, apalagi Karin sekarang suka bagi-bagi giveaway.

"Kalau benar begitu, kasihan ayahnya."

"Jangan jadikan anak sebagai korban konflik orang tua."

"Semoga videonya lengkap, jangan cuma potongan."

Namun ada pula yang merasa ada kejanggalan.

"Kayaknya ini bukan video utuh."

"Kenapa mulai merekamnya pas mereka sudah berdebat?"

"Kalau memang mau tahu kejadian sebenarnya, harus ada rekaman dari awal."

Nadia mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia sama sekali tidak menyangka percakapan singkat di sekolah tadi ternyata direkam diam-diam, lalu diunggah dengan narasi yang menggiring opini seolah-olah ia melarang Reno dekat dengan Kian hanya karena dirinya telah memiliki kekasih.

Padahal kenyataannya, Kian sendiri yang menolak ajakan Reno karena ingin menepati janji yang sudah dibuatnya sejak beberapa hari sebelumnya. Ponselnya kembali bergetar.

Dila menelepon. "Nad, kamu sudah lihat?"

"Iya..."

"Jangan panik dulu. Banyak yang mulai mempertanyakan videonya juga. Tapi kamu harus siap, karena unggahan itu sudah telanjur menyebar."

Nadia memejamkan mata sejenak. Rasa lelah yang sejak tadi memenuhi tubuhnya kini berubah menjadi kegelisahan. Hari yang seharusnya menjadi kenangan indah bagi Kian mendadak berubah menjadi bahan perbincangan di media sosial akibat sebuah video yang hanya menampilkan sepotong dari keseluruhan kejadian.

***

Pagi harinya, nama Nadia masih menjadi perbincangan di media sosial. Video yang diunggah Karin telah ditonton jutaan kali. Berbagai potongan akun mulai mengunggah ulang dengan judul yang semakin provokatif.

Dila berkali-kali menelepon Nadia. "Nad, kamu harus klarifikasi. Kalau diam terus, orang bisa percaya."

Nadia yang sedang menyiapkan sarapan untuk Kian hanya tersenyum tipis. "Aku akan bicara. Tapi bukan sekarang."

Dila mengembuskan napas panjang. "Kamu bikin aku ikut deg-degan."

Setelah mengantar Kian bermain di rumah Dila, Nadia kembali ke rumah. Ia membuka laptopnya, bukan untuk membuat video balasan atau menyerang Karin. Ia justru membuka folder berisi hasil pemotretan beberapa hari lalu. Di sana terdapat video di balik layar yang direkam oleh tim produksi. Salah satu videonya memperlihatkan Nadia sedang berbicara kepada kru. "Kalau ayah Kian ingin bertemu anaknya, saya tidak pernah melarang. Yang penting, komunikasinya baik dan jangan mendadak."

Nadia terdiam beberapa saat. Ia menutup folder itu. "Bukan... ini bukan cara yang tepat." Ia memilih menghubungi wali kelas Kian. "Bu, apakah saya boleh meminta foto-foto kegiatan kemarin? Saya ingin menyimpan kenangan Kian."

Wali kelas mengirimkan puluhan foto dan beberapa video pendek. Di salah satu video terlihat jelas momen ketika Reno mengajak Kian pergi. Suara Kian terdengar sangat jelas.

"Maaf, Yah... Kian sudah janji mau nonton sama Mama, Om Fahri, sama Ray."

Lalu terdengar Nadia berkata dengan tenang. "Mas, mereka memang sudah merencanakan ini sejak beberapa hari lalu." Video itu berhenti sebelum perdebatan mulai memanas. Nadia menarik napas lega. "Itu sudah cukup."

Malam harinya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia mengunggah sebuah video. Bukan video bantahan. Bukan pula video menyerang Karin. Video itu diawali dengan cuplikan Kian menerima rapor, tertawa bersama Ray, dan tampil di atas panggung. Di bagian tengah, muncul cuplikan ketika Reno mengajak Kian jalan-jalan.

Suara Kian terdengar jelas. "Maaf, Yah. Kian sudah punya janji."

Lalu terdengar suara Nadia. "Mas, mereka memang sudah merencanakan ini sejak beberapa hari lalu."

Setelah itu layar berubah menjadi hitam. Tulisan putih muncul perlahan. "Anak bukan hadiah yang diperebutkan. Anak juga bukan alat untuk memenangkan opini."

Beberapa detik kemudian muncul tulisan berikutnya. "Saya tidak akan menjelaskan siapa yang benar atau salah. Saya hanya berharap setiap orang menghormati hak seorang anak untuk menepati janjinya dan menikmati hari bahagianya."

Video ditutup dengan momen Kian memeluk Nadia sambil tersenyum. Tidak ada nama Reno. Tidak ada nama Karin. Tidak ada kalimat yang menyudutkan siapa pun. Hanya fakta. Dalam waktu singkat, video itu menyebar jauh lebih cepat daripada video Karin. Kolom komentar berubah arah.

"Sekarang baru paham kejadian sebenarnya."

"Ternyata yang menolak bukan ibunya, tapi anaknya karena sudah punya janji."

"Salut, Bu Nadia. Tidak menyerang balik."

"Inilah bedanya orang yang mencari pembenaran dengan orang yang menyampaikan fakta."

Bahkan beberapa akun yang sebelumnya membagikan video Karin mulai menghapus unggahan mereka dan meminta maaf karena terburu-buru mengambil kesimpulan.

Di sisi lain, Karin memandangi layar ponselnya dengan wajah pucat. Unggahannya mulai dipenuhi komentar baru.

"Ternyata videonya dipotong."

"Kenapa tidak unggah dari awal?"

"Narasinya menggiring opini."

"Kasihan Kian. Hari bahagianya malah dijadikan konten." Jumlah pengikut Karin memang tidak banyak berkurang, tetapi kepercayaan publik mulai memudar.

Sementara itu, Nadia memilih menutup aplikasi media sosial. Ia kembali menemani Kian belajar seperti biasa.

Dila yang melihat semuanya hanya tersenyum. "Kamu tahu nggak, Nad? Kamu menang."

Nadia menggeleng pelan. "Nggak ada yang menang, Dil."

"Lho?"

"Aku cuma mengembalikan cerita ke tempat yang seharusnya." Di luar sana, perdebatan masih terus berlangsung. Namun bagi Nadia, yang terpenting bukanlah memenangkan media sosial, melainkan memastikan putranya tumbuh tanpa harus terus menjadi alat dalam pertengkaran orang-orang dewasa.

***

Sore itu, Reno sedang duduk termenung di ruang tamu ketika terdengar suara bel rumah. Saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah kakaknya, Rida. "Masuk, Mbak."

Rida mengangguk pelan. Wajahnya tampak serius. "Aku cuma sebentar." Setelah duduk, Rida langsung mengeluarkan ponselnya. "Kamu sudah lihat ini?"

Reno mengangguk. "Video Karin?"

"Bukan cuma itu." Rida menggeser layar ponselnya, lalu memutar video balasan yang diunggah Nadia. Ruangan menjadi sunyi.

Reno menyaksikan seluruh isi video tanpa berkedip. Tidak ada makian. Tidak ada fitnah. Nadia hanya memperlihatkan fakta bahwa Kian menolak ajakannya karena sudah memiliki janji lebih dulu. Video itu selesai.

Rida mematikan layar ponselnya. "Nah... sekarang kamu paham?"

Reno mengembuskan napas panjang. "Karin cuma mau membela aku."

Rida menggeleng pelan. "Bukan membela."

"Lalu?"

"Dia sedang memperburuk keadaan." Rida menatap adiknya dengan sorot mata penuh keprihatinan. "Aku rasa... kamu sudah nggak punya masa depan dengan Karin."

Reno mengernyit. "Maksud Mbak?"

"Reno, coba lihat kenyataan." Rida menghitung dengan jarinya. "Kafe yang kamu bangun susah payah sudah hancur. Pelanggan pergi satu per satu. Nama baikmu juga rusak. Belum cukup sampai di situ." Rida melanjutkan dengan nada tegas. "Sekarang setiap kali nama kalian muncul di media sosial, yang datang bukan dukungan, tapi hujatan."

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!