NovelToon NovelToon
NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Panqeran Sipit

Judul: Napas Terakhir Lumina

Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pertemuan di Perbatasan, Kebenaran Terungkap

​Kabut tebal yang berbau belerang dan kematian merayap perlahan di sela-sela akar purba Perbatasan Batas Langit. Akar-akar pohon yang biasanya bersinar hangat, kini tampak menghitam, seolah-olah kehidupan mereka disedot oleh kehadiran energi jahat yang dibawa oleh Valerius. Alisha berdiri tegak, meski luka di bahu kirinya akibat panah ghaib dalam perjalanan tadi masih berdenyut perih, mengalirkan sensasi dingin yang menusuk tulang. Di depannya, Valerius tampak seperti monumen dari masa lalu yang terlupakan—pucat, keras, dan penuh dengan rahasia yang menyesakkan dada.

​“Kau datang tanpa pasukan, persis seperti yang kuminta,” suara Valerius memecah kesunyian lembah. Suaranya datar namun tajam, membawa otoritas yang dulu pernah Alisha kagumi. “Keberanianmu itu... kau mewarisinya dari ayahmu, Sena. Terlalu percaya pada kekuatan niat baik, sampai-sampai kalian semua lupa bahwa dunia ini tidak digerakkan oleh harapan, melainkan oleh kebutuhan dan ketakutan.”

​Alisha tidak menurunkan pedangnya sedikit pun. Cahaya dari pedangnya memantul di bola matanya, memberikan kesan seolah matanya sendiri sedang terbakar. “Aku datang bukan untuk mendengar khotbahmu tentang pesimisme, Valerius. Aku datang untuk menghentikan pertumpahan darah yang tidak perlu ini. Hutan Lumina baru saja mulai bernapas kembali setelah perang panjang melawan Vorlag. Mengapa kau begitu tega ingin mencekiknya lagi dengan pemberontakan yang tidak masuk akal ini?”

​Valerius tertawa, sebuah tawa yang lebih mirip batuk kering yang menyakitkan. “Mencekik? Alisha, aku justru mencoba memberinya paru-paru yang lebih kuat! Kau melihat perdamaian yang indah, namun aku melihat pembusukan yang tertutup oleh emas. Kau pikir orang tuamu adalah santo yang tanpa cela? Kau pikir Jantung Kegelapan benar-benar hancur dalam pertempuran besar itu?”

​Langkah Alisha goyah sejenak. Kata-kata itu menghantamnya lebih telak daripada serangan fisik mana pun. “Apa maksudmu? Ayahku sendiri yang menghancurkan jantung itu di depan seluruh jenderal.”

​“Jantung itu tidak bisa dihancurkan sepenuhnya oleh kekuatan fana, Alisha. Energi sekecil itu hanya bisa dipindahkan atau disegel,” Valerius melangkah mendekat dengan perlahan, membiarkan ujung tajam pedang Alisha nyaris menyentuh dadanya yang terbalut jubah lusuh. “Ayahmu, Sena, mengambil jalan pintas yang berbahaya. Ia tidak menghancurkan kegelapan itu; ia hanya menguncinya di dalam fondasi paling dalam hutan ini—tepat di bawah akar Pohon Kehidupan. Perdamaian yang kau nikmati sekarang, bunga-bunga yang kau hirup aromanya, semuanya tumbuh di atas tanah yang beracun. Aku pemberontak karena aku ingin menghancurkan fondasi itu sebelum kegelapannya meledak dan menelan kita semua tanpa sisa!”

​Informasi itu menghantam Alisha seperti badai besar. Keyakinannya pada sejarah keluarganya yang heroik mulai retak. Apakah selama ini ia hidup di atas tumpukan kebohongan? Apakah perdamaian ini hanyalah ilusi yang dipaksakan demi stabilitas sesaat?

​“Itu dusta yang kau ciptakan untuk membenarkan pengkhianatanmu!” teriak Alisha, meski suaranya sedikit bergetar oleh keraguan yang mulai merayap di benaknya.

​“Tanyakan pada ibumu, Elara, jika kau tidak percaya padaku. Tanyakan mengapa ia melarang siapa pun, termasuk dirimu, untuk masuk ke Ruang Akar Bawah sejak kau lahir,” tantang Valerius dengan mata yang menyala merah. “Aku bukan ingin berkuasa untuk diriku sendiri, Alisha. Aku hanya ingin kita berhenti membohongi diri sendiri sebelum terlambat!”

​Amarah, kebingungan, dan rasa sakit hati memicu naluri bertarung Alisha. Ia tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Pertempuran pun pecah dengan ledakan energi cahaya yang membutakan. Logam beradu dengan dentuman yang mengguncang dahan-dahan tua di sekitar mereka. Valerius bertarung dengan gaya yang brutal, efisien, namun penuh dengan keputusasaan yang nyata. Sementara itu, Alisha bertarung dengan kemurnian cahaya yang kini mulai ternoda oleh bayang-bayang keraguan.

​Setiap tebasan pedang Alisha menciptakan busur cahaya yang membelah kabut, namun Valerius mampu menangkisnya dengan pedang hitam yang dialiri energi kegelapan. Mereka bergerak seperti kilat di antara bebatuan terjal. Alisha bisa merasakan kelelahan mulai merayap, namun pikirannya terus terngiang akan kata-kata "Ruang Akar".

​Setelah pertukaran serangan yang melelahkan selama hampir satu jam, Alisha menemukan celah. Dengan satu gerakan memutar yang cepat—teknik yang sebenarnya dulu diajarkan oleh Valerius sendiri—ia berhasil memutar pergelangan tangan lawannya dan menjatuhkan pedang hitam itu ke jurang. Alisha berdiri di atas mentornya yang terengah-engah, pedang cahayanya kini tepat berada di tenggorokan Valerius yang bersimbah keringat dan debu.

​“Lakukan,” bisik Valerius dengan suara pasrah. “Akhiri kebohongan ini dengan darahku. Itu akan membuktikan bahwa kau memang tidak lebih baik dari mereka yang kau sebut tiran.”

​Namun, saat Alisha menatap dalam-dalam ke mata pria itu, ia tidak melihat sosok monster jahat yang selama ini ia bayangkan. Ia melihat seorang pria yang hancur, seorang prajurit tua yang dihancurkan oleh beratnya kebenaran yang terlalu besar untuk dipikul sendirian selama puluhan tahun. Perlahan, Alisha menurunkan pedangnya.

​“Aku tidak akan membunuhmu hanya karena kebenaran yang kau yakini berbeda dariku, Valerius,” ucap Alisha dengan suara lirih namun mantap. “Jika apa yang kau katakan benar, maka kita harus menyelesaikannya bersama sebagai bangsa Lumina. Bukan dengan saling membantai di tempat terpencil seperti ini.”

​Untuk sesaat, tembok kebencian di wajah Valerius runtuh. Air mata yang jarang terlihat menggenang di matanya yang merah. “Kau... kau benar-benar memiliki hati mereka, Alisha. Maafkan aku atas segala kehancuran ini.”

​Namun, momen penebusan itu terinterupsi secara kasar oleh siulan tajam di udara. Sebuah anak panah berujung api hitam melesat dari kegelapan hutan di belakang Alisha, mengincar punggungnya yang sedang lengah.

​“ALISHA, AWAS!”

​Dengan gerakan refleks yang melampaui logika manusia, Valerius memutar tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai perisai manusia di depan muridnya. Anak panah beracun itu menghujam tepat di jantung Valerius.

​Dari balik bayang-bayang pepohonan yang mati, muncul sekelompok sosok bertopeng hitam. Mereka dipimpin oleh seorang wanita bernama Lyra—bukan Lyra sang penerus yang akan datang nanti, melainkan seorang panglima radikal tangan kanan Valerius yang merasa bosan dengan diplomasi.

​“Kau terlalu lemah, Valerius!” teriak Lyra dari kegelapan, busurnya kembali terentang. “Jika kau tidak sanggup memimpin revolusi ini menuju mandi darah, maka biarkan aku yang menyelesaikannya! Hutan ini butuh api, bukan negosiasi!”

​Valerius tersungkur di pelukan Alisha, darah hitam yang kental mulai merembes dari dadanya yang bidang. “Hentikan... Lyra... jangan lakukan ini...” bisiknya lemah, namun Lyra tidak lagi mendengarkan. Ambisinya telah dibutakan oleh kebencian yang jauh melampaui alasan awal pemberontakan mereka.

​“Kau pengkhianat sejati!” teriak Alisha pada Lyra. Energinya meledak dalam pilar cahaya yang masif, menciptakan gelombang kejut yang melempar mundur para pemanah bertopeng itu hingga menabrak pepohonan. Namun, fokus utama Alisha tetap pada pria yang sedang sekarat di lengannya.

​“Alisha...” Valerius menggenggam tangan Alisha dengan sisa kekuatannya yang terakhir. “Cari... Ruang Akar... Jangan biarkan kegelapan itu menang... Gunakan cahayamu untuk memurnikannya, bukan hanya menyegelnya... Maafkan aku atas segala dosaku...”

​Napas Valerius berhenti seketika. Pria yang memulai hidupnya sebagai penjaga paling setia, lalu berpaling menjadi pemberontak yang paling ditakuti, akhirnya mati sebagai pelindung bagi orang yang paling ia benci sekaligus ia cintai. Alisha meraung dalam duka yang mendalam, sebuah teriakan yang memancarkan pilar cahaya murni ke langit malam, memberi sinyal posisi pada Rylan dan pasukan bantuan yang ternyata sudah mendekat di kejauhan.

​Melihat kekuatan yang luar biasa dari Alisha yang sedang berduka, Lyra dan pengikutnya mulai ragu. Ketika Rylan dan para Penjaga Cahaya mengepung tempat itu beberapa saat kemudian, para pemberontak yang tersisa menyerah tanpa syarat. Lyra sendiri berhasil ditangkap hidup-hidup setelah Alisha melumpuhkannya dengan ledakan energi yang terkendali namun menghancurkan mentalnya.

​Alisha berdiri di tengah kekacauan medan perang, bahunya yang terluka bersimbah darah, namun matanya menatap tajam ke arah Lyra yang terikat. “Kau akan mendapatkan pengadilan yang adil di bawah hukum Lumina, Lyra. Sesuatu yang bahkan tidak kau berikan pada pemimpinmu sendiri.”

​Kembali di istana beberapa hari kemudian, kedamaian terasa sangat sunyi dan asing bagi Alisha. Ia duduk bersama Rylan di balkon, menatap hutan yang tampak tenang dari kejauhan. Namun, pikirannya berada jauh di bawah permukaan bumi, di Ruang Akar yang disebutkan Valerius sebelum ajalnya.

​“Valerius tidak berbohong, Rylan,” bisik Alisha sambil menggenggam tangan suaminya. “Aku bisa merasakannya sekarang. Ada getaran aneh di bawah kaki kita... sebuah detak jantung yang tidak semestinya ada di sana.”

​Rylan menggenggam tangannya erat, memberikan kekuatan moral yang sangat dibutuhkan Alisha. “Apa pun itu, kita akan menghadapinya bersama. Kita akan mencari kebenaran tentang apa yang dilakukan orang tuamu, dan kita akan memperbaiki apa pun yang mereka tinggalkan dengan cara yang lebih baik. Tanpa rahasia lagi.”

​Alisha menyandarkan kepalanya di bahu Rylan yang kokoh. Perang melawan pemberontak mungkin telah usai secara fisik, namun perang untuk menjaga integritas dan kebenaran Hutan Lumina baru saja dimulai. Di atas sana, bintang-bintang bersinar dengan indahnya, namun di bawah sana, kegelapan mulai berbisik pelan, menunggu waktunya untuk bangkit kembali menagih janji masa lalu.

 

1
Alia Chans
semangat✍️👈😍
T28J
terimakasih 👍
Alia Chans
semangat thor😍





jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
T28J
lanjuuuut ✍️
Dindinn
makasiiihhh💪😍
T28J
ceritanya agak cepat, cocok buat platform online👍
T28J
wiih udha bertahun tahun aja 👍
T28J
stasiun senen, jangan jangan authornya tetangga saya ni 👍
T28J
semoga lebih cepat update nya thor
BOS MUDA
next buat yg lebh seruu lg ya
BOS MUDA
panjangnya💪🙏🙏😄
BOS MUDA
mantap ceritanya, panjang bener💪🤭😍
LAMBE TURAH
bagus kali ceritanya
NANDA'Z OFFICIAL
🧐😮😧😱
T28J
cocok dikasih like👍cocok dikasih hadiah💪
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.
Dindinn: makasih kak semangat 💪💪💪💪😍🤭🙏
total 1 replies
absurd
semangat💪
absurd
🤠
absurd
semoga lebih baik dan seru lagi ya ceritanya 🤩
bagus
💪👍
bagus
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!