Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Hawa sedingin es di luar jendela penthouse Brooklyn malam ini terasa begitu kontras dengan uap panas yang mengepul dari dalam kamar mandi utama.
Suara deru air pancuran yang menghantam lantai marmer hitam perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian yang pekat.
Louis Enver Osborn melangkah keluar dari dalam bilik kaca, membiarkan sisa-sisa air hangat menetes dari ujung rambutnya yang basah ke atas dada bidangnya yang dipenuhi tato abstrak.
Dengan gerakan yang lambat dan terkesan lelah, dia meraih selembar bathrobe sutra hitam yang tergantung di balik pintu, memakainya longgar-longgar tanpa mengikat talinya dengan kencang, membiarkan bagian dadanya yang kokoh tetap terekspos.
Dia berjalan mendekati wastafel besar, menatap bayangan dirinya sendiri di cermin yang berembun. Rambut urakannya yang basah membingkai wajah tegas dengan sepasang mata elang abu-abu yang kini tampak begitu redup, dikelilingi oleh kantung mata hitam akibat lingkaran setan yang menyiksa batinnya belakangan ini.
Louis membuang napas kasar, menyapu embun di permukaan cermin dengan telapak tangannya. Namun, apa yang dia lihat di sana bukanlah wajah seorang Osborn yang angkuh, melainkan bayangan seorang pria yang jiwanya telah lama sekarat dan kini kian tersesat ke dalam labirin kegilaan.
Tiga hari. Tiga hari berturut-turut, sebuah rutinitas baru yang gila dan menjijikkan telah tercipta di dalam kamar ini.
Louis berjalan lunglai menuju ranjang king size-nya yang berantakan, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas seprai abu-abu yang dingin.
Dia memejamkan matanya, dan seolah-olah tombol otomatis di dalam otaknya ditekan, bayangan Adiba Abbey langsung hadir membanjiri kesadarannya dengan kepekatan yang luar biasa.
Louis mencengkeram seprai di bawah tubuhnya. Tangannya perlahan bergerak turun ke balik kain bathrobe-nya, menyentuh bagian sensitif dirinya yang mendadak menegang hebat hanya dengan memikirkan satu nama.
Sisi maskulinnya bergejolak, didorong oleh memori taktil yang teramat pekat tentang bagaimana rasanya menguasai tubuh hangat Adiba malam itu.
Dia mengingat kelembutan kulit wanita itu, bagaimana Adiba melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggangnya, dan bagaimana desahan pasrah yang sarat akan gairah lolos dari bibir bengkak wanita itu saat mereka mencapai puncak pelepasan Bersama.
Dengan napas yang mulai memburu berantakan di dalam keheningan kamar, Louis mulai menggerakkan tangannya secara ritmis, memuaskan dirinya sendiri di bawah bayang-bayang istri kakaknya.
Sesuatu yang gila, berdosa, dan tak waras, namun kini telah berubah menjadi sebuah kebutuhan biologis dan psikologis yang tidak bisa dia hentikan selama tiga malam terakhir.
Setiap kali gumpalan stres dari pekerjaan dan tekanan keluarganya menumpuk, hanya bayangan kehangatan tubuh Adiba yang mampu memberikan kelegaan instan bagi jiwanya yang dahaga.
"Ah... Adiba..." sebuah erangan rendah dan serak lolos dari bibir Louis saat dia mempercepat gerakannya, mendesah atas nama wanita yang semestinya tidak ia sebut.
Di dalam kegelapan otaknya, dia seakan kembali berada di dalam kamar remang Manhattan, mencium aroma mawar dan keringat manis Adiba, hingga akhirnya kepuasan sepihak itu meledak, meninggalkan rasa hambar dan jijik yang teramat sangat begitu dia membuka mata dan mendapati dirinya sendirian di Brooklyn.
Louis jatuh terlentang, menatap langit-langit kamar dengan napas yang terengah-engah. Dia merutuki kebejatannya sendiri.
Bagaimana bisa dia, seorang Louis Osborn yang selalu menganggap dirinya korban dari kepalsuan keluarganya, kini bertingkah seburuk kakaknya dengan terus mendambakan istri orang lain?
Dan hal yang paling gila dari semua ini adalah kenyataan bahwa di luar sana, dia memiliki seorang kekasih.
Demi Tuhan, Adiba Abbey adalah wanita pertama yang pernah dia sentuh secara intim sepanjang dua puluh lima tahun hidupnya.
Hubungan semalam di griya tawang adalah kali pertama Louis mengetahui bagaimana rasanya menyatu dengan seorang wanita. Lalu, siapa gadis yang selama ini menyandang status sebagai kekasihnya?
Dia adalah Christine. Seorang gadis berusia 23 tahun dengan pembawaan rapuh, yang tidak lain adalah adik kandung dari mendiang Ambar—wanita yang tewas bunuh diri setelah menjadi korban kebejatan kakaknya di masa lalu.
Louis meremas rambutnya yang basah dengan kedua tangan, merasakan sesak yang teramat sangat menghantam dadanya setiap kali nama itu melintas.
Cinta? Demi langit dan bumi, Louis tidak pernah mencintai Christine sedikit pun. Hubungan mereka tidak pernah didasari oleh gairah, debaran romantis, atau ketertarikan fisik. Hubungan itu dibangun di atas fondasi rasa bersalah yang teramat masif yang dipikul Louis sendirian.
Ingatannya kembali terlempar pada hari pemakaman Ambar Bertahun tahun lalu.
Saat itu, Christine hanyalah seorang gadis remaja yang menangis histeris di depan makam kakaknya. Seluruh dunia, termasuk keluarga Christine, mengenal Louis sebagai binatang yang telah memperkosa Ambar hingga gadis itu memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Meskipun surat wasiat Ambar akhirnya membersihkan namanya dari jalur hukum, opini publik tidak pernah benar-benar memaafkan Louis yang dicap sebagai berandal kaya yang berhasil lolos menggunakan uang.
Louis yang sejatinya memiliki hati yang teramat perasa di balik penampilan urakannya, merasa bertanggung jawab atas kehancuran keluarga tersebut.
Dia tahu kakaknya, Raynazh, adalah pelaku aslinya, namun kepengecutan kakaknya membuat Louis memilih untuk menanggung sisa-sisa kerusakan itu sendirian sebagai bentuk penebusan dosa keluarganya.
Dia mendekati Christine yang hancur, mencoba memberikan dukungan finansial secara diam-diam dan perlindungan dari kejauhan.
Namun, sebuah garis takdir yang bengkok terjadi. Christine yang tumbuh remaja di bawah bayang-bayang trauma kematian kakaknya, justru mengembangkan ketergantungan emosional yang teramat pekat kepada Louis.
Gadis itu jatuh cinta pada pria yang dianggap dunia sebagai penghancur kakaknya. Di dalam benak Christine yang terdistorsi oleh kesedihan, ada sebuah pemikiran gila yang tertanam kuat.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Kak Ambar, Louis," kata Christine suatu malam dengan air mata mengalir di pipinya saat mereka duduk di sebuah kedai kopi tua di Queens setahun yang lalu. "Kau harus menemaniku seumur hidupmu. Kau harus menebus darah kakaku lewat diriku. Jika kau meninggalkanku, maka aku akan menyusul Kak Ambar ke neraka."
Kata-kata itu adalah tali gantung yang mengikat leher Louis hingga detik ini.
Dia tercekik oleh rasa bersalah yang diciptakan oleh kakaknya, dipaksa menjadi kekasih dari adik korban pemerkosaan yang tidak pernah dia lakukan, dan kini dia harus menahan diri dari kegilaan biologisnya yang terus mendambakan Adiba—wanita yang merupakan kakak iparnya sendiri.
Louis memejamkan mata erat-erat, merasakan air mata frustrasi yang jarang sekali jatuh, kini mengalir pelan di sudut matanya.
Betapa berat dan hancurnya menjadi seorang Louis Enver Osborn. Dia berdiri di tengah-tengah dunia yang memperlakukannya seperti sampah, memikul dosa yang bukan miliknya, menemani wanita yang tidak dia cintai demi sebuah tanggung jawab moral yang semu, dan di saat yang sama... jiwanya telah sepenuhnya ditaklukkan oleh obsesi pekat terhadap Adiba Abbey.
"Kenapa harus seperti ini..." bisik Louis pada kesunyian kamarnya yang remang, sementara di luar sana, angin Brooklyn terus melolong membawa sisa-sisa badai yang tak kunjung usai.