Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Suasana desa langsung berubah tegang.
Angin sore berhembus pelan melewati pagar kayu dan rumah-rumah rusak yang kini jadi markas sementara The 10th Battalion.
Tak ada yang bicara.
Semua mata tertuju pada kelompok bersenjata di depan gerbang desa.
Mereka berbeda.
Itu hal pertama yang Gerald sadari.
Cara berdiri mereka rapi. Langkah mereka teratur. Dan tangan mereka selalu dekat dengan senjata.
Tentara sungguhan.
Bukan bandit. Bukan pengungsi.
Dan itu justru lebih berbahaya.
Pria berjubah abu-abu di depan kelompok itu tersenyum tipis sambil melihat sekitar desa.
“…Jadi ini markas The 10th Battalion.”
Keheningan langsung terasa berat.
Elias langsung menoleh panik ke Gerald.
“Kita bocorin nama pasukan ke siapa?!”
Boris angkat tangan.
“Aku pernah teriak namanya pas rebutan roti.”
“KENAPA KAU TERIAK?!”
“Aku bangga.”
“ITU BUKAN HAL YANG DITERIAKKAN!”
Beberapa anggota batalion langsung menahan tawa gugup.
Namun Gerald tetap fokus pada pria di depan sana.
“Siapa kau?” tanyanya dingin.
Pria berjubah abu-abu itu melangkah maju perlahan.
“Aku Cain.”
Tatapannya menyapu seluruh desa.
“Kapten pengawal benteng utara.”
Varn langsung menyipitkan mata.
“…Orang Raven.”
Cain tersenyum kecil.
“Ternyata masih ada yang mengenalku.”
Suasana makin tegang.
Beberapa anggota baru batalion bahkan mulai gugup memegang senjata mereka.
Karena nama Raven saja sudah cukup membuat orang takut.
Apalagi sekarang anak buahnya datang langsung ke desa mereka.
Gerald tetap tenang.
“Ada urusan apa?”
Cain melihat sekeliling desa kecil itu:
pagar kayu seadanya
pengungsi bersenjata
rumah-rumah rusak
dan pasukan kacau yang berusaha terlihat siap perang
Lalu ia tertawa kecil.
“…Aku kira rumor soal kalian berlebihan.”
Doran langsung maju sedikit.
“Kalau mau cari masalah bilang aja.”
Cain melirik Doran sebentar.
Dan untuk pertama kalinya… senyumnya sedikit hilang.
Karena Doran jelas bukan orang biasa.
“Aku tidak datang untuk bertarung.”
“Bagus,” jawab Gerald.
“Karena aku lagi capek.”
Elias langsung menatapnya.
“KENAPA KAU MALAH NGOMONG KAYAK GITU?!”
Cain kembali tersenyum tipis.
“Kalian menarik.”
“Hah?”
“Sekelompok pengungsi bisa bertahan dari orc.” “Bahkan membangun pasukan sendiri.”
Tatapannya berhenti pada Gerald.
“Raven tertarik pada kalian.”
Kalimat itu membuat suasana makin dingin.
Tertarik?
Itu bukan hal bagus.
“Langsung saja,” ujar Gerald.
Cain mengangguk kecil.
“Raven mengundang The 10th Battalion ke benteng utara.”
“…Mengundang?” gumam Luca gugup.
“Untuk apa?” tanya Gerald.
Cain membuka kedua tangannya.
“Kerja sama.”
Seluruh desa langsung sunyi.
Bahkan Boris berhenti makan.
Dan itu langka.
“Kerja sama apaan?” tanya Elias curiga.
Cain melihat ke arah utara.
“Dunia berubah.”
“Orc muncul di mana-mana.” “Kerajaan mulai runtuh.” “Dan manusia saling membunuh demi bertahan hidup.”
Tatapannya kembali ke Gerald.
“Raven ingin membangun wilayah baru.”
Doran mendengus kecil.
“Wilayah bandit maksudmu.”
Cain tidak marah.
Justru tersenyum tipis.
“Kalau orang lemah tidak bisa melindungi wilayah…”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“…maka orang kuat yang mengambilnya.”
Keheningan turun lagi.
Karena tidak ada yang bisa membantah.
Dunia sekarang memang seperti itu.
Yang kuat bertahan. Yang lemah diinjak.
Namun Gerald tetap tidak suka satu hal.
Cara bicara pria ini.
Terlalu tenang. Terlalu percaya diri.
Seolah mereka semua sudah berada di bawah Raven.
“Apa yang Raven mau dari kami?” tanya Gerald.
Cain menatap seluruh anggota batalion sekali lagi.
Lalu menjawab pendek:
“…Kalian.”
Elias langsung merinding.
“Serem banget anjir…”
Cain melanjutkan:
“Raven butuh orang-orang yang bisa bertarung.” “Dan kalian sudah membuktikan diri.”
Lalu matanya berhenti pada Gerald.
“Terutama kau.”
Suasana langsung berat.
Karena sekarang semua orang sadar:
Raven benar-benar memperhatikan mereka.
Dan itu masalah besar.
Boris tiba-tiba maju sambil melipat tangan.
“Aku ada pertanyaan penting.”
Cain mengangguk.
“Apa?”
“Di benteng utara… makanannya enak gak?”
Hening.
Cain terlihat sedikit bingung.
“…Apa?”
“Kalau makanannya jelek aku males pindah.”
Elias langsung menarik baju Boris.
“INI BUKAN WAKTU NEGOSIASI MAKANAN!”
“Aku mempertimbangkan masa depan.”
Bahkan Cain sampai tertawa kecil melihat mereka.
Aneh.
Namun untuk pertama kalinya sejak datang…
Tatapan pria itu sedikit berubah.
Lebih penasaran.
Karena pasukan ini benar-benar aneh.
Gerald akhirnya bicara:
“Kami pikirkan dulu.”
Cain mengangguk pelan.
“Tentu.”
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
Sebuah medali besi hitam.
Di tengahnya ada simbol burung gagak.
“Kalau kalian berubah pikiran…”
Cain melempar medali itu ke tanah depan Gerald.
“…datang ke benteng utara.”
Setelah itu ia berbalik.
Seluruh pasukannya ikut mundur rapi.
Tak ada ancaman. Tak ada penghinaan.
Namun justru itu membuat suasana terasa lebih tidak nyaman.
Karena pria seperti Cain…
Biasanya jauh lebih berbahaya daripada orang yang banyak bicara.
Gerald melihat mereka menghilang ke dalam hutan.
Lalu matanya turun ke medali hitam di tanah.
Simbol Raven.
Dan entah kenapa…
Instingnya mengatakan satu hal:
Cepat atau lambat—
Mereka akan bertarung dengan orang itu.