Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Ganda panik setengah mati. Telapak tangannya yang menyentuh pipi Diaz terasa sedingin es, sementara wajah gadis itu pucat pasi tanpa ada sedikit pun respons.
Rasa bersalah yang amat besar mendadak berubah menjadi ketakutan yang mencekik batinnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Ganda langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Diaz, membopong tubuh ringkih istri pertamanya itu dengan erat, lalu bergegas keluar kamar menuju halaman pondok.
Namun, baru saja ia melewati pintu kamar dan menginjak ruang tengah ndalem, langkah lebar Ganda langsung dihadang oleh Umi Maryam dan Laura.
Bukannya menunjukkan rasa prihatin melihat kondisi Diaz yang tak berdaya, keduanya justru melempar pandangan sinis yang dipenuhi rasa muak.
Laura melangkah maju, memandang tubuh Diaz di gendongan Ganda dengan senyum meremehkan.
"Mas, paling dia cuma akting pingsan biar kamu kasihan dan enggak jadi lepasin dia! Drama banget, sih!" provokasi Laura dengan nada suara yang ditinggikan.
Umi Maryam menimpali dengan kilat mata yang tak kalah tajam, ikut menyudutkan menantu pertamanya.
"Benar kata Laura, Ganda! Perempuan dari jalanan begitu memang pintar cari perhatian. Dia sengaja manipulatif supaya kamu merasa bersalah dan melupakan kewajibanmu di pondok. Taruh dia di sofa, jangan kamu manjakan!"
Brak!
Dada Ganda bergemuruh hebat, napasnya memburu kasar.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Ganda—yang selama ini dikenal oleh seluruh santri sebagai sosok pemuda yang tenang, santun, dan selalu bertutur kata lembut—meledak dalam amarah yang mengerikan tepat di depan ibu kandung dan istri keduanya.
"Cukup, Laura!!" bentak Ganda dengan suara bariton yang menggelegar, membuat Laura tersentak mundur dengan wajah pias seketika.
Ganda membalikkan tubuhnya, menatap Umi Maryam dengan kilat mata yang menyala tajam, penuh ketegasan seorang kepala keluarga yang tidak bisa diganggu gugat.
"Dan Umi. Ganda mohon dengan sangat, jaga lisan Umi! Wanita yang sedang Ganda gendong ini adalah istri pertama Ganda yang sah secara agama! Dia pingsan karena menahan beban yang teramat berat akibat keegoisan kita semua di rumah ini! Mulai detik ini, jangan pernah ada yang berani menghina atau menuduh istri saya dengan kata-kata kotor lagi!"
Suasana di dalam ndalem seketika senyap, membeku, dan mencekam.
Amarah sang anak kiai yang begitu meluap sukses membungkam mulut Umi Maryam dan membuat Laura gemetar ketakutan.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut menjelang Maghrib?!"
Suara berat nan berwibawa milik Abah memotong perdebatan.
Beliau muncul dari arah ruang kerja dengan tongkat di tangannya.
Begitu matanya menangkap sosok Diaz yang terkulai lemah di pelukan Ganda, gurat kecemasan langsung tercetak di wajah sepuhnya.
Dengan otoritas penuh sebagai pemimpin tertinggi pondok, Abah menatap Ganda.
"Ganda, berhenti berdebat! Nyawa manusia bukan taruhan. Cepat bawa Diaz ke rumah sakit terdekat di Kepanjen sekarang! Gunakan mobil Abah!"
"Baik, Abah," jawab Ganda patuh.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Ganda langsung berlari membawa Diaz menuju garasi.
Ia membaringkan tubuh Diaz dengan sangat hati-hati di kursi belakang mobil, memastikan kepala istrinya bersandar dengan nyaman, sebelum akhirnya melompat ke kursi kemudi.
Ganda melajukan mobil tersebut membelah gerbang pondok dengan kecepatan tinggi di tengah remang sore yang mulai merayap naik menjelang kumandang azan Maghrib.
Fokusnya kini pecah belah; sepasang matanya terus-menerus melirik kaca spion tengah, mengkhawatirkan kondisi Diaz yang masih tak sadarkan diri di belakang sana.
Pikirannya dipenuhi ketakutan akan kehilangan wanita yang bahkan belum sempat ia kenali lebih dalam itu.
Ganda benar-benar mengabaikan segalanya. Ia tidak peduli pada Umi Maryam yang meradang di ndalem, dan ia sama sekali tidak menghiraukan Laura yang saat ini sedang menangis jengkel bercampur histeris di dalam kamarnya.
Di malam yang seharusnya menjadi malam pertama yang indah bagi Laura, wanita itu justru harus menelan pil pahit ditinggal pergi oleh suaminya demi menyelamatkan wanita lain.
Malam itu, di bawah langit Kepanjen yang mulai menggelap, garis takdir menunjukkan kontras yang begitu nyata: ketegasan mutlak dari seorang Ganda yang mulai berdiri tegak sebagai suami demi melindungi harga diri istrinya, bersanding dengan penderitaan mendalam dari seorang Diaz—gadis malang yang hanyalah korban dari situasi, yang kini terbaring lemah berjuang melawan rasa sakit di tengah badai pernikahan yang tak pernah ia inginkan.
Deru roda mobil pribadi Abah mencicit keras saat berbelok tajam memasuki pelataran Drop-Off IGD Rumah Sakit Swasta As-Syifa—rumah sakit megah yang tak lain adalah milik yayasan keluarga besar Mahesa sendiri.
Bersamaan dengan berhentinya mobil, suara azan Maghrib berkumandang dari kejauhan, membelah langit sore yang kian menggelap.
Gema panggilan salat itu seolah menambah kesan sakral sekaligus mencekam di tengah situasi hidup dan mati ini.
Ganda melompat turun dari kursi kemudi bahkan sebelum mesin mobil mati sempurna.
Wajahnya yang biasa tenang kini pias, sarat akan kepanikan yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Medis! Tolong bawa brankar ke sini sekarang! Cepat!" teriak Ganda lantang, suaranya menggema memecah ketenangan lobi rumah sakit.
Beberapa perawat dan dokter jaga yang mengenalnya sebagai anak pemilik yayasan langsung terperangah.
Melihat Ustaz Ganda yang berteriak panik dengan jas resepsi yang sudah berantakan, mereka dengan sigap mendorong brankar ke samping mobil.
Tanpa menunggu bantuan, Ganda kembali membopong tubuh ringkih Diaz dari kursi belakang dan membaringkannya dengan sangat hati-hati ke atas kasur dorong tersebut.
"Siapkan ruang penanganan utama! Cepat!" perintah Ganda dengan nada bergetar saat roda brankar mulai didorong cepat membelah pintu otomatis IGD.
Ganda dipaksa berhenti tepat di depan pintu kaca buram bertuliskan 'Dilarang Masuk Selain Petugas'.
Langkahnya tertahan, menyisakan dirinya yang kini berdiri sendirian di koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik menyengat.
Ia mulai mondar-mandir tanpa arah. Setelan jas mewahnya kini terasa mencekik leher. Ganda menunduk, memandangi kedua telapak tangannya yang gemetar.
Di sana, ia masih bisa merasakan sisa kehangatan dari tubuh Diaz, sekaligus rasa dingin yang membeku dari jemari istri pertamanya saat pingsan tadi.
Kenapa semua orang di dunia ini hanya ingin memanfaatkanku? Kamu dan aku tidak saling mencintai. Jadi, maaf, aku harus pergi.
Untaian kalimat lirih Diaz terus berputar di kepala Ganda bagai kaset rusak, meremas ulu hatinya dengan rasa bersalah yang teramat masif.
Ganda meraup wajahnya kasar, beristighfar berkali-kali di dalam hati.
Egonya sebagai laki-laki, kepanikannya demi menjaga harga diri pesantren, ternyata telah menumbangkan seorang gadis yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang badai hidupnya.
Dia telah memanfaatkan kepolosan Diaz, dan kini wanita itu membayarnya dengan nyawa.
Hampir tiga puluh menit berlalu bagai siksaan abadi bagi Ganda, sampai akhirnya pintu IGD bergeser terbuka. dr. Fahmi, Sp.PD—dokter spesialis penyakit dalam senior sekaligus kerabat dekat Abah—melangkah keluar.
Beliau melepas sarung tangan medisnya dengan wajah serius namun tetap berusaha tenang.
Ganda langsung menghambur maju, mencengkeram lengan dokter senior itu.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Dia, hanya pingsan biasa karena kelelahan, kan?" tanya Ganda, menuntut jawaban yang menenangkan batinnya.
Dr. Fahmi mengembuskan napas pendek, menatap Ganda dengan pandangan mata yang sarat akan keprihatinan.
"Secara fisik luar, istri Anda memang terlihat tidak mengalami luka atau trauma akut, Ustaz Ganda,"
buka dr. Fahmi, suaranya berat dan profesional. "Namun, hasil laboratorium dan pemeriksaan klinis yang baru saja keluar menunjukkan kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan."
Jantung Ganda serasa berhenti berdetak. "Maksud Dokter?"
"Pasien mengalami kombinasi antara dehidrasi berat tingkat dua dan malnutrisi kronis yang cukup parah," jelas dr. Fahmi sambil menunjukkan berkas rekam medis di tangannya.
"Kekurangan gizi ini bukan terjadi satu atau dua hari, Ganda, tapi sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Tubuhnya dipaksa bekerja melebihi kapasitas tanpa asupan nutrisi dan cairan yang memadai. Ditambah lagi, tekanan darahnya drop drastis akibat exhaustion—kelelahan ekstrem setelah berkendara motor tanpa henti dari luar kota."
Dr. Fahmi menghentikan kalimatnya sejenak, menatap Ganda lebih dalam.
"Tapi yang paling berbahaya di sini bukan hanya kondisi fisiknya, melainkan syok mental yang memicu psikosomatis. Beban stres yang terlampau berat, tekanan emosional yang masif, atau mungkin ada trauma psikologis masa lalu yang mendadak meledak hari ini. Otak istri Anda mengirim sinyal darurat ke seluruh organ tubuh, membuat sistem imunitasnya tumbang seketika sebagai bentuk pertahanan diri karena dia sudah tidak sanggup lagi berpikir."
Dokter senior itu menepuk bahu Ganda yang kini sudah melemas, wajah sang anak kiai tampak runtuh seketika mendengar diagnosis tersebut.
"Jika Anda terlambat membawa dia ke sini sepuluh menit saja, dehidrasi berat ini bisa memicu gagal ginjal akut, atau penurunan kesadaran yang lebih dalam yang mengarah pada koma," lanjut dr. Fahmi tegas.
"Saat ini kami sudah memasang infus dosis tinggi dan obat penenang untuk menstabilkan organ dalam tubuhnya. Ingat Ganda, dia butuh istirahat total. Total.
Tanpa ada tekanan emosional apa pun dari siapa pun setelah dia sadar nanti. Mengerti?"
Ganda hanya bisa mengangguk pelan dengan tatapan kosong.
Sumpah mutlak yang ia ucapkan di depan pintu kamar tadi kini terasa seperti beban yang teramat berat.
Di dalam ruang IGD sana, Diaz sedang terbaring tidak berdaya, menjadi korban dari keegoisan dua keluarga yang menjadikannya sebagai tameng, sementara Ganda dipaksa berdiri tegak di garis batas kritis antara mempertahankan atau melepaskan.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡