NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6-Kemana kita?

Hingga sepuluh menit berlalu, barulah Arhan melepaskan pelukannya. "Makasih kak udah mau maafin aku dan mau untuk aku anggap jadi kakak ku."

Lula tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. "Aku tau rasanya kehilangan Arhan, rasanya sakit dan rindu jadi satu. Dan..." Lula menundukkan kepalanya. "Aku pikir kamu tadi cuman mainan sama aku, aku pikir aku salah menilai kamu kemarin." Cicitnya pelan hingga hampir tidak bersuara namun Arhan masih tetap bisa mendengarnya.

Arhan memegang kedua pundak Lula lembut dengan tatapan yang tak lepas menatap wajah Lula. "Aku awalnya memang ditantang sama mereka untuk minta nomer telepon kakak, ternyata kakak tidak punya ponsel. Tapi percayalah, aku menolong kak Lula itu tulus tanpa ada suruhan, dan kak Lula mengingatkan aku dengan kakak perempuan ku yang sudah tidak ada." Arhan menjelaskan itu pada Lula dengan wajah harapan agar Lula percaya dengan ucapannya.

Lula menghembuskan nafasnya pelan. "Temen kamu nantang kamu kaya gitu karena aku itu jelek, kumuh, dan sering di bully. Kalo mereka tau kamu kaya gini sama aku, apa kamu enggak takut bakal jadi bahan tertawaan mereka?"

Dengan cepat Arhan menggeleng. "Enggak akan, aku punya kuasa disini, nggak akan ada orang yang berani ngeganggu kita."

Entah kenapa, perkataan Arhan barusan membuat hati Lula menjadi tenang. Ia seperti memiliki pelindung sekarang. Ia sudah tidak sendirian lagi sekarang. Kini ia punya perisai dan teman untuknya berlindung. Salah kah jika Lula berharap lebih pada cowok didepannya ini? Cowok yang kemarin baru ia kenal? Tidak apalah jika mereka hanya sebatas adik kakakan saja, yang penting ia punya satu orang sebagai harapannya.

Mereka terdiam karena larut dengan pikiran masing-masing.

Arhan terpaksa berbohong pada cewek didepannya. Ia pikir perasaan dihatinya ini bukanlah rasa suka. Ia berharap ini hanya perasaan biasa saja, ya, Arhan tidak boleh bertindak gegabah. Mungkin menganggap cewek didepan nya sebagai kakak bukanlah masalah baginya.

Arhan akhirnya membuka percakapan mereka dikala keheningan mulai terjadi. "Pulang sekolah nanti ikut aku ya kak." Ajak Arhan pada Lula.

Lula mengangkat kepalanya. "Aku kerja Arhan, kamu lupa?" Ucapnya mengingatkan Arhan.

"Nanti biar aku aja yang izin ke bos kakak ya, aku bayar nanti."

Lula terbelak. "Hah? Enggak, aku enggak mau! Ngapain kamu repot-repot izin sampe harus bayar, tabung uang kamu itu, enggak guna Ar-"

Arhan meletakkan jari telunjuknya di bibir Lula agar berhenti berbicara. "Pokoknya harus ikut! Ini adalah bentuk perayaan aku karena hari ini aku akhirnya punya kakak perempuan lagi."

"Arhan..." Demi apapun Lula benar-benar tidak enak hati pada Arhan. Baru day one jadi pengganti kakak nya saja Arhan sampai segininya. Tapi, melihat wajah Arhan yang tetep kekeuh dengan kemauannya membuat Lula tidak bisa lagi komen apa-apa selain meng-iyakan permintaan Arhan, Lula akhirnya pasrah.

Bel masuk berbunyi, membuat percakapan mereka harus berhenti sampai disini. Mereka kemudian beranjak pergi meninggalkan rooftop untuk ke kelas masing-masing.

"Nanti tunggu di parkiran ya pulang sekolah kak. " Titah Arhan sebelum mereka berdua berpisah kelas.

Lula mengangguk sebagai jawaban.

*****

*****

Sepulang dari sekolah, seperti yang dijanjikan, Lula akan menunggu Arhan diparkiran. Sembari menunggu Arhan keluar dari gedung sekolah, Lula mendudukkan pantatnya pada kursi kosong yang tak jauh dari parkir.

Ia mengayunkan kakinya yang bergelantungan. Seperti biasanya, Lula akan menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang-orang disekitarnya. Ya, Lula memang selemah itu melawan mereka.

Tin...

Tin...

Suara klakson yang berhasil mengagetkan Lula. Motor ninja yang digunakan oleh Arhan itu berhenti tepat didepan Lula. "Ayo naik kak!" Serunya dengan wajah yang sudah ditutupi dengan helm.

Lula beranjak dari tempat duduknya. Sebelum ia menaiki motor milik Arhan. Cowok itu terlebih dahulu membenarkan pancatan kaki agar Lula tidak perlu membenarkannya lagi. Sungguh, ia seperti diperlakukan bagaikan tuan putri oleh Arhan.

Lula memegang kedua pundak Arhan saat menaiki motor itu, hal itu karena motor Arhan yang begitu tinggi hingga Lula agak susah untuk naik jika tidak berpegangan.

"Udah?." Tanya Arhan.

"Udah." Jawab Lula.

Arhan pun menutup kaca helm nya dan langsung memasukkan gigi motornya. Melaju pelan meninggalkan tempat sekolah mereka.

Tanpa sadar, sepasang siswa berkacamata sedang menatap kepergian mereka dengan perasaan menggebu-gebu. Siswa itu meremas kunci mobil yang sedang dipegangnya kemudian berjalan pergi setelah beberapa detik motor yang Arhan dan Lula tidak lagi terlihat.

****

****

Selama perjalanan berlangsung, hanya ada keheningan yang tercipta antara Arhan dan Lula. Entahlah, mungkin karena belum terlalu akrab mangkanya sedikit canggung.

"Kita mau kemana sih?" Tanya Lula yang begitu penasaran kemana Arhan akan mengajaknya.

"Ngomong apa?" Ucap Arhan dengan sedikit mengencangkan suaranya. Matanya masih tetap ia fokuskan untuk menyetir.

Lula pun mengulangi pertanyaan nya lagi. "Kita mau kemana?" Tanyanya yang sedikit meninggikan suaranya agar terdengar.

"Hah? Aku gak denger? Coba maju lagi!" Teriak Arhan yang tidak malu sama sekali dengan orang-orang.

Lula menarik nafasnya pelan lalu menghembuskan nya. "KITA MAU KEMANA ARHANNN!!!!" Pekiknya yang semakin keras mengeluarkan suaranya, dan sedikit memajukan wajahnya, berteriak disamping telinga Arhan yang ditutup oleh helm.

"Hah? Apa kak?"

"Arhan....!" Lula memukul punggung Arhan pelan karena jengkel. Ia yakin Arhan hanya pura-pura tidak mendengar pertanyaannya.

Didepan, Arhan berusaha menahan tawanya mendengar Lula yang terlihat jengkel dengannya karena berpura-pura tidak mendengar pertanyaan dari Lula.

Setelah beberapa waktu berlalu, motor yang mereka tumpangi akhirnya sampai disebuah bangunan besar dengan banner rambut.

"Kamu mau perawatan rambut?" Tanya Lula dengan mengangkat satu alisnya. Kemudian ia segera turun dari motor Arhan.

"Ya kakak lah yang perawatan." Jawab Arhan dengan santai, namun tidak dengan Lula.

Lula membelakkan matanya. "Hah? Kenapa ak-" Belum sempat melanjutkan perkataannya, Arhan malah menarik tangannya untuk segera masuk kedalam.

"Berisik banget sih ah!" Tukas Arhan yang gemas mendengar Lula begitu sangat berisik sekali.

Tubuh Lula hampir saja jatuh jika ia tidak benar-benar kuat menjaga keseimbangan nya karena ditarik begitu saja oleh Arhan.

"Mbak, lurusin rambut dia ya, jangan sampe ada yg pecah-pecah lagi, pokoknya saya tunggu disini harus udah bagus." Ucap Arhan pada pegawai salon rambut itu.

"Baik tuan, anda bisa tunggu disini ya." Jawab pegawai itu dengan penuh kesopanan. "Ayo nona, kita masuk kedalam." Pegawai itu kemudian mengajak Lula untuk mengikuti dirinya kedalam.

Tangan Lula yang dipegang oleh pegawai salon itu terkejut. "Hah?." Ia kaget, tapi tetap mengikuti pegawai tersebut. "Arhan, kenapa harus gini sih?" Tanya Lula sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Arhan.

Arhan hanya tersenyum tipis melihatnya. "Apa ini cinta ya?." Tanyanya pada diri sendiri. Ia kemudian menggelengkan kepalanya, mencoba menepis perasaan nya tersebut. Sembari menunggu Lula selesai, Arhan membuka ponselnya untuk mengecek apakah ada yang mengirimkannya pesan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!